Minggu, 21 Oktober 2018

Aku Menyukai Senyummu

Aku menyukai senyummu.
Dan tawamu
Dan rambutmu
Dan binar matamu, meski tidak alismu.
Maafkan aku, untuk yang satu itu penilaianku sulit diubah.

Aku menyukai senyummu.
Terlebih aku suka mendengar cerita-ceritamu.
Aku suka mendengar suaramu.
Entah sedang bicara atau bersenandung kecil,
Pasti aku dengarkan.
Entah dekat atau dari jarak yang cukup jauh meski samar

Aku menyukai waktu yang kuhabiskan denganmu.
Aku menyukai selera humormu yang tak seberapa.
Aku menyukai semua kelebihanmu
Aku menyukai argumen-argumenmu yang kadang bersebrangan denganku
Aku menyukai kejujuranmu pada satu waktu
Aku menyukai caramu membingkai cerita,
Mana yang perlu aku tahu dan mana yang tidak,
Meski kelamaan ada beberapa hal yang membuatku merasa perih

Aku menyukai caramu menenangkanku
“Tenang semua akan baik-baik saja”
“Semangat!”
“Kenapa harus khawatir?”
Sesederhana itu, tapi aku menyukai kalimat-kalimat itu.
Aku menyukai efek sesudahnya, aku mulai tenang, teduh.

Yang tak aku suka hanya satu:
Aku tak suka akhir cerita ini.
Entah kapan, tapi aku tahu
Memang salah caraku memperpanjang bahagia dengan menunda sedih.
Aku tidak pernah suka akhir cerita ini, nantinya.

Tapi, semoga nanti baik-baik saja, seperti katamu.


rgrds,
HS

Selasa, 09 Oktober 2018

Refleksi Perjalanan Pulang

Perjalanan pulang itu selalu menjadi waktu yang saya tunggu.
Ditunggu namun tak berarti menjadi waktu favorit saya dalam satu hari.
Saya tak melulu suka pulang, rumah selalu punya konsep berbeda buat saya.
Lain hal dengan keluarga, tempat tujuan pulang saya sesungguhnya.
Mari kita bicarakan keluarga di lain waktu.

Perjalanan pulang, darimana pun itu, luar kota atau dari kantor atau sehabis berkegiatan apa saja punya daya tarik kuat untuk membuat saya berpikir.
Malam-malam, pulang,naik ojek, macet, lama di jalan.
Kondisi yang sempurna untuk diam dan berpikir di tengah keramaian bukan?
Hari ini saya menemukan kata tepat untuk perjalanan pulang saya beberap waktu terakhir: Reflektif.
Saya senang mengetahui diri saya menamainya demikian.
Karena bagi saya waktu pulang kerja kadang bikin saya mikir.
Apa aja yang dipikirin? Banyak, dari yang receh sampai serius.

Kamis, 04 Oktober 2018

Perihal Patah Hati

Terinspirasi dari sebuah grup WA yang tiba-tiba riuh

Jakarta 19 Juli 2018

Barangkali kamu tak tahu,
Hari itu betul-betul ada gemuruh yang tak beraturan di dada
Tanganmu mengulur, meminta salamku untuk berkenalan
"Dari Jakarta ya?" sapa pertamamu
Selanjutnya kita bertukar nomor
Tak lama malamnya rasa penasaran meruntuhkan egoku
"Halo apa kabar?" sebuah pesan yang kukirim yang rupanya tak langsung kau balas
1-0
Aduh aku malu, kalah rasanya saat itu
Hanya karena penasaran lantas kubuang rasa malu untuk memulai percakapan duluan
---

Akhirnya rasa penasaran itu berkembang
Awalnya enggan kuakui tapi sepertinya benar
Suka, iya suka dengan kehadiranmu setiap hari
Suka dengan segala pembicaraan ringan bersamamu
Suka melihatmu bahkan menyadari kau hadir hari itu
Ya barangkali kamu tak tahu, rasa itu sudah berubah lebih besar
Saat itu kamu orang paling baik yang pernah kutemui
Tawamu begitu renyah mengisi sela- sela hariku
Saat itu kamu definisi keindahan yang kukenal
Indah matamu dan tegasnya tulang pelipismu kerap terlintas tatkala mengingat pembicaraan kita sebelumnya
---

Barangkali kamu tidak tahu,
Pertemuan demi pertemuan kita yang akhirnya harus tersembunyi
Kala itu ujung ke ujung kota kenal kita, terlebih kamu
Tak nyaman rasanya
Kala itu aku pernah bilang untuk mengakhiri ini sedini mungkin
Ada rasa yang ganjil dan salah meski nyaman, kala itu
Kamu kala itu masih ragu harus melangkah maju atau mundur, denganku atau tidak
Hingga suatu ketika kubulatkan suaraku
"Ternyata tidak enak ya kalau bertepuk sebelah tangan"
Saat itu kamu menunduk sejenak dan terdiam
Tak lama kau jawab "Tidak bertepuk sebelah tangan kok, hanya keadaannya tidak bisa bersama saat ini"
Sebuah jawaban yang entah harus disikapi senang atau tidak tenang
Tapi aku sadar kamu jawab begitu karena memang tak hanya ada kamu dan aku
Tidak, bukan salahku memang
Ini murni ketidaktahuanku, kamu pun tak pernah berniat begitu jujur padaku
Akhirnya kandas, begitu saja lepas
Aku patah tak berbantah
Kau jatuh dan rebah
---