Thursday, February 27, 2014

Tunggu Apa Lagi?

Teruntuk para secret admirer di luar sana.

Oh, bukan. Bukan untuk secret admirer saya, tapi untuk siapapun yang sedang mengalami jauh cinta diam-diam.

Apa sih rasanya jatuh cinta tapi ngga di gaung-gaungkan ke seantero kota? Enak ya? Memangnya seru ya kalau cuma mengamati punggungnya aja dari kejauhan. Melihat dirinya dari jaarak maksimall 3 meter, dan kemmudian pura-pura memalingkan wajah begitu dia tiba-tiba  menoleh ke arahmu. Ih semacam sok cuek gitu karena takut kepergok kalo lagi merhatiin dia.

Wednesday, February 26, 2014

Dear Sadam

Dear Sadam,
I miss you...
Ah tadinya saya mau nulis surat cinta untukmu begitu saja. Cuma ungkapan kangen.
Tapi ternyata hati saya bergemuruh kencang. Banyak sekali yang ingin kucurahkan padamu setelah lebih 10 tahun kita tak bertemu

Sadaamm...
Kenapa tiba-tiba tadi malam kamu muncul lagi? Kan saya jadi galau. Mengingatmu dan masa-masa jayamu dulu. Saya rindu pipi chubby mu, ketengilanmu, manjanya sikapmu pada kedua orang tuamu. Dari semuanya itu, saya rindu melihat Sadam yang ternyata dibalik kenakalan dan isengnya, juga punya sisi lemahnya sendiri.

Tuesday, February 25, 2014

Harapan

Dear you,

Hidupku semakin tak beraturan. Nafasku tersengal dan langkahku tertatih.
Mungkin kau telah terlalu jauh melangkah.
Tapi kuingat janjimu yang tak pernah ingkar, kau akan kembali kesini saat musim berganti.
Hingga saat itu, kupastikan masih ada harapanku yang berdiri tegak, tak goyah oleh suatu apapun.

Maka bila kau terima suratku ini, pahamilah.
Pahamilah bahwa kepergianmu akan menjanjikan secercah bahagia bagiku. Kembalilah bila kau ingat batas masa yang kau tetapkan.
Jangan pernah menyerah untuk mimpi-mimpimu.
Wujudkanlah itu, jadikan nyata satu persatu.
Karena disini pun, demikian adanya, harappan yang menjagaku tetap hidup. Harapanmu yang selalu membuat pelitamu menyala terang bahkan di saat titik malam tergelap sekalipun.

Kembalilah, ketika angin membawamu pulang.

Salam hangat,
Yang meridukanmu.

#30HariMenulisSuratCinta hari ke 25

Monday, February 24, 2014

Pengingat Masa

Selamat siang, kawan.
Hari ini perjalananku semakin panjang. Mungkin sudah lelah dan hendak berhenti bila tak ingat target hidup yang tinggi itu. Sejauh ini, masih berkali-kali saya mampu berdiri lagi s etelah terjatuh dan dijatuhkan semangat.

Mungkin suratku mengganggu ketentramanmu disana. Membuatmu jengkel karena harus membaca surat tak ringkas dariku di tengah jam kerjamu. Tapi saya tahu, kau takkan tega meninggalkanku bersama pudarnya merah semangatku. Semakin kita tua, bukankah semakin berat tantangan hidup kita? Sama seperti katamu dulu di perjumpaan terakhir kita.

Betapa kurindukan masa-masa kuta bersama dulu. Kita seakann hidup dan bermain tanpa perduli apa yang sedang terjadi di sekitar kita. Kau yang membuat kaki-kaki kecilku dulu mampu melompat, semakin tinggi dan jauh dari tahun ke tahunnya. Masih kah kau ingat saat dulu jemari kecil kita bermain-main tanah kotor di belakang rumahmu? Membuat mainan apapun yang bisa kita hasilkan. Kreatif selayaknya anak kecil lainnya, yang ruang berpikirnya masih belum terbatasi oleh norma dan larangan.

Sunday, February 23, 2014

Dear Lovers

Kepada para wanita yang sedang jatuh cinta di luar sana,
Masihkah kau bersemangat untuk menjalani tiap pagi dengan cintamu yang menggebu?
Atau masihkah kau kerap menyakiti dirimu dan menyesali diri atas perkara yang terjadi?
Mungkin juga kau masih berjuang lepas dari bayang-bayang masa lalu?
Entahlah, yang kutahu, tak melulu proses jatuh-kemudian-cinta-dan patah-hati adalah suatu hal yang enak.

Dear lovers,
Masih jatuh dengan orang yang sama? Tenang saja, cinta tak melulu pahit dan perih, juga sebaliknya.
Jadi jangan takut bila hari ini kau terluka dan menangis. Bisa saja esok hari kau akan menemukan semangat baru atau mungkin orang baru.

Saturday, February 22, 2014

Penantian Panjang

Selamat siang, kamu
Semalam rasanya seperti baru saja kita bertemu dalam mimpiku.
Tak terasa apakah itu semua nyata atau memang kerinduanku sudah begitu membuncah untukmu.
Namun pagi ini tak lagi kutemukan bekas jejakmu di ingatanku jika memang benar  kau ada di mimpiku.

Thursday, February 20, 2014

Halo, Mbak!

Tuutt...tuuttt...ttuuutt....
Masih nada sambung itu yang terdengar berturut-turut. Setelah kumatikan berkali-kali (pula) masih belum ada suara yang menjawab panggilan teleponku.

Kuketuk-ketukkan jariku yang sedang menggenggan handphone yang kutempelkan pada telingaku. Makin lama makin panas. Tapi panggilan juga masih bernada sambung.

Wednesday, February 19, 2014

Surat Pertemuan Kita

Terima kasih sudah mau menunggu suratku hari ini. Kemarin kulihat sudah tak lagi ada tumpukan surat-surat di depan pintu rumahmu.

Saya selalu percaya bahwa kau tak selalu membaca surat-surat yang tertuju padamu. Suratku ini pun selalu mencari-cari lokasi agar bisa kau temukan. Ya, ingin ditemukan. Bukan hendak menemukanmu, karena suratku hanya ingin menemukan orang yang tepat untuk membacanya. Sama seperti tahun-tahun yang berlalu, tak pernah begitu sulit menemukanmu meski kau sudah berpindah-pindah tempat perantauan.

Tuesday, February 18, 2014

Undangan Kencan

Kepada tukang pos tim HIJK yang terkece, kak @ikavuje.

Bersamaan dengan surat ini, aku hendak mengajakmu kencan dan biarlah kunamakan ini 'Kencan Kece' supaya enak dibaca. Sehubungan dengan tidak pernah diterbitkannya larangan seorang perempuan mengajak perempuan lainnya untuk kencan, maka kuajak tukang pos kesayanganku untuk berkeliling kota #NaikAgya yang terkenal hemat dan irit. Maka otomatis, kencan kita low-budget, kak :D

Monday, February 17, 2014

Galaksi

Wahai, kau yang menjadi pusat gravitasi dan peran utama dalam galaksiku.

Kita, kau dan diriku, juga semesta masif yang di sekitar kita, semuanya adalah satu.

Bagiku, kesatuan itu membentuk susunan galaksi baru. Disitu, kaulah pusatnya, gaya gravitasi yang mengikatku juga hal lainnya sehingga terus tertuju padamu. Tak perduli sejauh apapun melangkah, bahkan berlari sekencangnya, kaulah pusaran yang kutuju. Maka kau adalah tempatku kembali, sampai kapanpun tetap tempatku pulang.

Semesta pun mengamininya. Segala hal, mulai dari guguran daun-daun jatuh hingga kelip centilnya bintang di langit malamku, semuanya mengingatkan tentangmu. Bagaimana kau menarik bibirmu, otot-otot pipimu dan tersenyum. Bagaimana kau mengerling atau mengerjapkan perlahan matamu padaku. Juga bagaimana rasanya ketika kulit kita bersentuhan dan serasa ada aliran listrik yang mengaliri kulitku.

Jika cinta diibaratkan jatuh dan membuang hati, maka  gravitasi di semesta mengijinkanku untuk jatuh. Gravitasi mengirimkan hatiku untuk jatuh pada sosokmu, jatuh tapi tak untuk tersakiti. Jatuh yang tak sakit.

Di waktu yang lain, semesta membiarkanku mengingat meriahnya bintang di langit malam pada matamu. Titik-titik jutaan bintang di galaksi yang bergerombol seakan membawaku pada pandangan matamu yang bercahaya. Kilap bintang kulihat pada matamu yang bersinar bak langit malam dibiasi bintang.

Maka semesta yang ada bagiku ini tak lengkap bila tak ada dirimu. Galaksi yang luas ini, hanya kekurangan sosokmu untuk menemaniku melengkapi pusaran bintang ini. Karena kaulah sosok sentral di galaksiku, pusat peredaran bintang-bintang juga penahan gravitasiku. Kau membuaku jatuh, tanpa merasakan perih. Jatuhku indah bersamamu, semesta telah mendengarnya.

Selamat malam,
pusat galaksi.

#30HariMenulisSuratCinta hari ke 17.

Sunday, February 16, 2014

Hujan Sore Ini

Terima kasih sudah mampir ke kotaku walau sejenak.
Kehadiranmu sore hari ini setidaknya melepaskan sedikit kegundahan kami.
Menyegarkan udara yang kami hirup setidaknya untuk sisa hari ini.
Ketika ribuan tetesmu jatuh ke tanah-tanah berdebu kami, maka aliranmu melarutkan semua yang tersisa di bawahmu.

Saturday, February 15, 2014

Semoga Baik-Baik Saja

Semalam bukanlah hari yang baik untuk kita. Kudengar keadaan disana bertambah parah tiap menitnya. Disini pun demikian, kekhawatiran membuatku awas sepanjang malam.

Keadaan kalian disana, mungkin jauh lebih buruk dari apa yang sedang kami alami. Biar kutebak kesimpang siuran informasi di sekitarmu terkadang tak membantu sama sekali saat akan mencari jalan keluar dari masalah ini.

Thursday, February 13, 2014

Terima Kasih

Sebelumnya maaf bila tak layak surat ini menggantikan diriku.
Tapi percayalah, isinya adalah hal yang sama dengan yang kuungkapkan dari hatiku.

Dimanapun kau membaca surat ini, terima kasih.
Terima kasih karena menjadi bagian penting dalam hidupku. Karena dengan hadirmulah, sejak saat itu hidup ini terasa berbeda. Ia punya sesuatu yang mampu kuperjuangkan dan menjadi alasanku untuk tetap bangun di tiap paginya. Karena hidup pula lah dulu ada titik tergelap dalam hidupku, sebelum berubah menjadi benar-benar berbeda sejak hadirmu.

Wednesday, February 12, 2014

Perihal Perihnya Rindu

Selamat malam,
Kali ini biarkan selembar kertas menghampirimu, menggantukan kehadiranku disisimu.

So, how's life?
It's not gonna be easier, huh?
Memang berat, apalagi setelah kau dihajar bertubi-tubi masalah. Tapi biarkan suratku ini menghiburmu. Setidaknya saat kau membacanya.

Tuesday, February 11, 2014

Sepasang Kekasih di Pasar Gede

Kepada sepasang kekasih di Pasar Gede.

Sebelumnya, maafkan kelancangan surat ini menghampiri kalian. Sungguh tak pernah terpikirkan benar olehku untuk membidik kalian sebagai sasaran foto dari jarak jauh. Tapi kalian berdua benar- benar nampak seperti sepasang raja dan ratu malam itu. Kalian seakan pusat semua perhatianku tertuju.

Sungguh tak pernah ada niatku untuk mengganggu malam kalian untuk memadu kasih saat itu. Malam minggu, memang sudah ditakdirkan, entah sejak kapan, untuk menjadi malamnya anak muda. Maka wajarlah dianggap bila malam menjelang hari minggu itu banyak pasangan kekasih memadu cinta. Demikian pula hal nya dengan kalian. Tak pernah sedikit pun terlepas dari senyuman yang kalian ukir di wajah masing- masing. Kalian pun tak pernah berjarak barang sedikitpun. Mungkin, takut kehilangan, atau justru itu bukti sayang kalian terhadap pasangan. Ah tak apa, dimaklumkan, apalagi kalian sepasang kekasih, kan?

Monday, February 10, 2014

Tarian Jiwa

Kepada kekasih jiwaku, duet hidupku.

Hari ini sebuah mimpi menghampiri tidurku. Ada sebuah padang rumput luas yang terhampar di hadapanku. Ada ribuan macam warna dari berbagai warna yang tertata rapi disana. Yang aneh, tak ada keindahan rupamu disana. Tapi sungguh, semua pemandangan disana adalah santapan bagi lelah mataku yang dahaga ini.

Sunday, February 9, 2014

Mimpi dan Harapan

Mimpi dan harapan, keduanya menyatu dalam satu tubuh. Menyeruak diantara jasad-jasad busuk yang gugur karena tak sabar dalam penantian.
Saat semua kaki melangkah, tentulah ia harus tahu kemana tujuan langkahnya, kapan harus berlari atau kapan menetapkan saat untuk berhenti.

Dalam tubuhmu, yang kukenal selama bertahun, mimpi juga harapan datang silih berganti. Sulit bagimu menyatukannya dalam jiwamu. Jiwamu tak mampu menggenggam banyak hal sekaligus. Maka disaat ada mimpi yang kau cita-citakan, hidupmu beralih padanya. Semuanya kau taruhkan demi terwujudnya mimpimu. 

Saturday, February 8, 2014

Tarian Senja dalam Pekat

Hari beranjak larut dalam pekat.
Hatiku acuh ingin menuliskanmu sebuah surat.
Maka kuambil pena, kuhiasi kertas putih dengan aksara yang tergurat.
Kubungkus surat ini kelak dalam amplop berwarna pucat.

Pada jalan yang tenang dan lembut kita bersama.
Dalam rengkuhan senja yang perlahan menghiasi kota.
Kita, penikmat senja, tak pernah melewatkannya.
Dan lihatlah, ia tak pernah ingkar, menghiasi awan sore kita.
Senja dan kita, seakan lebur dalam ayunan cinta.

Wednesday, February 5, 2014

Teruntuk Pejuang Tangguh Hidup

Teruntuk perempuan tangguh, pejuang hidup kami.

Tak sedikit waktu yang kau habiskan untuk mengumpulkan keping per keping hasil jerih payahmu. Hari per hari kau kuras tenaga dan pikiranmu demi yang terkasih. Entah sudah berapa banyak kau korbankan dirimu, yang kutahu semuanya begitu besar, tak tergantikan.

Senyummu dan Tulisan yang Abadi

Kutuliskan surat ini bagimu, untuk menjadikannya kekal bagimu. 

Kepada lelaki yang kuijinkan berbagi pikiranku. Lelaki dengan senyum termanis. Hanya padamulah kuceritakan pandangan dan mimpi-mimpiku tentang dunia serta seisinya. Bersama dengan surat yang kini sedang kau baca ini -entah kapan dan bagaimanapun caranya-, kusampaikan segala doa baik semoga gelimang berkat masih menyertaimu.

Tuesday, February 4, 2014

Surat Kedua untuk Selebtwit Idola

Surat Keduaku kepada selebtweet favoritku @ikramarki.

Halo Ikram (@ikramarki)

Surat pertamaku kutuliskan (disini) di tahun kemarin untuk Ikram. Dan bagusnya, sesudah surt itu diposkan langsung di reply tweet nya olehmu. Ngga lama sesudah itu traffic blogku melonjak tinggi, statistik kunjungannya melejit. Gila juga, dalam hati mikir pasti ini pembaca-pembaca yang mayoritas followersnya Ikram.
Gila, Kram...segitunya banget yaa. Terima kasih hahaa. Dann ajaibnya cuma karena sekali di RT kamu aja itu traffic blog masih rame dibaca sepanjang 2013 :D

Monday, February 3, 2014

Surat Penjemput Kenangan

Kepada saudara-saudaraku yang tak tersatukan oleh ikatan keluarga.

Surat ini kutujukan kepada banyak kepala yang kutemui dalam belasan tahun perjalananku.
Pada orang-orang yang kusebut belahan jiwaku, sahabat-sahabatku dalam kasih seorang kawan.
Kenangan tentang kalian kujemput kembali melalui surat ini.

Sunday, February 2, 2014

Sang Maha Cinta

Teruntuk Sang Maha Cinta yang kami sebut dalam berbagai nama.

Darimulah seluruh cinta ini berasal dan sudah seharusnyalah bagian terbesar dari cinta ini kembali padamu.

Kehadiran cinta dalam hidup kami begitu megah.
Bahkan takkan ada insan yang mampu mengelak darinya.
Satu persatu, tiap orang akan merasakan getar-getar kecil di hatinya, pertanda munculnya cinta.
Awalnya sederhana, tapi kemudian kami sendirilah yang membuat keindahan cinta itu memudar.
Cinta yang mewah, bertabur kasih sayang dan setia itu terkadang kuuji hingga ujung batasnya.
Apalah arti cinta bila akhirnya ego menguasai diri?
Dimanakah nikmatnya cinta manakala tiada yang saling memahami?

Berkali-kali kami jatuh pada hati yang salah.
Tak jarang pula terlalu banyak waktu berduka yang kami habiskan.
Hingga akhirnya perlahan cinta enggan tumbuh pada hati-hati yang rapuh dan penuh curiga.
Siapakah kami hingga mampu menyia-nyiakan begitu banyak cinta yang tulus?
Siapakah kami yang mampu merasa jera bermain-main dengan hati?
Apakah cinta sebegitu murahnya hingga terkadang banyak waktu yang terbuang sia-sia hanya untuk sekedar tahu kalau kami berhenti di hati yang salah.

Wahai Sang Maha Cinta,
Semoga masih belum bosan mendengar tangisan perih kami saat permainan kami terasa melelahkan dan mulai menyakitkan.
Semoga masih ada cinta  yang tersisa untuk mengobati perihnya luka di setiap hati yang mau mencoba untuk setia.
Semoga cintaMu masih ada bagi hati kami yang akan kembali pulang pada arah yang benar, mengakhiri permainan dan kembali pada satu cinta.

Wahai Sang Maha Cinta.
Terima kasih atas curahan segala cinta pada setiap jejak hidupku.

Solo, 2 Februari 2014.

#30HariMenulisSuratCinta hari ke-2

Saturday, February 1, 2014

Merayakan Perpisahan yang Layak

Halo, selamat malam.
Bagaimana kabarmu?
Ah basa-basi macam apa ini? 
Jariku masih kaku merangkai ini semua untukmu.
Nampaknya kita harus bertemu.
Ada ingatan-ingatan yang perlu disegarkan.
Tentang waktu yang berjalan selama ini, tentang jarak, rindu, persepsi, hingga kenangan.
Kita harus mengingat kembali tentang 'kita'.
Masih segarkah di benakmu bagaimana selama ini waktu kita lalui begitu saja?
Keceriaan tersembunyi hingga gelak tawa yang terlepas.