Wednesday, June 13, 2012

Buih di Tepi Pantai

Hai pantai.
Lama tak menjamah buih-buih ombakmu.
Lama tak mendengar suara riak air yang berlomba ke arah kakiku.
Saya masih ingat bertahun lalu pernah mengunjungi pantai, di pulau surga, ya demikian saya menamainya.
Kapan lagi akan kutemui pasir- pasir halus di antara jemari kakiku? Lama tak menjumpai pantai yang belakangan kudengar sudah tak lagi sehening dulu.
Namun sejak beberapa hari lalu ketika saya kembali ke tanah kelahiran ini, kusempatkan untuk mampir menemui angin, senja yang muncul, fajar yang tenggelam, dan juga ombak- ombak kecil yang lincah itu yang terangkai dalam sebuah siluet senja di pantai surga.
Mencoba mencari segala bungkusan kenangan masa kecil yang pernah kusimpan, dan dikuburkan bersama pasir kelabu disini.

Tapi ternyata waktu begitu cepat berlalu, saya tak dapat menemukanmu disana.
Sesederhana itu, sama seperti sederhananya rindu yang selalu kusimpan bertahun- tahun lamanya agar dapat kembali melihat senyum yang dulu belum sempat kulihat.
Mendendangkan lagu yang sering kita senandungkan bersama, dulu.
Adakalanya rindu membawa sendu, tapi tak kuharap itu terjadi saat ini.
Saat dimana hari itu hanya ingin menagih janjimu, satu senyuman untuk semua cerita yang belum sempat kau sampaikan.

Mungkin kamu telah berada disini, pada waktu yang berbeda.
Dengan janji yang tak pernah kita buat dengan eksplisit, saya hanya berharap kalau kelak takdir juga akan membisikkan pertemuan itu saat ini, tapi ternyata belum.
Tidak, saya tidak pernah membungkus ketidaktepatan ini dengan penyesalan atau kekecewaan.
Sederhana, saya ingin membuatnya sederhana. Sesederhana saya ingin menemuimu, sesederhana cara saya merindukanmu yang tanpa alasan.
Dan semoga senja sore hari di pantai ini membawa pesan bagimu, menemukan takdirnya sendiri.

No comments:

Post a Comment