Tuesday, September 30, 2014

Balekambang, Taman Tengah Kota Solo

Pertama menginjakkan kaki di taman seluas 9,8 hektar ini, Anda akan disuguhkan dengan pemandangan yang menyejukkan mata. Terletak di tengah kota Solo, taman Balekambang menjadi salah satu destinasi wisata bagi masyarakat Solo ataupun wisatawan domestik. Taman Balekambang dipisah menjadi dua bagian utama, hutan dan kolam air. Penanda pemisahan taman Balekambang ini ditandai dengan dua patung Partini Tuin dan Partinah Bosch. Kedua patung ini merupakan perlambang kedua putri dari Mangkunegara VII, pendiri Balekambang.

Balekambang setiap harinya ramai dikunjungi oleh keluarga hingga anak muda. Balekambang merupakan salah satu spot foto yang sering diincar oleh para fotografer. Di Balekambang, anda dapat menemukan beberapa pohon besar seperti mahoni dan trembesi. Tak hanya tanaman, di rerumputan yang luas, Anda dapat menemukan beberapa hewan seperti kijang dan angsa yang dibiarkan berkeliaran bebas. Destinasi wisata yang terletak dijl. Balekambang no.1, Manahan ini pun memiliki taman reptil.

Sunday, September 28, 2014

Demo Mahasiswa, Masihkah Berlaku?

Kemarin timeline twitter saya sempat ramai bahas soal pengesahan RUU Pilkada. Ya, akhirnya Pilkada ditetapkan melalui DPRD, dan tentu langsung banyak protes dari masyarakat. Di twitter, tuips- tuips ini tidak hanya menyoroti hasil putusan anggota DPR di rapat itu saja, bahkan mereka amat fokus pada peristiwa walkout nya Partai Demokrat. SBY dinilai gagal untuk memimpin partainya untuk mempertahankan pendapat mereka demi memilih Pilkada langsung. Dan twitter pun langsung ramai dengan hashtag #ShameOnYouSby.

Tapi, bukan soal ramenya hestek yang jadi Trending Topic Worldwide itu yang mau saya bahas. Pas saya lagi scrolling timeline, tiba- tiba terbaca sebuah ritwitan yang kurang lebih intinya: "Wahai mahasiswa, dimanakah suaramu?" tweet ini sepertinya masih dalam hal yang sama, mencari suara mahasiswa di tengah keriuhan pengesahan RUU Pilkada via DPRD ini. Orang tersebut mencari- cari dimanakah suara para mahasiswa yang dulunya gemar turun ke jalan- jalan, menyuarakan suara mereka, menumpas tirani, menelisik kebenaran, menyingkiran kebobrokan politik dan politikus.

Kalau bisa kita ingat, tahun 1998 dulu (saya masih umur 6 tahunan sih waktu itu), mahasiwa- mahasiswa kan pada turun ke jalan. Mereka demo, mengeluarkan opini (bahkan kemarahannya) atas orde baru, menuntut reformasi, hingga memaksa mundurnya Soeharto dari jabatannya sebagai presiden ke- 2 RI. Dulu sejarah mencatat, mahasiswa- mahasiswa 98 itu pernah menduduki gedung MPR, mereka berhasil memaksa suaranya didengar, membantu masyarakat untuk menyampaikan suaranya kepada para petinggi negeri. Tapi... itu dulu. Bagaimana kondisi mahasiswa saat ini?

Saturday, September 20, 2014

Parkiran Jazz, Edukasi Musik Jazz untuk Solo

Solo sering diidentikkan dengan kota khas budaya. Tak heran jika selalu ada event bernafas budaya setiap bulannya. Namun ternyata, Solo tak melulu terkait budaya. Perkembangan musik di Kota Solo kini pun cukup seru untuk diamati. Salah satu diantara event musik yang sedang in di Solo yakni Parkiran Jazz. Event yang diadakan rutin tiap Kamis di akhir bulan ini, mungkin bisa jadi salah satu acara yang wajib ditilik bila mampir di Solo pada akhir bulan.

Bila Jazz biasanya kerap diidentikkan dengan tempat- tempat mewah, di Solo, bahkan jazz telah mewarnai parkiran dan menjadi tontonan terbuka bagi siapa saja. Parkiran Jazz mulanya digagas oleh komunitas jazz di Solo yaitu Solo Society Jazz. Berawal dari tahun 2011, pada bulan Maret perhelatan sederhana Parkiran Jazz dimulai. Parkiran Jazz memang sesungguhnya digelar di lahan parkir di Balai Soedjatmoko yang terletak di Jalan Slamet Riyadi.

Saturday, September 13, 2014

Kepergian Tulang

Setelah di postingan sebelumnya saya menceritakan tentang meninggalnya Tulang saya, Jules Eriston Siagian, Senin 8 September lalu, kini saya mau cerita tentang hal serupa.
Tulang saya ini merupakan adik bungsu dari mama, beliau menutup usianya di angka 47 tahunm dengan meninggalkan seorang istri dan seorang anak laki-laki, namanya Fernanda. Karena sudah punya anak, kami memanggilnya tulang Nanda.

Senin dini hari, pukul 00.30 tulang meninggal di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dan langsung dibawa ke Rumah Duka Rumah Sakit PGI Cikini. Kenapa ke rumah duka? Belakangan kan rumah duka sudah mulai umum dipakai oleh banyak orang. Nah kalau kami memutuskan pakai rumah duka karena memang rumah tulang jauh sekali, ada di Cakung. Rumah yang jauh bisa bikin para pelayat nanti sedikit yang datang, padahal buat orang Batak, semakin banyak orang yang datang ke acara pemakaman ini selayaknya sebagai sebuah penghiburan bagi kami yang berduka.
RS PGI Cikini kami rasa cukup dekat dan mudah diakses dengan apapun dan letaknya memang di tengah kota. Dulu, penggunaan rumah duka memang identik dengan orang yang kurang mampu, dengan rumah dan halaman yang kecil memang sulit kan untuk mengadakan acara kedukaan. Namun sekarang fungsi rumah duka dirasa sudah lebih memudahkan siapapun yang ingin mengurus acara kematian keluarganya.

Tuesday, September 9, 2014

Dipanggil Hidup

Hari ini, 8 September 2014.
Rencana awalku mau ke kampus, ngurus revisi skripsi. Terus dilanjut siangnya mau ke kantor, kelarin kerjaan yang belum selesai.
Tapi telepon pagi-pagi sekali terpaksa mengusikku yang baru tidur beberapa jam setelah menonton kualifikaasi EUROPE antara Germany vs Scotland.
Ga sempat keangkat teleponnya, tapi begitu cek miskol di kedua hp udah langsung banyak aja dong. Telepon dari orang rumah semua.
Ada sms dari adek saya: Kak, disuruh cari tiket kereta pagi ini juga....