Hitam Pekat

Pekat dan gelap mata itu selalu menelanku hingga lumat.
Dalam matamu lah kuterhanyut sekaligus tersesat.
Di sana kutemukan tentangku, juga terlarut dalam tembok- tembok tinggi keangkuhanmu.
Laksana labirin, sewaktu kutersesat, sekali waktu dapat kutemukan jalan kembali.

Mata yang hitam itu akan selalu mengamati semua hal di dunia ini dengan cermat.
Takkan ada satupun yang terlewat.
Pernah suatu ketika kulihat seakan pemburu hendak menembak targetnya, tak pernah kau lepaskan barang sebentar dari perhatianmu.
Namun jika semua orang bilang kau dianugerahi mata yang tajam nan misterius, maka akan kujawab dengan tawa.
Ya, tertawa. Rupanya mereka sama sepertiku, yang pada awalnya mengira sosokmu angkuh, dingin dan enggan untuk dibaca lawan bicaranya.
Tapi bukankah saya telah lebih mengenal mata itu lebih dulu dibandingkan dirimu sendiri?
Mata yang tajam itu, mungkin jarang menyipit untuk ikut tertawa, atau merayakan sesuatu. Jarang pula mata hitammu itu terbelalak kaget, seakan semua sudah berjalan seperti seharusnya.

Takkan pernah ada yang menyangka bahwa kelamnya hitam matamu itu menyimpan banyak rahasia sang empunya.
Hitamnya mata itu, menyembunyikan sosok anak kecil yang selama ini bersarang di dalam tubuh seorang pria dewasa, sosok yang justru sering dilihat banyak orang itu.
Jernih mata itu, juga seakan menunjukkan sang empunya tak pernah bermacam- macam, hidupnya lurus- lurus saja. Tak banyak orang tahu akan hidupmu dari bayangan dalam matamu, bahwa hidup yang baik itu pernah tercemar hanya karena perilaku masa lampaunya yang tidak ia inginkan sama sekali.
Siapa pula yang dapat memilih dari rahim ibu mana kita akan dilahirkan? Dari orang tua seperti apa kita ada? Tak ada, tapi kesedihanmu itu masih terus membayangi hidupmu hingga kini, saat diriku menemukanmu.

Di mata hitam itu pula, saya pernah menemukan keteduhan dari ingar-bingar nya dunia. Di mata itu kutemukan sosok yang bisa memberiku jawaban atas hampir seluruh pertanyaan- pertanyaan kecilku tentang hidup. Dari sang empunya mata hitam yang indah itu saya pun belajar bahwa keteduhan matamu pernah bertahun- tahun penuh amarah akibat ketidaknyamanan proses menjadi dewasa.

Sayang, ingin kulihat indah matamu lagi sebelum diriku terlelap.

Comments

Popular