Catatan untuk Diri: Apresiasi Diri dan Orang Lain

Kapan terakhir kali kita mengapresiasi orang lain?
Atau
Kapan terakhir kali kita mengapresiasi diri sendiri?
7 bulan masa tugas di Natuna sebagai seorang pengajar saya menemukan sebuah makna dalam apresiasi.
Iya terdengar sepele memang.
Apresiasi terkadang lekat dengan penjilat atau sekadar pemanis bibir. Diucapkan hanya untuk membual dan membuai angin di telinga si pendengar.

Tapi beberapa waktu terakhir saya menemukan cukup bukti bahwa anak- anak rupanya semakin cemerlang saat kita apresiasi mereka secara lisan.
Saya menemukan juga bahwa ternyata tindakan verbal yang destruktif dimulai dari adanya sikap lack of appreciation.
Entah ada istilah ini, entah juga benar atau salah.
Tapi biarkan saya menyebutnya lack of appreciation, untuk menyebutkan kurangnya apresiasi untuk hal- hal yang kita lakukan; fyi, apresiasi tak semata perkara uang atau materi.

Untuk setiap usaha dan kerja keras yang sudah kita lakukan setiap hari, sudahkah kita mengapresiasi diri sendiri?
Sudahkah kita menghargai setiap usaha yang kita lakukan?
Terkadang kita lupa untuk menghargai diri sendiri. Padahal hal ini penting, mengingat tak setiap hal yang kita lakukan itu terkadang mudah atau hal yang lumrah kita lakukan setiap hari.
Ada saatnya kita memeras sekuat tenaga, atau memerah otak untuk mendapatkan sesuatu hal. Sesudahnya apa? Orang lain mungkin berterima kasih pada kita, namun sudahkah kita meluangkan waktu untuk benar- benar berterima kasih pada diri kita sendiri untuk setiap kerja kerasnya setiap hari?

Kalau saya, mungkin belum. Tapi belakangan saya mulai mencoba untuk mencari waktu buat diri saya sendiri, bersyukur dan berterima kasih untuk hal apa yang sudah saya dapatkan.
Saya mulai belajar mengapresiasi diri sendiri. Bukan narsis, hanya sekadar ucapan terima kasih pada diri sendiri untuk setiap usaha yang saya lakukan. Saya berterima kasih lebih kuat lagi manakala saya push diri saya lebih kuat di hari lainnya.

Selanjutnya,
Sudahkah kita mengapresiasi orang lain dengan pantas?
Saya masih bertanya- tanya sih belakangan dalam hati, kenapa ya ada orang yang tega menghancurkan hati orang lain padaha dia sudah berusaha keras-terlepas dari hal apapun yang dia lakukan& hasilkan-?
Kenapa ya harus ada orang yang sering banget mencela, mengejek orang lain? Padahal dia tidak tahu seberapa keras usaha orang itu untuk berjuang dan berusaha?
Kenapa ya masih ada aja orang di era sekarang yang masih suka memandang remeh orang lain?
Kenapa ya masih ada orang yang sulit untuk menghargai orang lain atau hasil kerjanya?

Yang terutama, kenapa ya kita masih sering melihat seseorang dari hasil pencapaiannya? Bukan dari proses jatuh bangunnya hingga akhirnya dia mencapai sesuatu?
Mungkin saja orang itu belum mencapai hasil yang tinggi, tapi dia sudah berusaha jauh lebih keras dari semua orang. Dia juga butuh diapresiasi untuk usahanya.

Bukankah ada banyak orang yang sukses setelah gagal berkali- kali namun berhasil bangkit dari keterpurukannya?

Sayangnya kesuksesan itu kini seringkali dilihat dari hasil akhirnya. Sayangnya begitu.

Sayangnya kita masih sulit menghargai sekecil apapun usaha.


Sebuah catatan untuk teman- teman yang masih lack of appreciation.
Sebuah pengingat untuk diri sendiri.
Sebuah pemicu untuk berusaha lebih keras lagi.
Sebuah catatan untuk lebih menghargai usaha- usaha kecil dari orang lain.
Terutama, sebuah pengingat untuk mengapresiasi diri sendiri.

-HS-
Ranai, 11 July 2017

Comments

Popular