Minggu, 19 Juli 2020

Menilik Pandemi Covid-19 yang Pelik


Oleh: Yusi Nurcahya Dewi dan Hanna Suryadika


World Health Organization (WHO) pertama kali mendapat laporan adanya kasus pneumonia di Wuhan, China pada 31 Desember 2019. Penyakit tersebut yang dibawa oleh virus kemudian mulai mewabah pada 30 Januari 2020, tepat 1 bulan setelah dilaporkan China. Hingga 1 bulan kemudian, WHO resmi memberi nama virus ini sebagai Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 per tanggal 11 Februari 2020.

Di bulan berikutnya, Indonesia kemudian mengumumkan kehadiran virus ini. Sejak pertama kali diumumkan secara resmi oleh Presiden didampingi Menteri Kesehatan tanggal 2 Maret 2020 pada waktu siang hari tentang kasus pertama Covid-19 di Indonesia di depan sejumlah awak media istana, berita pun kemudian menyebar pesat sehingga kemudian tampak pemandangan yang tidak biasanya di supermarket: ramai seperti menjelang hari raya Idul Fitri. Sembako, sabun cuci tangan, masker, handsanitizer, vitamin, bahkan mie instan diburu pengunjung. Di berbagai rak-rak supermarket, tidak nampak sisa dagangan yang disajikan: daging ayam, ikan, sayur-mayur dan buah lokal ludes. Bahkan sayuran hidroponik yang jarang dilirik akibat mahalnya harga, waktu itu ludes, tinggal air dan paralonnya saja yang tersisa. Orang-orang membeli beras bertumpuk-tumpuk dengan alasan untuk stok
pangan di rumah. Bahan makanan pengganti seperti roti dan sereal juga banyak diborong. Kepanikan semula memang sudah terpotret jelas di masyarakat. Semua orang panik mendengar kasus Covid-19 yang “akhirnya” masuk ke negara ini.

Di belahan dunia lain juga tak jauh berbeda, orang-orang di Amerika Serikat dan Australia berbondong-bondong memburu tisu toilet hingga menjadi salah satu barang langka selama beberapa minggu di kedua lokasi tersebut. Orang-orang berbelanja seolah tidak ada hari esok. Namun rupanya jika ditilik lebih jauh lagi, ada golongan masyarakat yang juga tidak rakus memburu bahan makanan, ada kaum tanggung hingga kelas menengah ke bawah yang masih kuat beli bahan makan tapi tidak kuat untuk menyetok banyak karena budget pas- pasan, merasa termarjinalkan. Dalam situasi panic buying seperti ini, mereka merupakan lapisan yang sangat terdampak sebab akan kehabisan bahan pokok sedang jika ingin memakai bahan makanan pengganti, biasanya harganya mahal, melebihi anggaran kebutuhan mereka. Akibat virus ini, dapat terlihat kekhawatiran berbeda dalam setiap orang yang mungkin sebelumnya tidak pernah terjadi.

Kamis, 09 Juli 2020

Catatan Kontemplasi Medio 2020

 

'Tuk petualangan ini mari kita ketuk pintu yang sama
Membawa amin paling serius
Seluruh dunia’
Amin Paling Serius - Sal Priadi & Nadin Amizah
Izinkan kali ini saya menyuplik sedikit dari lagu Amin Paling Serius, sebuah lagu cinta yang unik. Jujur pertama kali saya dengar irama lagu ini, kok cakep banget ya nadanya, pas disimak vocalnya duh makin keren. Ternyata lirik maupun judulnya menggoda banget, padahal ini tanpa sengaja terputar di music player saya.

Jadi, kapan kita benar-benar mengucapkan “Amin Paling Serius”?
Gara-gara lagu ini, saya jadi mencoba mengingat-ingat kapan tepatnya.
Beberapa tahun lalu. Sekitar 2016-2017.
Ya waktu itu sepertinya terakhir kali ada kata amin dari doa panjang yang saya minta dengan betul-betul. Waktu itu, saya ingat betul “amin” itu betul-betul dapat jawaban. EXACTLY THE SAME POINT. Gila ya? Waktu itu saya sempat ngeri juga sih melihat doa yang terjawab persis. Sekaligus dibuat takjub betapa hebatnya Tuhan, aduh siapalah saya yang hanya meminta semata. Saya sejak saat itu, dari dulu sih, cuma mulai itu saya makin yakin kalau doa memang harus detil dan hati-hati banget sama apa yang kita minta.
Kenapa? Karena kalau kejadian ya biar sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Dan sekarang 2020 sudah beranjak lebih dari separuh, sudah di tengah jalan. Corona masih saja merebak. Hari ini, Kamis (9/7) bahkan salah satu lonjakan Covid-19 tertinggi di Indonesia terjadi. 2,657 kasus baru! Wah ngeri juga. Padahal per Juni-Juli ini kalau boleh dibilang kegiatan saya di kantor udah mulai aktif lagi meski masih pakai sistem piket on-off. Tapi ya mulai aktif liputan lagi, perjalanan ke luar kota lagi, wara wiri lagi, aktif ketemu orang banyak kadang-kadang walau masih banyakan aktivitas yang dikerjakan secara online.

Istilah new normal juga mulai digaungkan di mana-mana. Banyak tempat umum yang mulai dibuka. Car Free Day Thamrin-Sudirman juga sudah sempat aktif 1x meski minggu selanjutnya akhirnya ditutup lagi dan dipecah menjadi beberapa titik konsentrasi di 5 wilayah kota Jakarta. Lonjakan pesepeda dan warga yang berolahraga mulai tumpah ruah di jalan-jalan Jakarta.

For a quick recap, udah 2 bulan menuju 3 bulanan saya ikutan meditasi via online sama Pishi. Awalnya iseng lama lama kok enakan. Lama- lama ya merasa teduh walau kadang butuh energi besar banget untuk melawan rasa malas dari dalam diri ini untuk mulai latihan meditasi lagi. For my own sanity di tengah ombang-ambing dunia, ahzek, nanti kapan-kapan kalau meditasinya udah naik kelas dan makin rajin bakal saya post lagi perkembangannya. Sejauh ini latihan paling favorit masih seputar Trilogy: Compassion, Forgiveness,Surrender ah dan tentu saja Law of Attraction. Sudah lewat mid 2020 dan masih berharap banyak di latihan LoA. Ah ya, kali aja penasaran, I’ll drop down the account, you can find her at IG @pishiyoga, bisa dicari bahan latihannya di Spotify Peace Sea Podcast atau kadang suka ada IG live meditasi bareng at her own IG on weekend! 😍

Pada akhirnya di 2020 ini, di bulan ke tujuh saya masih berharap semoga semesta berpihak pada doa-doa saya. Semoga permasalahan pandemi ini cepat-cepat kelar, semoga banyak orang yang segera pulih baik badannya, jiwanya, maupun ekonominya. Semoga yang ditarik-tarik energi dari semesta segera berpadu. Semoga...


Ps: separuh tulisan sudah mengendap di draft dari bulan April 2020. Selesai 3 bulan kemudian karena terlupakan.

-HS-


Rabu, 08 Juli 2020

Melihat Kehidupan Anak SMA Borjuis (Review ELITE S1- S3)

 
Pernah kah kalian merasa hidup akan jauh lebih mudah dengan hadirnya uang? Atau mikir kalau masalah hidup bakal kelar kalau kalian tajir? 
 
Nah di ELITE, series original besutan Netflix ini kalian bisa dapetin jawabannya. Ternyata dengan menjadi tajir itu ya ribet broh, kalau udah banyak duit pasti ada aja deh yang diinginkan, entah milik orang lain, atau malah jadi lebih menggampangkan sesuatu.

Luar biasa ya series aja bisa ngajarin hidup sebegininya. Cuma santai aja, Elite itu bukan tipe tipe series yang bakal butuh mikir. Ikutin aja alurnya, kalau kesel ya kesel aja, ada kalanya nanti kalian dibuat menye-menye juga karena drama atau romancenya.

ELITE ini adalah salah satu series originalnya Netflix yang paling bikin gregetan yang pernah aku tonton.
Awalnya, aku pikir biasa aja ya ceritanya tentang kehidupan anak-anak SMA kaum borjuis di Spanyol sana. Rupanya inilah awal masalahnya.

Selasa, 30 Juni 2020

BONGKAR PASANG PEMAIN


Pernah dengar istilah “The Right Man in The Right Place”? 
Saya dulu pertama mendengarnya di kelas XI SMA sekitar tahun 2007 waktu mata pelajaran Manajemen. Istilah itu kurang lebih artinya menempatkan seseorang yang tepat, di tempat/posisi yang tepat. Please correct me if i’m wrong.

Jadi pembahasan hari ini awalnya tercetus saat saya tengah malam kepikiran bahwa sesungguhnya untuk mencapai kondisi ideal The Right Man in The Right Place ini butuh waktu dan jam terbang yang cukup lama. Seorang pemimpin dikatakan baik dalam memanajemen sumber daya manusianya jika sudah memenuhi poin ini. Pasalnya, tentu saja hal ini tidak langsung serta merta terwujud saat pertama ada plotting human resources. Mari kita bicara dalam skala yang lebih kecil, dimana terkait penempatan personel ini tidak diatur lagi oleh sebuah lembaga yang bernama human resources department. 

Minggu, 14 Juni 2020

Let’s Read! Baca Buku Tiap Pagi Ala Anak Pulau


Pengalaman Pribadiku dalam Meningkatkan Minat Baca Pada Anak


Di suatu pagi pada bulan Desember 2016.

Hari itu sudah memasuki musim penghujan, namun matahari rupanya masih saja terik dan terang sekali menyengat di atas kepala.

Waktu pun baru menunjukkan pukul 07.30 WIB.

Hari itu hari pertamaku di sekolah, dan aku juga jadi orang pertama yang ada di sekolah. Secara resmi, hari itulah pertama kali saya menjadi seorang guru SD di sebuah tempat yang sebelumnya saya tidak tahu lokasinya di peta. Sebelumnya saya bahkan tidak pernah membayangkan kelak akan ada di pulau yang paling ujung di utara, yang letaknya betul-betul di tengah lautan, di antara Pulau Sumatera dan Kalimantan.


***


Natuna di bulan Desember, itu kali pertama saya menginjakkan kaki di sebuah kepulauan yang dipersatukan dalam teritorial kabupaten Natuna, salah satu wilayah yang tergolong daerah 3T (daerah tertinggal, terdepan dan terluar) di Indonesia. Itu awal pertama dari satu tahun saya di Natuna yang kental dengan adat dan budaya Melayu-nya.


Sekolah tempat saya mengajar ada di Pulau Tiga, masih 2-3 jam perjalanan melalui darat ditambah perjalanan menyeberangi laut untuk bisa tiba di SD kami dari kota kabupaten. Tahun 2016, sinyal internet dan listrik belum akrab menjamah desa kami. Sebagai guru, ini tantangan tersendiri untuk mulai berkreatifitas dalam mengajar di tengah beragam keterbatasan.


Setiap pagi anak-anak ramai berangkat bersama ke sekolah dengan jalan kaki. Bisa dihitung jari yang diantar orang tuanya dengan sepeda motor. Waktu itu, bapak ibu guru lainnya belum tiba di sekolah. Jadilah saya di sekolah sendiri sementara anak-anak sibuk bermain di lapangan sekolah kami yang tak seberapa luasnya. Sebagian berkejaran dengan temannya, sebagian bermain kelereng, sebagian lagi duduk di pinggir lapangan.


“Buk, kami bosan main,” kata seorang anak perempuan seusai menyalam saya yang disusul celotehan serupa anak lainnya setelah menyalam saya.

“Oke, kalau begitu sambil menunggu bel masuk sekolah mari kita ke perpustakaan ya. Jangan lupa lepas sepatunya sebelum masuk perpustakaan,” kata saya sambil bergegas ke ruang guru mengambil kunci perpustakaan.

Kala itu perpustakaan sekolah hanya bukan di jam-jam tertentu dengan pengawasan guru saja jadi kami tidak selalu membuka perpustakaan.


Budayakan kegiatan membaca dimana saja, salah satunya bisa di halaman sekolah.


Setelah itu beberapa jam pertama menjadi guru di pulau ini dipenuhi dengan celoteh anak-anak di perpustakaan. Ramai anak-anak yang masuk ke perpustakaan, berebut buku, berdiskusi dengan temannya, bertanya apapun yang mereka baca kepada saya, mengisi buku absen, hingga beberapa ada pula yang berakhir meminjam buku untuk dibawa pulang. Rupanya minat baca anak-anak pulau ini begitu tinggi. Antusiasme mereka yang begitu tinggi memicu saya di hari-hari selanjutnya untuk datang lebih pagi, membuka perpustakaan lebih awal, dan meladeni sesi tanya-jawab dengan mereka di perpustakaan. Hari-hari berikutnya, semakin banyak anak yang mau singgah ke perpustakaan saat sebelum bel masuk berbunyi, saat istirahat, atau sesaat sebelum pulang. 


“Buk, bagaimana bisa ada anak kembar?”

“Buk kenapa bisa terjadi hujan?”

“Di Jakarta, kereta api itu seperti apa? Saya belum pernah naik kereta buk?”

Ada banyak pertanyaan yang mereka lontarkan saat itu yang jujur cukup membuat saya kewalahan sekaligus kagum dengan daya pikir mereka yang luar biasa.


Maklum saja anak-anak di sini minim hiburan, mencari toko buku pun tak ada, bahkan sekadar penjual koran atau majalah pun tidak ada seperti di kota-kota besar yang menjajakan jualannya dan dengan mudah ditemui. Sayangnya di Natuna, di pulau yang cukup jauh dari manapun ini, ada di tengah lautan. Jadi cukup sulit sekaligus jadi tantangan tersendiri untuk mencari bahan bacaan bagi anak didik saya. Perpustakaan pun jadi satu-satunya tempat di mana buku dengan mudahnya ditemui, jangan harap anak-anak di sini akrab dengan koran atau majalah ya karena lokasinya yang jauh ini kami cukup kesulitan mencari koran dan majalah.


***


Berkaca dari keterbatasan yang ada, saya juga melihat cara rekan-rekan guru senior lainnya menghadapi keterbatasan buku ini. Meski dengan beragam keterbatasan di daerah pulau ini, saya cukup terkejut melihat antusiasme anak-anak melahap buku-buku novel dan majalah yang saya bawa dari Jakarta waktu itu. Secara umum, dari pengalaman saya ada 3 hal yang membuat minat baca anak-anak berkembang, yaitu:


  1. Ketersediaan buku dan bahan baca yang menarik

Anak-anak mudah tertarik terhadap suatu hal secara visual untuk “memberi makan” daya imajinasi mereka yang masih begitu luas. Untuk mengumpan imajinasi tersebut, biasanya mereka akan suka hal-hal yang menarik visual mereka. Dalam hal buku, anak-anak murid saya dulu bahkan tidak kesulitan untuk membaca buku ensiklopedia yang begitu tebal. 

Apa rahasianya? Rupanya ensiklopedia sains yang dibacanya begitu berwarna dan penuh dengan gambar ilustrasi. Misalnya ketika menjelaskan asal mula dinosaurus dan hewan purba serta metamorfosisnya hingga menjadi hewan yang saat ini kita kenal, buku tersebut akan memberikan tahap-tahap metamorfosisnya dengan gambar berwarna. Setiap sudut kosong di buku penuh dengan gambar dan keterangan yang mudah dipahami oleh anak-anak. Selain warna yang bervariasi, keterangan sederhana yang mudah dicerna oleh anak, buku yang menarik pun akan semakin meningkatkan daya pikatnya jika hadir dalam bentuk 3 Dimensi alias dapat diraba atau dipegang oleh anak. 

Buku yang menarik tak hanya mengasah kemampuan membaca anak, melainkan juga mengasah kemampuan berpikir dan melatih senses anak misalnya dengan visual 3D mereka paham bahwa tekstur kulit hewan, atau sekadar tahu bahwa gigi dinosaurus itu tajam dari gambar yang dapat mereka sentuh. Terkadang bacaan anak pun tak melulu saya berikan buku, ada yang bentuknya cerita bergambar, komik, atau artikel-artikel singkat dengan gambar pendamping misalnya. Meski tak jarang untuk mencari bahan bacaan tersebut saya butuh internet, padahal di Natuna khususnya di Pulau Tiga tempat saya sungguh susah sekali buat mencari sinyal internet, sudah bagus kalau bisa untuk menelepon dengan jelas. Tapi ternyata seiring berjalannya zaman, sekarang semakin mudah, nah nanti di bawah bakal saya jelaskan bagaimana caranya tetap mudah dalam memperoleh bahan bacaan yang berkualitas buat anak yang dapat menstimulasi minat baca anak.

Anak-anak tak melulu butuh buku baru, misalnya saja di sekolah kami yang waktu itu sudah beberapa tahun tidak dapat buku baru untuk pengisi perpustakaan kami. Tapi rupanya anak didik saya tidak keberatan kalau mereka harus membaca buku yang sama berulang kali karena keterbatasan bahan bacaan.


  1. Adanya interaksi dan kebiasaan yang dibangun

Konsistensi adalah salah satu kunci keberhasilan dalam membentuk karakter seorang anak. Kalau kita ingin si anak gemar membaca tentu harus rajin dan secara berkala diberikan rangsangan. Untuk membiasakan anak-anak membaca, saya waktu itu buat ketentuan sebelum bel masuk maka anak-anak harus membaca buku 10-15 menit. Setiap hari saya bukakan pintu perpustakaan untuk mereka dan dampingi mereka membaca. Proses pendampingan dari orang dewasa ini perlu, karena di tahap inilah anak biasanya akan berinteraksi dengan kita. Mulai dari memberikan tanggapan atas buku yang dibacanya atau ia sekadar melontarkan pertanyaan atas hal yang belum dipahaminya dari bacaan tersebut. Di sinilah peran penting orang dewasa untuk membimbing rasa ingin tahu anak yang perlahan-lahan kita tanamkan pelajaran sembari mereka membaca buku. 

Konsisten dengan membaca buku selama 15 menit di pagi hari sebelum mulai pelajaran, lambat laun waktu itu beberapa anak didik saya mulai rajin ke perpustakaan. Semakin hari semakin banyak yang meminjam dan membawa pulang buku-buku dari perpustakaan.


Anak-anak perlu pendampingan juga saat membaca, karena membaca merupakan salah satu proses belajarnya.


  1. Punya motivasi yang kuat

Anak-anak dan punya motivasi, sepertinya 2 hal yang sulit untuk digabungkan ya? Tapi rupanya tidak juga. Anak-anak bisa punya motivasi tinggi selama orang tua atau gurunya dapat melatih mereka dengan motivasinya.

Waktu awal-awal saya wajibkan anak-anak datang ke perpustakaan sebelum bel masuk berbunyi, tentu banyak anak yang protes keberatan. Tapi begitu saya bawakan buku ke kelas-kelas, bacakan dan ceritakan sepenggal buku cerita kepada mereka, mereka tertarik. Dari situ saya ajak mereka untuk membaca buku-buku menarik yang mungkin belum mereka baca dari perpustakaan sekolah.

Setiap mereka akan masuk perpustakaan, anak-anak wajib mengisi buku hadir. Dengan begitu akan mempermudah saya untuk memperoleh data siapa yang paling rajin ke perpustakaan. Karena di satu sisi ini bukanlah sebuah pelajaran yang memerlukan daya ingat dan nalar maka saat itu saya berlakukan sistem reward untuk anak yang paling rajin hadir dan meminjam buku di perpustakaan selama 3 bulan secara berkala. Jadi tentu saja anak yang mendapat hadiah akan bergilir sesuai dengan kehadirannya.

Sistem reward yang berlaku ini tentunya semakin memicu giatnya siswa untuk berkunjung dan meminjam buku perpustakaan. Kalau dibilang efektif, sangat efektif untuk memotivasi mereka dan menjadikan kebiasaan membaca buku jadi salah satu hobi. Hadiah yang saya beri juga tidak selalu barang yang mahal, meski saya usahakan jenis hadiahnya bukan sesuatu yang dapat diperoleh di pulau agar si anak merasa punya rasa bangga jika sudah mendapat reward tersebut. Lambat laun, secara berkala sistem reward dengan hadiah itu saya hapus perlahan, bukan karena tidak mengapresiasi kebiasaan dan usaha anak-anak untuk membaca buku melainkan untuk melatih mereka tetap membaca walau tanpa diberi iming-iming hadiah. Perlahan-lahan saya lihat tidak banyak anak yang keberatan dan perpustakaan sekolah tetap ramai.


Ikut lomba menulis dan membaca puisi di kota kabupaten, Ranai.

Saat ini rupanya sudah hadir Let's Read yaitu sebuah digital library yang berisi banyak sekali buku-buku menarik yang bisa jadi bahan bacaan anak-anak. Banyak buku-buku di Let's Read ini yang pasti bakalan disukai sama murid-murid saya karena selain ilustrasi gambarnya menarik, Let's Read ini membuat waktu untuk membaca buku jadi pengalaman yang bermakna buat anak-anak. Untuk mendapatkan aplikasinya pun ternyata tidak sulit, bisa diunduh di sini.

Kembali ke 3 tips yang sudah saya bagi di atas, ternyata ketiga cara tersebut terbukti efektif saat diterapkan di sekolah kami. Saat itu saya percaya betul bahwa dengan banyak membaca akan membawa dampak baik pada anak. Selain meningkatkan kemampuan berpikirnya terhadap pelajaran dan hal sosial, dengan rajin membaca rupanya sangat berperan untuk melatih rasa percaya diri dan kemampuan menulis anak. Perlahan saya lihat anak-anak yang rajin membaca lebih mudah untuk diajak ikut lomba-lomba dan peluang menangnya lebih besar karena mereka punya gudang ilmu dari buku-buku yang gemar mereka baca. Beberapa anak yang gemar membaca waktu itu bersedia saya ajak ikut lomba di kota kabupaten, mulai dari lomba menulis puisi, membaca cerita, dan lomba cerdas cermat. Bahkan yang paling gemilang, ada satu anak yang berhasil dibimbing hingga menjuarai lomba menulis tingkat nasional yang diadakan dan karyanya dibukukan. Bagi anak-anak pulau, ini merupakan salah satu pencapaian besar bagi mereka dan acuan mereka untuk terus berprestasi. Tentunya ini suatu kenangan dan kebanggaan tersendiri bagi anak yang gemar membaca tersebut kelak.

Jadi buat orang tua maupun guru-guru yang membaca tulisan ini, kalau punya keterbatasan dalam mendapatkan buku fisik, bisa juga mendapatkan digital books dengan cara download Let's Read di sini yaa.

Salam,

-Hanna Suryadika-


Ps: Karya ini untuk diikutkan dalam lomba menulis “Let’s Read Blog Competition: Pengalaman Pribadiku Dalam Menumbuhkan Minat Baca Anak”




Minggu, 17 Mei 2020

2020 Waktu Istirahat Terbaik


Corona virus disease 2019 (Covid-19)
 yang mulai masuk di Indonesia sejak Maret 2020 ini sudah 70 harian membuat saya harus work from home (WFH). Awal- awal mulai ada pasien positif Covid-19 di Indonesia, banyak perusahaan atau instansi yang langsung meliburkan karyawannya. Sebagian hingga kini masih WFH penuh, sebagian lainnya, seperti kantor saya masih pakai sistem piket untuk bergantian masuk. Semua sekolah dan kampus-kampus mulai menjalani sistem pembelajaran jarak jauh mulai bulan Maret.

Covid-19 mau tidak mau mengubah banyak hal di hidup kita. Mulai dari kebiasaan atau gaya hidup termasuk cara-cara kita untuk mengantisipasi banyak hal lainnya. Sejak Covid-19, saya yakin semua orang terdampak hidupnya. Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) juga mulai digencarkan di Indonesia untuk menrapkan sistem physical distancing sesuai anjuran WHO. Perlahan-lahan sejak saat itu, kita mulai membatasi diri untuk berkumpul, menjauhi kerumunan, sebisa mungkin hidup bersih, dan rajin cuci tangan. Tentu masih banyak hal-hal preventif lainnya, bahkan lama kelamaan juga terlihat sebagai kegiatan yang parno luar biasa. Yakin deh setidaknya Covid-19 sudah memaksa kita untuk cuci tangan berulang-ulang atau setidaknya mengusapkan hand sanitizer berkali-kali setiap harinya, kadang sampai lupa udah berapa kali cuci tangan hari ini. Belakangan juga sudah booming aplikasi untuk online meeting yang mulai laris dipakai jadi platform untuk rapat atau diskusi formal dengan orang-orang kantor atau sekadar haha-hihi ngobrol dan reunian dengan teman-teman.

Tidak cuma itu, salah satu yang patut dicatat dari sejarah di tahun 2020 ini juga adalah karena Covid-19 kita dipaksa untuk beribadah di rumah. Tanpa berkumpul di rumah ibadah, setiap orang diminta hanya beribadah dari rumah masing-masing.

Bukan hanya perkara gaya hidup yang terpengaruh. Faktor ekonomi adalah salah satu sisi yang tergerus lebih dulu dan cukup berdampak bagi kehidupan banyak orang terlebih para pekerja harian atau orang-orang yang bekerja di sektor informal. Bayangkan saja seperti pengemudi ojek online, atau mereka yang bekerja dengan berdagang keliling setiap harinya, atau seperti buruh pabrik yang diupah harian maka mau tidak mau pandemi ini lebih dari sekadar masalah kesehatan tapi juga perihal hidup mereka. Bahkan segi finansial ini hampir dialami oleh sebagian orang, seberapa besarpun penghasilannya setidaknya ada segi penghidupan yang ikut terpengaruh. Sebagian sektor yang menggenjot ekonomi pun lumpuh, sebut saja seperti industri perhotelan dan pariwisata yang kini sepi pengunjung. Banyak pekerja juga yang harus dirumahkan alias di PHK akibat perusahaannya tidak mampu menggaji karyawan di tengah pandemi seperti ini. Belakangan, beberapa start up besar pun dikabarkan turut gulung tikar selama masa pandemi, seperti Airy atau yang PHK massal karyawannya seperti Uber dan Airbnb (dikutip dari: Tirto.id). 

Mungkin kelak, kita bakal cerita ke anak kita nantinya kalau tahun 2020 ini adalah salah satu waktu terburuk yang pernah dijalani.

Tapi apa iya sih 2020 adalah salah satu tahun terburuk?
Terutama setelah dihajar habis-habisan oleh pandemi Covid-19 dan begitu banyaknya berita buruk yang bertubi-tubi menimpa sepanjang 5 bulan di 2020 ini.

Baiknya saya jawab dari segi yang terukur, data. Akibat Covid-19 per hari ini, 16 Mei jumlah kasus Covid-19 yang terdata dari WHO jumlah pasien positif Covid-19 sudah menyentuh angka 4.56 juta jiwa dan jumlah korban meninggal sebanyak 308 ribu jiwa.



Dari segi jumlah korban jiwanya, kalau dibandingkan dengan Flu Spanyol 1918-1920 yang menelan korban meninggal hingga 50 juta jiwa. Sementara kalau mundur lebih jauh lagi Black Death pada 1347-1351 menyebabkan korban meninggal sebanyak 225 juta jiwa. (disadur dari: Business Insider). Secara angka, meski Covid-19 memang belum berakhir, namun sejauh ini bukan pandemi terburuk yang pernah terjadi.

Jadi, apakah 2020 buruk?
5 bulan di 2020 ini memang tidak dapat dibilang paruh pertama yang baik untuk mengawali tahun. Namun kalau dipikir-pikir Covid-19 memang banyak membawa derita bagi sebagian orang yang kadar penderitaannya tentu berbeda-beda.

Kalau mau diajak untuk berpikir positif, rasanya tak terlalu sulit melihat tahun ini sebagai tahun yang masih bisa berpotensi membawa kebahagiaan buat kita. Kalau dibaca dari Asumsi masih ada sederet kabar baik yang bisa kita lihat lebih jauh lagi. Salah satu dari 4 kabar baik yang ditulis di Asumsi adalah membaiknya kualitas udara karena lockdown yang diberlakukan di beberapa negara lainnya. 

Sudah cukup baik, belum?
Kalau menurut saya pribadi, 2020 ini adalah waktu istirahat terbaik. Kenapa begitu? Banyak orang yang "dipaksa" untuk beristirahat dan bekerja dari rumah, menghabiskan waktu bersama keluarga. Meski WFH tidak semuanya lantas bisa berleha-leha memang, apalagi untuk kerjaan yang sifatnya ready on call  atau harus di maintain 24hours. Saya sendiri mulai aktif WFH (meski belum sepenuhnya WFH) mulai 18 Maret. Sejak itu saya cuma ke kantor sebulan masih bisa dihitung jari. Dan ajaibnya, selama periode itu juga kerjaan-kerjaan saya berkurang dan tidak sebanyak saat aktif ngantor dulu. Waktu WFH sudah tentu di rumah aja, sama keluarga 24 jam penuh. Interaksi pun jadi lebih banyak bersama keluarga.

Dalam 24 jam waktu di rumah aja, ada sekian jam yang digunakan untuk tidur atau sekadar rebahan sambil mainan HP. Banyak cara orang menghabiskan waktunya selama di rumah, mulai dari menggarap hobi lamanya hingga kembali menemukan skill baru yang ternyata "ah gue bisa juga ngerjain ini ternyata!" atau "lah kemana aja selama ini, bikin ini ternyata asik juga buat menghabiskan waktu", setidaknya begitu kata orang-orang yang sudah banyak mengerjakan dan menemukan banyak hal baru selama karantina mandiri di rumahnya.

Selama masa karantina, perlu diakui bahwa sedikit banyak akan mulai muncul kerinduan untuk berinteraksi dengan orang lain yang tidak serumah. Maka mulailah di masa-masa karantina ini juga saat yang tepat untuk menjalin kembali komunikasi dengan teman-teman lama atau teman yang biasanya sering ketemu sebelum pandemi lantas tiba-tiba jadi jarang ketemu karena dirumahkan. Bangun kembali gairahmu untuk produktif, mengerjakan hobi lamamu, atau bahkan mengulik-ulik belajar hobi baru.

Memang Covid-19 adalah ancaman yang serius namun bukan berarti dengan demikian setiap hari kita harus terus menerus update tentang berita Covid-19 terus. Demi kesehatan jiwa, ada baiknya membatasi asupan informasi yang sekiranya buat hidup kita gelisah sambil tetap memantau perkembangan seperlunya saja. 

Pandemi Covid-19 ini adalah waktu yang tepat untuk lebih mengenal diri sendiri. Ada banyak cara untuk bersiasat menghadapi musibah ini. Setiap manusia punya strateginya masing-masing untuk menyesuaikan diri dengan situasi The New Normal ini dengan adanya Covid-19. Benar bahwasanya di tengah pandemi ini, tetap waras secara fisik dan psikis adalah sebuah pencapaian luar biasa. Bahwa hingga hari ini anxiety, depresi dan kekhawatiran lainnya belum menggerogoti pikiran saya patut diapresiasi. Saya perlahan mulai meninggalkan berita-berita buruk yang bisa saya pilih setiap harinya. Saya memilih untuk tidak mengikuti dengan intensif perkembangan menit ke menitnya tentang pageblug ini.

Ada banyak kreatifitas anak muda dan orang-orang luar biasa yang saya lihat berkembang di linimasa saya selama pandemi ini berlangsung. Di tengah kondisi karantina mandiri, banyak yang menggelar sharing ilmu gratis melalui Instagram livenya, ada yang mengajar zumba, ada yang sharing pengalaman, atau berbagi tips. Ada juga gebrakan lain berupa konser dari rumah yang pernah digagas oleh Narasi bertajuk Konser Musik #DiRumahAja.


Pandemi ini mengajarkan kita banyak hal. Selagi bisa, hargai waktu yang kamu punya dan gunakan sebaik mungkin waktumu. Dari linimasa saya sejak masa karantina di rumah aja juga mulai muncul inisiatif-inisiatif baik seperti penggalangan dana. Ada banyak orang-orang baik yang masih mau membantu sekelilingnya untuk bertahan hidup. Sebenarnya memang hanya itu yang dibutuhkan oleh dunia saat ini. Inisiatif baik dan orang baik. Keduanya ini yang bisa terus menjaga bumi lebih baik, berputar dengan makna yang sesungguhnya untuk saling menjaga. Ada banyak cara untuk bertahan hidup, salah satunya dengan memperhatikan lingkungan sekelilingmu.

2020 masih panjang, masih ada separuh waktu lagi untuk menghabiskan 6 bulan selanjutnya. Belum terlambat untuk membuat pandangan yang lebih cerah dan baik tentang 2020. Selamat beristirahat dengan thoughtful di tahun ini, tetap bertahan. 

This too shall pass!

-HS-

Rabu, 06 Mei 2020

Natuna dalam Memori (Part 2)


Halo Buk Hanna! Apa kabar buk di sana? Gimana dengan Corona?

Belakangan sejak berita Corona merebak ada beberapa teman-teman dan keluarga di Natuna yang bertanya kondisi di Jakarta dengan adanya Corona. The power of media, aslinya biasa-biasa saja tapi rupanya efek pemberitaan di media bikin momok yang lebih seram. Ya meski Corona sepantasnya kita waspadai, tapi memang seram sekali gambaran tentang Corona di Jakarta akhir-akhir ini, udah zona merah, sepi, rawan penularan pula.

Lama tak bertukar kabar, tentu persoalan Corona yang mendunia ini jadi topik terhangat yang mampu menyambung silaturahmi saya dengan warga desa penempatan saya dulu di Setumuk. Untungnya hingga saat ini tidak ada kasus di Natuna dan semoga tetap tidak ada hingga pandemi usai. 

Jadi menyambung part 1 yang sudah lama sekali itu postnya. Wow gila sungguh kebaperan akan Natuna rupanya membuatku sulit untuk menuliskannya selama 2 tahun terakhir! Hahaha.
Izinkan aku untuk update lagi cerita-cerita tentang Natuna karena sesungguhnya masih segambreeng kenangannya memenuhi hati dan pikiran, in a good way.