Thursday, March 13, 2014

Ilmu dari Local Leaders Day 2014

Berbicara soal berbagi ilmu yang sudah saya dapatkan selama mengikuti 3 hari Local Leaders Day 2014 Akademi Berbagi di Salatiga, saya sempat bingung. Kenapa bingung? Awalnya saya masih menebak- nebak bagian cerita dan pengalaman manakah yang harus saya bagi kepada teman- teman dan para pembaca blog saya. Selama 3 hari di sana, semua pengalaman yang saya alami adalah sebuah hal yang amat menarik dan bersifat personal. Personal karena kamu nggak akan bisa merasakan energi yang sama seperti apa yang dialami semua relawan disana. Benar- benar energi positif dan gembira.
Baiklah, tapi tak ada salahnya mulai membagi materi dan inspirasi yang bisa saya garisbawahi selama acara tersebut.

Sesi mas Donny BU dari Internet Sehat. Waktu itu mas Donny bilang kalau sekarang ini kasus kekerasan seksual di internet pada anak- anak sudah meningkat. Pemicunya salah satunya adalah karena semakin banyaknya orang- orang yang meletakkan identitas pribadinya secara lengkap di internet plus sudah semakin terbaca jadwal dan rutinitasnya dari update-an social medianya seseorang. Hal ini akhirnya menyebabkan pencurian identitas. Seseorang bisa saja mengambil foto dan identitas profesi anda yang sudah terpampang di dunia maya, kemudian mengincar orang lain lagi dengan menggunakan identitas anda tersebut, dan menjebaknya. Alhasil, ya kasus itu tadi, pelecehan seksual pada anak- anak seumur SD untuk dijebak dengan profil palsu yang dicurinya. Intinya sih, membuka identitas atau data diri di internet itu sah- saja aja, asal kita tahu resiko apa yang akan terjadi saat kita menyebarkan data tersebut, jadi paham juga cara mengatasi masalah yang nantinya akan muncul.

Sementara itu, sesi di hari kedua ada mbak Yanti Nisro, bang Zul, dan bang Jansen dari tigapijar. Mereka 3 orang luar biasa, yang brilliant tapi nekat. Nekat? Iya, nekat. Sebelum bersatu di tigapijar, ketiga orang ini menduduki posisi penting di Nielsen, singkat cerita mereka afalah prang-orang pintar yang sudah berkedudukan tinggi di Nielsen Indonesia, dan kemudian mereka 'lulus' atau keluar dari Nielsen. Kenapa keluar, padahal gaji mereka di Nielsen juga gak main-main ya besarnya. Simpel aja sih, kata mereka, passion mereka ada di membangun personality masing-masing orang, mereka pengen meningkatkan kualitas diri orang yangada dalam perusahaan. Mereka ingin memajukan perusahaan-perusahaan di Indonesia dengan memperkuat diri karyawannya masing-masing. Dan Akademi Berbagi adalah salah satu komunitas yang beruntung, karena relawannya, saya dan teman-teman relawan, mendapatkan pelatihan dari mereka, GRATIS.

Saya ditempatkan di kelompok J bersama dengan Bhimbi dari Jombang, Mas Raplee dari Jogja, Annisa dari Bangkalan, Mbak Mimi dari Jakarta, mbak Christa dari Salatiga, mbak Wina- Surabaya, dan mas Deden-Cianjur. Kami ber8 diminta untuk berpasangan, mencari partner yaitu sosok orang yang ingin sekali kamu kenal, nantinya dengan satu orang itulah kamu bakal sharing soal prestasi, mimpi, cita-cita, target dan usaha mu. Saya dapet partner mbak Mimi, sekretarisnya Akademi Berbagi di tingkat pengurus nasional. Sesi pertama tigapijar dibawain sama bang Jansen. Dia lebih mengupas tentang maasa lalu kita, tentang apa yang telah kita lakukan. Ada satu statement dia yang saya ingat betul, yaitu: "Terkadang, kita lupa merayakan keberhasilan kecil, jadi rasanya kok ya kayak masih jauh dari mimpi kita itu"

Dari bang Jansen, tiap orang diminta untuk menceritakan kisah keberhasilannya yang paling inspiratif, baik keberhasilan pribadi maupun dalam bikin kelas Akber. Kata bang Jansen sih, orang Indonesia tuh rada susah kalo diminta  cerita sooal keberhasilan dan prestasinya, karena takut dianggap sombong dan membanggakan diri. Eh iya dong, saya setuju banget dan kena banget sama pernyataan ini. Saya adallah orang yang (mungkin) paling sulit menghargai kerja keras dan keberhasilan diri saya sendiri. Nggak tau kenapa, tapi dari kecil munkin sudah dilatih untuk ga gampang pamer atau sombong, tapi hasilnya ya gitu....saya jadi cenderung sulit mengingat dan merayakan titik-titik keberhasilan dalam hidup saya. Dan dipikir-pikir, setelah mencoba mengingat-ingat prestasi, ternyata saya gak jelek-jelek amat kok, saya mampu mengerjakan sesuatu yang cemerlang untuk jejak langkah hidup saya, ternyata. Ya bener, kadang jalan hidup saya tuh keliatannya kayak penuh tantangan dan perjuangan terus, ga kelar-kelar dan ga sampe-sampe. Padahal saya nya aja yang lupa kalau kemaren-kemaren itu dah berhasil bikin loncatan kecil yang bisa bikin hari ini setahap lebih maju (meski jalan di depannya lebih curam dan mendaki lagi).

Sementara itu, mbak Yanti Nisro cerita tentang "Do the Impossible". Di sesi kedua dari tigapijar ini, relawan Akber diajak untuk 'bermimpi'. Kita diajak untuk mulai breaking down mimpi kita satu persatu terus sharing sama partner kita. Pokoknya kammu harus punya mimpi setinggi-tingginya, jadi apapun dan siapapun kelak, boleh dan sah-sah aja. Mbak Yanti bahkan pernah bilang gini: "Kalo mimpinya cuma nikah sih itu gak jauh, terlalu rendah kalau cuma mau nikah". Intinya gitu pokoknya, kalau mau punya mimpi jangan tanggung-tanggung. Lucunya setelah sharing mimpi kita satu tim, ternyata rata-rata tim saya ya punya mimpi yang hampir sama: Jalan-Jalan Keliling Dunia. Ada  yang pengen ke negara tertentu aja, ada juga yang pengen jalan-jalan ke pulau-pulau di lapisan terluar Indonesia. Bok! We are travellers gitu kan. Kita punya teman bermimpi yang sama! Mulai dari sering-sering menceritakan banyak hal ke mbak Mimi dan juga dengerin cerita tentang impiannya dia, saya jadi sadar dengan satu hal: kita semua ini sebenernya lagi berjalan ke arah mewujudkan mimpi itu sendiri. Kalau sudah punya mimpi, berarti kan sudah punya target, maka seharusnya apapun yang kita lakukan saat ini harusnya menjadi 'tabungan' untuk mencicil mimpi itu jadi kenyataan. Ada yang pengen ke  luar negerinya dengan jalan liburan, jadi kudu punya banyak duit dan rajin nabung. Ada juga nih yang pengen lanjutin kuliah dari beasiswa di luar negeri. Kalo saya sih sempet nulis 3 hal soal mimpi dan jalan-jalan ini: lanjutin dan dapet beasiswa S2 Komunikasi di Eropa, keliling negara di tiap benua di dunia, bisa berpenghasilan dari jalan-jalan, dan semuanya dituangkan dalam sebuah dream board. MINTA "AMIN" NYA YAAAA :"))))

Setelah itu di sesi 3 dari tigapijar, diisi oleh bang Zul. Dia akan 'menggiring' kita untuk Do The Impossible, Now! Jadi kadang kita suka nya cuma mimpi doang emang, sampe lupa untuk melakukannya. Punya mimpi banyak boleh, tappi harus diwujudkan juga satu-satu. Setelah punya mimpi banyak tadi, dan ditulis satu-satu, bang Zul minta action yang lebih nyata dari kita. Jadi tiap relawan, masing-masing diminta untuk memilih 1 mimpinya dari list mimpi yang sebelumnya sudah dibuat. Sesudah itu, kita diminta untuk bikin peta ke arah mimpi tersebut. Selayaknya peta, maka akan ada jalur dan jalan yang berkelok untuk sampai ke tujuan/ mimpi kita tersebut sebagai goal nya. Di tiap kelokan jalan yang kita gambar, kita harus menuliskan ada berapa tahapan yang harus kita  lalui/ kerjakan hingga akhirnya bisa sampai dan meraih mimpi tersebut. Kalau saya nih, milihnya S2 Komunikasi (sekarang nyesel sih kenapa mimpi kok cuma sampe S2, mau sampe S3 aja deh). Untuk bisa dapetin beasiswa S2 Komunikasi di Eropa itu saya pilih ada beberapa tahapan, yaitu: kelarin S1 (pasti ya), cari beasiswa, bangun link/jaringan dengan orang-orang, perbaiki dan perkaya kemampuan bahasa asing, bikin paper/ cari pengalaman untuk nilai tambah, daann dapet deh beasiswanya! Aha! MINTA DOANYA LAGI YAAA :"))))

Segampang itu udah saya bikin petanya, meski belum tau nanti ke depannya sesulit apa, tapi setidaknya saya sudah mulai membuat pemetaan terhadap langkap saya sendiri untuk mencapai mimpi tersebut. Jadi kelak ketika saya sudah melangkah, saya tahu sudah sejauh mana  pencapaian saya, jadi nggak lupa untuk merayakan keberhasilan kecil itu.

Sebegitu kerennya mereka bertiga ini sampe bikin saya terjaga terus selama sesi bareng mereka. Dan pada sesi sama tigapijar itu saya merasa kalo memang ngga ada  yang perlusaya tutupi kalo mau berhasil, karena saya harus mau membagi cerita, kisah, mimpi, dan juga menceritakan kembali tentang diri saya kepada  orang lain.

Itu gaung hari keduanya, sesi bersama tigapijar benar-benar menguras energi positif, eh tapi gak abis-abis deh energi positifnya bahkan sampai di penghujung hari, bawaannya riang terus dan pengen sharing sama temen-temen baru se Nusantara.

Di hari ketiga, ada mas Roby Muhamad. Nah di sesi beliau ini lebih ke arah sharing sih tentang gimana dan apa yang harus dilakukan terkait volunteerism. Sebelumnya tentang sesi ini juga pernah saya bahas di post lainnya. Dari diskusi-diskusi volunteers dengan mas Roby ini kita jadi tahu bagaimana asal muasal peradaban dunia dan sejarahnya. Dan soal pergerakan, perubahan sosial yang ada di komunitas kita ini sebenarnya bisa lho menyumbang perubahan positif untuk Indonesia. Banyak orang yang punya satu tujuan, akan lebih mudah untuk menggerakkan sesuatu hal, begitu intinya.

Jadi, selama 3 hari itu, luar biasa banget memang pengalamannya. Saya membawa pulang banyak kenangan berharga, motivasi mendalam, tamparan keras, teman baru, sahabat baru, keceriaan yang manis, juga momen berharga yang nggak bisa digantikan oleh apapun. Saya, Hanna Suryadika, relawan Akber Solo, merasa bahagia bisa menjadi relawan di Akademi Berbagi dan bertemu dengan ratusan relawan luar biasa di Local Leaders Day 2014.


Terima kasih.

No comments:

Post a Comment