Thursday, June 29, 2017

Doa yang Sederhana

Jikalau memang doa memiliki batas, semoga saja kesadaranku adalah tembok yang cukup tangguh untuk terus meminta.
Seandainya dua memang harus tuntas, semoga saja itu tak pernah terjadi untukmu dan aku, ya, aku inginkan kita.
Kalau saja tanganku pernah letih terlipat saat syahdu memohon atasmu pada Sang Pencipta,
Semoga saja bibirku tak pernah henti memintamu, sama seperti ritual ratusan malam yang terdahulu.

Tanganku masih terlalu lemah mungkin untuk terus terlipat.
Namun mataku masih terus berjaga- jaga sejurus malam tiba selalu kau kuingat.
Doaku tak banyak; hanya tentang kau.
Bukan, ini bukan supaya kamu mau.
Hanya aku memohon supaya hatimu kelak tahu, siapa yang dengan setia terus berlutut menyeru namamu.
Supaya suatu hari kita bisa berhenti saling membelakangi,
dan hanya sejurus melihat ke tanah yang kosong dan hening.
Kelak kau akan tahu aku adalah tempatmu pulang dan mengecupku di kening.
Masih jauh memang, namun doaku yang terucap ini masih sederhana, semua hanya tentang namamu yang telah menjadi renjana.

Sekali lagi, doaku masih sama; sederhana.
Sesederhana aku tak pernah lupa menyebut namamu.
Sesederhana hanya kau nama yang kusebut dalam doaku.
Ya sepertinya aku telah lupa ingat akan harapku lainnya,
Aku hanya ingat namam, setiap malsam.
Semoga kau selalu bahagia.
Semoga hatimu sesederhana doaku.

Setumuk, 29 Mei 2017.

No comments:

Post a Comment