Akhir Perjalanan

*Surat Cinta hari ke 11

Waktu demi waktu berubah.
Tapi tidak dengan cintaku.
Semakin hari malah semakin menjadi kokoh.
Tak perduli sejauh apapun berlari, akan selalu kembali padamu.
Tak tahu berapa banyak yang telah menjauhkanku darimu, akhirnya kita kan selalu bertemu.
Bahkan setelah ratusan mil kutempuh, engkau adalah tujuanku pulang.

Hai Tanah Air tercintaku.
Banyak sudah keindahan yang telah kulihat yang bukan milikmu.
Banyak sudah hal- hal lain yang menakjubkan dari negara tetangga.
Tapi bagiku, tetap kau yang terindah.

Entah dimana lagi dapat kutemukan buih air yang halus, mengalir seperti uap.
Hijaunya hamparan sawah, beningnya air laut, indahnya jingga manakala mentari tenggelam, dan syahdunya waktu mentari baru muncul di ufuk timur.
Mana ada lagi yang punya, selain negeriku.
Hatiku selalu kutanamkan padamu.
Kaulah sesungguhnya rumah yang akan selalu kutuju.
Akhir dari segala penantian dan perjalananku akan selalu berujung padamu.
Kepadamu diri ini akan berlabuh, mendarat dan mengukirkan pusara indah nantinya.
Seperti para pendahuluku yang telah lebih dulu mlebur bersama tanahmu.

Dalam hormat,
Kutuliskan surat ini kepadamu,
Tanah dan laut yang menghampar dalam dekapan Ibu Pertiwi, yang keindahannya tiada bandingnya.
Selamat malam, wahai Indonesia-ku.

Salam Hangat,
Salah seorang penjaga, pelestari dan pengagummu.

Comments

  1. Akhir hanya akan membuatmu akut. Seperti lupa akan arah pulang. Membuat sempit atau tersedak. Dan dengan ritmis, langkah hanyalah tissu basah. Dan mungkin kita harus mempelajari awal, siapa tahu kita tidak lagi memikirkan hijau daun tapi hijau lumut, hijau luka atau hijau padamu. Siapa tahu....?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular