Rabu, 06 Mei 2020

Natuna dalam Memori (Part 2)


Halo Buk Hanna! Apa kabar buk di sana? Gimana dengan Corona?

Belakangan sejak berita Corona merebak ada beberapa teman-teman dan keluarga di Natuna yang bertanya kondisi di Jakarta dengan adanya Corona. The power of media, aslinya biasa-biasa saja tapi rupanya efek pemberitaan di media bikin momok yang lebih seram. Ya meski Corona sepantasnya kita waspadai, tapi memang seram sekali gambaran tentang Corona di Jakarta akhir-akhir ini, udah zona merah, sepi, rawan penularan pula.

Lama tak bertukar kabar, tentu persoalan Corona yang mendunia ini jadi topik terhangat yang mampu menyambung silaturahmi saya dengan warga desa penempatan saya dulu di Setumuk. Untungnya hingga saat ini tidak ada kasus di Natuna dan semoga tetap tidak ada hingga pandemi usai. 

Jadi menyambung part 1 yang sudah lama sekali itu postnya. Wow gila sungguh kebaperan akan Natuna rupanya membuatku sulit untuk menuliskannya selama 2 tahun terakhir! Hahaha.
Izinkan aku untuk update lagi cerita-cerita tentang Natuna karena sesungguhnya masih segambreeng kenangannya memenuhi hati dan pikiran, in a good way.

Foto waktu awal-awal di Natuna. Background nya Pantai Tanjung.


Ternyata tulisan terakhirku tentang Natuna itu sekitar 2 tahun lalu. Cukup lama juga ya, rupanya 2019 jadi tahun tersibuk sepertinya.
Kemarin saya sudah berjanji di part 1 untuk cerita tentang anak-anak dan sekolah, juga nantinya akan ada lanjutan mengenai teman-teman PM dan penggerak lokal di Natuna. 
Mari kita mulai pembahasannya dari semesta yang terdekat dengan saya semasa tugas. Yes, saya pakai kata semesta seperti bahasa waktu Indonesia Mengajar dulu. :)


  1. Anak-anak. Anak- anak di Natuna punya antusiasme besar terhadap hal-hal menarik di buku ensiklopedia, cerita-cerita warna-warni yang dikemas secara menarik di buku anak-anak. Nggak terlalu jauh berbeda dengan anak-anak yang sering kamu temui kan? Karena sesungguhnya memang tidak ada perbedaan signifikan antara anak di Natuna dan Jakarta, hanya saja kebiasaan dan akses pendidikan mungkin sedikit berbeda.
    Sebelumnya mari hilangkan kesan bahwa Natuna ada di tempat antah berantah yang begitu terpencil. Dulu, pertama saya sampai di desa Setumuk, kondisi jalannya memang payah meski masih beroperasi sepenuhnya walau belum beraspal. Tanah merah yang tidak rata dengan kondisi berbatu berpasir harus dilalui oleh anak-anak murid saya yang ada di Dusun Batu Karut untuk berangkat ke sekolah, dengan perjalanan memakan waktu 15 menit berjalan kaki. Pagi- pagi anak-anak dusun Batu Karut biasanya berjalan bergerombol untuk berangkat ke sekolah. Mereka kadang harus melewati jalanan itu yang berbukit, kalau hari hujan, lumpurnya semakin mempersulit mereka untuk ke sekolah, sehingga sepatu harus dilepas dan pakai jas hujan plastik atau berpayung ke sekolah.
    Foto sama anak-anak satu sekolahan. Di depan gedung sekolah lama.

    Tapi saya amat-amati anak-anak ini suka sekolah, apapun terjadi mereka tetap pergi ke sekolah dengan riuh bersama teman-temannya. Sebagian anak lagi mungkin ada satu dua anak yang diantar orang tuanya dengan sepeda motor atau Honda, begitu kami menyebut motor di Natuna terlepas dari apapun merk motornya.

    Pertama saya mengajar di sekolah, saya kagum betapa anak-anak ini sering sekali membaca buku di perpustakaan, meski tidak semuanya. Mereka bertanya tentang apapun yang mereka baca, mereka menggumamkan apapun yang menarik menurut mereka. Kemudian hari saya baru tahu dari salah seorang murid kelas 5, Maria (sekarang Maria sudah SMP) kalau mereka sudah membaca buku di perpustakaan itu bertahun-tahun lamanya, diulang-ulang.
    “Habis tak ada buku baru lagi buk di sini. Jadi saya sudah 4-5 kali baca buku yang sama di perpustakaan ini,” kata Maria waktu itu.
    Waktu itu bulan Januari, ada kunjungan dari SDN 005 Selading, seragam mereka gemas ya warna pink.

    Rupanya pasokan buku-buku baru di perpustakaan sekolah lama datangnya sehingga stok buku lama lah yang terus-menerus dibaca berulang oleh anak-anak.

    Pernah beberapa kali anak-anak ini membuat saya haru. Kami ini kan tinggal di kampung ya, jangan sangka bisa ada warung dengan jajanan sebanyak yang ada di kota, apalagi yang menjual makanan-makanan ringan. Jadi dari masa ke masa selama di Natuna cemilan saya udah kayak anak SD, ya biskuit coklat lah, Choki-Choki, Richeese Coklat, dan sejenisnya. Tapi biasanya saya belanja stok cemilan untuk seminggu ke pusat kecamatan di Tanjung Kumbik. Waktu itu saya kehabisan cemilan dan pengem banget ngunyah Richeese coklat 😂 Receh ya. Siangnya waktu saya lagi mengajar kelas tambahan, ada satu murid yang baru dateng dari Tanjung Kumbik, dia bawa Richeese coklat itu ke saya. “Ini buat ibuk, tadi kami beli jajanan,” katanya. Saya kaget. Pertama, dia masih kelas 1 atau 2 yang mana waktu itu pasti namanya wafer coklat begitu berarti untuknya. Kedua, cemilan itu sendiri tidak setiap hari bisa dia makan. Ketiga, saya bahkan tidak pernah mengucapkannya kalau pengen ngemil itu, cuma dalam hati aja hahaa.
    Ini sepertinya waktu Apel Pagi atau abis upacara. Dikit kan muridnya? Sekolah kami terpisah jadi 3 gedung.

    “Iya gak apa buk, kami masih punya banyak di rumah. Ambil lah,” katanya waktu itu, lucu sekali raut wajahnya. Ikhlas betul dia, padahal biasanya sama temannya bisa sampai bertengkar luar biasa kalau perkara rebutan makanan.
    Selanjutnya anak-anak lain pun sama mengharukannya dengan hal-hal seperti menawarkan membawa laptop saya yang lumayan gede dan berat ke sekolah. Iya buk gurunya ini memang mudah terharu.
    Selain itu, pernah satu-dua muridku datang ke rumah.
    “Buk ini dari mamak. Tadi mamak bikin ini di rumah.”
    “Buk nanti malam ke rumah ya, kami masak tambul (kue) di rumah.”
    Sesederhana itu saya betul-betul mudah terharu mengingat kebaikan-kebaikan di sekitar saya. Berada di sekitar anak-anak Setumuk tidak pernah sekalipun saya menyesali keputusan saya untuk ke Natuna.


    2. Kehidupan Sekolah. Sebelumnya SK saya tertulis bahwa lokasi penempatan adalah di SDN 007 Setumuk. Tapi di pertengahan 2017 nama sekolah berganti menjadi SDN 003 Setumuk. Ini terjadi karena ada perkembangan kecamatan, yang semual sekolah kami ada di kecamatan Pulau Tiga tapi sekarang berkembang dan menjadi kecamatan mandiri yaitu Kecamatan Pulau Tiga Barat.
    Kalau ini foto sama sebagian guru di depan plang sekolah lama:SDN 007 Setumuk.
    Pertama kali masuk ke sekolah ini ada 9 orang guru termasuk guru agama, guru olahraga, dan Kepala Sekolah jadi ditambah saya ada 10 orang. Dihitung-hitung jumlahnya pas banget untuk jadi guru kelas, bahkan kurang karena Kepsek pun harus turun tangan jadi guru kelas. Waktu itu saya harus mengajar di kelas 3 membantu Ibu Kepsek mengajar karena seharusnya beliau tidak menjadi wali kelas, dan saya sebagai pengajar muda tidak diperkenankan menjadi wali kelas hanya boleh sebagai guru bantu. Kenapa begitu? Nanti akan saya bahas di post selanjutnya.
    Ini foto guru-guru versi lengkap waktu saya di Setumuk.

    Ini foto guru-guru lengkap per tahun 2020 waktu perpisahan Heru dan penyambutan Jannah.

    Per tahun 2020 ini jumlah murid di SDN 003 Setumuk ada 37 orang. Sedikit ya? Iya itu jumlah satu sekolah, tidak banyak anak-anak memang di desa kami. Kalau di Jakarta, untuk ukuran sekolah negeri mungkin 30 an itu jumlah satu kelas. Tapi di Setumuk, satu kelas hanya terdiri dari 2-9 orang murid saja per kelasnya. Muridnya boleh sedikit, tapi tetap ada tantangan tersendiri mengajar dalam jumlah yang private seperti itu. Dan teknik mengajar untuk mengontrol kelas, mengorganisasi murid, dan berlangsungnya kegiatan belajar mengajar yang sesuai dengan RPP itu betul-betul nyata bahkan di kelas yang jumlahnya sedikit sekalipun.
    Foto perpisahan kelas VI Tahun Ajaran 2016-2017 di halaman sekolah. Satu kelas cuma 7 orang.

    Salah satu berita baik mengenai sekolah di Kabupaten Natuna, secara umumnya sekolah gratis dan dibiayai Pemerintah. Jadi di desa kami sejauh ini tidak ada anak putus sekolah, terlebih SD karena semuanya memilih untuk bersekolah. Namun setelah menjalani masa 1 tahun di Natuna, saya dan beberapa teman-teman Pengajar Muda (PM) membahas mengenai "Uang Sekolah Gratis" ini dalam diskusi internal kami sesama PM.
    Teman diskusi saya waktu di Natuna.
    Mulai dari diskusi receh nan gembel, politik, sampai bahas eksistensi peradaban dunia.

    Sekolah gratis pada awalnya memang digagas untuk memberikan akses seluas-luasnya kepada anak usia wajib belajar untuk mengenyam pendidikan. Tidak salah memang, hanya saja sering kami temui karena uang sekolah yang gratis lantas sewaktu-waktu baik anak maupun didorong dari orang tuanya lantas mudah sekali untuk izin tidak masuk sekolah kepada guru. Misalnya saja saat musim cengkeh. Di Natuna kalau sudah musim cengkeh, mulai dari muda, tua, juga anak usia tanggung ikut dalam euforia panen cengkeh. Ramai orang berbondong-bondong pergi ke ladang, memetik cengkeh dan menjemurnya sampai kering. Harga cengkeh kering di Natuna rata-rata 75ribu per kilogram atau kalau sedang musim raya bisa menyentuh angka 120 ribu per kilogram kadang bahkan musim cengkeh ini membuat sebagian orang harus “pindah rumah” sementara ke pulau atau daerah yang cengkehnya betul-betul berbuah banyak. Tidak sedikit murid yang absen atau “pindah sementara” untuk jangka waktu 1-1,5 bulan karena ikut orang tuanya pindah ke pulau lainnya. Ada juga anak yang masuk dengan system on-off. Jadi sabtu pekan ini dia masuk, pekan berikutnya dia libur. Murid kami tidak banyak, jadi siapa yang tidak masuk langsung ketahuan saat itu juga. Tak hanya musim cengkeh, kadang ada anak yang iseng tidak masuk hanya untuk ikut ayahnya atau keluaarganya mencari ikan/memancing. Terkadang pula ada yang tak masuk 1-2 hari jika sedang ada hajatan di desa atau rumahnya.

    Dipikir-pikir lucu juga sih. Untuk absen dan tidak masuk sekolah jadi perihal yang tidak terlalu sulit, apalagi orang tua tidak dibebankan dengan uang sekolah. Jadi ibarat mau masuk 25 hari dalam satu bulan atau hanya 20 hari saja pun, beban yang ada sama, karena tidak ada yang dibebankan uang sekolah. Namun sekolah memang tak semata hanya soal pengorbanan uang. Sekolah memang seharusnya dimaknai sebagai kebutuhan hidup, di mana saat satu kali tidak masuk sekolah ada rasa tertinggal pelajaran. Satu kali tidak masuk, maka ada waktu lain yang harus dibayar untuk mengejar ketertinggalan itu. Seharusnya demikian memang.

Jadi untuk saat ini, sepertinya cukup sampai di sini dulu untuk cerita-cerita tentang Natuna Part 2 nya. Buat yang belum baca part 1 nya yang sudah saya tulis 2 tahun lalu, bisa dibaca di sini. Part selanjutnya sepertinya akan membahas tentang teman-teman PM secara umum di Natuna, penggerak Natuna. Dan hmm post gedung sekolah sebelum dan sesudahnya juga boleh.

Foto Perpisahan saya waktu habis masa tugas.
Di sini mau mewek, pidato aja bikin notes dulu beberapa hasri sebelumnya.

Setelah 3 tahun, baru ini saya bisa uploadnya lagi. Btw ini sama anak-anak kelas 1 yang sekarang sudah tinggi-tinggi.

Atau ada usul lain yang menarik untuk dibahas lagi tentang pengalaman di Natuna?
Monggo...

Sampai jumpa di post selanjutnya. Kalau ada keluh kesah, usul masukan, atau apapun silahkan share di kolom komentar ya!

Salam,
-HS

0 komentar:

Posting Komentar