Monday, February 20, 2012

Kalimat Pengetuk Rindu


-17 Feb& 20 Feb 2012-

Saya rindu menulis barisan sajak- sajak indah di pintu rumah kenanganmu
Entah kapan lagi saya dapat merangkai kalimat itu, entah yang akan kubuat itu akan seindah yang dulu atau tidak.
Tapi percayalah ketika kukatakan benar- benar ingin mengungkapkan kalimat indah itu, biarkan rindu ini memiliki jejak.

Agar kelak dapat kau lihat masa- masa yang telah terlewati yang takkan pernah bisa kau ulangi.
Hari ini saya kembali memutar lagu yang dulu pernah kita nyanyikan bersama tiap kali matahari kembali ke peraduannya. Lagu yang selama beberapa waktu lamanya sempat menjadi lagu kegemaran kita. Tapi tahukah kau bahwa hingga saat ini, setelah beratus-ratus hari lamanya lagu itu masih setia menemaniku menghabiskan waktu menikmati tenggelamnya matahari. Terkadang bahkan terasa seperti kau ada disebelahku menemaniku melihat matahari itu. Terasa aroma parfummu seakan membayangi masa-masaku kini. Entah apakah kini kau masih memiliki aroma yang sama atau tidak, tapi ingatanku terlalu kuat untuk merekam bau parfummu itu.

Hari ini saya merindukanmu kembali, entah untuk kesekian kalinya. Seandainya saya mampu, maka akan langung kukirimkan pesan rindu langsung di depan pintumu. Namun nampaknya kini kau telah berada di bingkai yang berbeda. Yang lagi tak dapat kuketahui letak denahnya, yang mungkin tak akan pernah sampai pernah menemuimu kelak.

Hari ini semakin kuat saya berusaha melupakan semua kenangan dan melepas kerinduan itu, tapi bayangmu semakin gemar berlalu lalalng di pikiranku. Bukankah rindu ini menyedihkan? Disaat saya begitu merindukanmu, sampai terasa sesak dan pedihnya ketika kenangan manis itu menyusup di dada, namun saya tak dapat menemukanmu. Bahkan tak dapat menyampaikan pesan rindu ini secara langsung kepadamu.
Bagaimana cara terbaik untuk menyampaikan kerinduanku ini padamu? Hari ini saya merindukan dulu. Dulu yang tak pernah terpikirkan akan hari ini. Akan betapa sakitnya merindukanmu, dan semakin menyakitkan ketika rindu itu hanya kusimpan saja. Rindu itu sakit, kau tahu itu tentu. Kau tahu juga rindu itu indah, dan akan dengan mudahnya kuterima kenyataan akan kalimat tersebut ketika kau ada di balik rindu itu, dan menyampaikannya kembali. Namun, adakah kau disana? Berdiri di balik rindu itu seakan menungguku untuk menikmati senja yang sama seperti dulu dan menghapus perihnya sakit rindu ini. Bukakan pintu di rumahmu rindu ini akan kuletakkan disana agar kau mengetahui bentuknya kelak

Ps: Hey dear you, i miss you so much. Do you miss me?

Sincerely,
The one who missing you as that guy.

Sunday, February 12, 2012

Ucapan Terima Kasih


Surat Cinta terakhir.
Kutujukan kepada seseorang yang daripadanyalah segala inspirasi bermuara. Kepada orang yang sebenarnya akan kudedikasikan tulisan awalku padanya, namun akhirnya kujadikan ia penutup yang indah di surat terakhir ini, agar segala cerita dapat mengalir lancar di hari- hari akhir dan saya melunaskan segala kata yang tak terucap kemudian di surat ini, surat hari terakhir.
Hai kamu, sudah lebih sehat kan sekarang? Terserah kau mau memberitahuku sedang sakit atau tidak, tapi nyatanya saya tahu dan selalu tahu kondisimu.
Ketika saya memandangmu lagi untuk pertama kalinya-setelah pertemuan terakhir kita bertahun yang lalu- saya merasa demikian akrabnya saat menatap matamu. Kamu tahu, yang paling saya sukai dari wajahmu adalah matamu, mata yang selalu menampakkan sisi kekanakan darimu, namun pernah suatu kali saya melihat kekesalan yang tebal menutupi pandanganmu. Amarah pun pernah sekali muncul di mata itu, dan sejak saat itu saya brharap tak akan pernah melihat pemandangan itu lagi di matamu, karena terlalu menyeramkan untuk dapat kupandang.Tapi mata itu indah sekali, sudah pernahkah kusampaikan hal itu padamu sebelumnya?
Kuakui memang sulit saat harus bertemu lagi dengan sosokmu yang telah sekian lama menjadi sosok yang asing bagiku. Setelah waktu berjalan dengan caranya sendiri,  rupanya kau pun berubah. Sulit bagiku untuk dapat bertemu denganmu, pikiranku selalu dipenuhi tanya. Seperti apa rupamu kini, masih samakah suara renyah tawamu, apakah kau bahagia dengan hidupmu sekarang, bagaimana saya akan memulai percakapan denganmu, mampukah saya menatap matamu dan berkata: ”SAYA MERINDUKANMU”, dan banyak pertanyaan lainnya yang menggelayut di pikiranku.
Akhirnya saya putuskan untuk mengabaikan semua keributan kecil di hatiku, kuputuskan untuk maju, bertemu denganmu, apapun yang akan terjadi, bagaimanapun reaksimu, dan entah bagaimana nantinya pertemuan perdana kita setelah lama tak bertemu.
Dan sungguh, ketika saya melihat sosok tubuhmu, bahkan saya belum melihat wajahmu, saya rasa saya tak mampu berjalan tegak. “Jangan senyum padaku, lututku akan lemah” ujarku dalam hati. Dan disanalah kau duduk, dengan santainya, pakaianmu santai malah menurutku terlalu santai karena,asal-kau-tahu-saja, untuk saat itu sebelum saya bertemu denganmu disana, segala macam hal hingga hal terdetil kupilihkan untuk melihatmu lagi, tapi rupanya kau malah muncul dengan gaya cuekmu. Tapi akhirnya hari itu, kita mampu melewatinya hingga batas akhir hari, asyik bertukar cerita tentang apa yang telah kita lewatkan dari hidup masing- masing. Dan hari pun berlalu begitu saja, meski sejak saat itu kekakuan yang ada bisa melebur sedikit, namun masih tetap seperti ada tirai tipis yang membuat kita tak bisa tertawa lepas layaknya dulu. Ah tapi apalah arti ‘dulu’ itu, jangan- jangan hanya saya yang memiliki kata ‘dulu’ dimana ‘dulu itu adalah kau bersama saya’.
Tapi ya nampaknya kini kau telah berubah menjadi sesosok orang yang berbeda dengan yang pernah kukenal. Saya tak pernah menyalahkan hal itu, toh nyatanya ketika waktu berjalan semua hal yang ada di bawah kuasanya mau tak mau harus berubah.
Sejauh ini, entah kau menyimak apa saja yang kutuliskan atau tidak, tapi saya yakin kau tahu sejauh mana saya mencampurkan fiksi ke dalam cerita-cerita yang mungkin pernah begitu kau kenal dulu, karena itu semua cerita tentangmu. Atau mari bertaruh, kau sekarang tak sepeka itu lagi menyimak apa saja yang kututurkan kembali tentangmu. Tapi begitulah adanya, ketika hingga saat ini sekalipun saya masih menganggapmu sebagai sebuah kisah yang tak akan pernah usang dimakan waktu.
Kamu, Sang inspirator yang dulu pernah rutin kusebut namanya dalam doa. Kupinta yang terbaik untuk terjadi padamu. Tapi kini tak lagi, saya belajar untuk bisa perlahan melupakan namamu, mulai mencoba tak menyebutnya atau tak mengingatnya lagi sekalipun dalam doa. Sekali waktu kau pernah keheranan mengapa saya seperti selalu ada jalan keluar untuk setiap masalahmu? Tidakkah kau mengetahui bahwa saya memang selalu ingin memberikan yang terbaik bagimu, ketika kau punya masalah maka saya dengan sekuat apapun berusaha mencari apa yang kau butuhkan.
Surat terakhir ini menjadi semacam rangkuman atas apa yang telah terjadi selama ini. Setelah semua rupanya tak sama lagi seperti yang dulu, maka saya sadar selama ini masih terjebak pada suatu persoalan klise dan akhirnya saya memutuskan untuk kembali bergerak, berjalan mencari arah tujuan yang lain.
Ketika kukirim surat ini padamu pun, saya yakin kamu pasti masih bisa mendeteksi seberapa banyak fiksi yang kutuangkan dalam tulisan ini. Kamu tahu saya penggemar kata- kata indah, maka terkadang saya tak enggan mencampurkan sesuatu yang indah ke dalam ramuan yang kubuat, maka tetaplah membaca tulisan ini. Karena sesungguhnya saya hanya ingin kau mengetahui satu hal: semua tulisanku ini bercerita tentangmu. Bolehkah kelak saya kembali menulis dan menceritakan kisah-kisahmu lagi? Terima kasih karena dengan sedemikian rupa, cerita tentangmu menjadi indah. Terima kasih karena kehadiranmu telah pernah menghias hari-hari dengan indahnya. Terima kasih untuk segala inspirasi yang sempat kau berikan.
Sekian dulu surat terakhir ini. Saya khawatir jika semakin panjang kisah ini kutuliskan maka akan ada pula kesan dan sikap yang berubah. Maka tetaplah kau disana, jangan pernah sekalipun berubah menjadi orang yang lain lagi. Dan saya disini selalu ada untuk menjadi teman terbaikmu.
Salam hangat,
Saya.
Terima kasih.

Saturday, February 11, 2012

Surat Untuk kalian


Kalian yang indah terendap di dalam kenangan.

Setiap waktu yang berlalu terasa jadi lebih menyenangkan, karen ada percikan tawa di dalamnya. Selalu ada rencana- rencana indah yang kita susun setiap bertemu.

Ah sedih sekali ketika akhirnya saya harus mengambil keputusan untuk berpisah dengan kalian. Semalam saya kembali rindu saat-saat makan malam rame-rame dengan kalian. Di sini sepi sekali, mungkin penghuninya masih pada asyik menikmati liburannya di kampung halamannya masing- masing. Tapi saya bersyukur pernah punya pengalaman liburan-yang-tak-akan- pernah saya lupakan-seumur-hidup.

Ah kenapa sih liburan ini terasa singkat sekali, kenapa harus ada ujungnya juga? Kenapa di akhir hari liburan ini justru ada sepercik rindu juga untuk teman-teman di kampus?

Surat ini khusus untuk yang selalu meminta saya mengulang- ulang kalimat: ‘Sudah makan dulu sanah’
Untuk yang memutar lagu Kahitna atau Terry setiap malamnya sebelum tidur.
Untuk yang pernah tiba- tiba mengatakan: ‘Cinta dan politik itu sebenarnya sama’
Untuk yang susah bilang huruf F dan mengubahnya menjadi P.
Untuk yang selalu melempar koin untuk diperebutkan saat berenang.
Untuk yang menyanyikan lagu ‘Kudaku lari gagah berani’ saat perjalanan ke Bromo dan mengajarkanku untuk menyenandungkannya kala dalam perjalanan.
Untuk yang tak pernah bisa bahasa Jawa dan vocabnya terbatas di kata: ojo dan ono, sehingga kerap mengucapkan ‘ojo-ojo’.
Untuk yang tergolek sakit beberapa hari setelah ke Bromo.
Untuk yang berpose seperti personel Peterpan ketika kamera mengarah kepadanya.
Untuk kalian yang turut berjabat tangan mengantarkan kepulanganku dan Amil ke Solo.

Surat hari ke- 29 ini kutujukan kepada kalian yang turut memeriahkan tamasya Bromo, ikut berenang, makan malam rame-rame, karaoke bareng, dan merencakan perjalanan (yang untuk sementara waktu gagal)  ke Blitar. Terima kasih karena telah mengisi hari ku dengan begitu indahnya, terima kasih untuk pertemanan (atau malah persahabatan?) dihari-hari liburan yang singkat di Pare. Terima kasih untuk segenap kegembiraan yang turut mewarnai hari –hari itu. Maafkan saya jika selama kita bersama banyak kesalahan yang kuperbuat. Maaf saya tak sempat pamit langsung, dan mungkin tak kuasa untuk menahan tangis jika pamit langsung.

This letter is for you all guys.





I miss you all already
Salam hangat dari Solo untuk Pare.
Pare: A small city with sweet memory *tertulis seperti pada kaos seseorang*
Main- main ya ke Solo dan ke Jakarta.

Salam,
Hanna Siahaan

Thursday, February 9, 2012

Surat Spesial

Surat Cinta hari ke-27 ini kutulis dengan segenap daya tenagaku.
Maafkan saya jika ternyata kata-katanya tak lagi indah untuk dibaca. Mungkin di hari ini, kata yang sarat keindahan itu telah sirna dari otakku, gudang kata sastra itu tak lagi puitis untuk saya tuliskan disini, atau memang daya kreatifitasku telah memudar perlahan.
Dari jauh kukirimkan surat ini melalui tukang pos khusus, berharap disana kau dapat menerima langsung surat ini di tanganmu yang kokoh itu.
Harusnya mungkin saya yang mengantarkan surat ini langsung padamu, memastikannya kau menerimanya sendiri.
Tapi saya tak bisa menjawab keusilan bicaramu yang pasti akan bawel sekali mencibirku dengan tertawa-tawa jahil bertanya-tanya mengapa di jaman teknologi canggih seperti ini saya masih menuliskan surat tertulis tangan kepadamu? Ah tapi kamu tak tahu sensasinya saat menulis surat ini, saya menumpahkan segala emosi saya ke dalam tulisan ini.
Kau bisa lihat sendiri goresan tinta ini saling bersangkut paut bersatu padu membentuk makna yang akan saya sampaikan khusus kepadamu.
Saya juga yakin ketika kau menerima sepucuk surat ini di sepan rumahmu, kau akan mengernyitkan dahimu dan berkali-kali membolak-balik amplop kecil ini memastikan ia tak salah kirim. Tapi saya yakin kau juga pasti setengah-mati-penasaran saat surat ini tertulis dariku untukmu, pasti kau ingin tahu isinya dan buru-buru membacanya.

Sudahlah, namamu itu selalu menjadi tujuan utamaku saat menulis. Jadi, segera kukirimkan surat ini yang saya tulis dengan huruf terindah yang pernah kubuat. Kapan terakhir kali kau menerima surat? Pasti ketika belasan tahun lalu ya? Saya sengaja ingin kembali ke masa dulu, membuat orang- orang merasa dihargai ketika ada pesan pribadi sampai ke tangan mereka melalui secarik kertas yang telah ditulisi, melalui surat.

Kau harus tahu pengorbanan saya ketika menulis secarik surat ini untukmu. Saya menulisnya, memilihkan kata-kata yang seperti kubilang, sudah berkurang kadar keindahannya, namun masih kupilihkan diksi yang mudah kau mengerti, berharap kau bisa tersenyum setelah membaca surat ini. Kupilihkan tinta yang jelas, agar kau dengan segala cahaya yang kau dapat di kamarmu bisa membaca surat ini. Kuambil amplop yang terbaik, dengan warna yang kau suka, meski untuk mencarinya saya harus berkeliling kota terlebih dahulu, tapi tak apalah. Kupastikan lem yang menempel di amplop itu begitu rekat, agar pesan rahasia yang kutuliskan didalamnya tidak ada yang membacanya sebelum kau, termasuk tak dibaca oleh si tukang pos. Dan tak kalah lagi susahnya, saya harus pergi sendirian mencari kantor pos terdekat dari kota kecil ini, memilihkan perangko khusus agar bisa sampai lebih cepat dari surat- surat lainnya. Semuanya kupilih khusus untukmu.

Untuk kamu, yang disana. Yang mungkin bertanya- tanya dari awal membaca surat ini hingga sampai ke paragraf ini, apa sebenarnya pesan yang kukirimkan padamu. Sabarlah, sebentar lagi akan kuceritakan padamu. Sebelumnya, bisakah kau keluar sebentar atau melongoklah dari jendela kamarmu. Lihatlah langit malamnya, Itulah langit malam terindah menurutku, kutangkap gambaran itu untukmu, semoga kau melihat langit yang sama denganku. Disini yang saya lihat, ada semburat awan jingga di sekeliling bulan penuh yang bersinar terang. Indah sekali, andai disana kau langsung menerima surat ini. segera kabari saya kalau kau juga menemukan langit malam yang sama indahnya ya.

Hmmm, ngomong- ngomong tanggal berapa sekarang? Saya sudah merindukanmu.
Tak perlu kau balas rindu ini, cukup balas saja suratku, segera!
Kutunggu suratmu sebelum kedatanganmu kemari.
Sudah terima pesanku kan?

Wednesday, February 8, 2012

Kepada Yang Terkeren Sedunia


Surat cinta hari ke 26 untuk

Pria dengan kulit sawo matang yang telah menurunkan marga Siahaan nya pada saya.

Terima kasih untuk bertahun-tahun kasihmu pada saya sehingga selama 13 tahun bersekolah sejak kanak-kanak kau selalu mengantarku tiap paginya.
Dan siangnya selalu menantiku keluar dari pagar sekolah dan bersanding diatas motor vespa hijaumu.
Untuk segala hujan maupun panas terik yang menyebalkan namun kau tepis untuk dapat mengantar-jemput kedua bocah kecilmu hingga mereka SMA, hingga saatnya kuliah mereka harus terpencar-pencar jauh darimu.

Kau yang telah mengajarkan kaki-kaki kecil ini dulunya untuk bisa lincah mengendarai sepeda roda 4 hingga perlahan-lahan mahir mengendarai roda dua.
Hingga rasa penasaran sang bocah itu kelak menimbulkan luka dan memar karena keingintahuan mereka mengeksplor si sepeda.

Untuknya yang selalu siap sedia menunggu saya di stasiun, terminal, maupun bandara ketika pulang dari tanah rantau.
Menyambut si anak rantau ini dengan senyumannya, dan sekejap peluknya.
Yang tak enggan menyambut tanganku membawakan tas berat itu untuk kau bawa.
Yang selalu menanyakan hal-hal yang kuanggap sepele saat ku di tanah rantau.
Sekedar 'Sudah makan inang?' 'Sudah berdoa sebelum berangkat?' 'Hari ini kuliah sampai jam berapa?' atau 'Masih ada duitnya?'

Untuk pria yang kini telah genap berusia 56 tahun, yang rambutnya sebagian besar telah memutih.
Yang tiap kali saya pulang ke rumah untuk berlibur ia selalu meminta membersihkan alis matanya dari rambut-rambut putih yang mulai menghiasi alis itu.
Teleponnya yang tiap minggu selalu mengantri sehabis mama berbicara panjang lebar.
Atau meneleponku pagi-pagi sekali sebelum berangkat kuliah.
Yang selalu mengingatkanku untuk tak lupa memanjatkan doa pada Yang Kuasa sebelum berangkat kemana- mana.

Kepada Bapak, yang pesannya sebelum saya berangkat ke tanah rantau masih selalu kuingat dengan jelas.
Jangan lupa berdoa, ingat pergi ke gereja ya inang, katanya.
Orang yang selalu kubenci kata- katanya yang terkadang menurutku terlalu rewel, namun sekarang kusadar makna kebawelannya.
Orang yang kadang terlalu tegas menurutku, tapi kutahu pasti pesan kasih sayangnya padaku.
Dia yang tak pernah mengijinkanku pulang terlalu malam, yang kadang menurutku terlalu membatasi kebebasanku.
Tapi kini kutahu dibalik semua itu ia menyimpan banyak kecemasan akan segala kegiatanku saat jauh darinya

Dialah yang selalu melindungi keluarganya dengan rengkuhan tangan- tangan kokohnya.
Yang berjuang menghidupi keluarganya dengan sepenuh tenaganya, dengan segala daya kreatifitasnya.
Untuk bapak yang paling cool sedunia...
Yang hanya akan kupeluk tiap tahun baru atau tiap ulang tahunnya, dan kucium pipinya namun terkadang enggan menerima ciumnya di pipiku, geli kataku. Geli karena kumisnya terkena pipiku, hehee.

Untuk bapak terkeren sedunia, J.R .Siahaan
Surat hari ke-26 ini kutujukan padamu.
Satu-satunya orang di dunia ini yang saya panggil Bapak :)
Terima kasih karena hingga saat ini kau masih mempercayaiku untuk bisa belajar mandiri di tanah rantau, dan membiarkanku belajar dengan sendirinya akan kehidupan ini.
Terima kasih untuk mengajarkanku banyak hal, bagaimana caranya berterima kasih, bertahan hidup di kerasnya Jakarta, caranya hidup bersyukur meski berkecukupan, yang selalu mengajarkan pentingnya arti tolong menolong.

Big hugs,
your 20-y.o-little girl,
Hanna Siahaan

Ps: kutulis surat ini dari tanah rantau, kapan bapak mau main ke tempatku merantau? Tahun depan sepertinya aku sudah (akan) kembali ke ibukota ;)

Monday, February 6, 2012

Yang Tak Akan Pernah Berlari Terlalu Jauh

Teruntuk: kamu yang pernah merasakan sakitnya hati tersayat

Seberapa jauh cinta mampu membawamu berlari?
Bukankah kelak jalan yang sama akan kembali menuntunmu kembali ke asalmu ini?
Jika kamu mulai mendengar bisik angin maka ia akan membawamu sesuai yang kau inginkan
Jangan pernah takut kehilangan
Karena dengan perasaan takut itu pun sesungguhnya kau akan belajar memaknai pentingnya sesuatu yang kau genggam erat itu
Kehilanganmu itu tak akan mewujud menjadi mimpi buruk, percayalah
Akan ada banyak kisah yang kau tangisi bila kau melewatkan masa ini
Masih adakah sisa kerinduanmu untuk kembali ke tempat berpijakmu ini?


Dear kamu,
Tidakkah waktu terasa lama sekali berlalu disana?
Kau yang di setiap malam-malam gelap dan dingin itu selalu merasa sepi sendiri
Sepi yang selalu kau bilang dapat menjadi pembunuh dalam sesakmu
Sunyinya malam yang hanya akan menambah perihnya duka dan rindu
Rindu itu mungkin telah menjelma menjadi hanya sekedar duka yang menambah gumpalan sesak itu
Yang perlahan tapi pasti akan menganggu istirahat nyenyakmu di tiap penghujung hari
Maka sepi itu kuyakini kelak akan menjadi teman terbaikmu saat cinta tak mampu bisa bertahan di sampingmu lagi

Tapi kuharap tak demikian adanya
Tanpa cinta kau takkan bisa bertahan lebih lama lagi
Tanpa cinta kau takkan pernah menepati janjimu untuk kembali
Kembalilah kesini sekali lagi maka akan kudengungkan kisah indah padamu
Melangkahlah kemari seakan pedih tak pernah membekas di hatimu
Karena kisah sedih pun akan kuberitakan padamu, kuajarkan semua kisah penyayat hati itu agar kelak kau tahu bagaimana cara melangkah tanpa dirinya
Ada banyak kata 'seharusnya' di kisahku nanti, tapi tolong jangan pernah dengarkan itu
Kata 'seharusnya' hanya akan pernah terucap jika saya benar-benar merindukanmu, dan mengharapkanmu seperti dahulu kala
Tapi yakinlah terkadang saya pun merasa itu hanya sebuah angin lalu yang hanya pantas dibahas sekelebat saja
Ikhlas sudah membawaku jauh-jauh dari lamunan muluk itu

Kembalilah kesini untuk mendengarkan kisah apa yang telah kau tinggalkan
Hari tak pernah berjalan dengan begitu indahnya saat daun-daun berguguran namun tanpa sosok yang ditunggu itu
Sosokmu selalu akan menjadi hiasan terindah di saat daun-daun menguning dan berjatuhan di sepanjang tepian jalan ini

Tertanda,
yang selalu menanti gugurnya dedaunan dan dirimu


Sunday, February 5, 2012

Di Balik Ukiran Sebuah Nama

Kepada: yang dalam namanya terukir aksara cinta.

Hey kamu, ya kamu yang disana.
Kamu yang namanya selalu terdengar begitu indah seperti sajak- sajak yang disusun penyair dahulu kala.
Yang dalam aksara dari tanganmu selalu mengalir inspirasi mahakarya.
Bagi saya, inspirasi terbesar itu justru muncul dari hidupmu.
Ketika kamu mulai berceloteh ringan mengenai arti hidup dan caramu memaknai nya.

Saat hidup tak hanya perkara benar atau salah, tapi juga bagaimana belajar dari pengalaman.
Kau tahu, justru saat kau sibuk berceloteh itu saya selalu sibuk mengamati sudut pandangmu.
Sudahkah saya katakan jika saya selalu menyukai saat- saat kau berdebat dengan orang di sekelilingmu.
Sekarang saya berhadapan dengan hamparan hijau nya sawah, kembali teringat beberapa mil jauhnya jarak tempatmu berada dengan tanah yang kupijak saat ini.
Masihkah disana kau merenda sastra, menyanjungnya dengan goresan- goresan buah pemikiranmu.
Adakah namamu masih mendengungkan lagu cinta yang paling saya sukai di dunia ini?
Apakah nama itu masih indah dan menyibakkan berjuta kenangan ketika saya membisikkannya di tengah sepinya malam?
Disini hampa ketika malam mulai beranjak, inspirasi untuk menjalin kata per kata seakan tak pernah mau berkawan denganku.

Hei nama yang terukir berjuta senandung cinta,
Masihkah mau kau menepati janjimu untuk satu soneta indah yang di dalamnya terabadikan sejuta momen indah?
Saya menunggu, di tengah hamparan sawah hijau ini, kutunggu janjimu hingga sawah ini menguning siap untuk dipanen

Saturday, February 4, 2012

Langit Penyimpan Memori

Hai langit biru...
sudah puaskah kau mengiring langkahku seharian ini?
Sudah kau lihatkah betapa lebar dan tulusnya senyum yang telah kuberikan padamu.
Terima kasih untuk telah menghiasi pagi ini dengan gumpalan- gumpalan kecil biru pudarmu itu
Kau mungkin tahu apa yang telah kubisikkan pada angin, buncahan dari dalam hatiku

Apa saya salah kalau memang hari ini saya berjuang mati matian memohon agar rintik hujan jangan turun dulu?
Wahai langit, sesungguhnya pada masa ini saya tak suka melihatmu bergumpal tebal dan hitam.
Kemudian perlahan- lahan mulai menitikkan air- air yang membesar, dan kemudian berlarian jatuh ke bumi membasahi siapa saja yang ada di bawahnya.
Saya tak suka hujan, karena untuk kali ini saya ingin bermain- main di tanah lapang.
Saya ingin melepas rindu dengan hamparan sawah- sawah yang menguning.
Kembali mengenang masa kecilku dengan bermain-main layang-layang, membiarkannya diterbangkan anggun oleh sang angin, menjuntaikan ekornya yang panjang dengan centil.
Saya ingin mengabadikan momen, siapa tahu saja masa yang sekarang ini kujalanai tak akan pernah lagi akan kualami kelak.
Saya ingin menghabiskan seluruh sukacita di hari ini.
Ada yang pernah bilang, hiduplah seakan- akan ini adalah hari terakhir kau hidup.
Dan kali ini, meski saya tahu ini adalah masa terakhirku meninggalkan jejak- jejak indah di tempat ini, maka saya ingin sekali melupakan duka, perkara, dan masalah.
Saya hanya ingin berlari, bersikap seakan bumi tak berbatas.
Tertawa lepas seakan besok tak akan ada masalah yang akan menghadang.
Mungkin kelak, saya akan begitu merindukan masa- masa ini
Masa saat kebersamaan dijunjung sebagai yang nomor satu, masa saat diri sendiri tak lebih penting daripada kebahagiaan orang di sekelilingmu, masa dimana kita saling mengulurkan tangan membantu yang lainnya. Masa dimana saat kesusahannya adalah kesusahan kami semua.
Pasti di masa depan kelak, saya akan mengenang saat ini sebagai masa yang paling menyenangkan.
Dimana saya bisa bertindak, bercengkerama, bermain tanpa perlu memperdulikan waktu.
Saat dimana langit tak mengeluarkan mendung, tak juga ber mentari terik tetapi gumpalan awannya seperti bulu domba yang keriting tapi halus seperti kembang gula berwarna biru pudar.

Hai langit, bila di masa depan saya lupa akan semua ini,
Tolong ingatkan saya untuk bisa kembali kesini, menemui mereka semua, menggali lagi kebahagiaan yang sama.
Hai langit, tolong jaga semua ini, karena kelak saya akan mengingatmu sebagai bagian dari salah satu masa terbaik yang pernah saya lalui.

Salam hangat,
-si pengibar layangan-

Thursday, February 2, 2012

Perjanjian dengan Waktu

Surat kepada sang Waktu.
Yang di dalamnya menyimpan banyak kuasa akan cepat lambatnya sebuah masa

Hari ini, masih berjalan seperti biasanya.
Waktu masih sibuk berjalan kesana kemari, meninggalkan setiap tubuh yang tak siap akan perubahan.
Ada kalanya senja tak akan pernah berhasil memutuskan asa sang awan.
Demikian hal nya dengan jingga yang tak akan pernah menyurutkan tiap mimpi-mimpi masa mudaku.
Kau tahu, bahkan sederet aksara yang kuungkap kali ini pun tak akan pernah sanggup bercerita.

Hari ini, mungkin di sisa hari, sang waktu akan bergerak perlahan melambat.
Saya pun berharap demikian, sesungguhnya masih banyak derap langkah kaki yang harus kutempuh, masih banyak kisah yang akan kuceritakan, masih banyak mimpi yang belum kurajut.
Dapatkah saya membuat perjanjian dengan waktu?
Agar ia tak bergerak, namun semua manusia di bawah kuasanya bisa bergerak bebas.
Bagaimanakah rasanya bebas? Berlari kesana kemari tanpa khawatir terenggut oleh sang waktu.
Bolehkah saya memintanya untuk berhenti, hanya sementara saja.
Kalau kau ingin tahu alasanku, simaklah.

Ada kalanya setiap dari kita ingin diam sejenak, melupakan waktu yang berjalan cepat
Menikmati saat- saat bersama yang terkasih.
Duduk diam, menatap yang dihamparkan di hadapanmu
Ada kalanya kau tak pernah bisa ikhlas menangkap masa-masa yang telah berlalu dengan indah
Terkadang kau hanya ingin mengukir masa kini sama atau bahkan lebih indah dari masa lalu
Yang terpenting, saya tak ingin membiarkan semuanya berlalu begitu saja
Saya ingin mengukir kenangan terindah, menikmati sisa waktu
Saya ingin bersepakat dengan sang waktu
Agar ia dapat berjalan perlahan, membiarkan semuanya berlalu indah
Semoga ia menjadikan hari ini indah, meski bukan ini yang terakhir
Semoga saya belum terlambat untuk meninggalkan senyuman

Terima kasih,
Hormat saya,
Sang penunggu waktu

Wednesday, February 1, 2012

Untuk Yang Kasihnya Tak Berbatas

Surat ke 19 ini kutujukan kepadamu...

Orang yang bangun paling pagi setiap harinya, namun
Orang yang baru akan membiarkan dirinya terlelap paling akhir diantara orang-orang tersayangnya.
Orang yang tak akan pernah menampakkan tangisnya walau masalah dan perih mendera
Orang yang selalu bisa mengontrol amarah dan emosi saat banyak yang menguji sabarnya
Orang yang tak pernah berhenti menceritakan cinta dari hidupnya

Kepada ia yang tak pernah menampakkan letih di wajahnya.
Kepada ia yang selalu memberikan suapan pada terkasihnya langsung dari piringnya.
Kepada ia yang memberikan curahan sayangnya saat yang terkasihnya sakit, dan banyak pinta
Kepada ia yang tak ada protes saat anaknya rewel, hanya mencubit pipi gembil itu dengan mesra
Kepada ia yang seakan tak pernah berpeluh mencari nafkah
Kepada salah seorang wanita pejuang di tengah kerasnya debu ibukota
Kepada ia yang selalu menyebut namaku dalam tiap doa yang dipanjatkannya
Kepada ia yang selalu menomorduakan dirinya setelah yang terkasihnya

Untuk yang rasa kasihnya tak pernah bisa kubalas setimpal
Untuk yang perjuangannya membesarkanku dengan segenap ketangguhannya
Untuk yang mengajarkan segala perkara budi pekerti dan segenap kebaikan hati
Untuk mengajarkan dengan memberikan contoh betapa murninya arti sebuah ketulusan
Untuk yang terkadang lupa kuberi kata cinta setiap pagi ia menyapaku ketika membuka mata
Untuk yang selalu mengingat hari ulang tahun tiap yang terkasihnya

Wahai ia yang menimbulkan kelegaan ketika ia tersenyum, tanda tak ada perkara besar di hari nya
Wahai ia yang membantuku melewati hari-hari yang berat
Wahai ia yang selalu ada di tiap hari istimewaku, membuat semuanya terasa bermakna.
Wahai ia yang saya tahu menyimpan kekhawatiran saat buah hatinya jauh
Wahai ia yang selalu bisa mengirimkan doa dan perhatian melalui panggilan telepon dan pesan singkatnya
Wahai ia yang selalu berhasil membagi waktu antara mengurus keluarga dan bekerja
Wahai ia yang khawatir saat jarak membagi perhatian ia dan sang buah hati
Wahai ia yang memiliki rasa percaya yang begitu besar padaku, namun terkadang sering kusiakan

Kepadamu-lah suratku berlabuh, kepada seseorang yang kupanggil:  MAMA.


Ketika tak ada kata, perhatian, sikap, sayang, dan janji yang lebih tepat dan meyakinkan untuk mengganti seluruh besarnya perjuangan dan kasihmu padaku, yakinlah bahwa aku menyayangimu, sangat menyayangimu.

Salam hangat dari jauh,
ananda, Hanna Siahaan