Surat kepada Tanah Rantau

Dear Solo, kota budaya tempatku bernaung selama hampir 3 tahun ini.
Apa saya sudah bilang kalau saya cinta kamu?
Sumpah, saat ini saya kangen Solo dan pengen buru- buru kembali kesana. Pegang janji saya ya, 2 minggu lagi saya akan kembali kesana.
Luar biasa sekali saat saya bisa tinggal, beradaptasi dan mulai berpikir dewasa disini.

Oh ya, sambil mulai menghitung dengan jari-jari tangan saya ternyata gak kerasa ya kurang lebih seribu hari-an aja gitu . Pertama menginjakkan kaki di bulan Agustus 2009, dan sejak saat itu bermetamorfosa menjadi seorang mahasiswi sejak tanggal 24 Agustus 2009, that was the sweetest moment ;) Mulai dari masih pake rok putih seragam SMA saya ke kampus di hari pertama ospek, sampe akhirnya bisa bener- bener bebas dari label anak SMA itu.

Tiga tahun ini saya belajar banyak loh. Belajar hidup mandiri tepatnya, yang dulunya makanan 3x sehari aja disediain mama, sekarang mesti usaha dulu ya keliling nyari makanan, kadang waktu yang mepet juga bikin makan gak teratur. Awalnya saya benci banget harus stay lama- lama di Solo, pengen rasanya tiap weekend tiba tuh buru- buru ambil kereta dan pulang ke Jakarta abis itu balik lagi hari senin nya. Tapi itu gak mungkin, bisa rontok badan saya kalau bolak balik Solo- Jakarta selama 12 jam.

Bersamaan dengan surat ini, saya mau mengikat perjanjian denganmu wahai Solo. Saya mau mencoba membuat komitmen. Hmmm, baiklah jadi begini, terkait dengan masa studi saya yang saya targetkan hanya 4 tahun ini, maka tahun 2013 kita harus berpisah. Berat sih mungkin nantinya, tapi saya memang harus pergi dari kamu, Solo. Ingatkan saya ya tentang perjanjian ini, pastikan saya tak melanggarnya.

Selama 3 tahun berkelana di jalan-jalanmu, saya pernah mencium perihnya aspalmu, sampai seminggu lebih ga bisa jalan dan motor saya lecet lumayan parah. Pernah juga menggigil kedinginan akibat hawa malammu yang kadangkala dingin menusuk tulang, namun pernah juga bercucuran keringat ketika bangun di pagi hari saking panasnya. Pernah juga berkali- kali merasakan sakitnya demam, gejala tipus, dan penyakit- penyakit rese lainnya serta berjuang sembuh sendiri tanpa keluarga. Tapi, untungnya saya punya temen-temen yang luar biasa, yang selalu bersedia menemani, menghibur, membantu saya waktu itu.

Saya rasa gak salah waktu mama mengarahkan jarinya, memilihkan saya universitas di Solo. Rencana Tuhan memang indah dan tak terduga ya. Solo jauh lebih santai dan tenang dibanding Jakarta, dan anti macet pastinya. Dan saya jadi tahu bahwa saya datang ke Solo untuk menemukan sebuah kota yang damai dan tenang, jauh dari ingar bingarnya ibukota yang selama 17 tahun ini saya diami. Meskipun pada awalnya saya harus repot banget mulai belajar bahasa Jawa dari nol, tapi...Terima kasih ya Solo untuk kenangan- kenangan manisnya, untuk kisah inspiratifnya, untuk senyuman ramah orang- orangnya, untuk teman- teman yang menjadi keluarga kedua saya, untuk pelajaran hidup, untuk batik indahnya yang tenar sekali dan untuk nasi liwetnya yang saya suka.

Solo, saya kangen deh menikmati senja di langitmu, saya rindu sapaan angin malammu di wajahku, saya ingin (lagi) menikmati dinginnya pagi hari, saya rindu saat-saat sibuknya mengatur tugas disimak oleh teriknya panas mataharimu.

Dua minggu lagi kita ketemu ya.
Jangan telat, jangan hujan please.


Penghuni mu sementara waktu, penggemar mu, penduduk maya mu yang tak terekam dalam sensus,
HS

Comments

Popular