Cinta yang Belum Berwujud

Hari ini semesta telah berhasil menggiringku untuk jatuh cinta.
Salah satu dari kejadian besar di seluruh alam semesta itu jatuh cinta, bukan?

Bukan kepada siapa.
Tapi apa. Kepada apa cinta itu berlabuh

Hari ini sebelumnya terasa biasa, tak ada yang berubah masih sama seperti pagi- pagi sebelumnya.
Hingga menjelang matahari memamerkan sengat terpanasnya, barulah sebuah hal menggerakkanku.
Teriring oleh kicauan seorang yang tak kukenal, tanganku berlabuh pada sebuah karya di dunia maya.

Awalnya dari kicau seseorang, menggiringku tiba pada sebuah halaman profil seseorang yang pernah kutahu- tapi belum sempat berkenalan- itu dan akhirnya tenggelam.
Tidak, bukan pada profilnya, tapi pada halaman blognya.

Saya punya prinsip bahwa blog seseorang mencerminkan pemiliknya. Saya pun mengamini bahwa tulisan ada buah pikiran dalam penulisnya. Maka karya dalam tulisan semestinyalah menunjukkan kepribadian si penulis.

Mari lanjutkan ceritaku tentang si empunya blog.
Kala itu tulisan pertamanya yang kubaca seperti barisan prosa, indah tapi tak tertebak. Maknanya dalam tapi tak mudah dikupas. Yang kutahu, siangku kala itu kuhabiskan terlarut dalam buah pikirannya. Sebuah hal yang tak kusesali kemudian.

Kemudian tanganku terus mengarahkanku untuk membuka terus dan terus halaman selanjutnya. Ia masih misterius, tak mudah ditebak meski fotonya tersenyum ramah dan hangat. Khas orang ketimuran dengan kulit gelap dan rambut keriting, pikirku saat mengamati wajahnya. Tapi tulisannya dingin, mencoba memberi jarak antara dirinya sebagai penulis dan pembaca yang mencoba menafsir karyanya -sepertiku, mungkin-.

Saya tak pernah menyangka bahwa tulisan kritis, tajam, namun sekaligus dalam makna miliknya itu muncul dari orang yang masih seusiaku. Buku bacaannya pun terlalu filosofis, berat sekali pasti untukku. Atau mungkin ia memang penggemar buku dan sastra.

Oh jangan salah, saya memuja sekaligus mengkritisi karyanya. Pujian bagi seorang yang muda namun sanggup menghasilkan tulisan indah dan dalam makna. Tulisan kritis juga karena ia terlihat apatis dengan dinamika kehidupan di sekelilingnya. Yang kutahu saat itu, ia akan segera menjadi salah satu penulis favoritku.

Lagi, dan lagi kubaca semua tulisannya di blog. Ah saya belum kenal dia tapi karya karyanya memperpendek jarak asing itu. Serasa semakin dekat mengenalnya. Meski mungkin ada lingkaran pertemanan yang sama tapi sepertinya kami belum pernah bertemu. Dekat tapi hanya sebatas tahu dan sadar akan keberadaan masing- masing, tak pernah lebih.

Hingga akhirnya, semakin lama aku semakin tergelitik untuk mencari tahu lebih dalam tentangnya juga karya- karyanya. Aku tenggelam dalam liar pikirannya, dalam jerat kalimat tulisnya. Dalam, namun tanpa sama sekali bermaksud untuk menenggelamkan pembacanya.

Dan tatapanku kemudian terhenti pada sebuah kalimat yang telah dirangkai oleh temannya, entah sahabatnya atau seseorang dekatnya, entah, tapi aku tak tahu pasti.
Hai kamu, ini merupakan pergi terjauhmu. Kamu adalah salah satu dari gadis manis yang pernah kukenal, salah satu yang tercantik. Satu dari sekian banyak orang baik yang pernah disinggahkan Tuhan untuk mampir di hidupku. Dan kali ini, Ia bermaksud mengambilmu sejenak dari aku, kami, semua orang yang pernah mengenalmu. Tidak, tentu kami tidak bermaksud- dan tentu saja tidak bisa melawan kehendak Nya. Akhirnya hari ini terjadi, ketika karyamu terhenti dari tangan dan pikiranmu. Tapi, mengenalmu, adalah salah satu karya Nya yang indah bagiku, bagi kami, dan semua orang yang pernah mengenalmu.

Ternyata, hari itu, tulisannya yang aku baca di sebuah laman pribadi elektronik miliknya adalah tulisan terakhirnya dalam beberapa bulan terakhir. Tulisan tajam itu tak pernah akan pernah punya lanjutan kembali, ia adalah hasil karyanya yang terakhir. Dan ternyata, aku bahkan belum sempat mengenal sosok sang empunya karya. Ia telah lebih dahulu berpulang, berjuang keras melawan penyakit langka yang rupanya menggerogoti dirinya dalam diam. Dan aku, hanya bisa mengagumi, atau jatuh cinta dengan tulisannya tanpa pernah lebih jauh mengenal si pembuatnya.

Kemudian aku tersadar, beberapa waktu lamanya aku semakin terhanyut dalam tulisan- tulisan pribadinya. Ah, andai waktu bisa kuputar. Selamat jalan, kawan!

Ditulis pada 5 November 2015.
Dalam perjalanan pulang di koridor 1 Trans Jakarta.
Dengan gaya penulisan ending sama seperti orang yang kuceritakan di atas :)

-HS-

Comments

Popular