Tuesday, October 9, 2018

Refleksi Perjalanan Pulang

0

Perjalanan pulang itu selalu menjadi waktu yang saya tunggu.
Ditunggu namun tak berarti menjadi waktu favorit saya dalam satu hari.
Saya tak melulu suka pulang, rumah selalu punya konsep berbeda buat saya.
Lain hal dengan keluarga, tempat tujuan pulang saya sesungguhnya.
Mari kita bicarakan keluarga di lain waktu.

Perjalanan pulang, darimana pun itu, luar kota atau dari kantor atau sehabis berkegiatan apa saja punya daya tarik kuat untuk membuat saya berpikir.
Malam-malam, pulang,naik ojek, macet, lama di jalan.
Kondisi yang sempurna untuk diam dan berpikir di tengah keramaian bukan?
Hari ini saya menemukan kata tepat untuk perjalanan pulang saya beberap waktu terakhir: Reflektif.
Saya senang mengetahui diri saya menamainya demikian.
Karena bagi saya waktu pulang kerja kadang bikin saya mikir.
Apa aja yang dipikirin? Banyak, dari yang receh sampai serius.

Hari ini perjalanan pulang membawa ingatan saya terbang ke waktu beberapa bulan silam, ada musibah yang menimpa, untungnya masih baik-baik saja.
Saya berpikir bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu pasti ada maksudnya.
Segala sesuatu yang terjadi pun atas KehendakNya.
Jadi musibah yang beberapa bulan lalu kok ya dipikir-pikir bisa jadi menuntun hidup saya ke suatu hal yang mungkin ingin Tuhan tunjukksn.
“Jadi gini lho, Hanna anakku...”
Mungkin Tuhan ingin membuka mata saya lebih lebar lagi.
Mungkin juga Tuhan ingin mengetuk pintu hati saya setelah Ia merasa kok saya cukup bebal ya akhir-akhir ini. Mungkin itu caraNya menunjukkan bahwa saya dengan sengaja rupanya menutup mata dan pikiran saya dengan sengaja.

Ask and it will be given to you; seek and you will find; knock and the door will be opened to you.the (Mat 7:7)

Hari ini saya pikir kembali, ternyata saya sulit marah sama orang lain tapi saya pendendam.
Hehe tidak baik memang. Tapi hari demi hari, saya merasa juga kok tidak separah dulu lagi menyimpan dendam sama orang lain. Sekarang lebih ikhlas aja gitu, cie gitu.
Ngga bisa marah dan pendendam tuh ga enak lho, rasanya kayak menyimpan penyakit sendiri.
Sebel kok diumpetin, marah kok ngga dikeluarin?
Bahkan jadi ingat dulu waktu masih jadi guru SD, ada murid yang sering banget mancingn- mancing emosi saya. Dia rajin banget tuh menguji batas kesabaran gurunya.
Akhirnya saya pernah marah banget sama dia, tapi saya dari awal memang menghindari main fisik apalagi demotivation words. Hari itu jebol juga pertahanan saya.
Tidak, saya tidak marah besar sama dia. Saya cuma pulang sekolah lebih awal, emosi saya meluap di dada, nafas tersengal-sengal naik turun. Tiba-tiba rasanya sesak aja gitu.
Saya cuma diamkan dia. Saya pulang lebih awal seusai mengajar seperti jadwal saya.
Di rumah orang tua angkat saya di desa, saya masuk kamar, nangis.
Itu tangisan pertama saya setelah saya di Natuna, hanya karena seorang anak terus menerus menguji batas sabar saya, omongannya pedih tapi saya ngga bisa bales kata-katanya.
Bahkan kalau dia bukan murid saya, balas dendam itu rasanya seperti hal yang sulit untuk saya lakukan.
Kalau saya marah banget atau betul-betul kecewa sama orang ya ujung-ujung nya ngga pernah bilang tapi malah sesak sendiri.
Lha wong dipendam aja gitu sendiri. Tapi serius deh ini bahaya karena hal ini yang biasanya menyeret kita untuk meledak dengan lebih dahsyat suatu hari kelak atau jadi pendendam yang ingeeet banget kesalahan orang itu apa.

Hari ini saya belajar satu hal lagi: saya lebih suka malam.
Buat saya malam adalah waktu tepat untuk refleksi diri dan buat saya lebih produktif.
Malam ini juga, selama perjalanan pulang tuh saya mikir “Jangan-jangan Tuhan kasih musibah kemarin itu (bukan bencana alam kok, but personal thing) karena memang Dia mau tunjukkan sesuatu untuk saya. Cuma mungkin saya aja yang kurang peka selama ini, saya aja yang kurang melihat sekitar dengan lebih peka.”

Atau... mungkin memang sudah saatnya untuk berhenti.
Berhenti untuk menunda sedih.
Katanya kan sedih sih boleh tapi jangan lupa bangkit.
Jadi, boleh ya biarkan saya berkemas dan bersedih dulu hingga akhir hari nanti?
Besok kita ceria lagi


dipost pada Selasa 9 Oktober pukul 23.34
26 menit menuju akhir hari


Rgrds,
HS

0 comments:

Post a Comment