Saturday, February 15, 2014

Semoga Baik-Baik Saja

Semalam bukanlah hari yang baik untuk kita. Kudengar keadaan disana bertambah parah tiap menitnya. Disini pun demikian, kekhawatiran membuatku awas sepanjang malam.

Keadaan kalian disana, mungkin jauh lebih buruk dari apa yang sedang kami alami. Biar kutebak kesimpang siuran informasi di sekitarmu terkadang tak membantu sama sekali saat akan mencari jalan keluar dari masalah ini.

Tangisan dimana-mana, kepanikan, langkah kaki yang berlari tak tahu arah. Semuanya tentu kalian alami disana. Meskipun disini jauh lebih baik, tapi kami pun terhantui bayang-bayang ketakutan yang sama.

Butuh berkali-kali kuyakinkan telingaku. Tapi tetap suara gemuruh bak petir yang terdengar, yang pasti berulang. Awalnya kusangka hanya mendung di malam hari dan suara sambaran petir. Namun segera kutemui gorden kamarku bergerak-gerak seperti tertiup angin, dan kupastikan saat itu tak berangin. Ah, ini gempa! Tapi tak kulihat air di gelas dan akuarium di ruang tamu bergerak.

Sejurus kemudian, banyak informasi secepat kilat kuperoleh. Rupanya benar  itu gempa kecil. Maka kami disini mendadak panik, beberapa keluar rumah tak mengerti apa yang terjadi.

Pukul 23.00, di sini berulang kali terdengar gemuruh besar dari langit. Dan langit sedang tak akan hujan. Dari berita yang kudapat, Gunung Kelud akan meletus. Ah tak dapat kubayangkan apa yang sedang terjadi dengan kalian saat  itu. Kudengar disana bahkan aliran listrik sempat putus.

Keesokan paginya, Jumat 14 Februari, kutemukan keadaan disini tak membaik. Semakin gelap saat seharusnya mentari bersinar cerah. Dimana-mana debu vulkanik, menumpuk di genteng rumah, jalanan, motor, dedaunan dan apa saja yang mereka hinggapi. Tanaman hijau mendadak layu. Pemandangan sekitarku buram, daya pandang menipis, demikian pula rongga peernapasan kaami terkadang sesak.

Entah bagaimana kondisi kalian saat ini. Tapi kuharap bencana ini segera pulih dan tak memakan korban jiwa. Sejauh dan seluas itu ternyata dampaknya. Kami yang berjarak ratusan kilometer pun dilanda muram akibat bencana ini. Mungkin kita  harus banyak memohon keselamatan dari bencana dan mimpi buruk ini. Mungkin kita masih punya banyak waktu untuk bersyukur, setelah semua yang terjadi.

Semoga kalian disana baik-baik saja.
Sore tadi, kami baru membersihkan rumah dari abu vulkanik yang turun deras ratusan kilometer jauhnya.
Dampak hujan abu vulkanik Gunung Kelud di Solo, 14 Februari 2014.
Yakinlah bahwa setiap tangisan, duka, perih juga masih banyak doa dan harapan yang terkirim. Semoga kalian baik-baik saja.

Kepada penduduk di kaki gunung Kelud dan sekitarnya.
Semoga bencana ini segera berakhir.
Doa kami untuk kalian.

Salam hangat,
Saudaramu.

Solo, 15 Februari 2014.
#30HariMenulisSuratCinta hari ke 15


No comments:

Post a Comment