Jakarta 25˚ C

Kemarin Jakarta menyentuh suhu 25˚ C saat siang hari. Tak pernah- pernahnya dalam setahun ini sebegitu dingin.
Hari itu diawali dengan wan mendung yang masih menggelayut manja. Bahkan waktu baru memulai ritme pacunya dengan manusia ibukota yang bergegas sejak mentari belum tampak.
Atau hari itu memang tak pernah tampak dari kota kami yang selalu sibuk.

Dingin ini sudah lama tak pernah menyergap dalam bulan- bulan sebelumnya, cenderung kering. Kami, manusia di kota ini mungkin sudah mulai rindu pada lembabnya pagi, segarnya udara, dan basahnya tanah- tanah di kaki kami. 
Biasanya debu asap kendaraan, terik matahari, serta ribuan partikel polusi berebutan menjejali paru- paru kami. Hari itu, bukannya tidak, tapi sisa hujan malam sebelumnya setidaknya mengurangi itu semua.
Kemarin, hari yang biasa, tak ada yang berubah selain cuaca yang mendung sehari penuh. Tapi tidak bagiku, saat muramnya langit sehari lalu, membuat ingatanku tertarik pada beberapa masa yang lalu.
Masa saat kota ini pun berhari- hari lamanya dibasahi air- air hujan yang menetes entah saat terang ataupun gelap hari.
Banjir, ada kalanya Jakarta di beberapa kota tergenang air hujan. Ah bagian hujan mana yang romantis kalau sudah banjir begini, mungkin demikian kata sebagian orang. Tapi tidak bagiku, hujan dan segala perkara kelam di dalamnya selalu romantis untukku. 

Kala itu, masa bertahun silam, hujan tak pernah menggagalkan niatku untuk hadir setiap hari di sekolah. Setiap hari saat musim hujan, bahkan banjr pun pantang absen. bila tak ada pengumuman resmi bahwa sekolah diliburkan, maka aku akan selalu hadir.
Bertahun lalu pun, aku belajar banyak dari musim hujan, di waktu bulan- bulan yang sama seperti saat ini, akhir hingga awal tahun yang baru, menyimpan banyak kenangan.

Beralaskan sandal jepit karet, melepas sepatu- sepatu kebanggan kami, adalah salah satu nikmat musim hujan. Dengan dalih sepatu basah karena jalan- jalan menuju sekolah hampir seluruhnya terkepung banjir, maka kami berangkat sekolah dengan sandal karet yang murah. Meski murah, entah kenapa saat itu seperti menaikkan kebanggan diri kami, seakan jadi anak paling gaul satu sekolah.

Hujan pun membuat kami dipersilahkan untuk masuk sekolah lebih siang dari biasanya. Musim- musim ini adalah masa yang palign aku nantikan saat itu. Saat di mana aku bisa bergurau dengan teman- teman sekelas, tentang kakak kelas yang lucu, yang hampir tak pernah terlihat saat hujan. Tentang kakak kelas yang terlihat 100x lebih keren saat memakai jaket atau sweater. Tentang mereka yang tak pernah terlihat berantakan, atau terlihat tidak oke, bahkan saat musim hujan. Juga masih tentang betapa kerennya mereka sepanjang tahun itu, dan bahwa ini adalah tahun terakhir kami bertemu dengannya. Dan itu pun berarti musim hujan terakhir kami untuk dapat mendramatisir pertemuan ini dan tentang betapa beruntungnya kami punya kakak kelas idola siswi SMA se Jakarta waktu itu. (ps: terserah kalian mau percaya atau tidak :p )

Dan gurauan itu bahkan selalu terngiang dalam ingatanku hingga bertahun kemudian. Masih terasa bagaimana musim hujan membawa debar yang berbeda kala itu. Dan mungkin yang teman- temanku tak tahu, saat itu aku berusaha keras untuk tak percaya bahwa kala itu adalah tahun terakhir mereka sebelum lulus dari sekolah kami. Tak bisakah ada beberapa musim hujan lagi sebelum mereka bergegas?
Atau setidaknya masih ada musim hujan satu kali lagi untuk bisa menikmati suasana yang semuanya terasa lambat, cair, tak kaku, dan memperbesar celah kebahagiaan ini.

Pada Jakarta yang bersuhu 25˚ C, aku teringat satu nama diantara semua kumpulan itu, dari seluruh musim yang sama, dari tumpukan kenangan yang telah berlalu. Di Jakarta, yang sedang bersuhu  25˚ C, aku rindu.

-HS-

Comments

Popular