Wednesday, July 25, 2012

Sekilas Sapa

selamat malam..
hai sekian kilometer dari sini.
saya tau kita berada di bawah naungan langit malam yang sama.
hanya berbeda di derajat geografis yang berbeda sedikit saja.
berapa jauh ya jarak dari tempatku kesana? ah tentu tak memakan banyak waktu, tapi cukup menghasilkan rindu.

apa kabarmu? mungkin sedang terlelap indah dalam istirahat malam ini.
tapi mungkin juga kalau kamu malam ini sedang merenung di pojok kota ini.
hafal dengan kebiasaan lamamu? tentu, saya terlalu mengenalmu, dulu.

masih bertatap dengan mata yang sama, matamu.
masih mendengar renyah tawa yang sama, tawamu.
masih melihat senyum yang sama, senyummu.
masih mendapat kata- kata indah yang sama, karyamu.
masih bertemu dengan orang yang sama, kamu.
masih punya cerita sama yang selalu diulang- ulang tiap kita bertemu dan ingat dulu.
semuanya sekilas nampak sama, tak ada yang berubah. tapi rupanya waktu telah membawa banyak hal yang sebenarnya berbeda.

Kamu itu kayak Jakarta, gampang banget berubahnya...berubah tapi sebenernya nggak berubah (-Hari Untuk Amanda film-)
untuk renunganmu malam ini, tepat di penghujung hari,
bawa pulang rindumu, simpan selalu dan kemudian bawalah tiap saat kita bertemu.

goodnight, you.
HS

Kembali Ke Jakarta

Hampir genap sebulan menapakkan kaki di ibukota.
Kembali sejenak ke rumah, dan kemudian mulai membiasakan diri lagi untuk bisa hidup di Jakarta, kota yang pernah saya tinggalkan setidaknya untuk waktu 3 tahun.
Meskipun tak benar- benar dalam periode 3 tahun itu saya meninggalkan ibukota sepenuhnya.

3 tahun apa yang berubah? Banyak!
Jakarta terus berubah, terlalu banyak perubahan yang akan terdaftar jika saya sebutkan satu persatu.
Gedung- gedungnya bertambah, pembangunan selalu terjadi disana- sini.
Watak kota pun turut berubah, macet makin menjadi. Terkadang hingga jam 9 malam masih banyak orang yang masih terjebak dalam riuh macetnya ibukota.
Dulu, sudah macet memang tapi tak separah ini. Kali ini sudah keterlaluan, tapi saya harus tetap bertahan.

Gemerlap lampu- lampunya semakin berbeda dengan apa yang pernah saya kenal.
Sekarang tiap lampu yang ada di taman kotanya selalu menimbulkan inspirasi mendalam di pikiran saya.
Seakan tak ingin melepaskan saya dalam ketergesaan untuk kembali ke rumah.
Mungkin karena sekarang saya pulang terlalu larut malam hampir setiap harinya, hingga menemukan hal- hal kecil yang dulu belum pernah kulihat atau kualami.
Terkadang karena tingkat kejahatan yang makin meninggi di negeri ini, apalagi ketika malam semakin pekat, saya juga tak terlalu lama terbuai dengan keindahan lampu- lampu kota karena khawatir akan sisi lain kriminalitas yang makin menjadi.

Warga di ibukota pun berubah. Sejak kapan ada masker dan headset yang mulai akrab mereka kenakan saat ada di kendaraan umum?
Sejak kapan apatisme berlebihan mereka meningkat ketika tiba- tiba ada yang bertanya jalan namun malah mengarahkan pandangan dinginnya?
Namun tak selamanya seburuk itu. Pernah sekali dua kali, dari sejak kebiasaan ku menumpang di transjakarta, ada beberapa orang yang menawariku tempat duduk. Yang karena rasa ibanya melihatku terkadang harus beradu cepat dengan pria-pria lain untuk dapat masuk ke dalam bus, namun di dalam bus malah tergencet. Apesnya tak kebagian tempat duduk di area khusus wanita.

Teriknya Jakarta juga sudah berbeda dengan apa ang pernah akrab menyentuh kulitku semasa sekolah dulu. Entah perasaanku saja atau memang nyatanya seperti itu namun terasa lebih panas dibanding bertahun silam. Saya tak lagi terbiasa berada di luar ruangan pada siang hari dalam waktu yang lama.

Oh iya, busway juga kini tak lagi menjadi sarana transportasi yang nyaman. Bagiku, busway sekarang sudah digunakan oleh mayoritas penduduk Jakarta, sehingga seringkali penuh sesak di dalamnya. Dulu sih kalo jaman- jamannya SMP sama SMA masih berasa banget kan eksklusifitasnya, Ac nya masih bikin adem hati. Tapi sekarang- sekarang ini, jangan harap deh. Terkadang kalo dapetnya bukan busway yang baru dan bagus yang ada malah keringetan di dalam busway. It feels like you're in a kopaja. (--,)
Tapi ya tetap aja sampai hari ini busway masih menjadi moda transportasi andalan saya, dan selalu sih saya berharap akan ada peremajaan busway yang masih bertahan dari angkatan pertama.

Selain itu saya juga merasa ibukota dan segala isinya telah bergerak jauh meninggalkan saya. Kembali ke rumah, kembali ke ibukota bagi saya ada sebuah proses adaptasi yang tidak sebentar. Pola ritme hidup yang terbiasa santai dan kini saya malah merasa seperti orang asing. Harus terbiasa bertindak cepat. Kembali harus membiaakan diri bangun lebih pagi lagi, atau harus mengucapkan selamat tinggal pada jalanan yang lengang.

Seperti pendatang di kota kelahiranmu terasa sangat menyedihkan memang. Tapi begitulah waktu, yang pada masanya akan membawa banyak perubahan pada kota, perubahan pada orang-orangnya, suhu, gedung- gedung, tata kota, dan segala hal lainnya yang dalam setiap kedip mata kadang tak dapat saya rasakan perubahannya. Namun semua perubahan itu terasa amat jauh meninggalkanku saat saya lama tak ada disini.

Mau tak mau, saya harus menyelaraskan hidup saya dengan Jakarta masa kini. Mulai membiasakan diri lagi untuk bersikap tangguh, mandiri, dan tak banyak mengeluh terhadap segala hal yang berbeda. Karena pilihannya cuma terbiasalah atau anda akan ketinggalan.

selamat beraktifitas,
HS

Thursday, July 19, 2012

Dear July, Thank You

hei Juli!
apa kabarnya?
Sudah pertengahan bulan nih, dan nyatanya saya masih bisa tetap berdiri kokoh tanpa jatuh terduduk.
Awalnya saya sempat mengira akan melambaikan bendera putih di bulan Juli.
Terlalu berat untuk dilalui, demikian saya pikir.
Bahkan untuk memasuki Juli saja saya sempat ragu, akankah ada derai tangis yang tumpah karena saya tak sanggup menahan semua masalahnya?
Ternyata tidak.

Juni akhir saya mulai kehilangan tempat berpijak saya. Saya mulai ragu atas segala keputusan- keputusan yang saya ambil. Ini perkara magang saya. Sejauh saya berusaha mulai dari awal tahun 2012, sejak bulan Januari saya bahkan telah memasukkan lamaran ke sebuah instansi, dan baru mendapat hasilnya di Maret, itupun gagal. Kejatuhan pertama saya.
Selanjutnya sampai Juni awal pikiran saya sepenuhnya masih terkonsentrasikan untuk mengurus tugas Event Organizer, yang jujur aja sampai menguras emosi, tenaga, dan pikiran. Jadi otomatis ngga ada lagi hal lain yang bisa saya pikirkan saat itu. Soal magang pun saya masih menomorduakannya, pokoknya tetep mikir EO dulu, gitu pikir saya waktu itu.

Lalu hingga sampai di pertengahan Juni belum ada satu kabar pun dari semua instansi yang saya masukkan surat lamarannya. Saya coba re-call satu persatu tapi hasilnya nihil, semua hanya bisa menjanjikan jawaban dadakan saat mendekati bulan Juli nanti. Ini kejatuhan kedua, saya anggap semua perusahaan itu menolak dengan halus lamaran saya. Maka saya mundur.
Kemudian mendekati akhir Juni, saya mulai memasukkan kembali lamaran magang saya ke tempat- tempat lainnya. Satu instansi aja yang saya fokuskan saat itu, karena itu mimpi saya dari dulu. Kerja di instansi itu yang notabene adalah salah satu grup media besar di Indonesia.Saya bela- belain ke Jakarta, padahal saat itu belum semua urusan saya di Solo kelar.

Bagikan menjemput mimpi, semua persiapan terbaik saya sudah dipersiapkan jauh- jauh hari untuk mengharapkan hasil terbaik untuk test wawancara saat itu. Dan ternyata ini kejatuhan ketiga saya, nggak diterima juga. Alasannya, kuota penuh. Oke, ini saya bener- bener down. Tapi saya tetap belum mau nangis, karena kalau mau dipikir- pikir masih ada beberapa orang teman juga yang belum dapet magang. Kalau cuma mau mikir kegalauan sendiri sih, yang lain apa kabarnya saya juga engga tau.

3 hari menjelang bulan Juli, dengan acaknya saya mulai kirim- kirimin lamaran magang saya ke hampir semua instansi yang bisa ditembusi via e-mail. Bahkan saya ngga ada waktu untuk berpikir, bertanya pada diri saya sendiri: "Apa kamu nantinya bener- bener mau kerja disana?" "Emang kamu yakin disana cocok sama kamu?" "Disana nanti mau kerja apa?"
Semuanya cuma demi 1 jawaban: "Yang penting magang dulu". Ngga magang= ngga dapet nilai. Matilah kan kalau ini sudah menyangkut nilai akademik, wajar aja kalau saya pontang panting.

Dan akhirnya, tangan Tuhan tak pernah terlambat datangnya. Memasuki bulan Juli, setelah masuk- masukin lamaran ke hampir semua media, saya coba masukin lamaran langsung ke sebuah stasiun televisi. Ya langsung dateng aja ke kantornya dan semudah itu, saya langsung magang. Ah deymmm, lutut saya lemes seketika waktu pulang dari kantor itu. Justru di saat seperti inilah saya pengen nangis. Saya tinggalkan semua mimpi dan cita- cita saya untuk sementara waktu. Memang saat itu tinggal selangkah lagi, tapi entah kenapa saya yakin itu bukan jalan yang dipilihkanNya untuk saya saat ini. Mungkin di lain waktu saya bisa menjemput impian saya kembali. Karena di dalam masa- masa terkelam saya di bulan Juni kemarin saya sempat berpikir : "Kalo gue kerja di tempat yang gue pengenin, emang udah jamin disitu bakal seru? Udah yakin banget kalo disana iklim kerjanya asik? Emang disana kerjaannya ngga berat?"

Sulit jalannya untuk saya bisa mendapatkan jawaban: "Magang dimana?", tapi akhirnya jawaban itu saya dapatkan dengan mudahnya setelah berkali- kali jalan ke tempat yang ternyata salah. Dan sejauh ini, saya bahagia- bahagia aja sih di tempat magang saat ini, dan semoga memang akan selalu bahagia- bahagia aja. Saya cuma mengikuti kata hati dan jalan yang sudah ditunjukkan aja sih. Toh pada akhirnya mungkin ngga semua yang kita pengenin itu tercapai, tapi setidaknya saya sudah buktikan yang awalnya kita pengenin itu ngga selalu menjamin kebahagiaan di akhirnya.


Dear July, thank you for all the surprises and the life lessons that you've gave to me. 


Ps: That's all my 1st story 'bout my internship. I'll go to work in the morning tomorrow, so i wanna go bed earlier. :D
i'll write the series next time..


rgrds, HS

Sunday, July 15, 2012

Tanpa Ada Alasan

akan ada satu masa dimana kamu akan merindukan apa yang kamu lakukan saat ini.
kelak kamu akan begitu mengenang masa- masa yang pernah kau lewati.

tak ada cerita awal yang pasti bagaimana kisah ini harusnya dimulai.
semuanya berlalu begitu saja, tanpa terasa.
waktu pun seakan terabaikan, ditinggal oleh serunya cerita ini.
mulanya kamu begitu menawan, lewat di depanku dengan anggunnya mengabaikan sekelilingmu.
tak perlu ada alasan ketika menit selanjutnya saya sibuk menangkap ekor bayanganmu.
menerka- nerka apa isi kepalamu saat itu
menangkap setiap senyumanmu yang gemilang, yang bahkan tak mudah untuk kulupakan.

lantas waktu berlalu, terkadang terasa cepat namun ada kalanya seakan bergerak dengan amat perlahan.
seperti tuts pada piano, ada hitam dan ada putih maka demikian pun kisah ini
ketika tuts putih simbol kebahagiaan hidup berdampingan dengan tuts hitam makna kekelaman.
dimana sedih dan bahagia, suka dan duka selalu berdampingan dalam hidup ini
namun ketika keduanya selaras, tuts hitam dan putih bersamaan dibunyikan maka tercipta harmonisasi nada yang menyenangkan
dan begitulah hidup, selalu menyenangkan bila semua sedih dan bahagia datang silih berganti
hidup selalu menyenangkan buat saya meski tak selamanya mudah

tak mudah untuk dapat memahamimu sepenuhnya
hingga akhirnya pada suatu saat saya memutuskan untuk tak lagi mencoba memahamimu,
saya mencoba untuk mulai menerimamu apa adanya

hingga tiba saatnya saya memutuskan untuk berhenti
tak lagi berjalan dalam rel cerita yang sama, mencoba melepas semua kenangan
satu persatu, perlahan- lahan menghapusnya, seakan itu tak pernah terjadi
dan begitulah kemudian angin membawamu ke bumi belahan yang berseberangan dengan tanah ini

kemudian waktu tetap berjalan seperti biasa, di keadaan yang tak biasa ini
angin, musim, peristiwa semua datang silih berganti membawa perubahan pada masanya masing- masing
lalu kita bawa mimpi kita masing- masing, mewujudkannya sendiri- sendiri, dimulai dari start yang berbeda dan mungkin untuk garis finish yang berbeda pula kelak

hingga kemudian di sore yang berbeda, berjarak sekian satuan waktu, dan waktu akhirnya membawa kita bertemu
setelah lama tak saling berjumpa, entah bagaimana caranya saya dapat melihatmu lagi
dan kamu telah berubah banyak, meski saya tahu bahwa sebenarnya kau tak berubah. berubah tapi sebenarnya tak berubah
memang benar, tak akan ada yang pernah sama di bawah langit ini
hingga akhirnya saya tahu, bahkan sampai saat ini saya masih menghadapi orang yang sama
masih menghadapi cerita yang sama, yang dulu mungkin pernah dilupakan
masih menghadapi pertanyaan dari setiap keragu- raguan yang muncul

and today, i knew that i still in love with you :)

is this story will has the sequel?

-rgrds, HS-