Saturday, April 12, 2014

Menjelang Bonanza* Dalam Genggamanmu

Oleh: Hanna Suryadika

Lembar hitam dalam diriku perlahan mengelupas. Tersingkir karena cerahnya musim panas yang kembali menyegarkan jiwaku. Dulu mungkin aku tak berpunya nyawa, tapi kini aku bertekad kembali merebut jiwaku yang telah lama kutanggalkan.

Arogansi jiwa mudaku, pernah meninggalkan semua hartaku, menyerahkannnya pada pangkuan sang masa. Kini kutahbiskan diriku sendiri sebagai jiwa baru, hendak berlari mengejar asa meraih mimpi. Aku seakan terlahir kembali, tapi tak dari rahim ibuku.

"Rania mau pergi. Menjelajah setiap sudut kota kemana hatiku memanggil" demikian ujarku pada Ibu saat mengucapkan niatku pertama kali. Ibu, barangkali dia hendak melihatku berubah lebih baik, atau malah sudah bingung akan jalan pikiranku, mempersilahkan apapun langkah yang kupilih dalam hidup.

“Kalau memang kamu bahagia dengan pilihanmu, pergilah. Tentukan hidupmu sendiri. Kamu kan sudah besar,” ucap ibuku saat aku berpamitan padanya. Padahal saat itu aku masih belum tahu arah dan tujuan langkahku. Aku hanya mendengar kata hatiku, penuntun jalanku.

***

Matahari adalah salah satu kawan terbaikku tatkala melakukan perjalan. Padanya aku bebas bercerita apa saja. Sang mentari pun selalu menerangi langkahku, sekalipun aku enggan melangkah di satu hari. Aku paling suka pemandangan mentari dari balik jendelaku. Terkadang ia mengintip malu-malu dari tirai tipis jendelaku. Kadang sang mebtari pun menjadi pelengkap desiran ombak yang bersahutan di bibir pantai. Pantai, matahari, dan hamparan langit malamm yang luas berbintang adalah konsumsi jiwaku sehari-hari. Kata orang, hidupku bak di surga.

Benar kalau itu kaata mereka, aku pun mengamininya. Semua surga dunia di Pulau Dewata ini ada dalam jarak pandangku, semua hamparan alam nan indah di Bali, sudah semua kukunjungi. Semua orang berlibur disini, tapi aku malah hidup berkarya di tanah ini. Aku pelarian tunggal disini, aku tak berkawan dengan siapapun di tanah permai ini awal tibaku disini. Pelaarian yang manis. Pelarian itu tak pernah sedikitpun menuntunku ke arah penyesalan.

Maka disinilah aku. Pergi mengikuti alunan suara hatiku, menggiring kakiku kemanapun aku suka. Renjana memanggil namaku, memelukku kala malam dalam dongengnya. Renjana menuntunku pada awal kisah hidupku, hidup baru yang membawaku pada bahagia.

***

Aku tak pernah sebahagia ini. Rasanya bebas, lepas, tak terikat pada satu kekang pun. Mulai hari itu aku mulai mengejar ketertinggalan hidupku. Aku mulai melangkah menapaki mimpi- mimpiku yang selama ini kutitipkan pada langit. Mimpi yang selama ini kugantungkan setinggi- tingginya, rupanya terlalu tinggi hingga tanganku tak sampai meraihnya. Kupastikan aku tetap bisa meraih cita- citaku sejak dulu, menjadi penulis perjalanan, jalan- jalan sambil menulis dan mencari uang. Maka sejak kepindahanku ke Bali, mimpiku mulai mempunyai sepasang kaki kecil, menopang tubuh mimpiku menjaganya tetap dekat dengan raihan tanganku.

Di Bali, aku bisa menemukan hampir seluruh keindahan alam di dunia. Dengan begitu, aku bisa berwisata kemanapun sembari megnhasilkan tulisan- tulisan perjalananku. Seandainya dulu aku tak memberanikan diri untuk ‘kabur’ dari rumah, mendengar kata hatiku untuk merantau, mungkin sekarang mimpiku masih terasa jauh dari nyata. Sungguh tak ada hari paling menyenangkan selain bisa bekerja dan berwisata sekaligus, seperti aku yang hidup menjadi travel writer.

“Kamu sudah gila? Mau meninggalkan semua ini?” teriak Winda teman dekatku, setengah tercengang. Winda seakan tak percaya aku meninggalkan pekerjaanku di sebuah perusahaan multinasional di ibukota.

“Mungkin” ujarku santai. “Karena memang hanya orang gila yang bisa bebas, bertindak sesukanya, tak perduli orang lain,” lanjutku. Bekerja di tempat resmi, dengan kubikel- kubikel kaku itu setiap harinya bukanlah letak kenyamananku. Meski sebenarnya ruangan kerjaku itu cukup nyaman untuk ukuran kantor, hanya saja aku tak bisa bertahan di dalam ruangan. Aku jenuh, tak betah melihat gedung- gedung, dan bekerja di balik ruangan kaca yang membatasi gerakku tiap harinya.

Menjadi sedekat mungkin dengan alam adalah salah satu kebahagiaanku. Berlari berkejaran dengan ombak di pantai, meraih pucuk- pucuk dahan rendah, termenung di depan hamparan sawah, atau sekedar menikmati tenggelamnya senja di pantai sambil menikmati makanan adalah kegiatan kegemaranku hari- hari ini. Terkadang, menikmati munculnya fajar di awal hari pun kusempatkan momen khusus untuk menangkap golden hour itu dengan kamera.

Berjarak ratusan kilometer jauhnya dari kekasihku, aku masih bisa menahan rindu yang memanggil- manggil. Mungkin sejak kuucapkan salam perpisahanku padanya di Jakarta dulu, sempat aku bingung akan kelanjutan kisah kasihku. Tapi rupanya waktu membawa kedewasaan pada diri kami, waktu memperkuat hubungan kami, sekalipun jauh terpisah.

Maka disana, ia pun bekerja dengan giatnya, berjanji untuk kembali bersua kembali, di suatu hari. Di hari itu, kekasihku akan menemui di sini, mengambil sekian harinya untuk berlibur.

“Mungkin akan sulit. Tapi tak apa jika ingin dicoba. Kamu harus mewujudkan mimpi besarmu ini. Aku tahu kamu punya harapan besar untuk itu,” ujarnya suatu ketika kami hendak berpisah, dia di Jakarta dan aku masih belum tahu akan berhenti dimana kala itu.

“Ayo sini, kemari! Mendekatlah,” ujar kekasihku. Ia mendekapku saat kami akan memutuskan untuk berpisah jalan, dia tinggal tetap sementara aku yang pergi. Ah kekasih macam apa aku. Mungkin inilah saat aku menunjukkan tangis air mataku kepadanya setelah bertahun lamanya kami bersama. Kata orang, hubungan jarak jauh lebih sulit dijalani, ketakutanku hinggap saat itu, kuusir kemudian pada menit selanjutnya.

***

Hari ini sudah genap 8 bulan aku tinggal di Bali. Tapi aku selalu berpindah dari kota ke kota. Tak punya tempat tinggal untuk menetap lama mungkin sebuah kelebihan bagiku. Tak perlu hidup bermewahan asal berkecukupan. Terkadang aku tidak tidur di sebuah rumah. Aku sengaja mencari sensasi berbeda di luar rumah. Tidur beratapkan bintang, beralaskan debu pasir, dengan deburan ombak menjadi kawanku saat akan merenungkan datangnya malam.

Hari ini pula kekasihku akan mengunjungiku. Ia sengaja mengambil flight paling pagi dari Jakarta, agar bisa menikmati keindahan Bali sejak pagi. Setelah berbulan- bulan tak bertemu langsung, ada perasaan aneh yang menyusupi diriku. Aku begitu bersemangat bertemu dirinya. Seakan kami adalah pasangan kekasih baru, aku kembali merasa debaran kecil lagi di dadaku. Aku bahagia tak kepalang menunggu kedatangannya. Jadwal kegiatanku sehari- hari aku ubah demi hari ini.

Dan akhirnya aku tak sabar memeluknya erat- erat begitu melihat sosoknya di kejauhan. Hari ini, adalah hari spesial bagi kami, meski tak pas dengan perayaan hari jadi kami, tapi pertemuan ini layak dirayakan. Kehadirannya dengan senyum dan canda tawa khasnya adalah candu bagiku, dulu terasa berat memang untuk berjarak tak bertemu dengannya. Kini aku kembali menemukan kehangatan dirinya kembali yang telah lama tak kulihat. Melihatnya lagi seakan memberikan energi positif padaku. Bahagiaku tak terkira melihatnya hari ini begitu tampan memakai kemeja pemberianku, ia pun sudah semakin kurus rupanya sejak kutinggalkan pergi ke Bali.

“Mau ke mana hari ini?” ujarku padanya.

“Terserah kamu dong. Kan kamu yang lebih tau daerah sini,” ujarnya seraya mencubit kecil hidungku.

“Hmm.. oke. Kita jalan- jalan aja yuk! Main- main di pantai mau kan?”

“Ide bagus! Sekalian aku mau hunting foto deh. Cari tempat yang bagus ya.”

Dan akhirnya aku membawanya ke The Bay di Nusa Dua. Untuk hari spesial ini, aku sengaja pilihkan restoran dengan masakan serba bebek seperti kesukaannya. Kami pilih untuk makan di Bebek Bengil dan menikmati menu bebek crispy nya. Kami menanti senja di Bebek Bengil, sembari mengambil foto beberapa. Kami pun bertukar cerita tentang kisah yang telah kami lewatkan tanpa berdua.

Gubug- gubug yang ada di salah satu restoran The Bay Bali, Bebek Bengil.
Pemandangan disini amat menarik. Nyaman serasa di rumah, sekaligus natural seakan bersentuhan langsung dengan alam. Lihat saja interiornya yang tertata apik, menampilkan beberapa foto- foto dan pajangan seperti di rumahku dulu, nyaman dan cukup mewah. Hijaunya tanaman terlukis indah di taman- taman yang ada di Bebek Bengil. Gubug- gubug yang ada pun menyatu selaras dengan pemandangan sekitarnya. Di hari lain, aku dan teman- temanku dulu pernah mencoba ke Hong Xing, pemandangan tepi pantainya benar- benar sensasi luar biasa. Mungkin lain waktu, kekasihku akan kuajak mencicipi penganan Asia di Hong Xing, sembari menikmati sejuknya hembusan dan pemandangan pantai khas Bali.
Halaman belakang Bebek Bengil, The Bay Bali dengan pemandangan yang cantik.

Hari ini aku merasa utuh kembali, tidak ada kepingan hati dan pikiran yang tercecer jauh. Ia di dekatku, tak ada perasaan yang lebih baik dari ini. Apalagi, ketika hari ini ia berkata ingin menapaki jenjang yang lebih serius lagi denganku. Ini benar-benar momen paling sempurna dalam hidupku. Dengannya, aku bahagia dan terasa sempurna, apalagi kini aku perlahan tapi pasti mulai menapaki mimpiku menjadi penulis. Mungkin selanjutnya kebahagiaanku akan lengkap, mewujudkan mimpiku satu persatu, tapi tak sendirian. Akan ada dia yang selalu ada di hari-hariku kelak, menambah rona meriah dalam warrna hariku. Dan ia berjanji takkan pernah pergi terlalu jauh lagi dariku, ia berjanji akan mewujudkan kebahagiaan kami. Kami kembali menyusuri jalan setapak disini, bergandeng tangan berdua, menatap hari esok.

Catatan:
*Bonanza: sumber kebahagiaan dan kemakmuran

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered! 

No comments:

Post a Comment