Tuesday, December 24, 2013

Pergi, Pindah, dan Pulang

Pergi, pindah, lalu pulang.
Ketiganya adalah satu.
Semuanya terjadi dalam siklus hidup yang kita jalani.
Semua orang pernah merasakannya.

Pergi.
Kita telah melewati ribuan kali peristiwa kepergian ini.
Pergi adalah kegiatan dalam pencarian jati diri, dimanapun dan kapanpun.
Kau bisa  pergi kemanapun yang kau suka.
Setiap tempat, awalnya memmang terlihat sebagai sebuah tujuan pergi yang enak.
Tapi kemudian kita tahu, tidak semuanya begitu.

Sunday, December 22, 2013

Cerita Cinta yang (p)Indah

Ini cerita tentang kisah cinta indah yang ingin pindah.

Awalnya tak ada yang salah dengan semua yang terjadi.
Semua orang menginginkan wujud dan rupa kedua mempelai.
Sang wanita itu lembut dan lemah gemulai.
Sementara si lelaki supel dan itikad baiknya selalu di hati.

Kedua anak manusia itu bersatu.
Berubah rupa menjadi wujud idaman semua orang.
Keduanya saling melengkapi, selalu bersama dalam tiap waktu.
Kemanapun mereka melangkah, kami melihatnya selalu riang.

Suatu hari yang tak berbeda bagi kami, masih di salah satu hari di musim kemarau.
Sang wanita datang ke warung kopi kami, bercerita dengan lirih dan parau.
Ia mulai membeberkan kisah kasihnya yang kacau.

Ia, katanya, memang selalu bahagia di awal jumpanya.
Demikian pun sang lelaki, mereka mengaku tak kekurangan suatu pun, meski tak berpunya.
Berdua, hanya berdua lah mereka yakin bisa meraih bahagia di dunia.
Maka, bertapalah mereka, mencari makna hidupnya.

Sepulang dari perjalanan itu, mereka hening, diam dan kering.
Mereka sunyi, memandang pantulan diri masing-masing.
Mereka berkaca pada air yang bening.
Menemukan banyak tanda tanya dalam parut di kening.
Si lelaki membuka bicara, memecahkan hening.
"Ternyata bahagia pun tak cukup" ujarnya sembari meremas kepalanya yang tak pening.
"Aku belum menemukan makna hidupku denganmu" lanjutnya, si wanita hanya diam sesekali mengerling.

Dan begitulah berakhir kisah mereka.
Sang wanita mengizinkan lelakinya pergi mengembara.
Sementara ia masih sendiri merana.
Ia selalu ingat kata-kata terakhir lelakinya:
"Kisah kita indah, tapi aku ingin pindah"
"Indah saja tak cukup, apalagi hanya di tempat yang sama"
"Biarkan aku saja yang pindah, sementara kau disini bertahan"
"Kan kutemui kasih yang baru, yang siap kuajak pindah kemana pun"

Wanita itu pun kini menghilang tak tahu dimana rimbanya.
Terakhir kutemui ia di batas kota.
Ia mengemas seluruh serpihan hatinya.
Membawa segala rupa kenangannya yang lalu.
Saat kutanya tujuannya, ia jawab mantap: "Aku ingin pindah"


-hanna siahaan-

Saturday, December 21, 2013

Pindah dan Perkara Kesiapan

Pindah itu perkara kesiapan.

Siap bergerak ke tempat lain, melepaskan kaki dari tempat berpijak saat ini.
Siap berkemas, membawa kenangan yang tertinggal. Siap menahan sakit, menahan rasa yang tersisa, yang maasih belum rela untuk ditanggalkan.
Siap beradaptasi, meski belum tahu medan apa yang kan dihadapi di depan.

Friday, December 20, 2013

Kapan Pindah?

Ayah, kapan kita pindah?
Sebentar ya sayang, ngga lama lagi kok.
Aku sudah bosan dan tak betah disini, Yah. Aku mau buru-buru pindah.

Sejak kecil saya tahu kalau ayahku sulit menjawab pertanyaanku soal 'kapan pindah'.
Ia selalu bilang 'sebentar ya. Pindah itu kan bukan hal mudah'.
Saat itu saya tak mengerti bagian mana yang tak mudah.
Pindah, dari sejak kecil, selalu menjadi satu-satunya cara bagiku untuk keluar dari satu permasalahan.
Tak punya teman, punya banyak musuh, tak suka dengan guru, tak ada tempat bermain, semuanya selalu kujadikan alasan untuk merengek minta pindah pada Ayah.

Thursday, December 19, 2013

Culinary Feature: Wedangan Solo



Halo teman- teman..
Ini project video pertama saya bersama Terasolo crew.
Setelah sebelumnya project video semata dilakukan karena tugas kuliah, nah kali ini bener- bener hasil menggodok ide.
Silahkan ditonton, semoga menghibur dan memberikan manfaat.
Saya tunggu sarannya.

Salam,
HS

Pindah yang Pertama

dear dy,
hari ini kuputuskan untuk bercerita sepenuhnya kepadamu soal masalah ini.

entah sejak kapan kuputuskan untuk menentukan jalan hidupku sendiri. yang kutahu, sudah sejak lama kuucapkan padamu. masih kuingat kalimatku waktu itu: "pokoknya aku nggak bisa lagi ada disini. semuanya tak boleh lagi sama, semuanya harus berubah".