Tuesday, February 3, 2015

Hitam Pekat

Pekat dan gelap mata itu selalu menelanku hingga lumat.
Dalam matamu lah kuterhanyut sekaligus tersesat.
Di sana kutemukan tentangku, juga terlarut dalam tembok- tembok tinggi keangkuhanmu.
Laksana labirin, sewaktu kutersesat, sekali waktu dapat kutemukan jalan kembali.

Mata yang hitam itu akan selalu mengamati semua hal di dunia ini dengan cermat.
Takkan ada satupun yang terlewat.
Pernah suatu ketika kulihat seakan pemburu hendak menembak targetnya, tak pernah kau lepaskan barang sebentar dari perhatianmu.
Namun jika semua orang bilang kau dianugerahi mata yang tajam nan misterius, maka akan kujawab dengan tawa.
Ya, tertawa. Rupanya mereka sama sepertiku, yang pada awalnya mengira sosokmu angkuh, dingin dan enggan untuk dibaca lawan bicaranya.
Tapi bukankah saya telah lebih mengenal mata itu lebih dulu dibandingkan dirimu sendiri?
Mata yang tajam itu, mungkin jarang menyipit untuk ikut tertawa, atau merayakan sesuatu. Jarang pula mata hitammu itu terbelalak kaget, seakan semua sudah berjalan seperti seharusnya.

Monday, February 2, 2015

Surat dari Jauh

Malam- malam pekat ini selalu turun di antara kita.
Saat saya tak mampu terlelap, namun di sana kaupun tak mampu tuk terjaga.
Sebelumnya maafkan banyak ketidakjujuran yang telah terjadi selama ini.
Yang kutahu kini semuanya telah membaik dan menjadi sebuah hal lumrah.

Apa kabarmu di sana?
Masih belum terbiasakah dirimu dengan kehangatan yang ditawarkan masyarakat sana?
Tidak lebih ramahkah mereka daripada kami yang di Indonesia ini? Itu dulu alasanmu untuk tidak meninggalkan tanah air, yang nyatanya malah kau lepas begitu saja begitu remuk hatimu.
Tenang, hidupku pun berantakan, terlebih hati sejak pertengkaran rutin itu.
Tapi bohong bila saya sekarang telah mampu melupakan semuanya.

Sunday, February 1, 2015

Salah

Dear Fab,
Semoga mau sedang dalam kondisi terbaikmu saat ini.
Ramalanmu salah sama sekali.
Baru kemarin kubuktikan peristiwa demi peristiwa.

Katamu hidupku ke depan akan berjalan cepat dan sulit.
Nyatanya setahun terakhir memang hidupku tak selalu mulus, namun masih banyak keajaiban-keajaiban kecil yang menyumbang kemajuan hidupku.
Kau bilang kau pun sempat akan berhenti berlari mengejar mimpi.
Namun yang belum kau sadari, justru kau mampu berjalan siang dan malam demi mimpimu itu, lehih cepat dari hanya sekadar berlari di siang hari. Buktinya kini kau mulai menggenggam pintu masuk ke cita-citamu.