Thursday, September 13, 2012

Musim Dingin Kedua

Ajari aku ’tuk bisa
Menjadi yang engkau cinta
Agar ku bisa memiliki rasa
Yang luar biasa untukku dan untukmu


Ku harap engkau mengerti
Akan semua yang ku pinta
Karena kau cahaya hidupku, malamku
‘tuk terangi jalan ku yang berliku
Hanya engkau yang bisa
Hanya engkau yang tahu
Hanya engkau yang mengerti, semua inginku

Mungkinkah semua akan terjadi pada diriku
Hanya engkau yang tahu
Ajari aku ’tuk bisa mencintaimu 


Mungkin hari ini semua akan terjadi.
Hari ini saya kembali menghadapi musim dingin yang sama.
Ah ya, semuanya sama dari sejak pertemuan pertama.

Mungkin kamu masih belum bisa mengerti banyak hal yang terjadi selama ini.
Banyak yang terjadi tanpa bisa kau mengerti mengapa semuanya berlalu begitu cepat.
Tapi, tunggulah kedatangannya, kelak ia takkan pernah ingkar janji lagi.

Kenapa kau harus berhenti tuk bisa mengajari tentang arti cinta
Betapa kasih yang mendasari semuanya itu.
Namun, kau masih saja diam di tempatmu, bisu, dan mengelak untuk menjelaskannya padaku.
"Ajari aku makna cinta", pintaku. Tapi kau kemudian berlalu, mencari jawabannya entah kemana.
Katamu, kau akan berguru hingga ke ujung dunia, dan ke tempat yang bahkan tak kau tahu arahnya.
"Tunggu aku, kelak aku akan menemukan jawaban terbaik bagi pertanyaan singkatmu", janjimu.

Sejauh apa sudah pencarianmu?
Ini sudah musim dingin yang kedua.
Sudah berapa waktu yang kau habiskan dalam pengembaraanmu?
Sudah berapa banyak jawaban yang kau peroleh?
Akankah semua jawaban itu cukup? Entahlah saya pun tak pernah tahu.
Entah betapa sukar sebuah kasih yang bisa dibalut bermacam rasa itu untuk dijabarkan, diajarkan maknanya.
Tapi kemudian kau menyanggahnya, katamu kau tak perlu rangkaian kata untuk mendeskripsikan cinta, maupun kasih.
Katamu kau tahu jawabannya, katamu kau sudah mendapatkan jawabannya setelah musim dingin kedua ini.
Namun, kau belum sempat bergegas menemuiku untuk memberitahuku dan mengajarkanmu artinya. 
Ajari aku semuanya, kataku.
Dan akhirnya kau menutup pertanyaanku, katamu, "Mari kutunjukkan apa itu kasih dan cinta melalui hidupku" ujarmu, sembari mengulurkan tangan.
Saya tersenyum, rupanya kau belum dapat menemukan kalimat yang pas.
Kau jawab senyumku, "Maaf jawabanku tak bisa terangkai dalam kata, kasih dan cinta adalah bagaimana cara bersikap" ujarmu mantap.
Dan kita melangkah bersama.

Inspired by: Adrian Martadinata's Song- Ajari Aku

-HS-

Friday, September 7, 2012

stupid conversation

our small, stupid conversation
mean more to me than you'll ever know.

di sebuah sudut kota Jakarta, 3:13
hari ini sudah resmi hari jumat. banyak hal yang harusnya kulakukan nanti pagi.
namun saya pada akhirnya tak bisa terlelap seperti biasanya, mungkin efek kopi tadi sore.
tapi seberapa lah memang artinya kopi itu, sepertinya faktor lain pun turut membuatku terjaga.
rindu.
ya, karena rindu.
saya tak bisa menghitung dengan cermat sudah berapa waktu yang telah terlalui, pokoknya saya rindu.
saya lupa kapan terakhir kali kita bertemu. tapi saya ingat, kamu bilang waktu itu kamu akan segera kembali, sesegera mungkin.

rindu membuatku kembali teringat sudah berapa ratus percakapan- percakapan kecil sepele yang telah kita lalui?
sudah berapa banyak hari terlewati, menunggu saat yang tepat untuk saling menemui?
percakapan percakapan intelek itu katamu selalu menyenangkan, tak pernah seakan menggurui

saya menunggumu.
karena rindu begitu menggebu.
mungkin waktu membuat kita tersipu.
tapi, merindumu tidak akan pernah tabu.
karena kelak saya tahu rindu menjadi abu.
saat saya, dan kamu, melepas rindu, bertemu.

kembali cepat, jangan biarkan esok menunggu.

-HS-


Ps: duh gue butuh tidur sebenernya, tapi gue terlalu grogi buat besok karena banyak hal yg harus dilakukan. alhasil, gue buka lagi laptop dan menghasilkan tulisan ini. semoga aja begitu gue post tulisan ini, langsung dapet niat yg kuat buat bisa ngantuk lagi. :D

Thursday, September 6, 2012

The Distance


DEAR GOD- AVENGED SEVENFOLD

....
Miles away from those i love
Purpose hard to find
While i recall all the words you spoke to me
Can’t help but wish that i was there
Back where i’d love to be

Kamu mungkin belum tahu banyak hal selama ini. Bahkan beberapa hal yang akan kuceritakan kali ini. 
Mungkin terkadang kita terlalu letih untuk meniadakan jurang pemisah yang ada.
Kalau kamu mau bertanya, 'Kenapa?'
Akan kujawab, "Sementara ini dan entah sampai kapan, dari awal kita kan memang harus berjuang, sendiri- sendiri, terpisah satu dengan lainnya"
Dan malam ini disana, mungkin kamu sedang berpikir dengan kerasnya, mencoba berkonsentrasi untuk bisa kembali kesini bersamaku, meniadakan jarak untuk sementara waktu.
Ah seandainya, saya bisa ada bersamamu setiap waktunya dulu tentu tak perlu ada kopi dan cemilan keripik kentang yang ada di meja belajarmu dari dulu, saya akan menjadi teman pengusir bosan terbaikmu.
Ya seandainya bisa, kamu tak perlu lagi menyalakan alarm mickey mouse mu setiap satu jam sekali untuk memastikanmu tak jatuh terlelap, saya akan selalu mengingatkanmu, kalau bisa.
Ya itu seandainya, namun nyatanya saya masih disini, sedang menuju alam mimpiku, berdoa untukmu yang terpisah sekian satuan jarak.

Dear God the only thing i ask of you
Is to hold him when i’m not around
When i’m much too far away
We all need that person who can be true to you

Terkadang saya pun benci keadaan ini.
Seakan kita terpisah, jauh. Nihil tanpa keadaan satu dengan yang lainnya.
Namun pada kenyataannya kita kan memang terpisah, takkan kubantah hal itu.
Tapi kamu pasti akan menyanggahnya. Katamu, "Ah nyatanya kalau terpisah kita bisa saling melengkapi selama ini."
Mungkin kamu lupa, kalau diumpamakan kopi-susu, seperti minuman favoritmu, mereka tak akan bisa jadi 'kopi susu' jika tak berada dalam gelas yang sama.
Bahkan kita, tak hanya dalam gelas yang berbeda, disajikan pula dalam nampan yang berbeda.
Tapi tetap, gelas itu kopi dan satunya susu, bukan kopi- susu.
Terlalu jauh tapi buktinya kita bisa melangkah jauh sampai saat ini. 
Ah seandainya kau berada disampingku saat ini kan kubagi dukaku juga kuceritakan sukaku padamu.
Ya itu seandainya, nyatanya saat ini saya hanya bisa mengetahui kabarmu saja, setidaknya kau masih baik-baik saja disana.

And now i wish i’d stayed
Cause i’m lonely and i’m tired
I’m missing you again
Can’t help but think of the times i’ve had with you
Pictures and some memories will have to help me through

Memang banyak hal yang dapat membuatku setengah mati membutuhkan kehadiranmu. Namun tak bisa kupaksakan ketika begitu banyak halangan untuk bertemu.
Sekali lagi, jarak membuat kita bertekuk lutut.
Ah seandainya tak terlalu banyak kenangan tentangmu yang tertinggal bersamaku saat ini, mungkin saya bisa menjalani hari seperti biasa, berpura- pura tak membutuhkanmu lagi.
Ya itu seandainya, nyatanya foto dan semua hadiah darimu masih kupajang untuk sewaktu- waktu kuamati, kuanggap sebagai pengganti dirimu.

Some search, never finding a way
Before long, they waste away
I found you, something told me to stay
I gave in, to selfish way
And how i miss someone to hold
When hope begins to fade

Ah sudahlah buat apa menyesali jarak, menghitung waktu, semua tak ada guna. Hari ini saya akan berkemas, mengenakan pakaian terbaikku untuk berjumpa denganmu.
Mungkin kamu masih ingat, waktu terakhir kita bertemu, ya pakaian yang sama dengan saat itu.
Sudah ingat?

Saat dimana saya malah tak dapat anggun dengan pakaian ini, berlari- lari mengejar bayangmu kala itu.
Dengan wajah yang sudah panik. Ah aneh sekali pasti ekspresiku saat itu. Bagaimana tidak, beberapa menit sebelumnya nomormu menelpon, kamu dirawat di rumah sakit. 
Bahkan saat kutemui, kau cuma berpura- pura baik- baik saja seperti biasanya.
Tapi sepuluh menit kemudian, kamu bilang "Aku sudah tak mampu lagi. Kita akan terpisah jarak mulai saat ini. Kau harus bersiap". 
Tangisku semakin menderu, dadaku berdegup kencang ketika tak dapat lagi menemukan denyut nadi di tanganmu yang kugenggam.
Perlahan tanganmu mulai dingin, tak lagi menyisakan kehangatan seperti genggamanmu yang biasanya.
Harus sirnakah semua harapan dan cinta itu hanya karena jarak seperti ini? Entahlah.
Sampai jumpa lagi nanti ya, sebentar lagi saya akan singgah ke rumahmu. Rumah abadimu.

gambar diambil dari sini


-HS-

Tuesday, September 4, 2012

Pintu yang (Tak Lagi) Tertutup

Dulu, dulu sekali pernah kusimpan sebuah ikrar yang telah kutautkan di dalam hati. Pernah berjanji tak akan pernah lagi mengubah kelabu menjadi warna malu-malu si merah jambu. 
Apalah arti kisah cinta, pikirku saat itu.
Yang kutahu hanya duka dan kelam.
Ah sudahlah, pikirku saat itu, mungkin seharusnya memang mendung akan datang, dan kemudian gelap mulai mencekam. Kemudian kuberjanji untuk menutup kisah itu, takkan lagi membukanya bahkan untuk kisah lainnya.
Enggan membuka jendela karena sepertinya badai akan datang menghadang.
Bayang masa lalu seakan mengikat erat kebahagiaanku di masa depan.

Ku berjanji tuk menutup pintu hatiku
Entah untuk siapapun itu
Semakin ku lihat masa lalu
Semakin hatiku tak menentu

Mungkin saya lupa tak selamanya lembah kekelaman akan menjadi sumber duka yang mendalam. Dan kemudian semuanya berubah. Mendadak. Serba tiba- tiba. 

Dan kau hadir merubah segalanya
Menjadi le
bih indah

Mulailah muncul awan berarak, di langit biru yang selama ini begitu gelap dan suram. Mulai menumbuhkan setiap jenis bunga indah yang tak sungkan menari bergoyang kesana kemari dilambaikan oleh lembutnya angin di padang bunga itu.
Bahkan semburat warna yang dipancarkan dari indahnya mata itu pun tak hanya sekedar warna merah jambu yang indah, yang dahulu pernah kutemukan meredup di pancaran mata yang lain. Ia memancarkan lebih banyak lagi warna-warni. Menyemarakkan hari-hariku dengan kilauannya. Dengan setiap senyuman yang ada ia mulai mengembangkan kisah baru. Meninggalkan jejak- jejak yang berbekas indah di senyumku.

Kau bawa cintaku setinggi angkasa
Membuatku merasa sempurna
Dan membuatku utuh tuk menjalani hidup
Berdua denganmu selama-lamanya
Kaulah yang terbaik untukku

Hingga akhirnya saya yakin, takkan ada yang lebih baik daripada cerita kali ini. Takkan pernah ada yang bisa mengubah keputusanku, demikian pula ketika saya sudah mulai menyerah.
Namun saat itu ada sosok yang datang, mengubahnya.
Namun sosok itu tak sekedar mengubah, namun memperbaiki.
Namun ia mengubah keadaan terburuk menjadi keadaan yang tak pernah terbayangkan keindahannya sebelumnya.
Namun ia bahkan mengajakku untuk menulis cerita yang sama.
Dan kali ini saya begitu yakin, apalah dayaku menjalin kalimat- kalimat indah jika tak ada inspirasi terdalam itu, karena ternyata semuanya kuperoleh dari senyum di wajahmu.

Kini ku ingin hentikan waktu
Bila kau berada di dekatku

Mungkin iya benar, waktu tak boleh berjalan sama sekali saat kita dipertemukan olehnya. Sang waktu harusnya paham ketika ia sudah menyatukan dua insan, biarlah mereka yang mengatur waktu bagi mereka sendiri. Ah iya, itu seandainya bisa.
Tapi tak masalah, selama masih ada sang inspirasi itu di sekitarku. 

Kaulah yang terbaik untukku
Ku percayakan seluruh hatiku padamu

Dan kini saya percaya hanya padanyalah dapat kutitipkan segala kisah ini, beserta hatiku. Kelak mungkin ini akan berlanjut tanpa pernah kita tahu akhirnya.
Terima kasih karena kau telah menemukan cerita ini.
Terima kasih karena waktu yang kulalui kini bahkan tak terasa perputarannya jika kau ada disini.
Dan kau hadir merubah segalanya, menjadi lebih indah.....


inspired by Adera's song: Lebih Indah.
-Hanna Siahaan-

Saturday, September 1, 2012

Sunyi Menggema

"Miss You Like Crazy- The Moffats"

I used to call you my girl
I used to call you my friend
I used to call you the love
The love that I never had
When I think of you
I don't know what to do
When will I see you again

I miss you like crazy
Even more than words can say
I miss you like crazy
Every minute of every day
Girl I'm so down when your love's not around
I miss you, miss you, miss you
I miss you like crazy
You are all that I want
You are all that I need
Can't you see how I feel
Can't you see that my pain's so real
When I think of you
I don't know what to do
When will I see you again 




Dan beginilah kisah ini dimulai...

Ketika waktu tak lagi terasa berjalan, lambat, hampa, dan seakan hanya berbentuk ruangan kosong belaka.
Saat tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, dan saya mulai meragu entah kapan waktu kembali mempertemukan kita.
Bagaimana perkara merindukan seseorang berubah menjadi cerita paling abstrak?
Lebih dari segala kata2 yang pernah kuketahui sejak dari awal belajar mengeja, inilah yang tak dapat kugambarkan.
Bahkan ketika waktu tak dapat kutemui kemana akhirnya ia bermuara, biarkan saja akhirnya kau yang berbicara.
Dalam diam, dalam jarak yang tercipta, seharusnya masih ada hening yang bercerita.
Dan dengan heningnya segala kerinduan yang tercekat di lidah, saya menikmati setiap waktu yang mengalir.

Rindu itu tetap ada, entah berapapun jaraknya, tak peduli walau waktu hanya memisahkan dalam sekian kedip saja.
Setiap kali kita bertemu, di akhir waktu saya merindukanmu.
Dan berharap akan segera ada jawaban kapan waktu akan mempertemukan kembali.
Saya merindukanmu bahkan ketika saat kau baru saja bergegas beranjak dari sisiku.
Ketika rindu itu datang menyergap, tak pernah ada yang lebih hening daripada puncak malam-malam tergelap setiap harinya.

Tak pernah ada yang lebih indah daripada saat-saat bayanganmu mengantar impian tidurku.
Tapi terkadang rindu itu begitu mengiris, membekas perih saat tak mungkin untuk bertemu. Kemudian timbullah pertanyaan, adakah yang bisa mengobati rindu daripada sekedar bertemu?
Entahlah, belum pernah ada yang menjawabnya.
Bilamana pula saat dirimu dihadapanku tak akan pernah rela menghabiskan waktu yang ada untuk sekedar berbasa-basi. Tak ada waktu! Waktu terlalu singkat untuk itu.
Biarkan saja waktu yang singkat itu habis hanya untuk melihatmu, mendengar suara alam di sekeliling kita, membiarkan luruhnya semua rasa rindu yang selalu tersimpan setiap harinya untuk kemudian dicurahkan lagi esoknya.

Begitulah waktu, berputar namun selalu terjadi hal yang sama, selalu ada rindu.
Atau mungkinkah ada cara yang terbaik untuk meniadakan rindu adalah untuk tetap tinggal. Bertahan disini, disisiku. Mungkinkah?