Tampilkan postingan dengan label #NatunaBerkisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #NatunaBerkisah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 September 2020

2 Hari di Natuna, Ngapain Aja?


Setelah hampir 1 tahun yang lalu saya ke Natuna pasca pulang jadi Pengajar Muda tahun 2017 silam, rasanya ada yang berbeda dari perjalanan saya kali ini. Kalau tahun 2019 lalu ke Natuna karena kebetulan ada kerjaan di Batam, trus saya izin beberapa hari untuk lanjut jalan ke Natuna sendiri dan atas biaya sendiri. Di tahun 2020 ini, waktu itu saya dapat kabar cukup dadakan juga H-3 kalau nggak salah. Ada dinas ke Natuna!

Iya ke Natuna nya langsung. Wah ini sih seperti doa yang terjawab, pikirku. Saat itu kebetulan ada kerjaan untuk pengawasan angkutan barang di Selat Lampa. Waduuh Selat Lampa ke desa Setumuk, tempat tinggalku dulu itu "cuma" terpisah laut dan tinggal naik pompong 30 menit. Sepandangan mata dari Selat Lampa pun udah keliatan desa tempat tinggalku dulu.

Tapi ya gitu deh, karena masih musim pandemi Corona yang melanda, akhirnya kuputuskan untuk nggak mampir ke desa. Saya nggak kasih tau siapa- siapa di Natuna kalau saya ke sana, demi kenyamanan bersama juga kan saya pikir. Nggak tega aja takutnya bawa virus kalau singgah ke desa karena di sana kan banyak orang-orang tua dan anak kecil, apalagi fasilitas kesehatan belum memadai. Jadi ya dengan berat hati perjalanan saya di Natuna waktu itu hanya sebatas Ranai-Selat Lampa- Bukit Arai- Ranai lagi.

Perjalanan ke Natuna kali ini kami singgah satu malam di Batam dan melanjutkan perjalanan ke Natuna dengan Wings Air keesokan harinya. 

Minggu, 14 Juni 2020

Let’s Read! Baca Buku Tiap Pagi Ala Anak Pulau


Pengalaman Pribadiku dalam Meningkatkan Minat Baca Pada Anak


Di suatu pagi pada bulan Desember 2016.

Hari itu sudah memasuki musim penghujan, namun matahari rupanya masih saja terik dan terang sekali menyengat di atas kepala.

Waktu pun baru menunjukkan pukul 07.30 WIB.

Hari itu hari pertamaku di sekolah, dan aku juga jadi orang pertama yang ada di sekolah. Secara resmi, hari itulah pertama kali saya menjadi seorang guru SD di sebuah tempat yang sebelumnya saya tidak tahu lokasinya di peta. Sebelumnya saya bahkan tidak pernah membayangkan kelak akan ada di pulau yang paling ujung di utara, yang letaknya betul-betul di tengah lautan, di antara Pulau Sumatera dan Kalimantan.


***


Natuna di bulan Desember, itu kali pertama saya menginjakkan kaki di sebuah kepulauan yang dipersatukan dalam teritorial kabupaten Natuna, salah satu wilayah yang tergolong daerah 3T (daerah tertinggal, terdepan dan terluar) di Indonesia. Itu awal pertama dari satu tahun saya di Natuna yang kental dengan adat dan budaya Melayu-nya.


Sekolah tempat saya mengajar ada di Pulau Tiga, masih 2-3 jam perjalanan melalui darat ditambah perjalanan menyeberangi laut untuk bisa tiba di SD kami dari kota kabupaten. Tahun 2016, sinyal internet dan listrik belum akrab menjamah desa kami. Sebagai guru, ini tantangan tersendiri untuk mulai berkreatifitas dalam mengajar di tengah beragam keterbatasan.


Setiap pagi anak-anak ramai berangkat bersama ke sekolah dengan jalan kaki. Bisa dihitung jari yang diantar orang tuanya dengan sepeda motor. Waktu itu, bapak ibu guru lainnya belum tiba di sekolah. Jadilah saya di sekolah sendiri sementara anak-anak sibuk bermain di lapangan sekolah kami yang tak seberapa luasnya. Sebagian berkejaran dengan temannya, sebagian bermain kelereng, sebagian lagi duduk di pinggir lapangan.


“Buk, kami bosan main,” kata seorang anak perempuan seusai menyalam saya yang disusul celotehan serupa anak lainnya setelah menyalam saya.

“Oke, kalau begitu sambil menunggu bel masuk sekolah mari kita ke perpustakaan ya. Jangan lupa lepas sepatunya sebelum masuk perpustakaan,” kata saya sambil bergegas ke ruang guru mengambil kunci perpustakaan.

Kala itu perpustakaan sekolah hanya bukan di jam-jam tertentu dengan pengawasan guru saja jadi kami tidak selalu membuka perpustakaan.


Budayakan kegiatan membaca dimana saja, salah satunya bisa di halaman sekolah.


Setelah itu beberapa jam pertama menjadi guru di pulau ini dipenuhi dengan celoteh anak-anak di perpustakaan. Ramai anak-anak yang masuk ke perpustakaan, berebut buku, berdiskusi dengan temannya, bertanya apapun yang mereka baca kepada saya, mengisi buku absen, hingga beberapa ada pula yang berakhir meminjam buku untuk dibawa pulang. Rupanya minat baca anak-anak pulau ini begitu tinggi. Antusiasme mereka yang begitu tinggi memicu saya di hari-hari selanjutnya untuk datang lebih pagi, membuka perpustakaan lebih awal, dan meladeni sesi tanya-jawab dengan mereka di perpustakaan. Hari-hari berikutnya, semakin banyak anak yang mau singgah ke perpustakaan saat sebelum bel masuk berbunyi, saat istirahat, atau sesaat sebelum pulang. 


“Buk, bagaimana bisa ada anak kembar?”

“Buk kenapa bisa terjadi hujan?”

“Di Jakarta, kereta api itu seperti apa? Saya belum pernah naik kereta buk?”

Ada banyak pertanyaan yang mereka lontarkan saat itu yang jujur cukup membuat saya kewalahan sekaligus kagum dengan daya pikir mereka yang luar biasa.


Maklum saja anak-anak di sini minim hiburan, mencari toko buku pun tak ada, bahkan sekadar penjual koran atau majalah pun tidak ada seperti di kota-kota besar yang menjajakan jualannya dan dengan mudah ditemui. Sayangnya di Natuna, di pulau yang cukup jauh dari manapun ini, ada di tengah lautan. Jadi cukup sulit sekaligus jadi tantangan tersendiri untuk mencari bahan bacaan bagi anak didik saya. Perpustakaan pun jadi satu-satunya tempat di mana buku dengan mudahnya ditemui, jangan harap anak-anak di sini akrab dengan koran atau majalah ya karena lokasinya yang jauh ini kami cukup kesulitan mencari koran dan majalah.


***


Berkaca dari keterbatasan yang ada, saya juga melihat cara rekan-rekan guru senior lainnya menghadapi keterbatasan buku ini. Meski dengan beragam keterbatasan di daerah pulau ini, saya cukup terkejut melihat antusiasme anak-anak melahap buku-buku novel dan majalah yang saya bawa dari Jakarta waktu itu. Secara umum, dari pengalaman saya ada 3 hal yang membuat minat baca anak-anak berkembang, yaitu:


  1. Ketersediaan buku dan bahan baca yang menarik

Anak-anak mudah tertarik terhadap suatu hal secara visual untuk “memberi makan” daya imajinasi mereka yang masih begitu luas. Untuk mengumpan imajinasi tersebut, biasanya mereka akan suka hal-hal yang menarik visual mereka. Dalam hal buku, anak-anak murid saya dulu bahkan tidak kesulitan untuk membaca buku ensiklopedia yang begitu tebal. 

Apa rahasianya? Rupanya ensiklopedia sains yang dibacanya begitu berwarna dan penuh dengan gambar ilustrasi. Misalnya ketika menjelaskan asal mula dinosaurus dan hewan purba serta metamorfosisnya hingga menjadi hewan yang saat ini kita kenal, buku tersebut akan memberikan tahap-tahap metamorfosisnya dengan gambar berwarna. Setiap sudut kosong di buku penuh dengan gambar dan keterangan yang mudah dipahami oleh anak-anak. Selain warna yang bervariasi, keterangan sederhana yang mudah dicerna oleh anak, buku yang menarik pun akan semakin meningkatkan daya pikatnya jika hadir dalam bentuk 3 Dimensi alias dapat diraba atau dipegang oleh anak. 

Buku yang menarik tak hanya mengasah kemampuan membaca anak, melainkan juga mengasah kemampuan berpikir dan melatih senses anak misalnya dengan visual 3D mereka paham bahwa tekstur kulit hewan, atau sekadar tahu bahwa gigi dinosaurus itu tajam dari gambar yang dapat mereka sentuh. Terkadang bacaan anak pun tak melulu saya berikan buku, ada yang bentuknya cerita bergambar, komik, atau artikel-artikel singkat dengan gambar pendamping misalnya. Meski tak jarang untuk mencari bahan bacaan tersebut saya butuh internet, padahal di Natuna khususnya di Pulau Tiga tempat saya sungguh susah sekali buat mencari sinyal internet, sudah bagus kalau bisa untuk menelepon dengan jelas. Tapi ternyata seiring berjalannya zaman, sekarang semakin mudah, nah nanti di bawah bakal saya jelaskan bagaimana caranya tetap mudah dalam memperoleh bahan bacaan yang berkualitas buat anak yang dapat menstimulasi minat baca anak.

Anak-anak tak melulu butuh buku baru, misalnya saja di sekolah kami yang waktu itu sudah beberapa tahun tidak dapat buku baru untuk pengisi perpustakaan kami. Tapi rupanya anak didik saya tidak keberatan kalau mereka harus membaca buku yang sama berulang kali karena keterbatasan bahan bacaan.


  1. Adanya interaksi dan kebiasaan yang dibangun

Konsistensi adalah salah satu kunci keberhasilan dalam membentuk karakter seorang anak. Kalau kita ingin si anak gemar membaca tentu harus rajin dan secara berkala diberikan rangsangan. Untuk membiasakan anak-anak membaca, saya waktu itu buat ketentuan sebelum bel masuk maka anak-anak harus membaca buku 10-15 menit. Setiap hari saya bukakan pintu perpustakaan untuk mereka dan dampingi mereka membaca. Proses pendampingan dari orang dewasa ini perlu, karena di tahap inilah anak biasanya akan berinteraksi dengan kita. Mulai dari memberikan tanggapan atas buku yang dibacanya atau ia sekadar melontarkan pertanyaan atas hal yang belum dipahaminya dari bacaan tersebut. Di sinilah peran penting orang dewasa untuk membimbing rasa ingin tahu anak yang perlahan-lahan kita tanamkan pelajaran sembari mereka membaca buku. 

Konsisten dengan membaca buku selama 15 menit di pagi hari sebelum mulai pelajaran, lambat laun waktu itu beberapa anak didik saya mulai rajin ke perpustakaan. Semakin hari semakin banyak yang meminjam dan membawa pulang buku-buku dari perpustakaan.


Anak-anak perlu pendampingan juga saat membaca, karena membaca merupakan salah satu proses belajarnya.


  1. Punya motivasi yang kuat

Anak-anak dan punya motivasi, sepertinya 2 hal yang sulit untuk digabungkan ya? Tapi rupanya tidak juga. Anak-anak bisa punya motivasi tinggi selama orang tua atau gurunya dapat melatih mereka dengan motivasinya.

Waktu awal-awal saya wajibkan anak-anak datang ke perpustakaan sebelum bel masuk berbunyi, tentu banyak anak yang protes keberatan. Tapi begitu saya bawakan buku ke kelas-kelas, bacakan dan ceritakan sepenggal buku cerita kepada mereka, mereka tertarik. Dari situ saya ajak mereka untuk membaca buku-buku menarik yang mungkin belum mereka baca dari perpustakaan sekolah.

Setiap mereka akan masuk perpustakaan, anak-anak wajib mengisi buku hadir. Dengan begitu akan mempermudah saya untuk memperoleh data siapa yang paling rajin ke perpustakaan. Karena di satu sisi ini bukanlah sebuah pelajaran yang memerlukan daya ingat dan nalar maka saat itu saya berlakukan sistem reward untuk anak yang paling rajin hadir dan meminjam buku di perpustakaan selama 3 bulan secara berkala. Jadi tentu saja anak yang mendapat hadiah akan bergilir sesuai dengan kehadirannya.

Sistem reward yang berlaku ini tentunya semakin memicu giatnya siswa untuk berkunjung dan meminjam buku perpustakaan. Kalau dibilang efektif, sangat efektif untuk memotivasi mereka dan menjadikan kebiasaan membaca buku jadi salah satu hobi. Hadiah yang saya beri juga tidak selalu barang yang mahal, meski saya usahakan jenis hadiahnya bukan sesuatu yang dapat diperoleh di pulau agar si anak merasa punya rasa bangga jika sudah mendapat reward tersebut. Lambat laun, secara berkala sistem reward dengan hadiah itu saya hapus perlahan, bukan karena tidak mengapresiasi kebiasaan dan usaha anak-anak untuk membaca buku melainkan untuk melatih mereka tetap membaca walau tanpa diberi iming-iming hadiah. Perlahan-lahan saya lihat tidak banyak anak yang keberatan dan perpustakaan sekolah tetap ramai.


Ikut lomba menulis dan membaca puisi di kota kabupaten, Ranai.

Saat ini rupanya sudah hadir Let's Read yaitu sebuah digital library yang berisi banyak sekali buku-buku menarik yang bisa jadi bahan bacaan anak-anak. Banyak buku-buku di Let's Read ini yang pasti bakalan disukai sama murid-murid saya karena selain ilustrasi gambarnya menarik, Let's Read ini membuat waktu untuk membaca buku jadi pengalaman yang bermakna buat anak-anak. Untuk mendapatkan aplikasinya pun ternyata tidak sulit, bisa diunduh di sini.

Kembali ke 3 tips yang sudah saya bagi di atas, ternyata ketiga cara tersebut terbukti efektif saat diterapkan di sekolah kami. Saat itu saya percaya betul bahwa dengan banyak membaca akan membawa dampak baik pada anak. Selain meningkatkan kemampuan berpikirnya terhadap pelajaran dan hal sosial, dengan rajin membaca rupanya sangat berperan untuk melatih rasa percaya diri dan kemampuan menulis anak. Perlahan saya lihat anak-anak yang rajin membaca lebih mudah untuk diajak ikut lomba-lomba dan peluang menangnya lebih besar karena mereka punya gudang ilmu dari buku-buku yang gemar mereka baca. Beberapa anak yang gemar membaca waktu itu bersedia saya ajak ikut lomba di kota kabupaten, mulai dari lomba menulis puisi, membaca cerita, dan lomba cerdas cermat. Bahkan yang paling gemilang, ada satu anak yang berhasil dibimbing hingga menjuarai lomba menulis tingkat nasional yang diadakan dan karyanya dibukukan. Bagi anak-anak pulau, ini merupakan salah satu pencapaian besar bagi mereka dan acuan mereka untuk terus berprestasi. Tentunya ini suatu kenangan dan kebanggaan tersendiri bagi anak yang gemar membaca tersebut kelak.

Jadi buat orang tua maupun guru-guru yang membaca tulisan ini, kalau punya keterbatasan dalam mendapatkan buku fisik, bisa juga mendapatkan digital books dengan cara download Let's Read di sini yaa.

Salam,

-Hanna Suryadika-


Ps: Karya ini untuk diikutkan dalam lomba menulis “Let’s Read Blog Competition: Pengalaman Pribadiku Dalam Menumbuhkan Minat Baca Anak”




Rabu, 06 Mei 2020

Natuna dalam Memori (Part 2)


Halo Buk Hanna! Apa kabar buk di sana? Gimana dengan Corona?

Belakangan sejak berita Corona merebak ada beberapa teman-teman dan keluarga di Natuna yang bertanya kondisi di Jakarta dengan adanya Corona. The power of media, aslinya biasa-biasa saja tapi rupanya efek pemberitaan di media bikin momok yang lebih seram. Ya meski Corona sepantasnya kita waspadai, tapi memang seram sekali gambaran tentang Corona di Jakarta akhir-akhir ini, udah zona merah, sepi, rawan penularan pula.

Lama tak bertukar kabar, tentu persoalan Corona yang mendunia ini jadi topik terhangat yang mampu menyambung silaturahmi saya dengan warga desa penempatan saya dulu di Setumuk. Untungnya hingga saat ini tidak ada kasus di Natuna dan semoga tetap tidak ada hingga pandemi usai. 

Jadi menyambung part 1 yang sudah lama sekali itu postnya. Wow gila sungguh kebaperan akan Natuna rupanya membuatku sulit untuk menuliskannya selama 2 tahun terakhir! Hahaha.
Izinkan aku untuk update lagi cerita-cerita tentang Natuna karena sesungguhnya masih segambreeng kenangannya memenuhi hati dan pikiran, in a good way.

Kamis, 19 April 2018

Setahun di Natuna (part 1)

"Gimana rasanya setahun di Natuna?"
"Anak - anak di sana seperti apa sih?"
"Seperti apa tanggapan warga sana waktu pertama kamu datang?"
"Hal apa yang paling berkesan selama di Natuna?"

Yak dan masih banyak list pertanyaan lainnya yang sering ditanyakan semenjak pulang dan bertemu dengan keluarga maupun teman- teman. Jadi sejujurnya sampai hari ini saya belum buat postingan blog ataupun Instagram yang merangkum satu tahun perjalanan saya. Kalau video sudah pernah saya buat, tapi hanya untuk sekadar ditampilkan pada waktu hari perpisahan saya di desa Setumuk. Dan belum diupload di Youtube karena masih terlalu baper dan ngga pede aja sama kualitas videonya haha.

Well, kali ini mari izinkan saya bercerita sekelumit cerita tentang Natuna. Sekadar pengingat waktu buat saya sendiri bahwa sebagian jiwa saya masih tertinggal di sana dengan kenangan sangat baik, setahun paling berharga kalau katanya Indonesia Mengajar sih. Syukur- syukur bisa menjadi inspirasi buat temen- temen yang membacanya.

Foto teman- teman PM Natuna dengan mak angkat saya! Love!
Kali ini saya bakal cerita dengan point per point aja ya supaya ga missed dan saya bisa inget alurnya. Tulisan tentang Natuna akan saya pisah menjadi beberapa bagian. Ini bagian satu, untuk bagian dua bisa klik link ini.

1. Natuna, sosial dan geografisnya
Secara singkat, profil Kabupaten Natuna, penempatan saya, pernah dijabarkan di web Indonesia Mengajar. Jadi pertama saya datang ke Natuna, bayangan saya itu adalah sebuah pulau kecil di  utara Indonesia. Coba cari peta Indonesia dan temukan Natuna, sulit. Sulitnya karena terkadang kecil banget di peta, ya memang tergantung skala ya, kadang kalo skalanya kecil ya suka ga masuk peta juga hehe. Jadi pertama kami tiba kami melakukan perjalanan udara dengan rute Jakarta- Batam- Natuna. Total perjalanan kurang lebih 7 jam, udah sama waktu transitnya -/+ 3 jam, berarti perjalanan 3 jam lebih. Btw, meski masih di wilayah Sumatera tapi tiket Natuna itu susah didapetinnya dan mahal harganya. Sekitar 2 sampai 3 jutaan bersihnya untuk bisa sampai di Ranai, ibukota kabupaten Natuna.
Selanjutnya saya masih perlu menempuh beberapa jam lagi perjalanan jalur darat dan laut untuk bisa tiba di desa saya bertugas, Setumuk. Saya pernah cerita perjalanannya di sini dan pernah buat video perjalanan seadanya juga. Disclaimer: mohon maap, video seadanya ga punya stabilizer jadi goyang- goyang shaking haha.

Natuna itu terdiri dari apa saja? Natuna bisa kamu lihat seperti peta di bawah ini. Terdiri dari satu pulau Bunguran; pulau yang besar itu dan 272 pulau kecil lainnya di sekelilingnya. Whoaa banyak yaa! Serius baru tau kalo Natuna ternyata punya pulau sampe sebanyak 200an lebih gitu.

Peta Natuna, credit from here

Lanjut ke kondisi sosialnya ya! Jadi kalau di Natuna mayoritas adalah Muslim Melayu. Bahasa yang dipakai sehari- hari adalah bahasa Melayu tapi khas Natuna. Beda dengan bahasa Melayu yang ada di Medan, atau Malaysia. Waktu pertama kali saya sampai di Natuna malah saya dengar logat mereka sangat terasa Thailand sekali, padahal menurut mereka logatnya lebih cenderung mirip bahasa Vietnam. Yah saya sih ga bisa bandingin dengan Vietnam karena belum pernah denger bahasa mereka. Tapi jangan salah, bahasa Natuna pun ga seragam semua, beda bahasa yang di Pulau Bunguran, Pulau Tiga, Pulau Midai, dan Pulau Serasan- Subi. Selain beda di logat misalnya di Bunguran banyak pakai huruf 'e' sementara di Pulau Tiga pakai akhiran 'o', ada beberapa bahasa yang beda antar satu pulau dan pulau lainnya di Natuna. Tapi selama ini sepertinya semua saling memahami sih kalau mereka bertemu satu sama lainnya.
Nah yuk mari highlight hal yang uniknya. Baju kurung adalah salah satu hal yang wajib digunakan tiap acara adat ataupun acara resmi di Natuna. Acara resmi itu misalnya acara adat, kondangan, pengajian, tahlilan atau saat kematian, acara menyambut kelahiran, atau acara dari dinas atau pemerintahan.

Ini adalah contoh baju kurung untuk pria.
Di foto ini adalah Yoga Febrianto, foto diambil saat Festival Anak Natuna 2017.
Kalau ini contoh foto baju kurung. Btw ini foto sama ibu- ibu desa Setumuk waktu Lebaran.
Nah masih soal kehidupan sosialnya, masyarakat Natuna itu terkenal ramah dan baik banget sama pendatang atau orang baru gitu. Jadi saking ramahnya ini, mereka juga mudah akrab dan bisa ngobrol panjang lebar dengan orang yang baru dikenal. Suka cerita gitu deh intinya, asal lawan bicaranya juga tektokannya asik sih ya. Kegiatan sehari- hari warga desa Setumuk biasanya ya berkebun dan mancing ikan, sejalan dengan pekerjaan mayoritas warganya yaitu jadi petani dan nelayan, selebihnya adalah ibu rumah tangga, atau pekerja sektor formal misalnya guru atau pegawai kantor desa/ kecamatan. Mayoritas memang yang bekerja adalah sang pria, sementar istrinya biasanya mengurus kebutuhan rumah tangga tapi kadang sambil ngurus kebun juga sih kalau memang punya kebun. Kebunnya isi apa aja? Ini yang paling heboh sih yang berkebun cengkeh, karena kalau lagi musim panen raya bisa dapet hasil sekitar Rp.100 juta per kepala keluarga. Asli deh! Selain cengkeh, ada durian juga (my love!), buah- buahan lainnya pun ada. Satu lagi, kalau jadi nelayan maka ikan yang paling sering mereka dapatkan adalah ikan tongkol, ikan yang paling banyak ada di Natuna; biasanya mereka menyebutnya ikan simbok.

Setahun di Natuna, udah nyobain banyak jenis- jenis ikan yang ada di sana. Seringnya sih makan ikan simbok, tapi favorit saya ikan manyuk! Duh ga paham jelasin ini ikan jenis apa karena saya ga paham bedanya cuma tau rasanya aja yang gurih dan cocok mau dipanggang ataupun digoreng. Sama ikan karang pun saya suka sebenernya, cuma kalau kata Dita, salah seorang temen PM Natuna, makan ikan karang itu juga ga bagus sering- sering karena ikan karang kan juga menjaga ekosistem karang yang ada.




Yak dua foto di atas adalah bukti bahwa menjadi dekil dan kumal karena gosong adalah nikmat apalagi kalo abis mancing di laut. Foto diambil Oktober 2017 di Serasan, Natuna.


Setiap hari udah pasti makan ikan atau cumi- cumi deh kalau lagi ngga ada ikan. Duh bahagia banget, sampe- sampe berat badan jadi naik 7 kiloan selama di Setumuk. Yang biasanya doyan banget makan cumi eh sekarang sampe bosen loh saking sepuasnya banget makan cumi di Natuna. Nanti akan saya buatkan tersendiri mungkin ya untuk post tentang makanan khas Natuna dan segala seafoodnya kalau memang dokumentasinya mencukupi.

Oke balik lagi ke kondisi sosialnya. Jadi karena orang Natuna itu sukanya kumpul- kumpul dan ngobrol, orang- orang di desa saya tiap sore pun suka tuh nongkrong di depan rumah atau di pusat keramaian (ala desa ya bukan kayak warung- warung kopi gitu bahkan, cuma yah tempat warga ngumpul aja di bawah pohon atau teras rumah siapa). Selain nongkrong, biasanya mereka suka berolahraga. Apa sih olahraga favoritnya? Ada sepak bola, biasanya yang main pemuda- pemuda gitu (aseek) atau bapak- bapak. Ada juga yang main voli (ini semua kalangan dan gender pasti main, voli itu populer se Natuna, bok!). Selain itu masih ada sepak takraw dan bulu tangkis yang jadi olahraga favorit musiman warga desa saya, tapi 2 ini biasanya yang mainin ya anak- anak sekolah SD- SMA gitu.


Selanjutnya, poin tentang sekolah, anak- anak, teman- teman PM Natuna, dan penggerak lokal akan saya tampilkan di post berbeda ya, supaya bacanya enak ga kepanjangan. Maklum namanya juga cerita setahun jadi pasti puanjaang. Bonus sebelum penutupnya saya akasih dua foto ini aja yaa:

Foto sama anak- anak murid di SDN 003 Setumuk 

Rapat Guru dengan orang tua siswa

Update: Part 2 akhirnya sudah selesai ditulis. Selengkapnya dapat dibaca di sini 

See you!
HS

Kamis, 04 Januari 2018

Satu Tahun Berlalu

"Time is non refundable. Use it with intention" -unknown
Mungkin benar, waktu itu adalah musuh bagi orang yang lagi cinta- cintanya. Dan ternyata saya pernah segila itu.
Satu tahun yang paling gila dan tentu saja super memorable terjadi di 2017.
Anyway, postingan ini belum terlalu akan mellow jelasin perpisahan saya di Setumuk dan Natuna. But, I'll do it next time.

Saya sudah tahu kapan akhir masa tugas saya saat itu: Desember 2017. Jadi kalau tiba- tiba bete dan hopeless, tinggal inget aja kapan waktu pulangnya. Makin mendekati waktu 10 bulan, mulai deh mempersiapkan yang kita namakan "Perpisahan Terindah".

Saya bahkan udah mulai download lagu untuk perpisahan di sekolah nanti, versi karaoke nya gitu. Saya udah niatin mau nyanyi All I Ask. Maakk, galau gile. Ini saya udah sibuk nyari lagu All I Ask dari bulan April doongg hahahaa..
Tapi waktu itu kepikirannya buat lagu perpisahan anak kelas VI yang mau lulus.

Meski pada akhirnya saya berhasil nyanyi Samsons- Kenangan Terindah, dan tentu saja lagu Stinky- Mungkinkah. Inilah lagu perpisahan yang galau abissss yang berhasil saya nyanyikan di depan tamu dana murid- murid waktu perpisahan. Bapaak oyy! Hahahaa.


Sumpah saya ngga galau pas nyanyiin ini. Cuma pengen bilang sama murid- murid saya, Ibu udah latihan nyanyi ini, suaranya lumayan ya tapi ini semua demi kalian Ibu mau nyanyi :")

Kalau ga karena request mah bye. Saya cukup sadar suara saya.
Satu tahun berlalu, banyak yang terjadi. Perubahan terjadi. Entah meningkat atau menurun.
Cinta dan bahagia terjadi.
Cerita sedih terjadi.
Kisah bangga terjadi.
Terinspirasi dari orang lain pun sudah terjadi.
Satu tahun berlalu, perpisahan pun terjadi.

Saya jadi ingat dulu salah satu video dari Indonesia Mengajar atau tepatnya tim komsos pas rekrutmen PM XIII, pernah bilang gini: Satu tahun di pedalaman sana adalah satu tahun paling berharga. Sudah siap?

Saya sudah menjawab tantangan ini setahun lalu.
Siap nggak siap, saya berangkat.
Tapi toh nyatanya saya mempersiapkan keberangkatan saya ke Natuna dengan cukup baik. Pun demikian saat mau kembali ke Jakarta lagi saat purna tugas, saya siap. Meski separuh hati saya belum siap kalau sewaktu- waktu galau inget murid- murid di sana.

Bapak oyy, nak sebulan ni ibuk bolek kampung, rase hati ni lah piwang benu lah sama awak awak ni. 

Ayo dong yang cowok- cowoknya foto juga! 
Salam dari Buk Hanna yang ga usah ditanya terus tiap hari apa ibuk kangen atau ngga. Kangen oy!

Jakarta dini hari, 4 Jan 2018.

-HS-

Sabtu, 18 Maret 2017

Catatan Seperempat Abad

Hari ini genap usia saya 25 tahun (padahal angkanya ganjil).
Dan saya merayakannya di salah satu pulau kecil Indonesia, gugusan kepulauan di Natuna.
Merayakan dalam hening, sepi, reflektif dan penuh mawas diri. Jauh dari keriuhan kota atau ramainya perayaan ulang tahun seperti pada umumnya. Biarlah, toh semakin tua kan kita semakin sering merayakan ulang tahun.

Selasa, 31 Januari 2017

Sebulan Pertama: Wajah Masyarakat Natuna

Bila bicara mengenai sebuah tempat belumlah lengkap rasanya bila tidak membahas kondisi sosial budaya masyarakatnya. Pun ketika saya sedang bertugas di desa Setumuk ini. Hari pertama saya tiba di desa tanggal 2 Desember. Kala itu warga desa sedang sibuk mempersiapkan acara pisah sambut Pengajar Muda. Setiba di pelabuhan desa yang mungil ini, rupanya di pelabuhan sudah banyak orang menunggu. Mungkin mereka menanti seperti apa rupa wajah guru barunya. Tak heran karena sebelumnya guru mereka adalah laki- laki dan kini digantikan oleh guru perempuan.
Barang bawaan saya yang banyak itu langsung disambut oleh anak- anak SD, yang kini menjadi murid saya. Rumah tempat tinggal saya rupanya tak terlalu jauh dari pelabuhan. Kurang lebih 2-3 menit berjalan kaki saya telah tiba di rumah panggung yang ada di depan gedung serbaguna desa. Desanya pun tak terlalu ramai, kecil saja hanya satu jalur lurus dari pelabuhan ke sekolah hingga ujung desa. Kurang lebih 80 kk yang ada di Setumuk ini.

Tak ada penyambutan yang berlebihan, meski begitu mereka tetap menyambut dengan sapaan dan senyum terhangatnya. Saya begitu senang ketika pertama berbincang dengan ibu- ibu guru yang ada di rumah dan menyambut saya. Mereka ternyata bisa berbahasa Indonesia dengan lancar dan memang rata- rata masyarakat Natuna memang bisa berbahasa Indonesia. Sehari- hari menggunakan bahasa Melayu yang memang akar dari bahasa Indonesia rupanya cukup mempengaruhi kemampuan mereka berbahasa. Meski demikian di Setumuk menggunakan bahasa Melayu kampung yang jika didengar cukup berbeda dengan dialek bahasa Melayu pada umumnya. Mereka menyebut bahasa mereka dengan ‘bahasa Melayu kampung’, dialeknya jika didengar mirip dialek Thailand dan banyak kosakata yang berbeda dengan bahasa Melayu umum.
Selain bahasa, masyarakat Natuna rupanya amat terbuka dengan warga pendatang. Untuk di Setumuk sendiri memang tak terlalu banyak pendatang saat ini. Setidaknya ada saya, petugas paramedis yang menjaga puskesmas desa yang berasal dari Jawa Timur, ibu kepala sekolah saya yang dari Ponorogo dan ada beberapa warga lainnya yang juga pendatang namun sudah lama menetap di sini. Hal pertama yang mereka tanyakan tentang sepinya desa. “Bu, di sini sepi. Gimana bu apa betah sejauh ini?”, tanya mereka. Tentu saya betah. Bukan karena ramai atau sepinya desa. Tapi tentang bagaimana hari- hari saya berjalan di sini. Setidaknya akan selalu ada pemandangan indah yang disuguhkan di Setumuk, pun banyak warganya yang perduli pada saya jadi tentu saya tidak merasa kesepian. Terlebih ada anak- anak murid yang bisa saya ajak main kapan saja.

Keramahan warga pun begitu nyata saat saya terkadang berjalan- jalan keliling kampung. Dengan ditemani anak- anak, saya menemani mereka bermain atau sekadar menikmati sore. Setiap saya menyapa warga setidaknya akan ada yang menawari saya mampir ke rumahnya. Bahkan ada warga yang mengajak saya untuk menginap di rumahnya, sampai seminggu pun tak masalah katanya. Hal semacam inilah yang membuat saya merasa nyaman dan aman bila tinggal di sini. Keramahan warganya tak hanya sekadar basa- basi saja.

Pernah suatu ketika saat ada kenduri di rumah RW, ibu- ibu di sana berucap: “Bu Hanna, kalau ada yang kurang atau ada apa- apa bisa bilang ke kami. Kalau soal bikin kue kami bisa bu, tapi kalau ilmu mungkin bu Hanna yang bisa. Apapun yang ibu butuhkan, asal bukan soal ilmu kami bisa bantu bu”. Saling bantu- membantu, itulah yang mereka harapkan. Jadi bila kelak anak- anak Setumuk ini ada yang merantau ke Jakarta, mereka berharap saya pun dapat membantu mereka. Saya tentu senang begitu tahu kalau mereka pun punya cita- cita supaya anak mereka bisa merantau ke Jawa, atau bahkan ke Jakarta. Untuk kehidupan yang lebih baik, mengapa tidak?

Soal rantau merantau ini pun pernah menjadi pembicaraan hangat saya di majelis guru. Di desa Setumuk sendiri jumlah penduduknya hampir selalu sama dari tahun ke tahun. Tak terlalu banyak yang bertambah, entah karena kelahiran atau pindah menetap. Kalau dilihat pun memang orang- orang usia produktif tak terlalu banyak di Setumuk. Hal ini disinyalir karena memang tak ada lapangan kerja yang memadai di sini. Pekerjaan yang tersedia di Setumuk memang antara bekerja di kantor desa, sekolah SD atau TK, atau menjadi nelayan dan bertani cengkeh. Untuk 2 pekerjaan terakhir tadi memang jenis pekerjaan yang ada karena kondisi geografis. Hal tersebut bisa juga berarti ya pekerjaan tersebut dapat terhenti sementara waktu karena keadaan cuaca. Jadi biasanya orang muda di Setumuk memilih pindah jika sudah menikah, entah karena ikut pasangan atau mencari pekerjaan di tempat lain. Ini masih analisis sederhana kami para guru dari perbincangan sekilas kemarin. Saya pun mengamati memang akan selalu ada warga yang datang dan pergi tapi jumlah yang pergi sering kali lebih banyaj daripada warga yang datang menetap sehingga jumlah warga pun tak pernah naik demikian signifikan. Untuk jumlah murid SD pun turut berpengaruh dari jumlah penduduk Ini sendiri. Jumlah murid di SD kami pun hanya berkisar di angka hampir 50an saja, tak lebih. Tentu hal ini juga dikarenakan tak pernah ada jumlah penduduk datang dalam angka yang besar. Kalau ada pendatang baru, maka biasanya akan ada yang pindah juga. Ajaib ya? Tapi meski demikian dengan sedikitnya jumlah penduduk membuat desa kami masih terasa hangat dan kekeluargaan. Bila ada satu kabar berita apapun akan cepat menyebar dari ujung ke ujung. Desa Setumuk pun hanya punya 1 jalan besar di desa, jadi setiap yang datang akan selalu terlihat dari rumah ke rumah. Pusat kegiatan ataupun keramaian warga mudah dilihat di tengah- tengah desa.
Biasanya warga Setumuk suka berkumpul sore hari di lapangan voli. Entah mengobrol, main voli atau sepak takraw, menonton orang tanding voli. Atau ada pula anak- anak yang hobi bermain guli (kelereng) di tanah lapang kecil sebelah masjid.

Jadi demikian wajah masyarakat Natuna yang saya lihat dalam sebulan di sini. Meski tanpa gambar, semoga dapat mewakilkan dan memberikan sekilas gambaran melalui tulisan ini Semoga senyum hangat masih terus tersalur hingga hari terakhir saya ada di sini ya.

Sampai jumpa di tulisan tentang Natuna lainnya!

Cheers,
Hanna
*di poskan dari desa Setumuk*

Jumat, 20 Januari 2017

Sebulan Pertama: Bagaimana Rupa Natuna?

Tinggal di Natuna, kabupaten yang kecil bila dilihat di peta.
Rasanya pun amat jauh bila kita ambil garis awal perjalanan dari ibukota Jakarta.
Tapi di sinilah saya berada untuk satu tahun ke depan. Menghabiskan sepanjang tahun 2017 dan usia 25 tahun saya di desa Setumuk, 3 jam perjalanan bila dari ibukota kabupaten, Ranai.

Sabtu, 31 Desember 2016

Selasa, 27 Desember 2016

Pengingat Akhir Tahun

Siapa sangka kalau penghujung tahun 2016 ini akhirnya saya resign dari pekerjaan sebagai seorang media planner dan malah ‘mendaratkan diri’ pada sebuah titik di utara Indonesia yang bernama Natuna?

Tuhan rupanya merencanakan sesuatu memang indah, dan memang tepat bila saya bersyukur atas semua berkat yang saya dapat di 2016 ini.
  1. Akhirnya saya memilih beralih haluan, murtad (entah sementara atau selamanya) dari profesi yang ada di ranah komunikasi, sesuai bidang keilmuan saya, dan menjadi seorang guru SD. Meski banyak pertimbangan, tapi saya tak pernah ragu sedikit pun untuk pilihan yang memang sudah tak imbang ini.
  2. Akhirnya saya jadi Pengajar Muda! Akhirnyaaa. Bahkan masih haru rasanya bila saat ini saya ingat kembali jika sampai hari ini saya pun telah resmi menjalani tugas sebagai seorang Pengajar Muda yang sudah lama saya idam- idamkan. 3 tahun bukanlah waktu yang sebentar, dan setelah setahun memendam mimpi lama, saya bisa mengejar impian itu.
  3. Akhirnya saya ada di Natuna. Natuna, sebuah kabupaten yang sebelum saya masuk camp pelatihan pun telah saya impikan, saya doakan dalam diam. Bahkan tak pernah ada orang yang tahu kalau kala itu saya sudah memohon untuk yang satu ini. Tentang indah pantainya, yang membujur luas mengelilingi kepulauan ini. Deretan pasir putih, air laut yang warnanya hijau kebiruan, kini hanya sebatas keinginan saja untuk bisa melihat itu semua. Ah ya, dan banyaaak sekali bintang- bintang di atas rumah saya di Setumuk, Natuna ini. Indah sekali lah nikmat yang satu ini.
  4.  Akhirnya saya bisa merantau lagi. Pergi jauh dari rumah, alias merantau merupakan target pribadi saya selama ini. Menyenangkan ketika bertemu orang baru, belajar budaya baru, dan melihat banyak hal lainnya dari luar rumah. Bukannya saya tak senang ada di rumah tapi saya meyakini bahwa dengan bepergian jauh dari rumah, saya telah berproses menjadi seorang yang dewasa seutuhnya. Saya bisa belajar banyak hal dan mengatur perasaan saya (untuk tidak mudah rindu keluarga) dengan jauh dari rumah. Bahkan rindu pun terasa nikmat bila kita mengatur jarak.
  5. Akhirnya bertambah juga jumlah keluarga saya. Saya punya keluarga se- Indonesia! Ada 39 orang Pengajar Muda XIII, 40 orang bila termasuk saya. Semua berasal dari beragam latar budaya, pendidikan dan kota asal berbeda. Saya belajar banyak dari mereka ini, saya menghormati sekaligus menyayangi mereka setiap harinya. Bohong kalau saya tak pernah minder ketika bertemu mereka. Tapi saya tahu, setiap orang ada kapasitas dirinya masing- masing. Bukankah kita semua keren saat memaksimalkan diri kita sendiri?

Jadi saya sekarang mulai berpikir untuk singgah di kota- kota asal mereka ini begitu selesai penempatan nanti. (Padahal mah masih ada waktu setahun lagi! )
Kalau ditanya apa yang saya syukuri saat ini? Saya jawab: semua hal yang pernah terjadi dalam hidup saya. Baik suka maupun duka, semua menggiring saya pada hal- hal yang saya dapat di penghujung tahun ini. Semoga nikmat ini selalu dan terus ada setiap waktunya. Semoga saya tak pernah lupa untuk terus bersyukur dan berbagi kebahagiaan dengan orang lain.


Salam dari indahnya Natuna!
-HS-


PS: kalau penasaran dengan cerita PM XIII Natuna selama bertugas, sila cek tagar #NatunaBerkisah

Minggu, 27 November 2016

Setelah 6 Minggu

Senin 17 Oktober yang lalu, merupakan salah satu hari bersejarah yang aku ingat, mungkin takkan pernah terlupa seumur hidup.
Hari itu aku pertama kali bertemu dengan 39 teman baru. Yang aku tahu hari itu adalah awal dari banyak hal yang tak terduga di kemudian hari. Yang tidak aku tahu, pertemuan itu mengawali banyak kehangatan dan inspirasi untuk saya pribadi kelak, mereka ternyata sangat berharga bagiku.

Hari ini, Minggu 27 November, kurang dari 3 hari lagi kami akan berpisah. Aku akan pergi meninggalkan orang- orang terdekat yang telah menghabiskan waktu dari bangun hingga tidur kembali bersamaku.
Foto bareng sesudah Farewell Party. Yeah it' s farewell :(
Kami akan pergi mengabdi ke pelosok- pelosok negeri. Kami akan melepas keakraban yang sudah terbangun di 6 minggu ini. Seperti yang sudah pernah saya bilang sebelumnya, kita bertemu dan saling mengenal tak hanya untuk 6 minggu atau setahun saja. Saya ingin persaudaraan seumur hidup, yang tetap hangat walau lama terpisah. Yang tetap rukun walau tak selalu sependapat.

Setelah 6 minggu, setelah lebih jauh mengenal satu sama lain, setelah banyak kisah pencapaian masa lalu dan cita- cita ke depan yang kami bagi, perpisahan adalah hal yang amat pilu. Setidaknya mereka adalah orang- orang yang pernah mendoakan mimpiku supaya jadi nyata. Mereka juga yang sudah menginspirasiku dengan pencapaian masing- masing yang sudah gemilang di usia muda. Tanpa mengenal mereka mungkin daya juangku tak akan pernah sekeras ini.
8 orang PM Kab. Natuna

Saya jadi ingat statement seorang teman sebelum saya ikut Indonesia Mengajar:
"Gue pengen ngajak orang- orang ikut dalam lingkaran positif ini, Han. Ini tuh seru banget"

Dan di sinilah saya saat ini, ada di dalam lingkaran positif itu. Berproses bersama teman- teman PM XIII. Kami meyakinkan diri kami untuk bisa melakukan perubahan dan memberikan dampak baik bagi masyarakat yang kami tinggali nanti.

Apa rasanya mau berangkat ke penempatan?
Campur aduk. Di satu sisi senang, karena akan segera bekerja di tempat baru, melihat rumah baru saya di ujung utara Indonesia. Sisi lainnya agak takut sama rasanya ketika mau pindah rumah, khawatir dengan segala masa adaptasi yang ada nantinya. Hal yang wajar bukan?

Foto sesudah pelantikan dan survival di Gunung Burangrang, Jawa Barat




Selamat berkemas kawan kawan  XIII,

HS


Ps: find our story in Natuna on #NatunaBerkisah