Di Batas Senja

Hai langit sore kesayangan,
Surat cinta hari ke 12 ini kutujukan padamu, partner terbaikku saat memenuhi rasa keingintahuanku.
Semburat senja di wajahmu menampakkan sejuta kilau dan harapan.
Redupnya sang mentari bahkan tak berhasil menyurutkan semangatku sore ini.
Senja, tolong simpan dulu bulir- bulir air calon hujan itu dibalik awan jinggamu, saya masih ingin mengikutinya.
Saya masih ingin tahu dimana tempat tinggalnya :)

Saya tak pernah bisa mengingat wajahnya dengan baik, tapi terlalu hafal caranya mengedipkan mata, caranya tersenyum, gelak tawanya yang renyah, dan gaya berjalannya saat menghampiriku, yang saat itu tentu saja sibuk mencari objek lain untuk (pura-pura) dilihat.
Barisan alisnya yang tebal bahkan kerap menghiasi angan siangku.
Senja kali ini, entah kesekian kalinya di kota Solo ini yang dapat saya nikmati bersama secangkir kopi hitam, kembali menyeret saya duduk di sudut kota ini menyimak gelak tawanya dari jauh.
Bersama kopi yang pahit kental dan ada sedikit percikan manis didalamnya, persis seperti kisah cinta pertama si dua insan itu.

Langit senja di Solo,
Ssstt, jangan pernah beritahu dia ya kalau saya menyimpan lebih dari kagum padanya.
Saya menyimpan banyak perhatian untuknya yang selalu membisu di dalam diamnya.
Langit malam pun menjadi sepele rasanya untuk melewatkan seseorang seperti dia.
Bilang padanya: Saya rindu dia, setiap matahari mulai terbenam.
Kalau rembulan tiba, paksa dia untuk membalas surat cintaku ini ya, Senja.

Salam,
Sahabat terbaik kesayanganmu.

Ps: untuk kamu yang pernah menagih barisan kata indah dariku, kubayar lunas hutangku ya. Balas rinduku!

Comments

Popular