Sunday, April 3, 2016

A Note to Self: Sudah Sejauh Mana Pencapaianmu?


"Kita bisa abai pada pencapaian orang lain,
Tapi tak bisa hirau dengan kegagalan sendiri" -HS-


Yak quotes barusan ya memang baru saja tercipta beberapa menit lalu.
Tampaknya pas sekali untuk menggambarkan kondisi pikiran saya hari ini. Selama ini saya mungkin masih cuek- cuek aja sama pencapaian orang lain yang gilang gemilang.
Tapi setelah ditilik lebih dalam, mungkin bukan sekadar mengabaikan prestasi mereka, tapi udah masuk tahap denial.
Ya mulai dengan mencari- cari alasan; mereka sudah berhasil di target hidupnya karena punya inilah atau karena memang layaklah atau memang super dan bukan padanan saya yang yah masih jauh standarnya dibanding mereka.
Apa iya begitu?
Sebenarnya tidak.
Saya tentu punya kesempatan yang sama dengan mereka untuk mengejar prestasi. Dulu pas sekolah kok becandaan bareng eh sekarang udah sampai mana mana dia.
Jadi saya kemana aja? Saya juga ke mana- mana kok, cuma bedanya untuk "perjalanan dalam pencapaian hidupnya", misal dapat beasiswa ke luar negeri, ya untuk sementara saya masih mengumpulkan amunisi dulu nih.

Ternyata semua alasan saya untuk mengabaikan prestasi teman- teman lama itu salah. Salah banget.
Harusnya sih kalau dulu kita sama- sama "nggak pinter- pinter amat di kelas" nah berarti kita bisa punya kesempatan dapat beasiswa yang sama.
Hanya selama ini saya menempuh cara yang berbeda. Saya punya prioritas yang lain dulu, misalnya ikut organisasi atau komunitas atau belajar di tempat- tempat lain yang mungkin teman saya itu tidak mencicipi jalan saya ini
Nah sebenarnya semua itu ada di pola pikir; bagaimana cara kita memandang sesuatu.
Saya jarang sekali menganggap teman- teman saya kompetitor, karena saya tidak suka berkompetisi dengan orang yang sudah saya kenal.
Banci kompetisi memang saya ini, tapi saya lebih suka berhadapan dengan orang asing daripada yang sudah saya kenal sebelumnya.
Jiwa kompetisi ini anehnya tidak muncul saat melihat mereka berhasil dapat beasiswa, dapat penghargaan, dll.
Jadilah saya mulai berpikir ulang. Pencapaian mereka tidak boleh saya abaikan. Sebaliknya harus saya perhatikan sebaik- baiknya juga untuk tambahan amunisi. Toh saya juga ingin seperti mereka kelak dengan amunisi yang saya kumpulkan hari ini.

Bukan sekali dua kali langkah yang saya tempuh mengalami kegagalan. Tapi seperti yang sudah pernah terjadi, saya enggan mundur sebelum benar- benar menggenggam apa yang saya inginkan.
Sudah lama prinsip ini tidak saya tekankan pada diri sendiri. Karena dulu, orang juga bilang: yang ngoyo banget itu ya nggak baik.
Tapi bukankah untuk memperoleh sesuatu hal yang menjadi impian banyak orang itu butuh usaha yang tidak biasa- biasa saja?
Rupanya kegagalan mendapat beasiswa di A, B atau gagal ikut program X dari pemerintah atau organisasi tertentu itu bikin saya malas mencoba lagi. Malas ya bukan kapok.
Jadi hari ini saya buat catatan untuk diri saya sendiri untuk tidak terlalu lama terjatuh dalam kegagalan. Saya mencoba melucuti diri sendiri untuk mengingatkan bahwa setelah jatuh dan gagal harus bangkit kembali.
Harus mencoba sebanyak- banyaknya supaya bisa belajar sebanyak- banyaknya juga.

Hari ini saya mempelajari 2 jenis aplikasi yang berbeda. Kedua aplikasi yang buat saya pribadi menjadi pintu untuk saya melihat dunia yang lebih luas lagi serta memberikan manfaat diri sebesar- besarnya.
Harapannya, tentu saja tahun ini kedua aplikasi tersebut tak luput atau sekadar lolos pada tahap awal, tapi bisa diterima serta mengangkat mimpi saya bertahun lalu untuk sebuah program pertukarab pemuda dan juga program kependidikan.

Saya kemudian ingat, masih punya banyak mimpi yang sama besarnya dengan hal ini.
Maka saya mulai menjalani hari untuk mewujudkan mimpi ini semua jadi sesuatu yang nyata.


Wish me luck!
-HS-

No comments:

Post a Comment