Saturday, August 26, 2017

Sudahkah Pendidikan Kita Merdeka?


72 tahun Indonesia merdeka, namun seringkali kita mendengar bahwa sesungguhnya negeri kita tercinta ini belum sepenuhnya bebas dari belenggu penjajahan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia elektronik yang dirilis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, merdeka memiliki makna bebas dari perhambaan juga penjajahan, tidak bergantung pada orang atau pihak tertentu.

Tuesday, July 11, 2017

Catatan untuk Diri: Apresiasi Diri dan Orang Lain

Kapan terakhir kali kita mengapresiasi orang lain?
Atau
Kapan terakhir kali kita mengapresiasi diri sendiri?

Thursday, June 29, 2017

Doa yang Sederhana

Jikalau memang doa memiliki batas, semoga saja kesadaranku adalah tembok yang cukup tangguh untuk terus meminta.
Seandainya dua memang harus tuntas, semoga saja itu tak pernah terjadi untukmu dan aku, ya, aku inginkan kita.
Kalau saja tanganku pernah letih terlipat saat syahdu memohon atasmu pada Sang Pencipta,
Semoga saja bibirku tak pernah henti memintamu, sama seperti ritual ratusan malam yang terdahulu.

Tuesday, June 6, 2017

Catatan Hati yang Malu- Malu

Bahwasanya benar bahwa kekaguman ini tak salah memilih orang. Hanya terkadang hati yang terlalu cepat memutuskan di pundak siapa ia akan rebah.
Maka untuk yang satu ini, kutahan ia sebisa mungkin untuk tetap ada di bilik kekaguman dahulu, memenuhi seluruh rongga dada. Sesak memang, ah tapi siapa rindu itu kalau kita belum pernah berkenalan secara nyata.

Wednesday, March 22, 2017

Perjalanan Panjang menjadi Pengajar Muda

Sungguh hati ini sudah tertambat sejak 2011 lalu saat ingin menjadi Pengajar Muda.
Saya lupa persisnya kenapa saya begitu tertarik, tapi saat itu saya membaca di koran nasional mengenai gerakan yang mengirimkan sarjana terbaik bangsa ke pelosok Indonesia. Mereka diberdayakan untuk mengajar di SD yang kekurangan tenaga pengajar sekaligus untuk menggerakkan masyarakat sekitarnya.
Saat itu saya belum ingin menjadi Pengajar Muda, sungguh mimpi itu seperti jauh bila ingin saya gapai. Saya merasa ini adalah sebuah program yang luar biasa, terlebih melihat semangat pengorbanan para Pengajar Muda saat itu.

Saturday, March 18, 2017

Catatan Seperempat Abad

Hari ini genap usia saya 25 tahun (padahal angkanya ganjil).
Dan saya merayakannya di salah satu pulau kecil Indonesia, gugusan kepulauan di Natuna.
Merayakan dalam hening, sepi, reflektif dan penuh mawas diri. Jauh dari keriuhan kota atau ramainya perayaan ulang tahun seperti pada umumnya. Biarlah, toh semakin tua kan kita semakin sering merayakan ulang tahun.

Thursday, March 9, 2017

Purnama Kedua: Mengecap Pendidikan Natuna

Melewati bulan kedua di Natuna sebagai seorang guru SD, saya sudah menemukan banyak hal menarik mengenai pendidikan di Natuna. Baiknya bila saya mulai dulu dari tugas keseharian saya di SDN 007 Setumuk. Menjadi Pengajar Muda di tahun kedua yang hadir di Natuna tentu bukanlah hal yang mudah bagi kami berdelapan. Meski tak menampik tugas ini sudah sangat terbantu oleh angkatan tahun pertama yang sudah menjadi perintis hadirnya Pengajar Muda di Natuna. Apalagi dengan 5 tahun berdirinya Indonesia Mengajar kala itu, beberapa pihak sudah mengetahui sepak terjang yayasan non profit ini sebelumnya sehingga Pengajar Muda XI, yang menjadi PM perintis di Natuna tidak terlalu sulit mengenalkan dirinya pada instansi atau pekerja di ranah pendidikan.
Selepas tugas, PM XI yang kemudian dilanjutkan oleh kami berdelapan sebagai PM XIII, selain menjalin komunikasi yang sudah berjalan baik sebelumnya dengan beberapa pihak, kami pun ingin mempertegas tugas dan fungsi hadirnya Pengajar Muda di kabupaten Natuna.

Tuesday, January 31, 2017

Sebulan Pertama: Wajah Masyarakat Natuna

Bila bicara mengenai sebuah tempat belumlah lengkap rasanya bila tidak membahas kondisi sosial budaya masyarakatnya. Pun ketika saya sedang bertugas di desa Setumuk ini. Hari pertama saya tiba di desa tanggal 2 Desember. Kala itu warga desa sedang sibuk mempersiapkan acara pisah sambut Pengajar Muda. Setiba di pelabuhan desa yang mungil ini, rupanya di pelabuhan sudah banyak orang menunggu. Mungkin mereka menanti seperti apa rupa wajah guru barunya. Tak heran karena sebelumnya guru mereka adalah laki- laki dan kini digantikan oleh guru perempuan.
Barang bawaan saya yang banyak itu langsung disambut oleh anak- anak SD, yang kini menjadi murid saya. Rumah tempat tinggal saya rupanya tak terlalu jauh dari pelabuhan. Kurang lebih 2-3 menit berjalan kaki saya telah tiba di rumah panggung yang ada di depan gedung serbaguna desa. Desanya pun tak terlalu ramai, kecil saja hanya satu jalur lurus dari pelabuhan ke sekolah hingga ujung desa. Kurang lebih 80 kk yang ada di Setumuk ini.

Tak ada penyambutan yang berlebihan, meski begitu mereka tetap menyambut dengan sapaan dan senyum terhangatnya. Saya begitu senang ketika pertama berbincang dengan ibu- ibu guru yang ada di rumah dan menyambut saya. Mereka ternyata bisa berbahasa Indonesia dengan lancar dan memang rata- rata masyarakat Natuna memang bisa berbahasa Indonesia. Sehari- hari menggunakan bahasa Melayu yang memang akar dari bahasa Indonesia rupanya cukup mempengaruhi kemampuan mereka berbahasa. Meski demikian di Setumuk menggunakan bahasa Melayu kampung yang jika didengar cukup berbeda dengan dialek bahasa Melayu pada umumnya. Mereka menyebut bahasa mereka dengan ‘bahasa Melayu kampung’, dialeknya jika didengar mirip dialek Thailand dan banyak kosakata yang berbeda dengan bahasa Melayu umum.
Selain bahasa, masyarakat Natuna rupanya amat terbuka dengan warga pendatang. Untuk di Setumuk sendiri memang tak terlalu banyak pendatang saat ini. Setidaknya ada saya, petugas paramedis yang menjaga puskesmas desa yang berasal dari Jawa Timur, ibu kepala sekolah saya yang dari Ponorogo dan ada beberapa warga lainnya yang juga pendatang namun sudah lama menetap di sini. Hal pertama yang mereka tanyakan tentang sepinya desa. “Bu, di sini sepi. Gimana bu apa betah sejauh ini?”, tanya mereka. Tentu saya betah. Bukan karena ramai atau sepinya desa. Tapi tentang bagaimana hari- hari saya berjalan di sini. Setidaknya akan selalu ada pemandangan indah yang disuguhkan di Setumuk, pun banyak warganya yang perduli pada saya jadi tentu saya tidak merasa kesepian. Terlebih ada anak- anak murid yang bisa saya ajak main kapan saja.

Keramahan warga pun begitu nyata saat saya terkadang berjalan- jalan keliling kampung. Dengan ditemani anak- anak, saya menemani mereka bermain atau sekadar menikmati sore. Setiap saya menyapa warga setidaknya akan ada yang menawari saya mampir ke rumahnya. Bahkan ada warga yang mengajak saya untuk menginap di rumahnya, sampai seminggu pun tak masalah katanya. Hal semacam inilah yang membuat saya merasa nyaman dan aman bila tinggal di sini. Keramahan warganya tak hanya sekadar basa- basi saja.

Pernah suatu ketika saat ada kenduri di rumah RW, ibu- ibu di sana berucap: “Bu Hanna, kalau ada yang kurang atau ada apa- apa bisa bilang ke kami. Kalau soal bikin kue kami bisa bu, tapi kalau ilmu mungkin bu Hanna yang bisa. Apapun yang ibu butuhkan, asal bukan soal ilmu kami bisa bantu bu”. Saling bantu- membantu, itulah yang mereka harapkan. Jadi bila kelak anak- anak Setumuk ini ada yang merantau ke Jakarta, mereka berharap saya pun dapat membantu mereka. Saya tentu senang begitu tahu kalau mereka pun punya cita- cita supaya anak mereka bisa merantau ke Jawa, atau bahkan ke Jakarta. Untuk kehidupan yang lebih baik, mengapa tidak?

Soal rantau merantau ini pun pernah menjadi pembicaraan hangat saya di majelis guru. Di desa Setumuk sendiri jumlah penduduknya hampir selalu sama dari tahun ke tahun. Tak terlalu banyak yang bertambah, entah karena kelahiran atau pindah menetap. Kalau dilihat pun memang orang- orang usia produktif tak terlalu banyak di Setumuk. Hal ini disinyalir karena memang tak ada lapangan kerja yang memadai di sini. Pekerjaan yang tersedia di Setumuk memang antara bekerja di kantor desa, sekolah SD atau TK, atau menjadi nelayan dan bertani cengkeh. Untuk 2 pekerjaan terakhir tadi memang jenis pekerjaan yang ada karena kondisi geografis. Hal tersebut bisa juga berarti ya pekerjaan tersebut dapat terhenti sementara waktu karena keadaan cuaca. Jadi biasanya orang muda di Setumuk memilih pindah jika sudah menikah, entah karena ikut pasangan atau mencari pekerjaan di tempat lain. Ini masih analisis sederhana kami para guru dari perbincangan sekilas kemarin. Saya pun mengamati memang akan selalu ada warga yang datang dan pergi tapi jumlah yang pergi sering kali lebih banyaj daripada warga yang datang menetap sehingga jumlah warga pun tak pernah naik demikian signifikan. Untuk jumlah murid SD pun turut berpengaruh dari jumlah penduduk Ini sendiri. Jumlah murid di SD kami pun hanya berkisar di angka hampir 50an saja, tak lebih. Tentu hal ini juga dikarenakan tak pernah ada jumlah penduduk datang dalam angka yang besar. Kalau ada pendatang baru, maka biasanya akan ada yang pindah juga. Ajaib ya? Tapi meski demikian dengan sedikitnya jumlah penduduk membuat desa kami masih terasa hangat dan kekeluargaan. Bila ada satu kabar berita apapun akan cepat menyebar dari ujung ke ujung. Desa Setumuk pun hanya punya 1 jalan besar di desa, jadi setiap yang datang akan selalu terlihat dari rumah ke rumah. Pusat kegiatan ataupun keramaian warga mudah dilihat di tengah- tengah desa.
Biasanya warga Setumuk suka berkumpul sore hari di lapangan voli. Entah mengobrol, main voli atau sepak takraw, menonton orang tanding voli. Atau ada pula anak- anak yang hobi bermain guli (kelereng) di tanah lapang kecil sebelah masjid.

Jadi demikian wajah masyarakat Natuna yang saya lihat dalam sebulan di sini. Meski tanpa gambar, semoga dapat mewakilkan dan memberikan sekilas gambaran melalui tulisan ini Semoga senyum hangat masih terus tersalur hingga hari terakhir saya ada di sini ya.

Sampai jumpa di tulisan tentang Natuna lainnya!

Cheers,
Hanna
*di poskan dari desa Setumuk*

Friday, January 20, 2017

Sebulan Pertama: Bagaimana Rupa Natuna?

Tinggal di Natuna, kabupaten yang kecil bila dilihat di peta.
Rasanya pun amat jauh bila kita ambil garis awal perjalanan dari ibukota Jakarta.
Tapi di sinilah saya berada untuk satu tahun ke depan. Menghabiskan sepanjang tahun 2017 dan usia 25 tahun saya di desa Setumuk, 3 jam perjalanan bila dari ibukota kabupaten, Ranai.