Saturday, April 28, 2012

Hujan Empat Hari Lalu

hai berkemeja putih.
hari ini ketika hujan yang mampir sebentar di tanah jakarta, menyebarkan bau tanah yang basah ke setiap sudut tempat kita berpijak ini.
kita yang hanya berjarak sepuluh senti, berjejer rapi dalam barisan, kau di kanan sementara saya di kiri.
menunggu trans jakarta yang tak kunjung datang setelah 30 menit berlalu.
entahlah saya tak pernah mempermasalahkan itu, untuk saat ini. terserah bus berwarna abu- abu itu mau datang berapa puluh menit lagi saya tak perduli. bahkan saya nyaris memanjatkan doa agar bus itu datang di waktu akhir operasinya malam nanti. Ah gila!

Dan tepat seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, nyaris seperti saya bisa meramalkan masa depan. Kamu yang ber headset, memainkan playlist favoritmu sehabis pulang kerja. Sesekali kau ambil handphone mu yang tersambung dengan headset, membalas sms, lantas memasukkannya kembali ke saku kanan celanamu, dan... tersenyum simpul padaku! Bodohnya, saat itu saya tengah mengamati tingkah lakumu, dan kepergok lantas kamu tersenyum.
Ah bodoh, jangan tersenyum karena lututku akan gemetar. Yah ga segitunya juga, tapi begitulah ungkapannya.

Entah mimpi atau tidak, tapi saya dapat merasakan nyatanya. Kau mengulurkan tangan, lantas terjadilah perbincangan singkat kala itu.
"Hai, kayak pernah kenal deh, dulu sering liat gitu kayaknya"
"Nah iya, lo dulu kakak kelas gue waktu SMA kan ya?"
"Iya, wah kayakna lo dulu adek kelas gue, beda 2 tahun. Lo 2009 kan ya? Gue lulus 2007"
Dan mengalirlah perbincangan seru seputar masa sekolah dulu. Yang dulunya bahkan kita tak pernah saling tahu nama. Kini bahkan kau tak lagi berstatus mahasiswa, sarjana baru dari oven, katamu. Dan saya bukannya tak mengenalmu dulu, meski tak tahu namamu kala itu, saya paham kau bintang sekolah yang sering mondar mandir di lapangan basket sekolah.

"Sekarang kerja dimana kak?"
"Sekarang sih cuma lagi magang di kantornya om"
"Daerah sini?"
"Iya, kantornya deket sini. Makanya jam segini biasanya baru pulang ngantor"
Oh oke, catet. Jam 20.30 di halte Bunderan Senayan. Kataku dalam hati.
"Eh kok baru kali ini ya kita ketemu? Soalnya gue setiap hari naik dari halte sini"
"Gue kuliah di luar kota, sekarang sih lagi liburan"
"Oh pantes. Eh itu bus nya udah dateng" ujarmu sembari menunjuk bus abu- abu itu dengan dagu.
Saya pun berkonsentrasi mengambil ancang- ancang untuk buru- buru naik ke bus itu.
Bus mendekat, dan pintu shelter pun terbuka, orang- orang muali berdesakan dan berlari kecil saling menghimpit agar segera mendapatkan tempat duduk di dalam bus.
"Oh iya ntar lo turun dimana?"
"Hah apa kak?" ujarku setengah berteriak, mulai terhimpit orang- orang yang berebutan masuk bus.
Dan saya mulai merasa terhimpit orang-orang yang tak sabaran itu.
Perlahan oksigen mulai menipis, pandangku mulai buram.
Dan kurasakan hentakan kencang di kepalaku...

"Eh lo ngelamun aja apa tidur dari tadi? Nunduk terus. Tuh busway nya lewat, gara- gara lo gak mau maju yaudah gue juga nunggu busway yang nanti aja"
Hah? Sial! Jitakan temanku menyadarkan lamunanku di tengah antrian super panjang ini. Lantas kutengok pintu busway yang perlahan mulai tertutup, dan disana masih ada dirimu, tersenyum tipis ke arahku.
Nyatanya kau hanya tersenyum.
Nyatanya kau hanya berdiri di sampingku untuk beberapa saat tanpa sepatah katapun.
Nyatanya kau mungkin ingat pernah beberapa kali berpapasan denganku bertahun- tahun lalu.
Nyatanya percakapan barusan tak pernah terjadi selain di anganku.
Nyatanya kita tak pernah berbincang- bincang selancar itu dari sejak beberapa tahun silam
Dan nyatanya, kita belum berjodoh, bus mu melaju terlebih dahulu dan saya terpaksa harus menunggu bus berikutnya.

-Halte busway Bunderan Senayan-
24 April 2012

Saturday, April 14, 2012

Kolaborasi Cerita Indah

saya selalu menyukai ruang hampa yang ada.
saya suka melihat ada hampa dan spasi diantara itu. dan berharap kalian tak pernah sadar akan adanya kehampaan lantas menyerah, mencoba keluar dengan segala usaha yang kalian ciptakan, untuk bisa terbang.
saya ingin mengajakmu kembali berpijak, di tanah ini. tak akan melepaskanmu untuk pergi begitu saja.
meraih tanganmu, membawa kakimu berlari- lari kecil di taman kota.
mengajakmu untuk mulai mencoret-coret sketchbook mu, mulai melukskan keindahan lembayung senja yang pernah kita lihat terpisah. juga mulai menarasikan cerita yang indah, tentang kita.

saya tak ingin sekedar menjadi benda yang ada di sekitarmu.
kalau bisa saya menjadi bagian yang utuh dari dirimu, tak hanya ada dan terlihat namun terasa.
menjadi bagian dari nafasmu.
menjadi sesuatu yang tak bisa kau lihat begitu saja, namun bisa kau rasakan.
menjadi sesuatu yang terlihat sepele, namun sangat kau butuhkan
menjadi sesuatu yang ada di dalam dirimu, bagian dirimu dan lebih dari sekedar mengenal dirimu
menjadi sesuatu yang tak terpisah dari dirimu, jadi takkan ada ruang hampa, spasi, jarak diantaranya
menjadi sesuatu yang juga membutuhkan sosok insan untuk bisa berdiam di dalamnya, agar bisa berguna.
ya bukankah nafas memenuhi kesemuanya?

bisakah? mampukah kau tuliskan semua cerita itu yang telah kususun baris per baris dalam draft nya.
menuliskan semuanya itu dan kita biarkan ceritanya sambung menyambung, dimana saya dan juga kamu bergantian menulisnya bait per bait.

kemudian begitulah saya mulai menyukai baris- baris ceritamu, menjadi penggemar nomor satumu yang selalu setia menunggu kalimat- kalimat ajaib pelipur lara itu. kalimat yang kau tulis dalam bentuk 140 karakter.
atau malah kisah yang kau tuturkan panjang lebar tiap minggunya.
saya menunggu semua kisah itu dapat kau ceritakan sendiri kelak.

dan pada akhirnya mungkin kita harus tak dapat bertemu saat itu.
ketika waktu terpisah 1 hari, 24 jam yang tak bisa mempertemukan kita setidaknya di kota yang sama.
begitulah cara saya mengenangmu, mencoba mengabaikan kebetulan- kebetulan yang ada, mencoba mengabaikan hambatan lainnya.
ini nyata, karena saya pernah melaluinya. kau dan saya menjadi penggemar sajak kecintaan seorang penyair. lantas masing- masing dari kita mulai berani untuk menunjukkan karya.
semoga tak hanya sekedar karya pribadi, saya ingin kita berkolaborasi, menjadi satu dan padu. indah bukan?
menjadi satu dan bagian darimu, menjadi nafasmu

kapan kita bertemu lagi, hei kamu?
dari ribuan kilometer yang tercipta.

Ps: tantangan dari @ichiiii untuk menulis sebuah postingan telah saya penuhi dengan di poskannya tulisan ini. Semoga @ichiiii puas, bisa tersenyum. semoga tulisan ini menyiratkan makna mendalam bagi siapa saja yang membacanya.

-Hanna Siahaan-
@hannaahan

Wednesday, April 11, 2012

PULANG

Selalu ada keharuan ketika terucap kata itu, menyingkap segala keputusan penting di pekan ini.
Keputusan untuk pulang dan konsekuensi di belakangnya seakan tak pernah bisa terlepas.
Saya akan pulang, maka sepertinya akan ....
Yah banyak memang resiko untuk kembali pulang saat ini, seakan semua tugas dan tanggung jawab itu tak rela ditinggal sejenak oleh sang pengembannya.

Dan akhirnya...
PULANG
Terlakon sudah hal itu.
Membawa senyum bahagia ketika kembali ke tempat kau dibesarkan, yah layaknya kalian ketika seakan kembali dibawa ke masa kanak- kanak kalian dulu.
Menarik nafas, mencoba merasakan padat debunya sedikit di celah paru- paruku.
Hanya berharap saja dengan demikian lintasan kenangan masa kecilku, masa sekolahku yang lalu akan membekas sedikit di otakku. Ya, sekedar mengembalikan memori saja.

Pulang, dan kembali ke pangkuan ibunda.
Duduk bercerita, bersenda gurau bersama. Meski telah lama terpisahkan oleh jarak, namun begitulah ibu dan anak saling melepas rindu, bercengkrama tanpa tahu waktu. Saling bercerita mengenai apa yang masing- masing telah kami lewatkan selama waktu berjalan.

Pulang.
Tak selamanya menyatakan kekalahan. Saya pulang, hanya melepas apa yang seharusnya terkubur dan menjadi kenangan. Bagiku, pulang tak sekedar ritual.
Pulang adalah mengupas kembali perlahan- lahan kenangan yang pernah saya lalui di tiap jejak langkah tempat yang terlintas.
Tapi tiba- tiba saya tersadar, pulang itu bukan kegiatan yang bisa terus menerus dimaknai. Bayangkan jika kau hampir setiap harinya melakukan kegiatan itu.
Berangkat pagi- pagi dan ketika waktunya tiba, waktu habis kau akan pulang, rutin!
Rutinitas bagi saya tak bermakna apapun, maka saya menjaga jeda waktu untuk ritual PULANG tadi.
Menjaga agar ada keharuan yang terbersit ketika sudah menentukan tanggal kepulangan. Menjaga agar banyak cerita yang kau simpan untuk kau bagikan di sana. Menjaga agar PULANG menjadi begitu bermakna.

Pulang bagiku kembali ke rumah.
Rumah? Ya! Rumah, tempat berkumpulnya orang orang yan kau cinta, dan orang yang mengenalmu, juga sebaliknya.
Dan selalu saya suka adalah: "Kapan kamu pulang?" "Sudah lama nggak pulang"
Kalimat itu, yang selalu menyuruhku kembali, untuk PULANG.

Salam hangat,
Hanna Siahaan
-@hannaahan-

Sunday, April 1, 2012

Salam dari Solo


Dear roommate from Madura..

Hai kamu yang tidur di kasur sebelahku tadi malam. Maaf semalam saya harus mengganggu nyenyak tidurmu dengan suara-suara ribut dan ceriwisan khas dari para wanita. Maaf juga semalam saya harus mengundang kedua temanku untuk bergabung di kasurku. Karena semalam kami sebenarnya sedang mengerjakan tugas kami, yang dengan sangat terpaksa harus kuboyong ke Bogor.

Ah iya sebenarnya tadi malam saya ingin mengajakmu bicara. Berbincang- bincang mengenai kota tempat tinggalmu, Madura. How’s there? How’s the weather? How’s the culture and etc. Tapi nampaknya deretan acara yang tadi malam terlalu membuat kita jatuh stamina, tak mampu lagi untuk terjaga barang sedikitpun begitu melihat kasur. Hmm sebenarnya sih saya juga menyimpan rasa rindu terhadap bantal-kasur yang putih bersih itu yang nampaknya empuk, tapi aku belum bisa meninggalkan tumpukan tugas ini begitu saja. Dan begitulah adanya ketika kedua temanku datang ke kamarku untuk mengerjakan proposal sakral itu.

Malam itu, sebenarnya saya mencoba menyisihkan rasa kantuk dan lelahku ketika datanglah party dadakan semalam. Pesta popmie, dan saya pun memboyong keripik tempe, kue, air mineral beserta biskuit ke dalam kamar. Oh iya room mate, maaf ya kalo kamar agak berantakan biasalah cewek rada barbar sedikit kalo lagi laper tengah malam gitu.

Hei roommate, bukannya saya enggan ataupun pelit berbagi kisah ataupun makanan cemilan penghilang galau laper itu, tapi saya tak tega membangunkanmu. Tidurmu terlihat begitu nyenyak, mungkin terlalu capek.
Hai roommate, salam kenal dari Solo ya J

Your roommate, Hanna.

*surat ini saya tulis saat kelas #LLD (Local Leaders Days) @AkademiBerbagi di CICO Ressort, Bogor. Kelas menulis narasi kali ini diisi oleh @ndorokakung, dan sudah dibahas serta ditertawakan bersama dengan ikhlas segala konten di dalamnya

Selamat Menulis, tweeps -@hannaahan