Purnama Kedua: Mengecap Pendidikan Natuna

Melewati bulan kedua di Natuna sebagai seorang guru SD, saya sudah menemukan banyak hal menarik mengenai pendidikan di Natuna. Baiknya bila saya mulai dulu dari tugas keseharian saya di SDN 007 Setumuk. Menjadi Pengajar Muda di tahun kedua yang hadir di Natuna tentu bukanlah hal yang mudah bagi kami berdelapan. Meski tak menampik tugas ini sudah sangat terbantu oleh angkatan tahun pertama yang sudah menjadi perintis hadirnya Pengajar Muda di Natuna. Apalagi dengan 5 tahun berdirinya Indonesia Mengajar kala itu, beberapa pihak sudah mengetahui sepak terjang yayasan non profit ini sebelumnya sehingga Pengajar Muda XI, yang menjadi PM perintis di Natuna tidak terlalu sulit mengenalkan dirinya pada instansi atau pekerja di ranah pendidikan.
Selepas tugas, PM XI yang kemudian dilanjutkan oleh kami berdelapan sebagai PM XIII, selain menjalin komunikasi yang sudah berjalan baik sebelumnya dengan beberapa pihak, kami pun ingin mempertegas tugas dan fungsi hadirnya Pengajar Muda di kabupaten Natuna.

Sejak awal kami ingin menjadi pihak yang mendampingi dan memantik nyala api pendidikan di gugusan pulau ujung utara Indonesia ini. Saya dipercaya untuk menjadi guru bantu di kelas 3 dengan memegang mata pelajaran IPS dan bahasa Indonesia. Tetapi kemudian saya mendapat tambahan tugas untuk menjadi guru bahasa Inggris untuk kelas 4-6. Di sekolah saya, memang ada jadwal mata pelajaran bahasa Inggris namun sayangnya ada beberapa pertemuan yang sering bentrok dengan mata pelajaran lain.

Pertama kali hadir di SDN 007 Setumuk saya bersyukur atas kondisi sekolah yang sudah permanen sebagian. Mengapa sebagian? Gedung sekolah kami terdiri dari 3 bagian, hanya 1 bagian saja yang masih berdiri kokoh dengan dinding kayunya. Untunglah hal tersebut tidak menyurutkan niat siswa untuk bersekolah. Mereka tetap rajin berangkat ke sekolah setiap harinya.

Soal rajinnya anak- anak bersekolah ini
pun awalnya cukup mengejutkan saya. Awalnya saya kira saya di penempatan akan bertemu dengan anak- anak di daerah perbatasan yang harus berjalan kaki jauh sekali ke sekolah, seragam tidak lengkap, dan bahkan malas atau tidak bisa hadir ke sekolah karena alasan lainnya. Tapi rupanya tidak. Mereka adalah anak- anak pagi yang bahkan siap menyambut guru- gurunya hadir di sekolah. Anak- anak dari tempat terjauh, di desa Batu Karut saja hanya perlu 10-15 menit berjalan kaki ke sekolah. Mereka akan selalu datang ke sekolah setiap harinya, kecuali bila sakit parah atau ada izin hal mendesak dari orangtua. Selebihnya tingkat kehadiran anak di sekolah saya rata- rata bisa lebih dari 95% setiap harinya.

Semangat mereka untuk belajar bisa saya rasakan. Bahkan kadang sebagai gurunya, energi saya tak cukup untuk meladeni mereka satu persatu untuk belajar di sekolah atau belajar tambahan sesudah pulang sekolah. Belum lagi malamnya kadang segerombolan anak berbeda tingkat kelasnya datang ke rumah saya. Berbondong- bondong mereka datangi saya, ajak saya untuk bersama memecahkan soal PR mereka; mulai dari Matematika, IPS, hingga Bahasa Indonesia. Iya, saya sempat merasa aneh: kok PR Bahasa Indonesia masih pakai ditanya lagi ke guru, toh setiap hari berbahasa Indonesia kan?
Tapi rupanya tak semua hal menyenangkan. Tetap ada sebagian anak yang bahkan “kalah sebelum berperang”. Enggan mencoba mengerjakan soal karena mereka yakin bahwa mereka memang tak mampu, bahkan mereka bilang: “Saya bodoh bu, ngga bisa kerjakan itu”. Kalau sudah begitu, hati saya yang mencelos rasanya. Duh belum dicoba, sudah bilang bodoh dan tak bisa, padahal saya mau membantu mereka sampai bisa.

Selain itu masih ada hal yang cukup dilematis terjadi di Natuna pada umumnya. Tak hanya terjadi di lingkup tugas saya, namun juga di sekolah kawan- kawan Pengajar Muda Natuna lain juga terjadi hal yang sama. Rupanya pendidikan gratis yang diberikan mulai dari level SD hingga SMA bak buah simalakama. Dengan sekolah tak berbayar, banyak anak yang kurang mampu dalam hal pelajaran tertinggal begitu saja dalam setiap tingkatnya. Ada pula yang langganan tinggal kelas, setiap tingkat kelas kadang dilaluinya lebih dari 2 tahun. Banyak yang acuh terhadap fenomena anak yang tinggal kelas ini. Mereka pikir toh sekolah masih gratis, jadi tak ada lagi beban ataupun rasa malu yang dirasakan bila anak tinggal kelas, maka agak sulit bila berharap ada perbaikan setelah si anak tinggal kelas. Tapi bila sekolah tak digratiskan, maka ketidakpedulian ini tentu berbuah hal lainnya, akan banyak anak yang memilih tak sekolah. Mengapa? Karena kondisi geografisnya yang berbentuk kepulauan dan lautan, terkadang ada banyak anak yang harus menyebrangi lautan dulu untuk bisa berangkat sekolah setiap harinya. Ada pula yang enggan meneruskan pendidikannya karena dirasa belajar hanyalah kegiatan yang membuang waktunya. Saya tentu patah hati mendengarnya. Untunglah hal tersebut hanyalah sedikit dari sekian banyak siswa yang selalu semangat ke sekolah setiap harinya. Tapi kini saya terus berusaha untuk perlahan mengingatkan mereka bahwa sekolah tak hanya satu- satunya tempat belajar. Namun hanya di sekolah lah mereka bisa memperoleh hal formal berupa legalitas ilmu dan pendidikan. Mereka pun harus ingat kelak bahwa sekolah memang menyenangkan hingga mereka akan terus berangkat ke sekolah tiap harinya bukan karena kewajiban tapi murni kesadaran untuk belajar. Sebuah tingkat pendidikan yang sudah sangat tinggi saya yakini saat seseorang mau menimba ilmu bukan karena wajib tapi karena ia tahu ia butuh hal tersebut.

Comments

Popular