Selasa, 13 Februari 2018

Menjalani Impian

"Han, lagi sibuk apa sih?"

Banyaaak sekali pertanyaan seperti ini, serupa dan sejenis, yang menghampiri saya belakangan ini. Pertanyaan yang memang nggak salah sih ditanyakan. Cuma emang agak sensitif ditanyain dulu waktu baru kelar tugas di daerah. Rasanya mau break dulu dari kerja, liburan dulu. Eh lha society udah repot aja nanyain. (((Society)))
Tapi tenang, untungnya, hidup saya masih lebih jumpalitan di 2015, masa tunggu sejak lulus kuliah ke dapet kerja agak lama, padahal mah waktu itu ada yang digarap juga, cuma ga semua orang tau aja.
Wajar- wajar aja sih sebenarnya pertanyaan begitu, meski saya sempet sensi ditanyain, karena memang setahun terakhir kemarin saya abis menarik diri dari peradaban, jadi guru SD di daerah 3T.

          

Jadi kalau saya jawab sih sekarang, jawabannya begini: "Lagi sibuk menjalani impian nih. Menjalani hidup sesuai yang aku impikan."


Sadisss banget yekan. Hahaha maap.
Tapi di luar itu, beneran deh sekarang saya lebih selektif semenjak pulang dari Natuna. Bongkar ulang, re-planning the future. Fokus ke target. Targetnya apa? Ada, banyak. Salah satu target terdekat adalah kuliah lagi, di Inggris. Target yang deket banget meski ngga mudah memang mewujudkannya. Target selanjutnya pun masih banyak: keliling Indonesia, punya lensa baru, nulis buku (semoga tahun ini launching), menang lomba nulis atau foto, hidup sehat mulai 2018, lebih hemat dan bijaksana saat mengeluarkan uang, bisa berbuat hal yang nyata juga untuk pendidikan daerah (panjang cerita dan memang panjang jalannya untuk ini).

Hal terdekat yang sudah terealisasi adalah dengan membuat dapur ngebul kembali. Asiikk :))
Jadi sesungguhnya, semenjak kerja di Blok M 2 tahun lalu, saya kok agak gimana gitu sama perjuangannya ke Blok M. Iya tau, Cempaka Putih- Blok M emang ga jauh- jauh banget. 19 km ajah emang, bisa naik Trans Jakarta, atau ojek online cuma 20 ribuan emang. Tapi untuk jam kerja yang fleksibel banget rasanya agak watir juga.
Makanya,


Well, I'll keep this story later. Akhirnya saya punya impian, untuk kerja di sekitaran Cempaka Putih aja ah. Lha tapi di Cempaka Putih ngga ada kantor yang cihuy! Akhirnya mulailah memperluas zona nyaman, eh nyaman juga nih sekiranya ngantor di Monas atau sekitaran jalan Medan Merdeka gitu. Ga cuma di situ aja, dulu waktu masih di private sector mikir kok kayaknya seru cobain tantangan kerja di government, bagian public policy kan yang pegang government dan memang ngaruhnya sih ke private sector yang waktu itu jadi ranah kerja saya. Tapi kemudian Tuhan berkata lain ya kan. Saya mencicipi kerja dulu di education sector tapi jalannya melalui sebuah NGO (non government organizations).

Sesudahnya barulah tunai tugas saya di daerah, saya off bekerja di Januari 2018. Eh Februari 2018, Puji Tuhan, rezeki dapur ngebul nyangkut! Hahaa. Kerja lah di government per Februari. Btw kerja ini pun saya yakini sepenuh hati bahwa ngga semua pekerjaan itu semata materi dan karir. Tapi satu hal: membuat pikiran tetap berpikir. Ini yang amat saya perlukan dari bekerja. Dan lagi yang saya syukuri, sejak 2015 berarti saya sudah berkarya di 3 sector: private, NGO, dan government. Well, not to mention that I'm good at this, but I'll try my best to keep up the good of life. Yak pokoknya begitulah, undescribable.

             

Saya nulis ini bukan untuk pamer, lha ngapain juga karena masih bukan siapa- siapa. Karena sejauh ini saya masih mencoba menjadi person yang peduli pada mimpinya sendiri. Saya dulu adalah orang yang suka meniadakan ego saya, suka lupa kalo diri sendiri pun perlu diperhatikan. Ya gitu deh.  Tapi thanks to Indonesia Mengajar, sejak setahun lalu saya belajar untuk lebih mengenal diri saya sendiri. Mengetahui apa yang kamu mau dan kamu senangi itu penting. Sejak saat itu saya tulis semua mimpi saya yang pernah tercetus dan belum terwujud. "Ya tulis aja dulu, kali aja semesta mendukung dan bisa mewujudkan banyak keinginan saya ini," gitu pikir saya waktu itu. Pun awal tahun 2018 ini saya nulis lagi resolusi baru dan yang lama yang belum terwujud.

Sekali lagi demi...ya kali aja Tuhan sedang bermurah hati mewujudkan keinginan hambaNya yang suka lupa diri ini. 2016- 2017 adalah salah satu masa dalam hidup yang rasanya saya nggak perlu minta apa- apa lagi sama Yang Kuasa. Semua wishlist utama saya hampir terpenuhi. Saya sampai sempat takut akan menghabiskan "jatah keberuntungan" saya di tahun itu.

Tapi semoga tahun 2018 ini lebih grande lagi kejutan- kejutan manisnya :)
Dan tahun 2018 ini saya masih berusaha untuk tetap di jalur hidup sebagai seorang Hanna yang sesungguhnya. I made my own rule in my life. Jadi sekarang, izinkan saya menjawab pertanyaan itu dengan yakin: "Saya sedang hidup dan menjalani mimpi- mimpi saya dari dulu."

So, follow your life path, make your own rules in your own life, not people's.

Regards,
HS.

*Btw meme buibuk yang kocak dan nyeni banget ini didapat dari akun FB Page terngehits: Qasidah Memes for all Occasions. Love banget deh! ❤❤❤

Jumat, 09 Februari 2018

Program Mudik Gratis Kemenhub: Solusi Nyaman Pulang Kampung

Mudik adalah sebuah ritual unik yang terjadi di Indonesia, terlebih puluhan juta
masyarakat turut melakukan kegiatan ini. Dari data jumlah pemudik Lebaran 2017 yang dirilis
oleh Kemenhub, total 20 juta pemudik atau naik sekitar 2,5% dari tahun sebelumnya. Jawa
Tengah dan Jawa Timur adalah 2 contoh daerah tujuan yang sering dikunjungi pemudik.

Penuhnya jalanan antar provinsi yang seringkali berujung kemacetan panjang. Para
pemudik menggunakan beragam moda transportasi untuk dapat pulang ke kampung
halamannya. Mulai dari transportasi umum seperti kereta, pesawat, bis, hingga kendaraan
pribadi yang mereka kendarai hingga kampung halaman. Pada 2017, angka pemudik dengan
menggunakan kendaraan pribadi khususnya sepeda motor meningkat 18% atau sejumlah 6 juta
pemudik motor. Padahal penggunaan sepeda motor jarak jauh selain kurang nyaman pun
memiliki potensi kecelakaan lalu lintas yang cukup besar.

Ramainya pemudik tak hanya mengakibatkan macetnya jalanan, namun juga
meningkatkan resiko kecelakaan jalan raya saat. Banyaknya kendaraan pribadi yang sering
disalahgunakan seperti penggunaan sepeda motor untuk bepergian jarak jauh dengan bawaan
banyak serta mengangkut lebih dari 2 orang dapat mengancam keselamatan pengendara
lainnya. Merujuk data dari CNN Indonesia, pada mudik lebaran 2017 lalu ada kurang lebih 2.500
jumlah kecelakaan. Angka ini menurun 26 persen dibanding tahun 2016 akibat tindakan
preventif yang digencarkan oleh berbagai pihak.

Kemenhub misalnya, untuk mengantisipasi macet yang berkepanjangan serta rawannya
kecelakaan lalu lintas saat mudik, sejak lebih dari 5 tahun lalu mengadakan mudik gratis sebagai
salah satu solusi. Kemenhub bekerja sama dengan beberapa BUMN dan pihak swasta pada
Lebaran 2017 silam mengadakan Angkutan Sepeda Motor Gratis dan Mudik Gratis. Kemenhub
menyediakan angkutan sepeda motor menggunakan kereta api bagi warga yang ingin mudik
dan tetap membawa motornya ke kampung halaman. Selain itu, mudik gratis pun tetap
diadakan untuk tujuan beberapa kota di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Selain mendaftar langsung di Dishub wilayah Jabodetabek, Kemenhub pun
mempermudah calon pemudik untuk mendaftarkan dirinya dengan daftar online via situs
www.mudikgratis.dephub.go.id. Tak hanya via bis dan jalur darat, Kemenhub pun menyediakan
angkutan dengan kereta api, dan jalur laut dengan kapal penyeberangan. Tawaran mudik gratis
dari Kemenhub ini merupakan sebuah jalan keluar yang menarik. Pemudik ditawarkan pilihan
untuk lebih berhemat dengan program ini, motor pun tetap bisa dibawa pulang dan digunakan
saat di kampung halaman. Satu hal yang pasti, efisiensi waktu dan tenaga tentu lebih terasa
dengan ikut program mudik gratis ini. (Hanna Suryadika)

21 Januari 2018

Sumber: