Halo Kertas Putih

*surat cinta hari ke-5*

Kepada: lembaran kertas putih yang menghampar.

Kali ini aku duduk termenung begitu lama di hadapanmu. Tanganku diam membisu.
Mulutku tak bersuara, apalagi merdu. Mungkin saya bingung dan hendak mengadu.
Tapi apa daya, saya hanya tak mampu berpikir sementara waktu.
Kemudian kuacuhkan semua kepingan pikiran yang hancur.
Kukumpulkan semua semangat yang pernah melebur. Mungkin itu mampu untuk sedikut memicu dan menghibur.
Namun nampaknya terlambat, nasi sudah menjadi bubur.
Masih kertas putih yang sama yang terhampar di hadapanku.

Tapi kini rupanya sudah  lebih baik.
Banyak baris- baris bait yang nadanya mulai naik. Mungkin sudah saatnya untuk menyimak apa yang dikatakannya dengan baik.
Kemudian saya beralih lagi, hendak mengistirahatkan pikiran dan tangan agar mereka dapat bekerja kembali.

Kertas putih itu rupanya masih enggan menjadi media.
Antara tangan, pikiran dan hati yang mampu untuk menghasilkan kata dan sama- sama bersedia.
Tapi dimanakah bait- bait indah yang dulu pernah kuhasilkan dengan begitu lancarnya, dimanakah dia?
Entahlah belum dapat kutemui dimana barisan kalimat indah itu, bersembunyi pula rupanya.

Akhirnya, kuputuskan untuk menyerah barang sejenak.
Mungkin dia lelah dan hendak beristirahat dengan enak.
Atau mungkin dia sudah tak ingin kutuliskan sesuatu yang penting dibadannya sampai selama-lamanya kelak.
Mungkin dengan bahasa diamnya, ia ingin kusudahi semua dengannya, mungkin saya harus mencari kertas baru untuk menjadi kawanku berkreasi dan berbagi tawa.
Maka ku kemas semua peralatanku, demikian pula semua imaji dan kata indahku akan pergi kubawa.

Selamat tinggal, kertas putihku.
Mungkin kau sudah jenuh.
Silahkan kau temui pemilik baru atas dirimu.
Terima kasih untuk selalu kau sediakan waktumu, dulu.

Dari orang yang ingin berkreasi dengan mu.

Comments

Popular