Page 18 of 366

Hai yang disana,
Langit sore ini membawa lamunanku kepadamu.
Saya mencoba menepis semua suramnya gelap di langit kota ini.
Kamu, masih kah kamu ingat waktu beberapa tahun silam saat kita duduk di sudut kota,
Bercerita bertukar mimpi, berjanji mewujudkannya untuk beberapa waktu ke depan.
Menganggukkan kepala bersama, bersalaman dan terjadilah kesepakatan besar kita.

Tapi tahukah kamu bahwa setiap sudut kota ini menyudutkan saya.
Membawa saya kembali lagi untuk mengingatmu.

Hai yang disana,
Hujan akhirnya turun juga loh disini.
Saya memang tak suka hujan, saya benci hujan.
Tapi kali ini hujan membuat senyuman, mengiringmu kembali ke ingatanku.
Langkah- langkah kecilmu berlari mencipratkan genangan air hujan membasahi sepatumu, seulas senyum terpancar di wajahmu, nakal sekali sengaja membuat air kotor itu hinggap di baju kawanmu.
Pernahkah saya bilang bahwa saya suka senyummu? Ya senyum jahilmu, tak pernah bisa saya lupakan bahkan hingga hari ini.

Hai yang disana,
Hari ini persis sekali gelap pekat di sore hari seperti waktu itu.
Hujan yang turun masih sekedar rintik-rintik.
Saya masih bingung bagaimana akhirnya hujan hari ini bisa saya nikmati, basah dingin gelap semuanya bikin bete, tapi mendengar alunan rintik hujan, memandangnya dari jendela kamar itu justru kenikmatan tersendiri.
Tentu saja, fotomu mengiringi lamunan sore ini.
Aaahh indah sekali loh hujan itu ternyata, tapi lebih indah lagi kalo hari ini sama seperti dulu.
Ada hujan, langit, atap sekolah, kamu, dan candaan itu.

Hai yang disana,
Apa kabarnya?
Salam rindu untukmu kawan!

Hanna Siahaan

Comments

Popular