Teruntuk Pejuang Tangguh Hidup

Teruntuk perempuan tangguh, pejuang hidup kami.

Tak sedikit waktu yang kau habiskan untuk mengumpulkan keping per keping hasil jerih payahmu. Hari per hari kau kuras tenaga dan pikiranmu demi yang terkasih. Entah sudah berapa banyak kau korbankan dirimu, yang kutahu semuanya begitu besar, tak tergantikan.
Kau bisa saja tergopoh-gopoh meninggalkan pekerjaanmu, kembali pulang ke rumah, sekedar memastikan ada makanan yang bisa kami makan. Ada makanan yang bisa kausajikan di atas meja makan. Sementara, perempuan tangguh lainnya, pun berbuat sama, memastikan yang terkasihnya sudah bisa lahap dan kenyang.

Terkadang, tak ada hari libur dalam hidup perempuan-perempuan tangguh ini. Yang mereka tahu, selagi masih ada hari, mereka dapat memenuhi lumbung persediaan mereka. Ya, mereka berjaga-jaga untuk biaya sekolah anak-anaknya. Ah... andai kami yang dulu kau gendong ini sudah bisa membantumu menguras hasil keringat kami sendiri, pasti sejak dulu takkan kubiarkan kau berletih menerjang hari.

Pernah suatu ketika, saat berpapasan dengan seorang wanita tua pemanggul karung beras di pasar. Wajahnya gelap, pertanda sering terbakar panas matahari. Badannya bungkuk, tertekan beban karung beras yang ia panggul selama belasan tahun. Lantas perempuan tangguh itu sontak terjatuh, terkejut akibat klakson mobil yang tiba-tiba riuh. Kakinya terluka, karung berasnya jatuh menimpa sebagian tubuhnya rentanya. Ketika kuangkat dan sisihkan karung itu dari atas ubuh kecilnya, ia memelukku seraya berterima kasih. Saat itu, ia bercerita panjang tentang buah hatinya yang pergi merantau ke kota orang. Rupanya ia tinggal sebatang kara sejak ditinggal sang anak, dan demi uang makan sehari-harinya ia bekerja menjadi kuli panggul beras di pasar. Anaknya telah lama hilang, tak berkabar, tak pernah lagi pulang.

Ah...selalu turun air mataku bila bercerita tentang banyaknya perjuangan mereka. Bukankah setiap wanita akan mencapai tahap itu kelak dalam hidupnya? Akan berkorban demi yang dikasihinya. Akan berjuang mati-matian di ladang penghidupannya, tak peduli walau terik atau hujnn lebat. Tapi apa bisa sekuat mereka? Tangguh, tidak cengeng. Mandiri, tidak mengemis memohon iba. Welas asih, tidak mudah marah.

Begitu cepatnya kadang waktu berjalan. Hingga akhirnya tangan-tangan lembutmu perlahan menua dan berkeriput. Wajahmu mulai menunjukkan kerut-kerut dan tanda kelelahan. Bahumu yang dulu jadi tempatku meminta digendong-gendong manja, kini perlahan mulai tak mampu menanggung beban yang sedikit berat. Ya salah memang bila tak kusadari ketiba-tibaan itu. Kau memang tak pernah menunjukkan lelah, tangis, sakit ataupun derita yang kau alami. Kau sembunyikan semuanya demi melihat anak-anakmu tetap berbahagia walau sibuk dengan kehidupannya masing-masing.

Wahai wanita tangguhku, dan wanita-wanita tangguh lainnya yang kami panggil Mama, Ibu, Bunda, Mami, Emak, dan lainnya, kepadamulah surat ini kutujukan.
Terima kasih untuk kasih tak harap kembalimu, jiwa raga ini senantiasa mengasihimu.

Semoga kau tetap kuat dan sehat, sehingga kasihmu tetap abadi dalam hidupku.

Salam sayang,
Yang mengasihimu dengan hidupnya.

Solo, 5 Februari 2014.

#30HariMenulisSuratCinta hari ke 6

Ps: Kak Ika, challenge accepted! :"D


Comments

  1. setiap ibu memang hebat ya :')
    semoga kita bisa mencontoh kebaikan yang ada pada ibu.
    semangat terus yaaaa :D
    -ika

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular