Minggu, 19 Juli 2020

Menilik Pandemi Covid-19 yang Pelik


Oleh: Yusi Nurcahya Dewi dan Hanna Suryadika


World Health Organization (WHO) pertama kali mendapat laporan adanya kasus pneumonia di Wuhan, China pada 31 Desember 2019. Penyakit tersebut yang dibawa oleh virus kemudian mulai mewabah pada 30 Januari 2020, tepat 1 bulan setelah dilaporkan China. Hingga 1 bulan kemudian, WHO resmi memberi nama virus ini sebagai Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 per tanggal 11 Februari 2020.

Di bulan berikutnya, Indonesia kemudian mengumumkan kehadiran virus ini. Sejak pertama kali diumumkan secara resmi oleh Presiden didampingi Menteri Kesehatan tanggal 2 Maret 2020 pada waktu siang hari tentang kasus pertama Covid-19 di Indonesia di depan sejumlah awak media istana, berita pun kemudian menyebar pesat sehingga kemudian tampak pemandangan yang tidak biasanya di supermarket: ramai seperti menjelang hari raya Idul Fitri. Sembako, sabun cuci tangan, masker, handsanitizer, vitamin, bahkan mie instan diburu pengunjung. Di berbagai rak-rak supermarket, tidak nampak sisa dagangan yang disajikan: daging ayam, ikan, sayur-mayur dan buah lokal ludes. Bahkan sayuran hidroponik yang jarang dilirik akibat mahalnya harga, waktu itu ludes, tinggal air dan paralonnya saja yang tersisa. Orang-orang membeli beras bertumpuk-tumpuk dengan alasan untuk stok
pangan di rumah. Bahan makanan pengganti seperti roti dan sereal juga banyak diborong. Kepanikan semula memang sudah terpotret jelas di masyarakat. Semua orang panik mendengar kasus Covid-19 yang “akhirnya” masuk ke negara ini.

Di belahan dunia lain juga tak jauh berbeda, orang-orang di Amerika Serikat dan Australia berbondong-bondong memburu tisu toilet hingga menjadi salah satu barang langka selama beberapa minggu di kedua lokasi tersebut. Orang-orang berbelanja seolah tidak ada hari esok. Namun rupanya jika ditilik lebih jauh lagi, ada golongan masyarakat yang juga tidak rakus memburu bahan makanan, ada kaum tanggung hingga kelas menengah ke bawah yang masih kuat beli bahan makan tapi tidak kuat untuk menyetok banyak karena budget pas- pasan, merasa termarjinalkan. Dalam situasi panic buying seperti ini, mereka merupakan lapisan yang sangat terdampak sebab akan kehabisan bahan pokok sedang jika ingin memakai bahan makanan pengganti, biasanya harganya mahal, melebihi anggaran kebutuhan mereka. Akibat virus ini, dapat terlihat kekhawatiran berbeda dalam setiap orang yang mungkin sebelumnya tidak pernah terjadi.

Kamis, 09 Juli 2020

Catatan Kontemplasi Medio 2020

 

'Tuk petualangan ini mari kita ketuk pintu yang sama
Membawa amin paling serius
Seluruh dunia’
Amin Paling Serius - Sal Priadi & Nadin Amizah
Izinkan kali ini saya menyuplik sedikit dari lagu Amin Paling Serius, sebuah lagu cinta yang unik. Jujur pertama kali saya dengar irama lagu ini, kok cakep banget ya nadanya, pas disimak vocalnya duh makin keren. Ternyata lirik maupun judulnya menggoda banget, padahal ini tanpa sengaja terputar di music player saya.

Jadi, kapan kita benar-benar mengucapkan “Amin Paling Serius”?
Gara-gara lagu ini, saya jadi mencoba mengingat-ingat kapan tepatnya.
Beberapa tahun lalu. Sekitar 2016-2017.
Ya waktu itu sepertinya terakhir kali ada kata amin dari doa panjang yang saya minta dengan betul-betul. Waktu itu, saya ingat betul “amin” itu betul-betul dapat jawaban. EXACTLY THE SAME POINT. Gila ya? Waktu itu saya sempat ngeri juga sih melihat doa yang terjawab persis. Sekaligus dibuat takjub betapa hebatnya Tuhan, aduh siapalah saya yang hanya meminta semata. Saya sejak saat itu, dari dulu sih, cuma mulai itu saya makin yakin kalau doa memang harus detil dan hati-hati banget sama apa yang kita minta.
Kenapa? Karena kalau kejadian ya biar sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Dan sekarang 2020 sudah beranjak lebih dari separuh, sudah di tengah jalan. Corona masih saja merebak. Hari ini, Kamis (9/7) bahkan salah satu lonjakan Covid-19 tertinggi di Indonesia terjadi. 2,657 kasus baru! Wah ngeri juga. Padahal per Juni-Juli ini kalau boleh dibilang kegiatan saya di kantor udah mulai aktif lagi meski masih pakai sistem piket on-off. Tapi ya mulai aktif liputan lagi, perjalanan ke luar kota lagi, wara wiri lagi, aktif ketemu orang banyak kadang-kadang walau masih banyakan aktivitas yang dikerjakan secara online.

Istilah new normal juga mulai digaungkan di mana-mana. Banyak tempat umum yang mulai dibuka. Car Free Day Thamrin-Sudirman juga sudah sempat aktif 1x meski minggu selanjutnya akhirnya ditutup lagi dan dipecah menjadi beberapa titik konsentrasi di 5 wilayah kota Jakarta. Lonjakan pesepeda dan warga yang berolahraga mulai tumpah ruah di jalan-jalan Jakarta.

For a quick recap, udah 2 bulan menuju 3 bulanan saya ikutan meditasi via online sama Pishi. Awalnya iseng lama lama kok enakan. Lama- lama ya merasa teduh walau kadang butuh energi besar banget untuk melawan rasa malas dari dalam diri ini untuk mulai latihan meditasi lagi. For my own sanity di tengah ombang-ambing dunia, ahzek, nanti kapan-kapan kalau meditasinya udah naik kelas dan makin rajin bakal saya post lagi perkembangannya. Sejauh ini latihan paling favorit masih seputar Trilogy: Compassion, Forgiveness,Surrender ah dan tentu saja Law of Attraction. Sudah lewat mid 2020 dan masih berharap banyak di latihan LoA. Ah ya, kali aja penasaran, I’ll drop down the account, you can find her at IG @pishiyoga, bisa dicari bahan latihannya di Spotify Peace Sea Podcast atau kadang suka ada IG live meditasi bareng at her own IG on weekend! 😍

Pada akhirnya di 2020 ini, di bulan ke tujuh saya masih berharap semoga semesta berpihak pada doa-doa saya. Semoga permasalahan pandemi ini cepat-cepat kelar, semoga banyak orang yang segera pulih baik badannya, jiwanya, maupun ekonominya. Semoga yang ditarik-tarik energi dari semesta segera berpadu. Semoga...


Ps: separuh tulisan sudah mengendap di draft dari bulan April 2020. Selesai 3 bulan kemudian karena terlupakan.

-HS-


Rabu, 08 Juli 2020

Melihat Kehidupan Anak SMA Borjuis (Review ELITE S1- S3)

 
Pernah kah kalian merasa hidup akan jauh lebih mudah dengan hadirnya uang? Atau mikir kalau masalah hidup bakal kelar kalau kalian tajir? 
 
Nah di ELITE, series original besutan Netflix ini kalian bisa dapetin jawabannya. Ternyata dengan menjadi tajir itu ya ribet broh, kalau udah banyak duit pasti ada aja deh yang diinginkan, entah milik orang lain, atau malah jadi lebih menggampangkan sesuatu.

Luar biasa ya series aja bisa ngajarin hidup sebegininya. Cuma santai aja, Elite itu bukan tipe tipe series yang bakal butuh mikir. Ikutin aja alurnya, kalau kesel ya kesel aja, ada kalanya nanti kalian dibuat menye-menye juga karena drama atau romancenya.

ELITE ini adalah salah satu series originalnya Netflix yang paling bikin gregetan yang pernah aku tonton.
Awalnya, aku pikir biasa aja ya ceritanya tentang kehidupan anak-anak SMA kaum borjuis di Spanyol sana. Rupanya inilah awal masalahnya.