Langit Tak Pernah Sama

*surat cinta ketiga untuk @riirinuli

Selamat Malam, R..

Kali ini mungkin kita sedang menulis di bawah langit yang sama dalam rentang waktu yang berbeda.
Tapi langit tak pernah sama, R.
Kau berkreasi dengan kalimatmu saat siang, sementara aku saat malam menjelang.

Aku suka perumpamaan mu, bahkan amat menyenangkan dan dibaca terasa nyaman.
Kita, ya kita semua yang se- guru dan rajin menimba ilmu ini punya formula sama, semoga tak rusuh.
Terima kasih karena selama ini kamu telah menemaniku juga mencari dasar dari segala ilmu dan pengalaman baru.

Friendship isn't only about hearing but also listening.
Listen, i have something to tell.

Hari ini, entahlah rasanya beberapa hari terakhir ini banyak hal yang mengusikku dari rasa nyaman.
Ah ya, itu lah sesuatu yang mungkin sepagian ini sudah kita buru untuk segera memulainya.
Aku bahkan masih belum mengerti hendak mulai dari mana.
Membayangkan ke depannya saja sudah membuatku tak kuasa untuk meneruskan imaji ku.
Entahlah hari ini, masih kusimpan semangat membaraku, entah untuk sampai kapan.
Semoga tak terlalu lama aku surut, sehingga saat masa pasangku aku segera berkarya.
Semoga di saat- saat terakhir ini apa yang pernah terjadi selama hampir 4 tahun ini akan segera sempurna.
Sebentar lagi.
Yang pasti, tak akan pernah ada akhir jika tak ada yang pernah dimulai.

Sampai jumpa di tahapan hidup selanjutnya.
Kali ini mungkin kita akan mengambil jalur yang berbeda, dengan jenis penelitian yang berbeda, tapi langkah kita akan selalu sama saat bersuka, bersusah payah, dan saling menyemangati satu dengan lainnya.
Kau mulai, aku mulai.
Selamat berjuang buat mu.


Yang akan selalu menantimu dan diriku berfoto bersama menggunakan toga ber-strip oranye,
HS.

Comments

Popular