Saturday, February 8, 2014

Tarian Senja dalam Pekat

Hari beranjak larut dalam pekat.
Hatiku acuh ingin menuliskanmu sebuah surat.
Maka kuambil pena, kuhiasi kertas putih dengan aksara yang tergurat.
Kubungkus surat ini kelak dalam amplop berwarna pucat.

Pada jalan yang tenang dan lembut kita bersama.
Dalam rengkuhan senja yang perlahan menghiasi kota.
Kita, penikmat senja, tak pernah melewatkannya.
Dan lihatlah, ia tak pernah ingkar, menghiasi awan sore kita.
Senja dan kita, seakan lebur dalam ayunan cinta.

Masih kuingat betapa syahdu setiap waktu yang bergulir disini.
Kau membuat gurat-gurat pelangi menjadi lebih berseri.
Denganmu, dalam pelukan mentari, kita abadi sejak kini hingga nanti.
Siapa sangka, hadirmu menjadi penghias hari juga penerang malam sepi.
Bahkan sunyi kini tak lagi sepi, ia berdendang dann bernyanyi.

Seiring irama langkah kita,
Seabadi waktu dan hadirnya cinta.
Seluruhnya hadir tanpa diminta.
Apalagi kurangnya hidup ini?
Masih inginkah kau menghabiskan sisa hari tanpa sepi?
Kuharap kau segera menepi, akhiri perjalanan dan berlabuh bersamaku, disini.

Akankah kau menjawab suratku dengan tautan tangan di jemari?

Peluk hangat,
Yang menantimu.

Solo, 8 Februari 2014.
#30HariMenulisSuratCinta hari ke 8

No comments:

Post a Comment