Dear July, Thank You

hei Juli!
apa kabarnya?
Sudah pertengahan bulan nih, dan nyatanya saya masih bisa tetap berdiri kokoh tanpa jatuh terduduk.
Awalnya saya sempat mengira akan melambaikan bendera putih di bulan Juli.
Terlalu berat untuk dilalui, demikian saya pikir.
Bahkan untuk memasuki Juli saja saya sempat ragu, akankah ada derai tangis yang tumpah karena saya tak sanggup menahan semua masalahnya?
Ternyata tidak.

Juni akhir saya mulai kehilangan tempat berpijak saya. Saya mulai ragu atas segala keputusan- keputusan yang saya ambil. Ini perkara magang saya. Sejauh saya berusaha mulai dari awal tahun 2012, sejak bulan Januari saya bahkan telah memasukkan lamaran ke sebuah instansi, dan baru mendapat hasilnya di Maret, itupun gagal. Kejatuhan pertama saya.
Selanjutnya sampai Juni awal pikiran saya sepenuhnya masih terkonsentrasikan untuk mengurus tugas Event Organizer, yang jujur aja sampai menguras emosi, tenaga, dan pikiran. Jadi otomatis ngga ada lagi hal lain yang bisa saya pikirkan saat itu. Soal magang pun saya masih menomorduakannya, pokoknya tetep mikir EO dulu, gitu pikir saya waktu itu.

Lalu hingga sampai di pertengahan Juni belum ada satu kabar pun dari semua instansi yang saya masukkan surat lamarannya. Saya coba re-call satu persatu tapi hasilnya nihil, semua hanya bisa menjanjikan jawaban dadakan saat mendekati bulan Juli nanti. Ini kejatuhan kedua, saya anggap semua perusahaan itu menolak dengan halus lamaran saya. Maka saya mundur.
Kemudian mendekati akhir Juni, saya mulai memasukkan kembali lamaran magang saya ke tempat- tempat lainnya. Satu instansi aja yang saya fokuskan saat itu, karena itu mimpi saya dari dulu. Kerja di instansi itu yang notabene adalah salah satu grup media besar di Indonesia.Saya bela- belain ke Jakarta, padahal saat itu belum semua urusan saya di Solo kelar.

Bagikan menjemput mimpi, semua persiapan terbaik saya sudah dipersiapkan jauh- jauh hari untuk mengharapkan hasil terbaik untuk test wawancara saat itu. Dan ternyata ini kejatuhan ketiga saya, nggak diterima juga. Alasannya, kuota penuh. Oke, ini saya bener- bener down. Tapi saya tetap belum mau nangis, karena kalau mau dipikir- pikir masih ada beberapa orang teman juga yang belum dapet magang. Kalau cuma mau mikir kegalauan sendiri sih, yang lain apa kabarnya saya juga engga tau.

3 hari menjelang bulan Juli, dengan acaknya saya mulai kirim- kirimin lamaran magang saya ke hampir semua instansi yang bisa ditembusi via e-mail. Bahkan saya ngga ada waktu untuk berpikir, bertanya pada diri saya sendiri: "Apa kamu nantinya bener- bener mau kerja disana?" "Emang kamu yakin disana cocok sama kamu?" "Disana nanti mau kerja apa?"
Semuanya cuma demi 1 jawaban: "Yang penting magang dulu". Ngga magang= ngga dapet nilai. Matilah kan kalau ini sudah menyangkut nilai akademik, wajar aja kalau saya pontang panting.

Dan akhirnya, tangan Tuhan tak pernah terlambat datangnya. Memasuki bulan Juli, setelah masuk- masukin lamaran ke hampir semua media, saya coba masukin lamaran langsung ke sebuah stasiun televisi. Ya langsung dateng aja ke kantornya dan semudah itu, saya langsung magang. Ah deymmm, lutut saya lemes seketika waktu pulang dari kantor itu. Justru di saat seperti inilah saya pengen nangis. Saya tinggalkan semua mimpi dan cita- cita saya untuk sementara waktu. Memang saat itu tinggal selangkah lagi, tapi entah kenapa saya yakin itu bukan jalan yang dipilihkanNya untuk saya saat ini. Mungkin di lain waktu saya bisa menjemput impian saya kembali. Karena di dalam masa- masa terkelam saya di bulan Juni kemarin saya sempat berpikir : "Kalo gue kerja di tempat yang gue pengenin, emang udah jamin disitu bakal seru? Udah yakin banget kalo disana iklim kerjanya asik? Emang disana kerjaannya ngga berat?"

Sulit jalannya untuk saya bisa mendapatkan jawaban: "Magang dimana?", tapi akhirnya jawaban itu saya dapatkan dengan mudahnya setelah berkali- kali jalan ke tempat yang ternyata salah. Dan sejauh ini, saya bahagia- bahagia aja sih di tempat magang saat ini, dan semoga memang akan selalu bahagia- bahagia aja. Saya cuma mengikuti kata hati dan jalan yang sudah ditunjukkan aja sih. Toh pada akhirnya mungkin ngga semua yang kita pengenin itu tercapai, tapi setidaknya saya sudah buktikan yang awalnya kita pengenin itu ngga selalu menjamin kebahagiaan di akhirnya.


Dear July, thank you for all the surprises and the life lessons that you've gave to me. 


Ps: That's all my 1st story 'bout my internship. I'll go to work in the morning tomorrow, so i wanna go bed earlier. :D
i'll write the series next time..


rgrds, HS

Comments

  1. ini next seriesnya pasti tentang cinta lokasi...

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. di...yah-masa-ini-nyebut-merk-sih.. nanti deh pas masuk aku kasih tau :)

      Delete
    2. hahaha oke dah... selamat magang, sukses ya qaqaaaaa :)

      Delete

Post a Comment

Popular