Friday, May 18, 2012

Dinginnya Bromo Yang Selalu Mempesona


Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) merupakan salah satu tempat wisata populer di Jawa Timur. Tak hanya turis lokal saja yang berdatangan ke tempat ini, turis mancanegara pun banyak yang ke tempat ini. Salah satu tempat yang kerap menjadi favorit para turis ini adalah Gunung Bromo, yang terkenal dengan pemandangan matahari terbitnya yang indah.
Ada beberapa jalur yang bisa dipilih saat akan ke Bromo. Jika berangkat dari Jakarta, bisa menggunakan kereta api ekonomi Matarmaja. Demikian pula halnya jika berangkat dari Solo, dapat pula menggunakan kereta Matarmaja dari stasiun Jebres dengan tiket seharga Rp 41.000 hingga stasiun Kota Baru, Malang. Begitu sampai Malang, ada 3 jalur menuju Bromo yaitu melalui Tumpang, Probolinggo atau Pasuruan.
Jalur yang paling mudah dan umum untuk dicapai adalah melalui Probolinggo. Dari Malang bisa menggunakan bis antar kota dari terminal Arjosari dengan tarif Rp 23.000 hingga terminal Probolinggo. Begitu sampai di terminal Probolinggo, untuk dapat sampai di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, dapat ditempuh dengan menyewa kendaraan khusus yang biasanya dikenakan tarif Rp 200.000 untuk sekali jalan.
Jika menempuh jalur Bromo via Probolinggo ini, maka akan tiba di Cemoro Lawang, desa terakhir menuju Gunung Bromo. Perjalanan selama 1 jam menuju Cemoro Lawang ini akan menyuguhkan pemandangan rumah- rumah warga setempat yang masih begitu sederhana dan juga mulai tampak hijaunya alam sekitar Bromo. Sesekali, udara dingin pun akan mulai terasa sejak perjalanan menanjak dari terminal Probolinggo.
Begitu tiba di Cemoro Lawang ketika gelap menjelang, para wisatawan tentu disuguhkan pilihan untuk bermalam di Cemoro Lawang. Di daerah ini, banyak rumah penginapan maupun hotel yang tersedia untuk diinapi dengan kisaran harga Rp 150.000-Rp 250.000.
Biasanya, para wisatawan mulai menikmati keindahan Bromo sejak pukul 03.00 waktu setempat. Sejak dini hari mereka bergegas menuju jalur Penanjakan untuk dapat mengejar moment matahari terbit. Saat itu, Minggu (13/5) suhu dini hari di kaki Bromo mencapai 10 derajat Celcius, sementara suhu di daerah Penanjakan mencapai 5 derajat Celcius. Tak terlalu dingin memang dibandingkan bulan- bulan lainnya. Biasanya suhu terdingin ada pada bulan Juli yang bisa mencapa 2 derajat Celcius.
            Dari Cemoro Lawang ada dua jalur yang dapat dilalui. Yang pertama, melalui jalur Penanjakan 1, dan pilihan kedua melalui Penanjakan 2. Bedanya, lokasi Penanjakan 1 memang lebih jauh dari daerah Cemoro Lawang dibandingkan Penanjakan 2. Namun, di Penanjakan 2 keelokan pemandangan matahari terbitnya terhalang oleh gunung, sehingga tak banyak wisatawan yang memilih Penanjakan 2 sebagai tempat singgah mereka saat menunggu matahari terbit. Dari Cemoro Lawang hingga lokasi Penanjakan 1 memakan waktu kurang lebih 1 jam.
Matahari Terbit
Waktu yang paling tepat untuk tiba di Penanjakan 1, adalah pada pukul 05.00 dini hari karena masih ada waktu untuk menunggu matahari terbit namun juga tak terlalu lama waktu yang tersedia, karena dinginnya udara subuh di Bromo yang menusuk kulit juga akan menyambut anda.
            Biasanya saat akhir pekan, lebih dari 100 jeep yang naik ke Penanjakan. Sementara pada hari biasa, hanya sekitar 25 jeep saja. Tiap jeepnya berkapasitas maksimal 6 orang. Jeep merupakan satu- satunya kendaraan roda empat yang diizinkan untuk masuk kawasan TNBTS. Jeep yang digunakan pun haruslah disewa dari warga setempat. Selain jeep, jalur utama di Bromo bisa ditempuh dengan sepeda motor. Meskipun medan yang dilalui akan sangat berat jika menggunakan sepeda motor, banyak orang yang nekat menggunakan sepeda motornya untuk menanjaki kawasan TNBTS dan beberapa kali juga harus mendorong motornya hingga harus berkali- kali mengelak dari tanah licin yang dapat membuat mereka tergelincir.
            Tiba di Penanjakan 1, ada puluhan tangga- tangga kecil yang harus anda lalui untuk bisa sampai ke puncak Penanjakan. Di samping kiri- kanan tangga kecil tersebut berderet rapi kios- kios kecil yang menjajakan makanan, minuman hangat, hingga oleh- oleh khas Bromo.
            Sayangnya saat hari Minggu silam, kabut terlalu tebal, hingga matahari hanya sempat terlihat sekilas selama satu menit saja dari atas Penanjakan. Padahal, jika cuaca cukup cerah, matahari terbit dapat dinikmati selama 2- 3 menit dan juga terlihat jelas pemandangan gunung Bromo dan Semeru.
            Setelah dari Penanjakan, rute berikutnya yang dapat dikunjungi adalah kawah Bromo. Perjalanan menuju kawah Bromo ditempuh selama kurang lebih 30 menit. Pemandangan selama menuju kawah juga tak kalah indahnya. Di sekeliling anda dapt melihat coklatnya tanah pasir yang ada di Bromo. Ada pula bukit- bukit besar berwarna coklat yang nampak guratan- guratan hasil lelehan pijar lahar Bromo, menghasilkan sebuah pemandangan unik dan indah sehingga bukit- bukit tersebut nampak seperti puding.
Disini akan terlihat banyak penduduk setempat yang mulai menawarkan jasa persewaan kuda yang akan mengantarkan pengunjung hingga tangga menuju kawah Bromo. Di daerah padang pasir ini juga ada sebuah Pura yang menjadi tempat sembahyang warga setempat. Dari sini anda dapat melihat pemandangan hijaunya bukit- bukit di Bromo yang mulai menampakkan tekstur bergaris- garisnya. Kabut tebal juga menutupi sebagian puncak- puncak bukit, seakan akan tetap disitu tak ingin melepas pemandangan puncak bukit yang indah itu juga ke mata tiap pengunjung.
Padang Pasir- Menuju kawah Bromo, wisatwan harus berjalan kaki. Banyak penduduk yang menyewakan jasa persewaan kuda seharga Rp 50.000 untuk sekali jalan. (Hanna Suryadika)



Pasir Berbisik
Selanjutnya perjalanan akan menuju lokasi padang pasir lainnya yang lebih luas. Biasanya di padang pasir ini, angin akan berhembus dan akan meniupkan pasir- pasir halus itu hingga menimbulkan suara gesekan. Itulah mengapa kerap tempat ini disbut Pasir Berbisik. Sayang sekali, pada waktu itu cuaca cukup lembab sehingga angin tak begitu sering muncul, dan nyaris tak terdengar suara ‘bisikan pasir’ tersebut.
            Tidak main- main keindahan yang disajikan di TNBTS, selanjutnya wisatawan akan semakin dibuat kagum dengan pemandangan indah di savana. Disini, seluruh bukit- bukit berjejer rapi, seakan mengepung wisatawan yang turun ke padang savana. Sayangnya, saaat itu cuaca yang masih terlalu lembab mengakibatkan beberapa tanaman menguning, dan hijaunya dedaunan yang harusnya tersuguh malah nampak menguning di beberapa tempat. Dinginnya udara disini masih terasa, meski tak setajam di Penanjakan tadi. Kabut tebal pun masih mengapung di atas bukit- bukit kecil, dan beberapa menutupi langit pagi yang mulai beranjak siang.
Savana- Pemandangan savana di Bromo pada Minggu (15/3) yang terhalang kabut pekat di ujung puncak bukitnya, menyajikan pemandangan indah. (Hanna Suryadika).
Beginilah cara Bromo menyajikan pemandangan alamnya yang begitu indah. Meski saat itu, Bromo masih enggan menunjukkan keindahan yang sesungguhnya karena berhalang kabut, namun pemandangan khas seperti apa yang disajikan di televisi. Bahkan lebih dari itu, bukit- bukit hijaunya juga indahnya padang pasirnya akan membuat setiap wisatawan yang datang kesana terlena dan terpukau dengan keindahannya. Mungkin itulah salah satu cara Bromo mengajak kembali tiap wisatawan untuk kembali kesana, menikmati pemandangan yang lebih indah lagi.