Sabtu, 13 Januari 2018

Tentang Hidup (Part 1): UJIAN KEHIDUPAN



Sesungguhnya hidup adalah perkara ujian.

Ujian kehidupan, ujian semester, ujian SIM, ujian nasional, ujian akhir, dan banyak lainnya. Kebetulam dalam seminggu terakhir ini saya baru saja melalui 2 ujian: ujian SIM dan ujian TPA. Yang pertama jelas untuk dapetin SIM. Sementara ujian TPA atau tes potensi akademik gunanya untuk persyaratan daftar beasiswa.

Ternyata bener lho untuk melalui sebuah ujian itu ternyata bukan proses yang cepat. Udahlah lama, melelahkan juga, menguras energi dan belom lagi emosi yang habis- habisan. Seperti ujian SIM saya beberapa minggu lalu. Harus ngumpulin syaratnya, ujian tulis tentang pengetahuan rambu dan jalanan. Itu pun belum tentu lulus, hasilnya pun memakan waktu berjam- jam untuk bisa jadi. Tapi begitu SIM nya jadi, seneng banget dong! Jadi bisa ke sana ke mari bawa kendaraan tanpa takut kena razia hehee. Atau singkatnya, kita usah tenang dan aman di jalanan, karena udah naik kelas untuk jadi pengguna jalan yang taat. Kalau sebelumnya sih pengguna jalan yang nggak taat, karena mondar mandir bawa kendaraan tapi kok SIM nya mati haha.

Belum lagi baru- baru ini harus ikut tes TPA di Bappenas. Iya saya ikut tes nya personal, swadana hehe. Hasilnya keluar 4 hari sesudah tes. Saya pakai hasil tesnya ceritanya untuk lanjut ikutan beasiswa S2. Eh lha kok nilainya kurang dikiitt haha. Memang belum nasib, mungkin harus coba lagi dan harus banget serius belajarnya nih.

Itu contoh tentang ujian yang simpelnya dalam kehidupan sehari- hari. Hal ujian ini juga yang paling sering jadi hal memorable buat saya mengingat proses setahun kemarin waktu jadi guru SD di Natuna. Bu Hanna nih doyan banget ngetes murid- muridnya. Ujian formal atau informal pokoknya kena uji aja deh tuh murid- murid saya. Tujuannya apa? Saya ingin memancing rasa penasaran mereka, supaya mereka tahu di mana kelemahannya. Mereka harus rajin belajar di bagian pelajaran yang mana. Supaya mereka juga kompetitif, siap bersaing dengan murid lainnya. Dan lagi, supaya mereka layak naik kelas dan jadi juara. Iya dong?

Setahun kemarin, saya banyak belajar. Dari mulai mencoba banyak hal baru sampai dihadapkan pada banyak ujian- ujian kehidupan yang remeh temeh sampe yang grande banget. Untung ujian yang grande ini ngga sampe bikin saya goyah atau galau berat. Rasanya 'cuma menguras energi habis- habisan aja'. Tapi abis itu dapetnya apa?

Ya Puji Tuhan, jadi lebih sabar menghadapi orang. Jadi tau bahwa sepayah- payahnya kita atau kadang saya suka minder banget orangnya, ternyata masih ada lho yang lebih susah dari kita atau maaf ya, kadang lebih payah dalam beberapa hal. Kisah seperti ini yang buat saya bersyukur dan harusnya makin giat lagi untuk berbagi dan peduli dengan yang di bawah kita. Sepayah- payahnya gue ternyata masih bisa lho ngasih manfaat buat orang banyak. Ternyata saya bisa melakukan banyak hal diluar dugaan saya sebelumnya. Nah pemikiran seperti inilah yang saya dapatkan dari hasil ujian kehidupan saya kemarin.

Jadi kalau ditanya: sudah siap untuk naik kelas?
Yes tentu! Saya siap untuk tantangan yang lebih besar. Siap untuk naik kelas!

Btw, ada yang punya cerita tentang ujian kehidupan yang lebih menarik? Sharing dong... :)

Rgds,
HS

Kamis, 04 Januari 2018

Satu Tahun Berlalu

"Time is non refundable. Use it with intention" -unknown
Mungkin benar, waktu itu adalah musuh bagi orang yang lagi cinta- cintanya. Dan ternyata saya pernah segila itu.
Satu tahun yang paling gila dan tentu saja super memorable terjadi di 2017.
Anyway, postingan ini belum terlalu akan mellow jelasin perpisahan saya di Setumuk dan Natuna. But, I'll do it next time.

Saya sudah tahu kapan akhir masa tugas saya saat itu: Desember 2017. Jadi kalau tiba- tiba bete dan hopeless, tinggal inget aja kapan waktu pulangnya. Makin mendekati waktu 10 bulan, mulai deh mempersiapkan yang kita namakan "Perpisahan Terindah".

Saya bahkan udah mulai download lagu untuk perpisahan di sekolah nanti, versi karaoke nya gitu. Saya udah niatin mau nyanyi All I Ask. Maakk, galau gile. Ini saya udah sibuk nyari lagu All I Ask dari bulan April doongg hahahaa..
Tapi waktu itu kepikirannya buat lagu perpisahan anak kelas VI yang mau lulus.

Meski pada akhirnya saya berhasil nyanyi Samsons- Kenangan Terindah, dan tentu saja lagu Stinky- Mungkinkah. Inilah lagu perpisahan yang galau abissss yang berhasil saya nyanyikan di depan tamu dana murid- murid waktu perpisahan. Bapaak oyy! Hahahaa.


Sumpah saya ngga galau pas nyanyiin ini. Cuma pengen bilang sama murid- murid saya, Ibu udah latihan nyanyi ini, suaranya lumayan ya tapi ini semua demi kalian Ibu mau nyanyi :")

Kalau ga karena request mah bye. Saya cukup sadar suara saya.
Satu tahun berlalu, banyak yang terjadi. Perubahan terjadi. Entah meningkat atau menurun.
Cinta dan bahagia terjadi.
Cerita sedih terjadi.
Kisah bangga terjadi.
Terinspirasi dari orang lain pun sudah terjadi.
Satu tahun berlalu, perpisahan pun terjadi.

Saya jadi ingat dulu salah satu video dari Indonesia Mengajar atau tepatnya tim komsos pas rekrutmen PM XIII, pernah bilang gini: Satu tahun di pedalaman sana adalah satu tahun paling berharga. Sudah siap?

Saya sudah menjawab tantangan ini setahun lalu.
Siap nggak siap, saya berangkat.
Tapi toh nyatanya saya mempersiapkan keberangkatan saya ke Natuna dengan cukup baik. Pun demikian saat mau kembali ke Jakarta lagi saat purna tugas, saya siap. Meski separuh hati saya belum siap kalau sewaktu- waktu galau inget murid- murid di sana.

Bapak oyy, nak sebulan ni ibuk bolek kampung, rase hati ni lah piwang benu lah sama awak awak ni. 

Ayo dong yang cowok- cowoknya foto juga! 
Salam dari Buk Hanna yang ga usah ditanya terus tiap hari apa ibuk kangen atau ngga. Kangen oy!

Jakarta dini hari, 4 Jan 2018.

-HS-