Wednesday, January 16, 2013

Good Morning Sir

Dear, Sir...
Iya saya menyapa kamu yang akan kunanti beberapa tahun ke depan.
Kali ini mungkin saya begitu lancang dengan mendahului waktu untuk menemuimu dan menyampaikan surat ini.
Mari saya bacakan perlahan surat yang kubuat dengan sepenuh cinta ini untukmu...


Selamat pagi hai kamu..
Ya kamu yang nanti di tiap paginya akan selalu bangun pagi, tapi selalu saja saya yang bangun paling pagi diantara kita nantinya :)
Kamu yang kelak akan selalu kuajak untuk duduk bersama setiap bangun pagi untuk mempunyai quality time dengan Sang Pencipta.
Kamu yang akan pimpin doa untuk kita, dan mulai memimpin ibadah kecil kita serta membacakan setiap ayat yang indah tiap paginya.
Kamu yang nanti tiap paginya akan selalu menunggu untuk kubuatkan secangkir kopi hitam yang hangat dan kental sebagai awal aktifitasmu.
Kamu yang mungkin nanti akan mengambil koran sebagai temanmu minum kopi sebelum berangkat ke kantor tengah harinya.
Iya, saya maunya kamu punya kantor yang tidak mengharuskan kamu berangkat pagi- pagi sekali dari rumah.

Surat ini kubuatkan untukmu,
Yang kelak akan membawa satu alasan pasti yang menuntun langkahmu untuk mendampingiku kelak di altar, bersama menghadap Tuhan.
Disana kita akan mentautkan janji, disaksikan oleh jemaat lainnya.
Indah bukan?
Maka ada baiknya kamu mulai menghafal janji itu.
Demi nama Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Saya menerima engkau menjadi satu-satunya istri dalam pernikahan yang sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, semasa kelimpahan dan kekurangan, di waktu sakit dan di waktu sehat, untuk dikasihi dan diperhatikan serta dihargai sampai kematian memisahkan kita, menurut titah kudus Tuhan dan iman percaya saya kepadaNya, kuucapkan janji setiaku kepadamu.
Lihat, dalam anganku kelak kau akan mengenakan pakaian terbaikmu.
Menggunakan jas hitam terbaik yang pernah kau kenakan, pas, serasi dengan apa yang kukenakan.
Mengenakan bunga mawar dan lily sebagai hiasan utamanya.
Dan kau memasang senyum terbaikmu saat itu.

Maka hari ini kutuliskan suratku kepadamu.
Melewati batas angan dan segala beda waktu yang ada.
Kukirimkan surat ini kepadamu di masa depan.
Sabarlah kau menunggu waktu yang tepat itu, beberapa tahun lagi hingga saya dan kamu merasa pantas dan mapan untuk mengucapkan janji setia itu.

Kuberi tahu satu hal ya, mungkin kelak kita akan tinggal di pinggiran kota metropolitan.
Entah dimana itu, satu hal yang ada di anganku rumah itu akan selalu menjadi sumber kasih kita, tak peduli seberapa ukurannya.
Maka jangan berhentilah kamu berusaha hingga semua mimpimu tercapai, karena saya pun demikian.

Jadi, masih mau kah kau menjadi alasanku untuk dapat tersenyum setiap harinya?
Bahkan hingga berpuluh tahun lamanya sejak kau ucapkan janji itu?
Baiklah, sampai jumpa beberapa tahun ke depan.

Tertanda,
Your Lady

No comments:

Post a Comment