Sang Maha Cinta

Teruntuk Sang Maha Cinta yang kami sebut dalam berbagai nama.

Darimulah seluruh cinta ini berasal dan sudah seharusnyalah bagian terbesar dari cinta ini kembali padamu.

Kehadiran cinta dalam hidup kami begitu megah.
Bahkan takkan ada insan yang mampu mengelak darinya.
Satu persatu, tiap orang akan merasakan getar-getar kecil di hatinya, pertanda munculnya cinta.
Awalnya sederhana, tapi kemudian kami sendirilah yang membuat keindahan cinta itu memudar.
Cinta yang mewah, bertabur kasih sayang dan setia itu terkadang kuuji hingga ujung batasnya.
Apalah arti cinta bila akhirnya ego menguasai diri?
Dimanakah nikmatnya cinta manakala tiada yang saling memahami?

Berkali-kali kami jatuh pada hati yang salah.
Tak jarang pula terlalu banyak waktu berduka yang kami habiskan.
Hingga akhirnya perlahan cinta enggan tumbuh pada hati-hati yang rapuh dan penuh curiga.
Siapakah kami hingga mampu menyia-nyiakan begitu banyak cinta yang tulus?
Siapakah kami yang mampu merasa jera bermain-main dengan hati?
Apakah cinta sebegitu murahnya hingga terkadang banyak waktu yang terbuang sia-sia hanya untuk sekedar tahu kalau kami berhenti di hati yang salah.

Wahai Sang Maha Cinta,
Semoga masih belum bosan mendengar tangisan perih kami saat permainan kami terasa melelahkan dan mulai menyakitkan.
Semoga masih ada cinta  yang tersisa untuk mengobati perihnya luka di setiap hati yang mau mencoba untuk setia.
Semoga cintaMu masih ada bagi hati kami yang akan kembali pulang pada arah yang benar, mengakhiri permainan dan kembali pada satu cinta.

Wahai Sang Maha Cinta.
Terima kasih atas curahan segala cinta pada setiap jejak hidupku.

Solo, 2 Februari 2014.

#30HariMenulisSuratCinta hari ke-2

Comments

Popular