Wednesday, March 22, 2017

Perjalanan Panjang menjadi Pengajar Muda

Sungguh hati ini sudah tertambat sejak 2011 lalu saat ingin menjadi Pengajar Muda.
Saya lupa persisnya kenapa saya begitu tertarik, tapi saat itu saya membaca di koran nasional mengenai gerakan yang mengirimkan sarjana terbaik bangsa ke pelosok Indonesia. Mereka diberdayakan untuk mengajar di SD yang kekurangan tenaga pengajar sekaligus untuk menggerakkan masyarakat sekitarnya.
Saat itu saya belum ingin menjadi Pengajar Muda, sungguh mimpi itu seperti jauh bila ingin saya gapai. Saya merasa ini adalah sebuah program yang luar biasa, terlebih melihat semangat pengorbanan para Pengajar Muda saat itu.

Hingga bertahun- tahun sejak saat itu, mulai santer lah kabar mengenai keberhasilan- keberhasilan para Pengajar Muda di daerah. Saat itu saya mulai berani bermimpi untuk menjadi Pengajar Muda. Singkat cerita, sejak sebelum lulus hingga 2015 saya sudah beberapa kali mendaftar, namun rupanya amunisi terakhir di 2016 ini barulah jitu (karena di 2017, saya sudah 25 tahun, batas maksimum usia Pengajar Muda).

1 Mei 2016, pendaftaran online Pengajar Muda XIII resmi dibuka sampai 31 Mei. Saya mendaftar, tidak mau menunggu hingga batas deadline. Sebaiknya memang daftar lebih awal supaya kita bisa tenang dan mengisi dengan baik, dan bisa memastikan data sudah terkirim karena biasanya semakin akhir semakin ramai load website karena banyak yang kirim, menurut saya sih gitu.

Kurang lebih satu bulan saya tunggu pengumuman tahap 1. Setiap hari berharap- harap cemas. Karena syarat resign dari pekerjaan belum saya penuhi bila saya diterima. Saat itu saya sudah bekerja di sebuah media agency. Jadi otomatis saya harus siap sedia mengurus resignation bila ternyata lolos.

Voila! Akhir Juni 2016 saya dapat email masuk dari Indonesia Mengajar. Saya dinyatakan lolosss! Yang lolos tahap 1 ada sekitar 200 orang. Tahap 1 terdiri dari Direct Assesment; Psikotest, Microteaching, Interview, FGD. Saat itu saya memilih untuk DA di Jakarta, sementara kota lain yang jadi pilihan lokasi DA ada Bandung, Medan, Surabaya, Makassar, dan Yogyakarta. Tahap DA ini memakan 1 hari dan berlangsung di hari kerja alias weekday. Jadi buat yang masih bekerja, harus izin atau cuti dulu untuk ikut DA ya hehe, sekaligus bisa sounding kalau harus siap- siap resign untuk ikutan IM hehee. Untuk tahap DA ini kuncinya sih memang harus sinkron antara apa yang kamu tulis di essay pendaftaran dengan hasil wawancara. Plus tahap ini adalah sepenuhnya bagaimana kamu "menjual diri" dan memaknai hidupmu selama ini; saat kita dapat memandang kegagalan dari sudut pandang yang positif. Saat itu saya hadir untuk tahap DA ini dari pukul 7 pagi hingga 5 sore. Full day!

Selanjutnya kelar tahap 1, silahkan berharap- harap cemas kembali. Saya harus menunggu selama 1 bulan lagi untuk mendapatkan hasil selanjutnya. Eh Puji Tuhan saya kembali dapat email undangan untuk test medical check up! Alias saya lolos tahap selanjutnya yeaayy! Di tahap ini dituliskan dalam email bahwa kalau lolos tahap MCU maka kita sudah 90% diterima menjadi calon Pengajar Muda. Jadi naik level gitu dari Kandidat menjdi Calon Pengajar Muda. Waktu itu untuk test MCU saya  dapat pilihan untuk memilih hari. Karena saya masih bekerja, jadi saya pilih untuk medical check up pada hari Sabtu. Anyway buat yang belum resign, ada baiknya kalau sudah lolos di tahap MCU ini mulai sounding ke orang kantor dan mulai bikin surat pengunduran diri. Mengingat setelah ini akan panjang lagi tahapnya yang harus disiapkan sebelum masuk camp pelatihan. Apalagi kalau kantornya butuh 2 month notice, baiknya mulai resign lebih awal lagi. Untuk MCU ini selain berpuasa, hal lain yang harus diperhatikan adalah kebugaran fisikmu. Pastikan bahwa kamu dalam kondisi terbaikmu saat MCU. Istirahat cukup dan rajin olahraga. Dan hal ini harus terus kamu lakukan sampai masuk camp pelatihan nanti. Percaya deh kalau kebugaran fisikmu harus mulai dilatih kalau sudah sampai tahap ini.

Setelah MCU, saya masih menunggu apakah saya sudah resmi lolos jadi Calon Pengajar Muda apa belum. Karena kalau namamu sudah diumumkan jadi Calon Pengajar Muda di website itu artinya kamulah yang akan berangkat ke camp pelatihan di Jatiluhur. Dan ternyata butuh 2-3 minggu untuk saya menerima kabar bahwa saya lolos lagi ke tahap selanjutnya (O, thanks God!) yaitu tahap tanda tangan kontrak.
Yak setelah sejauh ini akhirnya saya sudah kirim surat resign ke HRD dan sudah minta izin kepada atasan saya bahwa saya akan mengundurkan diri karena mengikuti program ini. Izin didapat dan pengunduran diri pun diproses. Saya melangkah ke tahap tanda tangan kontrak.

Haru memenuhi dada saya, membuncah rasanya mengingat ada panjang sekali perjalanan saya untuk bisa jadi calon Pengajar Muda. Eits, iya masih calon karena masih banyak kemungkinan yang terjadi karena dinamika di camp pelatihan nantinya.
Kurang dari seminggu sejak saya tanda tangan kontrak, nama saya dan ke 40 kawan baru sesama CPM lainnya diumumkan di website Indonesia Mengajar. Rasanya campur aduk; bahagia sudah tentu, haru pun iya, ada rasa tak percaya juga, bingung juga ada karena tak tahu apalagi yang akan saya hadapi ke depannya.

Dan sebulan setelah tanda tangan kontrak ini, saya mulai masuk ke camp pelatihan intensif. Di camp ini, mulai tumbuh tunas- tunas baru. Rasa percaya diri yang dibangun oleh sesama CPM, rasa percaya akan kerjasama tim, rasa bangga akan pencapaian diri, rasa haru dan sedih bila ingat apa yang sudah kita tinggalkan, rasa senang bila menjalani hari dengan tawa, kadang pun letih bila pikiran dan tubuh betul- betul terkuras.
Intinya, iya benar bahwa tidaklah mudah jalan yang saya pilih menjadi seorang Pengajar Muda. Namun hal ini adalah salah satu pilihan dalam hidup yang tidak pernah saya sesali saat akan mengejarnya. Menjadi Pengajar Muda, sungguh sebuah tugas kehormatan yang memang tidak bisa didapatkan semua orang namun harus kita pertanggungjawabkan dengan baik. Jalan panjang bernama Pengajar Muda itulah yang kini tengah saya jalani.

Regards,
HS

No comments:

Post a Comment