Halaman 30

Hari ini senyummu indah. Meniadakan dukaku akan berakhirnya sebuah masa dalam buku ini.
Hari ini pula, matamu terlihat bercahaya, membuatku lupa akan banyaknya anak pikiran yang berhasil menguasai hidupku dalam beberapa waktu terakhir.
Meski bisa saja lupa untuk selamanya, saya memilih bertahan mengingatnya.
Sebuah masa memang harus ada sebagai pengingat hidup. Demikian pun saat ini, masa mudaku mungkin akan segera berganti dengan sebuah waktu untuk bertambah dewasa.

Seandainya bila kelak ada kesanku mengabaikanmu, janganlah bersedih, mungkin saat itu kesibukanku menghasilkan karya telah menguras tenagaku.
Jika saat itu telah tiba, bila saya tak menjawab ajakanmu untuk bersenang-senang, jangan kecewa, mungkin waktu telah mengajariku untuk mengurangi kesenangan sementara.
Bila kelak tawaku tak selepas dulu, jangan segera bertanya mengapa, mungkin ada banyak bebanku kelak, tapi percayalah saya selalu berjanji untuk hidup bahagia, hanya mungkin tak selalu ada tawa di sana.

Maka ingatlah hal ini;

Saat saya telah mampu berdiri, kokoh di atas segala raihan mimpi masa mudaku, semua pun karena dirimu yang turut membentuk diriku.
Saat saya mampu menahan halang rintangan arus hidup, ingatlah kau pernah mengajariku untuk tetap berdiri layaknya batu karang di tengah hempasan ombak.
Saat saya tak mudah menangis bila kesusahan atau dukacita menghadang, kaupun telah lebih dulu memberitahuku bahwa hidupku tak hanya untuk berduka mengenang hal sedih.

Terima kasih untuk keindahan di masa yang akan kutinggalkan ini.
Mungkin semua orang pun akan mengalaminya, tapi kini mari kita renungkan perjalanan ini. Katanya tak selamanya senang, tapi kan kujamin akan selalu berbahagia merebut semua impiku.
Jadi, sudah siap untuik bertemu di puncak dunia yang tertinggi?
Selamat berjuang

Salam,
HS

ditulis untuk hari pertama 30 Hari Menulis Surat Cinta.

Comments

Post a Comment

Popular