PEMBELAJARAN YANG BERFOKUS PADA SISWA DI DAERAH 3T

Dunia pendidikan Indonesia penuh dengan tantangan dan juga peluang. Keduanya bak koin yang memiliki dua sisi, baik dan buruk. Di tengah ramainya globalisasi yang digaungkan, dunia pendidikan seakan berlari mengejar kebutuhan dunia yang sedang berkembang. Semua hal kini terkoneksi, sudut- sudut dunia seakan menipis dan saling berhubungan di masa ini. Dunia pendidikan di Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk mempersiapkan anak didik menjadi individu yang kompetitif tidak hanya di lingkup negeri sendiri bahkan hingga bersaing di tingkat global.

Salah satu agenda prioritas dalam pemerintahan Indonesia era Joko Widodo saat ini adalah membangun Indonesia dari pinggiran dengan jalan memperkuat daerah- daerah dan desa. Agenda ini jelas tertuang dalam Nawacita poin ketiga, yang intinya adalah pemerataan pembangunan hingga ke daerah- daerah perbatasan.

Pembangunan pada daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) pada hakikatnya terbagi menjadi 3 jenis pendekatan yaitu pendekatan keamanan, pendekatan kesejahteraan, dan pendekatan investasi. Pendidikan adalah salah satu cara yang dapat membangun Indonesia dari daerah dan termasuk dalam pendekatan kesejahteraan. Pendidikan bertujuan untuk memanusiakan manusia dan juga alat untuk menaikkan derajat hidup seseorang. Kehidupan seorang anak kelak dapat sejahtera, jika semakin layak pendidikan yang diperolehnya maka semakin besar peluangnya untuk hidup sejahtera di masa mendatang.

Pada dasarnya pendidikan di daerah pun bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa; senada dengan bunyi UUD 1945. Tidak boleh ada perbedaan yang mencolok antara pendidikan di kota besar maupun di daerah, terlebih daerah 3T. Dalam hal ini, pemerintah sudah berupaya sedapat mungkin untuk menggalakkan mutu pendidikan di daerah 3T maupun pemerataan akses pendidikan sehingga anak- anak daerah dapat menerima pendidikan yang layak.

Sayangnya di tengah gencarnya pemerintah menggalakkan giat belajar dan mendukung proses belajar di Indonesia dengan dana yang tak sedikit, rupanya pendidikan masih dirasa belum merata.  Proses belajar di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) misalnya, masih ada beberapa tantangan dalam pelaksanaan pendidikan khususnya dalam hal geografis. Sebut saja mulai dari terbatasnya informasi dan kesempatan belajar akibat akses transportasi, kurangnya dukungan orang tua, hingga tantangan komunikasi yang terkendala keterbatasan sinyal telepon, apalagi dengan tiadanya internet. Hal mendasar seperti ini terkadang membawa permasalahan di daerah 3T menjadi lebih kompleks lagi yaitu  tidak meratanya akses pendidikan bagi anak- anak di daerah 3T.

Di daerah mudah ditemui bahwa permasalahan pendidikan mayoritas disebabkan akibat terbatasnya akses transportasi sehingga memperkecil kemungkinan anak- anak untuk memperoleh pendidikan yang layak. Ditambah dukungan orang tua tak sepenuhnya didapat akibat sekolah hanyalah dipandang sebagai sebuah institusi yang harus dilalui tiap anak semata dalam prosesnya menuju dewasa. Padahal kurangnya dukungan orang tua dan masyarakat pada proses pembelajaran terbukti dapat menghambat kemajuan proses pembelajaran anak.

Bagi anak pulau –sebutan bagi anak- anak yang tinggal di pulau- pulau kecil di Kepulauan Riau- misalnya, untuk pergi ke sekolah sebagian anak pulau harus menyeberang dengan menggunakan kapal. Setelah pulang sekolah, siswa tidak dibimbing kembali untuk belajar di rumah. Padahal perjalanan panjang yang mereka tempuh setiap hari ke sekolah membutuhkan lebih dari sekadar ingatan untuk belajar. Selain itu, buku pelajaran maupun buku- buku penunjang pelajaran lain yang tersedia relevansinya sudah berkurang karena banyaknya buku terbitan lama, meski sebagian masih tersedia dan dapat digunakan.

Namun di tengah hidup yang penuh dengan keterbatasan ini, bukan berarti anak- anak daerah ini lantas tertinggal dan tidak mendapat perhatian sepenuhnya. Pendidikan sesungguhnya tak hanya berbatas ruang dan waktu. Pendidikan harusnya dapat tidak dapat dikotak- kotakkan apalagi dibatasi oleh berbagai kesulitan. Bagi daerah 3T, pembelajaran yang sesuai adalah pembelajaran yang berfokus pada siswa. Jenis pembelajaran ini bukanlah sebuah jenis proses belajar mengajar yang hanya terpaku pada guru maupun sarana prasana belajar, namun siswalah yang menjadi kunci pembelajaran. Dengan mengoptimalkan kemampuan siswa, maka potensi nalar dan emosinya dapat menghasilkan sebuah prestasi.

Jika saja sarana dan prasarana sulit untuk dipenuhi sesuai standar pembelajaran pada umumnya, maka pembelajaran di daerah 3T dapat mengoptimalkan alat bantu belajar yang tersedia di sekitar siswa. Mulai dari alat belajar yang ada di alam, yang setiap hari sudah akrab dan sering dilihat siswa maupun pemanfaatan alat- alat dari alam sebagai media belajar kreatif. Di sinilah dibutuhkan peran kuat hasil kerjasama antara siswa dan guru untuk menghasilkan sebuah proses belajar yang dinamis. Proses belajar dinamis tidak lagi menuntut guru sebagai subyek sentral pemberi ilmu; namun siswa juga harus diberi kesempatan untuk memahami materi oleh kesadarannya sendiri. Belakangan ini muncul istilah bahwa siswa tak lagi hanya sekedar murid, namun mulai disebut sebagai “pembelajar”, sehingga siswa merupakan subyek utama dalam proses belajar. Guru pun dapat belajar dari siswanya.

Oleh karena siswa adalah aktor utama dalam pembelajaran, maka siswa haruslah menyadari sepenuhnya bahwa belajar adalah proses yang menyenangkan dan asyik. Jika alam bawah sadar siswa sudah dapat menerima informasi seperti demikian, maka ia akan lebih mudah menangkap pesan yang disampaikan selama belajar. Proses belajar kreatif adalah salah satu hal yang dapat menstimulasi kesadaran tersebut. Selama belajar pun siswa harus aktif, guru adalah salah satu stimulator yang dapat membuat sebuah pembelajaran aktif. John Holt (1967) dalam buku “Active Learning” (Siberman, 1996) menyebutkan bahwa proses belajar akan semakin baik jika siswa diminta:
Mengungkapkan informasi dengan bahasa mereka sendiri
1. Memberikan contoh- contoh
2. Mengenalnya (materi belajar) dalam berbagai kondisi
3. Melihat hubungan antara satu fakta atau gagasan dengan yang lain
4. Menggunakannya dengan berbagai cara
5. Memperkirakan beberapa konsekuensinya
6. Mengungkapkan lawan atau kebalikannya.
Proses belajar aktif dan kreatif seperti di atas dapat membuat siswa merasakan bahwa dirinya adalah aktor penting. Kelak guru adalah fasilitator bagi siswa untuk memahami permasalahan dan pemecahan solusi dalam pembelajaran.

Meski demikian, perlu diingat lagi bahwa pembelajaran tak hanya terjadi antara siswa dan guru. Perlu adanya sinergi antara beberapa pihak seperti sekolah, pemerintah, orang tua dan masyarakat agar belajar dapat dihayati sebagai sebuah proses yang simultan dan berkelanjutan. Menciptakan masyarakat yang pembelajar adalah kunci dimana sebuah budaya harus dibangun agar siswa pun dapat didampingi oleh orang terdekatnya untuk proses belajar lanjutan sesudah dari sekolah. Pun masyarakat sekitar harus bersepakat untuk mengedepankan proses belajar dan pendidikan si anak. Pendidikan seyogyanya tak hanya tanggung jawab guru semata, melainkan kewajiban setiap orang yang terdidik.

Comments

Popular