Saturday, February 4, 2012

Langit Penyimpan Memori

Hai langit biru...
sudah puaskah kau mengiring langkahku seharian ini?
Sudah kau lihatkah betapa lebar dan tulusnya senyum yang telah kuberikan padamu.
Terima kasih untuk telah menghiasi pagi ini dengan gumpalan- gumpalan kecil biru pudarmu itu
Kau mungkin tahu apa yang telah kubisikkan pada angin, buncahan dari dalam hatiku

Apa saya salah kalau memang hari ini saya berjuang mati matian memohon agar rintik hujan jangan turun dulu?
Wahai langit, sesungguhnya pada masa ini saya tak suka melihatmu bergumpal tebal dan hitam.
Kemudian perlahan- lahan mulai menitikkan air- air yang membesar, dan kemudian berlarian jatuh ke bumi membasahi siapa saja yang ada di bawahnya.
Saya tak suka hujan, karena untuk kali ini saya ingin bermain- main di tanah lapang.
Saya ingin melepas rindu dengan hamparan sawah- sawah yang menguning.
Kembali mengenang masa kecilku dengan bermain-main layang-layang, membiarkannya diterbangkan anggun oleh sang angin, menjuntaikan ekornya yang panjang dengan centil.
Saya ingin mengabadikan momen, siapa tahu saja masa yang sekarang ini kujalanai tak akan pernah lagi akan kualami kelak.
Saya ingin menghabiskan seluruh sukacita di hari ini.
Ada yang pernah bilang, hiduplah seakan- akan ini adalah hari terakhir kau hidup.
Dan kali ini, meski saya tahu ini adalah masa terakhirku meninggalkan jejak- jejak indah di tempat ini, maka saya ingin sekali melupakan duka, perkara, dan masalah.
Saya hanya ingin berlari, bersikap seakan bumi tak berbatas.
Tertawa lepas seakan besok tak akan ada masalah yang akan menghadang.
Mungkin kelak, saya akan begitu merindukan masa- masa ini
Masa saat kebersamaan dijunjung sebagai yang nomor satu, masa saat diri sendiri tak lebih penting daripada kebahagiaan orang di sekelilingmu, masa dimana kita saling mengulurkan tangan membantu yang lainnya. Masa dimana saat kesusahannya adalah kesusahan kami semua.
Pasti di masa depan kelak, saya akan mengenang saat ini sebagai masa yang paling menyenangkan.
Dimana saya bisa bertindak, bercengkerama, bermain tanpa perlu memperdulikan waktu.
Saat dimana langit tak mengeluarkan mendung, tak juga ber mentari terik tetapi gumpalan awannya seperti bulu domba yang keriting tapi halus seperti kembang gula berwarna biru pudar.

Hai langit, bila di masa depan saya lupa akan semua ini,
Tolong ingatkan saya untuk bisa kembali kesini, menemui mereka semua, menggali lagi kebahagiaan yang sama.
Hai langit, tolong jaga semua ini, karena kelak saya akan mengingatmu sebagai bagian dari salah satu masa terbaik yang pernah saya lalui.

Salam hangat,
-si pengibar layangan-

No comments:

Post a Comment