Sabtu, 19 September 2020

2 Hari di Natuna, Ngapain Aja?


Setelah hampir 1 tahun yang lalu saya ke Natuna pasca pulang jadi Pengajar Muda tahun 2017 silam, rasanya ada yang berbeda dari perjalanan saya kali ini. Kalau tahun 2019 lalu ke Natuna karena kebetulan ada kerjaan di Batam, trus saya izin beberapa hari untuk lanjut jalan ke Natuna sendiri dan atas biaya sendiri. Di tahun 2020 ini, waktu itu saya dapat kabar cukup dadakan juga H-3 kalau nggak salah. Ada dinas ke Natuna!

Iya ke Natuna nya langsung. Wah ini sih seperti doa yang terjawab, pikirku. Saat itu kebetulan ada kerjaan untuk pengawasan angkutan barang di Selat Lampa. Waduuh Selat Lampa ke desa Setumuk, tempat tinggalku dulu itu "cuma" terpisah laut dan tinggal naik pompong 30 menit. Sepandangan mata dari Selat Lampa pun udah keliatan desa tempat tinggalku dulu.

Tapi ya gitu deh, karena masih musim pandemi Corona yang melanda, akhirnya kuputuskan untuk nggak mampir ke desa. Saya nggak kasih tau siapa- siapa di Natuna kalau saya ke sana, demi kenyamanan bersama juga kan saya pikir. Nggak tega aja takutnya bawa virus kalau singgah ke desa karena di sana kan banyak orang-orang tua dan anak kecil, apalagi fasilitas kesehatan belum memadai. Jadi ya dengan berat hati perjalanan saya di Natuna waktu itu hanya sebatas Ranai-Selat Lampa- Bukit Arai- Ranai lagi.

Perjalanan ke Natuna kali ini kami singgah satu malam di Batam dan melanjutkan perjalanan ke Natuna dengan Wings Air keesokan harinya. 

Hari Pertama

24 Agustus 2020

Begitu mendarat, dari Bandara Ranai kami langsung menuju Selat Lampa bersama rombongan dari Dinas Perhubungan, Dinas Perdagangan, DAMRI, dan Pelni. Di Selat Lampa kebetulan ada kapal Pelni Logistik Nusantara 4 yang lagi bongkar muat dan akan berangkat besok malam lagi. Bayangkan ya jalur Ranai- Selat Lampa itu pernah begitu akrab ada di kepala dan hati saya selama setahun. Rute pulang-pergi yang emosional kalau dilalui, karena kadang lewat jalur itu tuh ada rasa senang, sedih, galau, deg-degan, khawatir yang campur aduk kalau mau ke desa atau ke ibukota kabupaten. Mulai dari mikirin program kerja lah, kemajuan desa lah, anak-anak, dan banyak hal lainnya.



Sesudah saya dan tim sempat memantau bongkar muat kapal ke truk punya Damri, kami sempat diskusi dengan orang Dishub Natuna maupun pihak Damri. Nggak lama sesudah itu, kami sempat duduk-duduk beberapa saat lamanya di warung yang di tepi Selat Lampa. Dari sana terlihat Sabang Mawang dengan pelabuhan TNI- AL nya dari kejauhan. Cuaca sedang tidak terlalu cerah waktu itu, baru saja hujan turun jadi sedikit kelabu. Pikiran saya udah mengawang-ngawang sampai ke Pulau Tiga di seberang, membayangkan betapa hangatnya kalau saya dapat menginjakkan kaki ke Pulau Tiga lagi.

Sekitar 1-2 jam di Selat Lampa, kami kembali ke Ranai. Sampai di Ranai kami makan siang di Rumah Makan Awen Pesisir di daerah Jemengan. Nah ini viewnya seharusnya bagus ya kalau hari cerah, karena dia langsung berhadapan dengan laut. 

view dari RM Awen Pesisir.

Pulang dari makan siang yang kesorean itu kami langsung ke hotel. Kebetulan waktu itu menginapnya di Hotel Central yang posisinya pas banget di depan Pantai Piwang (dulu disebut Pantai Kencana atau Pantai Stress). Kebetulan udah sore juga pas sampai di hotel, jadi saya langsung beres-beres sebentar di kamar trus ngacir deh ke pantai, ceritanya sambil nunggu sunset.


Ini pemandangan dari depan hotel langsung ke arah Pantai Piwang.

Sayangnya waktu itu, bener-bener mepet banget agendanya selama di Natuna. Sepanjang sore untungnya kami dapat waktu luang untuk istirahat sejenak (saya sih tentu saja sunset hunting di pantai). Malamnya kami diundang ke rumah Bupati Natuna di Bukit Arai, persis di depan kantor Bupati yang megah itu.


Hari Kedua 
25 Agustus 2020

Hari kedua, pagi-pagi sekali saya berburu sunrise di Pantai Piwang. Yah kali ini emang usaha tidak mengkhianati hasil. Hari cukup cerah jadi sunsetnya juga dapet, pemandangan Gunung Ranai juga terlihat jelas dari pantai. 
Pemandangan Gunung Ranai dari Pantai Piwang.


Sunrise dari Pantai Piwang.

Sehabis menikmati sunrise dan beres-beres sekaligus packing untuk check out dari hotel, waktu itu kita mau cari sarapan di sekitar hotel. Sarapan di hotel sendiri baru tersedia jam 7 pagi, agak telat dibandingkan hotel lainnya yang biasanya udah tersaji dari jam 6. Akhirnya kita makan makanan melayu nggak jauh dari hotel. Padahal rencananya waktu itu mau cari nasi dogong tapi sayang nggak ketemu di sekitar Pantai.

Sesudah itu kita beres- beres dan sempat beli oleh- oleh di Kerupuk Atom Kembang Jadi di daerah Jemengan. Di sini ada bermacam-macam kerupuk atom dari ikan tongkol dan juga kerupuk ikan/cumi/gurita yang masih harus digoreng lagi. Oh ya, ada juga ikan asin, pisang salai/sale, dan madu hutan. 

Nah kira- kira demikian rangkuman perjalanan singkat saya selama 2 hari 1 malam di Natuna. Menurutku sih ini memang bukan perjalanan ideal untuk mengenal Natuna dalam waktu yang sangat singkat sekali. Next time saya bakal bahas perjalanan ideal dengan itinerary menarik untuk menikmati Natuna di waktu yang optimal.

See you!
-HS-




0 komentar:

Posting Komentar