Jumat, 01 Mei 2020

How Money Heist (La Casa de Papel) Inspired Me


Hola buenos dias amigos! Como estas?

Yes! Ini efek kebanyakan nonton Money Heist hahaa! Jadi untuk postingan kali ini aku bakal review tentang film yang judul aslinya La Casa de Papel aka Money Heist yang aslinya berbahasa Spanyol. Jadi film ini ceritanya baru 2 minggu lalu aku tonton di Netflix.
Ceritanya tentang perampokan yang tersusun sistematis dan rapi banget. Menjanjikan premis yang bagus sih kalo menurut aku di awalnya. Tokoh utamanya ada El Profesor yang nantinya dibantu oleh 10-12 orang timnya yang asli solid banget dan punya spesialisasinya masing-masing.
Pertama nonton film ini dan baca premis awalnya aku teringat sama Now You See Me dan 21.

Film ini pertama tayang pada 2017 lalu dan sekarang di 2020 masih jalan season 4 nya.
Film ini ada sebagian sisi filosofis yang dibangun jadi dasar dan alasan mereka untuk merampok. Seperti namanya, iya betul ini film perampokan dengan genre drama. Yang paling saya suka yaitu gimana cara film ini dibangun dengan kekuatan karakternya, juga alasan mereka merampok yang tidak sekadar memperkaya diri sendiri. Bak Robin Hood, ada adegan mereka untuk ga pelit “bagi-bagi” uang ke orang lain.

Dari film ini saya menemukan hal-hal menarik dari segi psikologisnya. Tentang bagaimana penonton pada akhirnya bersimpati kepada para rampok-rampok rupawan ini, tentang cara bertahan hidup ala sandera, juga sisi profesionalisme dan pribadi yang sebaiknya tidak dicampurkan dalam satu tabung reaksi yang sama. Karena akhirnya boom! Bisa meledak kapan aja. Hal yang bikin saya sebel-sebel geli yaitu cerita cintanya di film ini yang menye-menye sekali. Banyak scene yang bikin garuk kepala karena ini rampok ya boleh lah mainannya senjata kelas berat dan laras oanjang, bom, jotos-jotosan sangar tapi kalau udah jatuh cinta eh otaknya ga kepake semua. Oops, didn’t we all?

Sisi artistik dalam film ini juga patut diacungi jempol. Tentang bagaimana pemilihan warna merah sebagai dominasi yang bahkan ternyata sudah muncul di scene pertama dalam episode pertamanya. Dan selanjutnya, warna merah ini akan mendominasi di episode seterusnya dengan kostum jumpsuit yang bakal kalian ingat selamanya abis nonton film ini. Dan yang tidak boleh dilupakan selain bahas tata artistik, jangan lupa ada topeng Dali yang pada akhirnya menggiring penonton untuk mengasosiasikan Dali sebagai resistance dan ini akan ditegaskan beberapa kali juga dalam dialognya.

Money Heist dibawakan dengan cara dinarasikan oleh salah seorang tokohnya yaitu Tokyo. Seolah-olah ini diceritakan dari sudut pandangnya Tokyo. Dan Tokyo jadi salah satu tokoh perempuan yang powerful di sini. Ah karena udah bahas Tokyo, aku mau cerita tentang keunikan film ini di mana nama-nama tokohnya pakai nama-nama kota. Tokyo, Rio, Nairobi, Denver, Palermo, Berlin, Moscow, Bogota, Helsinki, Oslo, Stockholm, Lisboa, Marseille. Semua yang terlibat dalam perampokan itu, yang jadi tim perampoknya punya alias pakai nama-nama kota. Jadi sejak awal si Profesor menekankan ada rule: tidak ada hubungan pribadi, terlebih love relationships. Oleh karena itu lah nama-nama mereka pakai alias semua termasuk si Profesor. Akan ada saatnya di Season 2 ke atas nanti mulai terungkap nama-nama asli dan background para pencuri ini. Dan akan ada saatnya muncul benih-benih cinta di tim mereka yang sudah pasti bikin chaos. Love is always complicated, right?

Biasanya film-film berbau kriminal ini bikin penonton jadi otomatis benci atau musuhin si penjahat. Di film ini dan seperti yang sudah aku lihat ke official account La Casa de Papel di Instagram kok justru banyaaak sekali yang ngefans dengan tim nya Profesor. Ah aku pun! Di film ini aku suka banget sama karakternya Nairobi. Seorsng perempuan, yang kuat dan jarang mau terlibat konflik, selain itu dia jadi kayak quality manager nya dalam operasi perampokan ini. Loh emang apaan kok pake Manager segala?

Sekarang beranjak bahas sedikit plot nya. Jadi di sini ceritanya si Profesor merekrut orang-orang pilihannya untuk dijadikan tim dalam perampokan. Si Profesor ini punya masterplan yang sudah bertahun-tahun dia rencanakan dengan matang. Profesor ini tipe-tipe nerdy yang well planned jadi dia selalu punya rencana cadangan dengan persiapan yang ga diragukan lagi. Bagaimana cara mereka bertahan dengan perampokan yang jumlahnya luar biasa besar ini, strategi mereka untuk bernegosiasi dengan polisi, media, dan sandera, serta cara mereka menangani krisis dalam internal mereka jadi suguhan yang menarik di Money Heist ini. Tak ketinggalan juga kisah cinta nan romantis, yang buat aku malah kok agak mengganggu ya. Karena kok bucin banget sih mereka-mereka ini. Cinta itu bikin konflik dan malah bikin rumit rencana matang itu. Tapi sepertinya kisah-kisah bucin itu yang jadi bumbu penyedap di Money Heist yang bikin kita nagih untuk nonton terus.

Satu lagi yang patut diapresiasi dari film ini adalah dengan adanya plot perampokan yang terstruktur rapi, tentu kita harus salut sama tim di balik naskah dan skenarionya. Tentang bagaimana cara mereka melelehkan emas (oops minor spoiler alert) ini bahkan mereka sampai bawa cameo dari ahlinya sendiri yang ikutan main di film ini. Salut untuk riset mendalamnya, termasuk tentang Stockholm syndrome. Jujur ketika pertama melihat ada perampokan sekaligus penyanderaan korban, apalagi kejadiannya berlangsung beberapa hari, di kepalaku muncul pertanyaan: “Nanti ada Stockholm syndrome nggak ya?” Voila ternyata muncul. Bahkan ada 2 kasus sejauh yang saya ingat muncul di film ini yaitu Monica Gaztambide dan Ariadna. Untuk Ariadna sepertinya syndrome dia karena ga sepenuhnya jatuh cinta tapi karena perasaan membutuhkan aja.

Btw, abis nonton Money Heist ini karena di Netflix ada 1 lagi semacam post-production atau behind the scene film tentang Money Heist judulnya “Money Heist The Phenomenon” yang membahas tentang seberapa meledaknya film ini di berbagai belahan dunia. Dari sini saya jadi tahu banyak hal serba serbi perjuangan mereka syuting dan seberapa bapernya mereka saat ada satu karakter yang harus “dimatikan”. Dan aku sih sebaper itu juga emang saat karakter kesukaanku mati di sini. Asli deh bikin lebih bucin dari drama korea ini sih hahaha! Yang bikin cukup kaget juga karena di luar sana ternyata ada orang yang terinspirasi untuk merampok bank dengan kostum ala tim nya Profesor lengkap dengan topengnya. Wow! Dan lebih banyak lagi ketika dresscode ini dijadikan dress code long march yang melambangkan resistance, sering dipake jadi kostum demo lah atau biasanya seruan aksi protes gitu.

Dan untuk mengakhiri review yang lumayan panjang ini, buat saya Money Heist layak dapat fangirling dari aku, hahaha. Film ini meninggalkan banyak hal yang bikin terngiang-ngiang, seperti ucapan: La Puta Ama dan banyak istilah-istilah dengan bahasa Spanyol lainnya yang bikin penasaran. Ah jangan lupa suara Nairobi waktu bilang “chiki pum, chiki pum, chiki pum”, dan suara ketawanya Denver yang fenomenal banget itu juga!
Jarang banget abis nonton aku langsung bahas apalagi sampai browsing lebih jauh tentang filmnya, kepoin sosial media tokoh-tokohnya, dll. Bahkan sampai hari ini aja aku masih berharap banyak season 5 bisa tayang segera, semoga ga terpengaruh corona. Akhir kata, Ciao Bella!

Salam hangat dari aku yang sedih tokoh favoritnya mati,

-HS-

0 komentar:

Posting Komentar