Wednesday, December 12, 2012

12.12.12

apa yang terlewatkan hari ini?
saya melewatkan (mungkin) sebuah kisah yang indah
atau bisa saja ada kicauan burung yang bersahutan indah dipagi ini tapi tak kudengar
tapi nyatanya semuanya berjalan biasa saja
biasa, tanpa ada apa- apa
semuanya rutin, semuanya layak terjadi dan menjadi peristiwa sehari- hari

Saturday, December 1, 2012

A (NOT) HAPPY ENDING STORY

Jadi tadi baru aja nonton film di laptop, judulnya You Are The Apple of My Eye.


Film drama mandarin. Jadi disini ceritanya ada dua tokoh sentral, yang laki- laki namanya Ko Ching Teng, dan si perempuan namanya Shen Cia Yi.

Thursday, November 29, 2012

Apa Lagi yang Kurang?

Banyak. Itu jawabannya.

Tapi sebelumnya yang saya tahu, saya punya banyak keberuntungan yang terjadi dalam hidup saya.
Apa lagi yang kurang?

Negeri Impian

Negeri seperti apa yang pernah ada di anganmu?
Kujawab pertanyaan belasan tahun lalu itu melalui serangkaian kalimatku berikut.

Thursday, November 15, 2012

Mantra dalam Aksara


Tulisan.
Suatu ketika ada kenikmatan menciptakan tokoh yang nyata dari imajinasi.
Bagaikan baru dilepas dari sangkarnya, ia pun terbang bebas.
Tulisanku lari tak terkendali, melepaskan hasrat terbuasnya.
Meneriakkan raungan impiannya pada setiap orang yang berhenti sejenak padanya.

Monday, November 12, 2012

My Christmas 2012 Wishlist

It’s about six weeks to go o Christmas. I feel exciing for that day that will come sooner, or if it’s not come sooner i hope the six weeks must be great to past with. I just can’t imagine how i spend this Christmas, because i’m not sure that i can come home for this Christmas. So, here i am with my ultimate wishes:

Saturday, November 10, 2012

Tetaplah Menulis

Solo, 14:43

Hal apa yang biasanya kamu lakukan kalau kamu terserang writer's block?
Tiba- tiba got stuck dan nggak bisa nulis apa- apa. Kata- kata yang bakal kamu ketik seakan menguap begitu saja tanpa bisa mengalir dengan lancar di jari-jarimu.
Lantas apa yang biasanya kamu lakukan?

Yang Tersisa


Ada banyak hal yang tersisa dari sebuah perjalanan. Perjalanan saya di awal bulan Oktober kemarin adalah pengalaman perdana saya bertualang terjauh selama ini.

Menyenangkan. Baru. Berkesan.

Saturday, October 27, 2012

Hari Blogger Nasional

Selamat Hari Blogger Nasional !

Entah kenapa hari ini rasanya kok dosa banget gitu yah kalo saya ga turut merayakan Hari Blogger Nasional ini. Hashtag #HariBloggerNasional udah bertebaran banget di timeline saya dari subuh tadi. Dan akhirnya saya putuskan turut merayakan hari ulang tahunnya Blogger Indonesia ini dengan cara bikin posting baru.

Iya memang sudah beberapa minggu ini saya absen nulis blog lagi. Tapi yang pasti saya nggak mau membiarkan blog saya mati suri kayak beberapa tahun silam. Oh iya saya sebelumnya mau cerita dulu nih tentang blog pribadi saya ini. Umurnya udah lebih dari 5 tahun, atau ya kurang lebih segitu lah. Tapi kalo dilihat rekap tulisannya saya mulai aktif nge blog 2 tahun terakhir.

Why do you blogging? 
Because i love to write. 
Why do you write? 
I write because need to say something in the other way. 

Ya sesimpel itu aja. Tapi perkaranya menghasilkan tulisan secara konsisten itu nggak mudah. Menghasilkan identitas posting blog yang khas ‘gue-banget’ itu juga nggak mudah. Dan akhirnya selama perjalanan sekian tahun saya nge blog, saya mulai belajar banyak dari blogger di sekitar saya.

Sejak tahun lalu saya mulai menjalankan blog- walking. Ga banyak, ga kemana- mana Cuma pengen mencari ‘rasa baru’. Saya keliling diantara blog teman- teman saya atau siapa saja yang sekiranya saya kenal. Saya mulai belajar banyak tentang identitas yang ada di bahasa masing- masing blog mereka. Belajar tentnag bagaimana mereka mengorganisir blog mereka, kontennya, keseragaman tema, atau layout blog yang detail atau khas, juga tentang ‘feel’ yang mereka tuangkan dalam tulisan- tulisan mereka. Ada beberapa hal yang kemudian saya adopsi, saya terapkan pada proses blogging saya. Sejujurnya, memberi rasa pada tulisan itu tak mudah. Traffic pada blog, tak semata menunjukkan semakin banyak pengunjung blog anda maka tandanya tulisan anda sudah begitu memberi makna bagi orang lain. Sulit bagi saya untuk bisa memberikan sepenuhnya rasa dan hari di tulisan saya, bahkan hingga saat ini saya masih mencoba untuk bisa jujur pada tulisan- tulisan saya.

Hal apa yang bisa membuat saya terlihat berhasil dalam membuat posting? Ketika ada teman atau siapapun itu yang tidak saya kenal sekalipun dan ketika mereka baca tulisan saya mereka merasa tulisan itu adalah tentang saya. Padahal, tak semua apa yang saya tulis itu adalah pengalaman pribadi. Banyak orang yang turut campur memberikan kisahnya untuk bisa menjadi inspirasi di postingan blog saya.

Masalah konsistensi menulis. Saya mencoba konsisten dalam menggunakan diksi dan gaya bahasa yang sama. Untuk soal waktu penulisan, biasanya saya ingin ada setidaknya 4 tulisan dalam setiap bulannya, tapi terkadang saya juga bisa mangkir. Maklum, banyak kesibukan ala mahasiswa yang begitu menyita perhatian saya.

Dan pada akhirnya, setelah saya rajin berkunjung ke blog orang- orang di sekeliling saya, saya menemukan kenikmatan tersendiri ketika mengutak- atik blog orang lain. Melihat detil tulisannnya dengan seksama. Menebak- nebak apa yang sedang dirasakan dan apa yang hendak disampaikan oleh si blogger.
Oh iya, terkadang komentar dari pengunjung blog itu bisa dirasa penting loh, buat evaluasi atau sekedar komentar aja biar tahu kalau postingan blog kita itu ada penikmatnya.

Well, kalau buat saya sih menulis itu keren. Penulis itu kece! Jadi kadang kalo buka twitter orang trus liat ada link blog nya pasti saya kunjungin. Hal yang paling mendebarkan adalah ketika buka link- link blog mereka yang dikenal itu trus nemuin kalo ternyata tulisan mereka itu keren to the max! The guy who can write from the heart is the one who has the world. Ya naksir aja sih sama orang- orang yang terlihat diluarnya itu asal- asalan tapi tulisannya, WOW banget. Mereka bisa bercerita runtut, dan jujur. Dan kejujuran itu mahal harganya dalam sebuah tulisan. Terkadang ada kalanya saya bisa dengan mudahnya jatuh cinta pada tulisan- tulisan seseorang.

So, keep writing. Keep blogging, dear you bloggers. Happy Indonesian bloggers day!

Thursday, September 13, 2012

Musim Dingin Kedua

Ajari aku ’tuk bisa
Menjadi yang engkau cinta
Agar ku bisa memiliki rasa
Yang luar biasa untukku dan untukmu


Ku harap engkau mengerti
Akan semua yang ku pinta
Karena kau cahaya hidupku, malamku
‘tuk terangi jalan ku yang berliku
Hanya engkau yang bisa
Hanya engkau yang tahu
Hanya engkau yang mengerti, semua inginku

Mungkinkah semua akan terjadi pada diriku
Hanya engkau yang tahu
Ajari aku ’tuk bisa mencintaimu 


Mungkin hari ini semua akan terjadi.
Hari ini saya kembali menghadapi musim dingin yang sama.
Ah ya, semuanya sama dari sejak pertemuan pertama.

Mungkin kamu masih belum bisa mengerti banyak hal yang terjadi selama ini.
Banyak yang terjadi tanpa bisa kau mengerti mengapa semuanya berlalu begitu cepat.
Tapi, tunggulah kedatangannya, kelak ia takkan pernah ingkar janji lagi.

Kenapa kau harus berhenti tuk bisa mengajari tentang arti cinta
Betapa kasih yang mendasari semuanya itu.
Namun, kau masih saja diam di tempatmu, bisu, dan mengelak untuk menjelaskannya padaku.
"Ajari aku makna cinta", pintaku. Tapi kau kemudian berlalu, mencari jawabannya entah kemana.
Katamu, kau akan berguru hingga ke ujung dunia, dan ke tempat yang bahkan tak kau tahu arahnya.
"Tunggu aku, kelak aku akan menemukan jawaban terbaik bagi pertanyaan singkatmu", janjimu.

Sejauh apa sudah pencarianmu?
Ini sudah musim dingin yang kedua.
Sudah berapa waktu yang kau habiskan dalam pengembaraanmu?
Sudah berapa banyak jawaban yang kau peroleh?
Akankah semua jawaban itu cukup? Entahlah saya pun tak pernah tahu.
Entah betapa sukar sebuah kasih yang bisa dibalut bermacam rasa itu untuk dijabarkan, diajarkan maknanya.
Tapi kemudian kau menyanggahnya, katamu kau tak perlu rangkaian kata untuk mendeskripsikan cinta, maupun kasih.
Katamu kau tahu jawabannya, katamu kau sudah mendapatkan jawabannya setelah musim dingin kedua ini.
Namun, kau belum sempat bergegas menemuiku untuk memberitahuku dan mengajarkanmu artinya. 
Ajari aku semuanya, kataku.
Dan akhirnya kau menutup pertanyaanku, katamu, "Mari kutunjukkan apa itu kasih dan cinta melalui hidupku" ujarmu, sembari mengulurkan tangan.
Saya tersenyum, rupanya kau belum dapat menemukan kalimat yang pas.
Kau jawab senyumku, "Maaf jawabanku tak bisa terangkai dalam kata, kasih dan cinta adalah bagaimana cara bersikap" ujarmu mantap.
Dan kita melangkah bersama.

Inspired by: Adrian Martadinata's Song- Ajari Aku

-HS-

Friday, September 7, 2012

stupid conversation

our small, stupid conversation
mean more to me than you'll ever know.

di sebuah sudut kota Jakarta, 3:13
hari ini sudah resmi hari jumat. banyak hal yang harusnya kulakukan nanti pagi.
namun saya pada akhirnya tak bisa terlelap seperti biasanya, mungkin efek kopi tadi sore.
tapi seberapa lah memang artinya kopi itu, sepertinya faktor lain pun turut membuatku terjaga.
rindu.
ya, karena rindu.
saya tak bisa menghitung dengan cermat sudah berapa waktu yang telah terlalui, pokoknya saya rindu.
saya lupa kapan terakhir kali kita bertemu. tapi saya ingat, kamu bilang waktu itu kamu akan segera kembali, sesegera mungkin.

rindu membuatku kembali teringat sudah berapa ratus percakapan- percakapan kecil sepele yang telah kita lalui?
sudah berapa banyak hari terlewati, menunggu saat yang tepat untuk saling menemui?
percakapan percakapan intelek itu katamu selalu menyenangkan, tak pernah seakan menggurui

saya menunggumu.
karena rindu begitu menggebu.
mungkin waktu membuat kita tersipu.
tapi, merindumu tidak akan pernah tabu.
karena kelak saya tahu rindu menjadi abu.
saat saya, dan kamu, melepas rindu, bertemu.

kembali cepat, jangan biarkan esok menunggu.

-HS-


Ps: duh gue butuh tidur sebenernya, tapi gue terlalu grogi buat besok karena banyak hal yg harus dilakukan. alhasil, gue buka lagi laptop dan menghasilkan tulisan ini. semoga aja begitu gue post tulisan ini, langsung dapet niat yg kuat buat bisa ngantuk lagi. :D

Thursday, September 6, 2012

The Distance


DEAR GOD- AVENGED SEVENFOLD

....
Miles away from those i love
Purpose hard to find
While i recall all the words you spoke to me
Can’t help but wish that i was there
Back where i’d love to be

Kamu mungkin belum tahu banyak hal selama ini. Bahkan beberapa hal yang akan kuceritakan kali ini. 
Mungkin terkadang kita terlalu letih untuk meniadakan jurang pemisah yang ada.
Kalau kamu mau bertanya, 'Kenapa?'
Akan kujawab, "Sementara ini dan entah sampai kapan, dari awal kita kan memang harus berjuang, sendiri- sendiri, terpisah satu dengan lainnya"
Dan malam ini disana, mungkin kamu sedang berpikir dengan kerasnya, mencoba berkonsentrasi untuk bisa kembali kesini bersamaku, meniadakan jarak untuk sementara waktu.
Ah seandainya, saya bisa ada bersamamu setiap waktunya dulu tentu tak perlu ada kopi dan cemilan keripik kentang yang ada di meja belajarmu dari dulu, saya akan menjadi teman pengusir bosan terbaikmu.
Ya seandainya bisa, kamu tak perlu lagi menyalakan alarm mickey mouse mu setiap satu jam sekali untuk memastikanmu tak jatuh terlelap, saya akan selalu mengingatkanmu, kalau bisa.
Ya itu seandainya, namun nyatanya saya masih disini, sedang menuju alam mimpiku, berdoa untukmu yang terpisah sekian satuan jarak.

Dear God the only thing i ask of you
Is to hold him when i’m not around
When i’m much too far away
We all need that person who can be true to you

Terkadang saya pun benci keadaan ini.
Seakan kita terpisah, jauh. Nihil tanpa keadaan satu dengan yang lainnya.
Namun pada kenyataannya kita kan memang terpisah, takkan kubantah hal itu.
Tapi kamu pasti akan menyanggahnya. Katamu, "Ah nyatanya kalau terpisah kita bisa saling melengkapi selama ini."
Mungkin kamu lupa, kalau diumpamakan kopi-susu, seperti minuman favoritmu, mereka tak akan bisa jadi 'kopi susu' jika tak berada dalam gelas yang sama.
Bahkan kita, tak hanya dalam gelas yang berbeda, disajikan pula dalam nampan yang berbeda.
Tapi tetap, gelas itu kopi dan satunya susu, bukan kopi- susu.
Terlalu jauh tapi buktinya kita bisa melangkah jauh sampai saat ini. 
Ah seandainya kau berada disampingku saat ini kan kubagi dukaku juga kuceritakan sukaku padamu.
Ya itu seandainya, nyatanya saat ini saya hanya bisa mengetahui kabarmu saja, setidaknya kau masih baik-baik saja disana.

And now i wish i’d stayed
Cause i’m lonely and i’m tired
I’m missing you again
Can’t help but think of the times i’ve had with you
Pictures and some memories will have to help me through

Memang banyak hal yang dapat membuatku setengah mati membutuhkan kehadiranmu. Namun tak bisa kupaksakan ketika begitu banyak halangan untuk bertemu.
Sekali lagi, jarak membuat kita bertekuk lutut.
Ah seandainya tak terlalu banyak kenangan tentangmu yang tertinggal bersamaku saat ini, mungkin saya bisa menjalani hari seperti biasa, berpura- pura tak membutuhkanmu lagi.
Ya itu seandainya, nyatanya foto dan semua hadiah darimu masih kupajang untuk sewaktu- waktu kuamati, kuanggap sebagai pengganti dirimu.

Some search, never finding a way
Before long, they waste away
I found you, something told me to stay
I gave in, to selfish way
And how i miss someone to hold
When hope begins to fade

Ah sudahlah buat apa menyesali jarak, menghitung waktu, semua tak ada guna. Hari ini saya akan berkemas, mengenakan pakaian terbaikku untuk berjumpa denganmu.
Mungkin kamu masih ingat, waktu terakhir kita bertemu, ya pakaian yang sama dengan saat itu.
Sudah ingat?

Saat dimana saya malah tak dapat anggun dengan pakaian ini, berlari- lari mengejar bayangmu kala itu.
Dengan wajah yang sudah panik. Ah aneh sekali pasti ekspresiku saat itu. Bagaimana tidak, beberapa menit sebelumnya nomormu menelpon, kamu dirawat di rumah sakit. 
Bahkan saat kutemui, kau cuma berpura- pura baik- baik saja seperti biasanya.
Tapi sepuluh menit kemudian, kamu bilang "Aku sudah tak mampu lagi. Kita akan terpisah jarak mulai saat ini. Kau harus bersiap". 
Tangisku semakin menderu, dadaku berdegup kencang ketika tak dapat lagi menemukan denyut nadi di tanganmu yang kugenggam.
Perlahan tanganmu mulai dingin, tak lagi menyisakan kehangatan seperti genggamanmu yang biasanya.
Harus sirnakah semua harapan dan cinta itu hanya karena jarak seperti ini? Entahlah.
Sampai jumpa lagi nanti ya, sebentar lagi saya akan singgah ke rumahmu. Rumah abadimu.

gambar diambil dari sini


-HS-

Tuesday, September 4, 2012

Pintu yang (Tak Lagi) Tertutup

Dulu, dulu sekali pernah kusimpan sebuah ikrar yang telah kutautkan di dalam hati. Pernah berjanji tak akan pernah lagi mengubah kelabu menjadi warna malu-malu si merah jambu. 
Apalah arti kisah cinta, pikirku saat itu.
Yang kutahu hanya duka dan kelam.
Ah sudahlah, pikirku saat itu, mungkin seharusnya memang mendung akan datang, dan kemudian gelap mulai mencekam. Kemudian kuberjanji untuk menutup kisah itu, takkan lagi membukanya bahkan untuk kisah lainnya.
Enggan membuka jendela karena sepertinya badai akan datang menghadang.
Bayang masa lalu seakan mengikat erat kebahagiaanku di masa depan.

Ku berjanji tuk menutup pintu hatiku
Entah untuk siapapun itu
Semakin ku lihat masa lalu
Semakin hatiku tak menentu

Mungkin saya lupa tak selamanya lembah kekelaman akan menjadi sumber duka yang mendalam. Dan kemudian semuanya berubah. Mendadak. Serba tiba- tiba. 

Dan kau hadir merubah segalanya
Menjadi le
bih indah

Mulailah muncul awan berarak, di langit biru yang selama ini begitu gelap dan suram. Mulai menumbuhkan setiap jenis bunga indah yang tak sungkan menari bergoyang kesana kemari dilambaikan oleh lembutnya angin di padang bunga itu.
Bahkan semburat warna yang dipancarkan dari indahnya mata itu pun tak hanya sekedar warna merah jambu yang indah, yang dahulu pernah kutemukan meredup di pancaran mata yang lain. Ia memancarkan lebih banyak lagi warna-warni. Menyemarakkan hari-hariku dengan kilauannya. Dengan setiap senyuman yang ada ia mulai mengembangkan kisah baru. Meninggalkan jejak- jejak yang berbekas indah di senyumku.

Kau bawa cintaku setinggi angkasa
Membuatku merasa sempurna
Dan membuatku utuh tuk menjalani hidup
Berdua denganmu selama-lamanya
Kaulah yang terbaik untukku

Hingga akhirnya saya yakin, takkan ada yang lebih baik daripada cerita kali ini. Takkan pernah ada yang bisa mengubah keputusanku, demikian pula ketika saya sudah mulai menyerah.
Namun saat itu ada sosok yang datang, mengubahnya.
Namun sosok itu tak sekedar mengubah, namun memperbaiki.
Namun ia mengubah keadaan terburuk menjadi keadaan yang tak pernah terbayangkan keindahannya sebelumnya.
Namun ia bahkan mengajakku untuk menulis cerita yang sama.
Dan kali ini saya begitu yakin, apalah dayaku menjalin kalimat- kalimat indah jika tak ada inspirasi terdalam itu, karena ternyata semuanya kuperoleh dari senyum di wajahmu.

Kini ku ingin hentikan waktu
Bila kau berada di dekatku

Mungkin iya benar, waktu tak boleh berjalan sama sekali saat kita dipertemukan olehnya. Sang waktu harusnya paham ketika ia sudah menyatukan dua insan, biarlah mereka yang mengatur waktu bagi mereka sendiri. Ah iya, itu seandainya bisa.
Tapi tak masalah, selama masih ada sang inspirasi itu di sekitarku. 

Kaulah yang terbaik untukku
Ku percayakan seluruh hatiku padamu

Dan kini saya percaya hanya padanyalah dapat kutitipkan segala kisah ini, beserta hatiku. Kelak mungkin ini akan berlanjut tanpa pernah kita tahu akhirnya.
Terima kasih karena kau telah menemukan cerita ini.
Terima kasih karena waktu yang kulalui kini bahkan tak terasa perputarannya jika kau ada disini.
Dan kau hadir merubah segalanya, menjadi lebih indah.....


inspired by Adera's song: Lebih Indah.
-Hanna Siahaan-

Saturday, September 1, 2012

Sunyi Menggema

"Miss You Like Crazy- The Moffats"

I used to call you my girl
I used to call you my friend
I used to call you the love
The love that I never had
When I think of you
I don't know what to do
When will I see you again

I miss you like crazy
Even more than words can say
I miss you like crazy
Every minute of every day
Girl I'm so down when your love's not around
I miss you, miss you, miss you
I miss you like crazy
You are all that I want
You are all that I need
Can't you see how I feel
Can't you see that my pain's so real
When I think of you
I don't know what to do
When will I see you again 




Dan beginilah kisah ini dimulai...

Ketika waktu tak lagi terasa berjalan, lambat, hampa, dan seakan hanya berbentuk ruangan kosong belaka.
Saat tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, dan saya mulai meragu entah kapan waktu kembali mempertemukan kita.
Bagaimana perkara merindukan seseorang berubah menjadi cerita paling abstrak?
Lebih dari segala kata2 yang pernah kuketahui sejak dari awal belajar mengeja, inilah yang tak dapat kugambarkan.
Bahkan ketika waktu tak dapat kutemui kemana akhirnya ia bermuara, biarkan saja akhirnya kau yang berbicara.
Dalam diam, dalam jarak yang tercipta, seharusnya masih ada hening yang bercerita.
Dan dengan heningnya segala kerinduan yang tercekat di lidah, saya menikmati setiap waktu yang mengalir.

Rindu itu tetap ada, entah berapapun jaraknya, tak peduli walau waktu hanya memisahkan dalam sekian kedip saja.
Setiap kali kita bertemu, di akhir waktu saya merindukanmu.
Dan berharap akan segera ada jawaban kapan waktu akan mempertemukan kembali.
Saya merindukanmu bahkan ketika saat kau baru saja bergegas beranjak dari sisiku.
Ketika rindu itu datang menyergap, tak pernah ada yang lebih hening daripada puncak malam-malam tergelap setiap harinya.

Tak pernah ada yang lebih indah daripada saat-saat bayanganmu mengantar impian tidurku.
Tapi terkadang rindu itu begitu mengiris, membekas perih saat tak mungkin untuk bertemu. Kemudian timbullah pertanyaan, adakah yang bisa mengobati rindu daripada sekedar bertemu?
Entahlah, belum pernah ada yang menjawabnya.
Bilamana pula saat dirimu dihadapanku tak akan pernah rela menghabiskan waktu yang ada untuk sekedar berbasa-basi. Tak ada waktu! Waktu terlalu singkat untuk itu.
Biarkan saja waktu yang singkat itu habis hanya untuk melihatmu, mendengar suara alam di sekeliling kita, membiarkan luruhnya semua rasa rindu yang selalu tersimpan setiap harinya untuk kemudian dicurahkan lagi esoknya.

Begitulah waktu, berputar namun selalu terjadi hal yang sama, selalu ada rindu.
Atau mungkinkah ada cara yang terbaik untuk meniadakan rindu adalah untuk tetap tinggal. Bertahan disini, disisiku. Mungkinkah?

Sunday, August 19, 2012

Merdeka Itu Pernah Ada

Malam ini saya telah menggenggam rapi kotak yang saat ini tengah kupandang- pandangi.
Ringan sederhana namun manis. Iya, saya menghiasnya sebegitu rupa, namun tidak terlalu berlebih.
Mempersiapkan kemungkinan bahwa esok hari adalah saat yang tepat untuk memberinya.
Kubungkus indah dengan pita merah jambu, sudah demikian rupawan rasanya.

Diatas segala kemenangan yang sudah seharusnya kita raih sendiri- sendiri.
Masihkah penting segala pertemuan yang telah kita janjikan di garis akhir kelak?

Dan kotak berbungkus kertas berwarna biru muda dengan pita merah jambu yang manis ini hanya kumpulan dari apa yang terbuang.
Kumpulan dari harapan yang pernah ditulis, namun sekarang hanya tersimpan rapi dan kembali saya ikatkan jadi satu, kembali merepresentasikan kehadirannya dalam kotak biru muda ini.

Ah..
Sampai kapan kamu bisa memerdekakan dirimu sendiri?
Kebebasan tak semata hanya milik mereka yang terkungkung akibat perilaku sesamanya, tak hanya mereka yang terbatas hak nya.
Masing- masing dari kita pun rasanya sudah harus mencoba untuk merdeka dengan caranya sendiri.

Ini saya bungkus rapi kenanganmu.
Saya serahkan besok beserta ucapan maaf saya.
Maaf lahir batin ya, untuk semuanya.
Sama seperti hujan yang menyapu duka di tanah merah, semoga semuanya kembali bersih, kembali putih.
Maaf ya untuk semua yang pernah terjadi semuanya sudah terbungkus rapi di kotak biru muda ini.
Bukalah ketika kau merasa masa depan tak lagi menjanjikan harapan yang nyata.
Teruslah bermimpi wahai yang terkekang masa lalu, segeralah merdeka.



Ps: tulisan ini ada dan kutulis dalam rangka 17an dan hari Lebaran. Semoga indah! :)


-HS-

picture has taken from here

Wednesday, July 25, 2012

Sekilas Sapa

selamat malam..
hai sekian kilometer dari sini.
saya tau kita berada di bawah naungan langit malam yang sama.
hanya berbeda di derajat geografis yang berbeda sedikit saja.
berapa jauh ya jarak dari tempatku kesana? ah tentu tak memakan banyak waktu, tapi cukup menghasilkan rindu.

apa kabarmu? mungkin sedang terlelap indah dalam istirahat malam ini.
tapi mungkin juga kalau kamu malam ini sedang merenung di pojok kota ini.
hafal dengan kebiasaan lamamu? tentu, saya terlalu mengenalmu, dulu.

masih bertatap dengan mata yang sama, matamu.
masih mendengar renyah tawa yang sama, tawamu.
masih melihat senyum yang sama, senyummu.
masih mendapat kata- kata indah yang sama, karyamu.
masih bertemu dengan orang yang sama, kamu.
masih punya cerita sama yang selalu diulang- ulang tiap kita bertemu dan ingat dulu.
semuanya sekilas nampak sama, tak ada yang berubah. tapi rupanya waktu telah membawa banyak hal yang sebenarnya berbeda.

Kamu itu kayak Jakarta, gampang banget berubahnya...berubah tapi sebenernya nggak berubah (-Hari Untuk Amanda film-)
untuk renunganmu malam ini, tepat di penghujung hari,
bawa pulang rindumu, simpan selalu dan kemudian bawalah tiap saat kita bertemu.

goodnight, you.
HS

Kembali Ke Jakarta

Hampir genap sebulan menapakkan kaki di ibukota.
Kembali sejenak ke rumah, dan kemudian mulai membiasakan diri lagi untuk bisa hidup di Jakarta, kota yang pernah saya tinggalkan setidaknya untuk waktu 3 tahun.
Meskipun tak benar- benar dalam periode 3 tahun itu saya meninggalkan ibukota sepenuhnya.

3 tahun apa yang berubah? Banyak!
Jakarta terus berubah, terlalu banyak perubahan yang akan terdaftar jika saya sebutkan satu persatu.
Gedung- gedungnya bertambah, pembangunan selalu terjadi disana- sini.
Watak kota pun turut berubah, macet makin menjadi. Terkadang hingga jam 9 malam masih banyak orang yang masih terjebak dalam riuh macetnya ibukota.
Dulu, sudah macet memang tapi tak separah ini. Kali ini sudah keterlaluan, tapi saya harus tetap bertahan.

Gemerlap lampu- lampunya semakin berbeda dengan apa yang pernah saya kenal.
Sekarang tiap lampu yang ada di taman kotanya selalu menimbulkan inspirasi mendalam di pikiran saya.
Seakan tak ingin melepaskan saya dalam ketergesaan untuk kembali ke rumah.
Mungkin karena sekarang saya pulang terlalu larut malam hampir setiap harinya, hingga menemukan hal- hal kecil yang dulu belum pernah kulihat atau kualami.
Terkadang karena tingkat kejahatan yang makin meninggi di negeri ini, apalagi ketika malam semakin pekat, saya juga tak terlalu lama terbuai dengan keindahan lampu- lampu kota karena khawatir akan sisi lain kriminalitas yang makin menjadi.

Warga di ibukota pun berubah. Sejak kapan ada masker dan headset yang mulai akrab mereka kenakan saat ada di kendaraan umum?
Sejak kapan apatisme berlebihan mereka meningkat ketika tiba- tiba ada yang bertanya jalan namun malah mengarahkan pandangan dinginnya?
Namun tak selamanya seburuk itu. Pernah sekali dua kali, dari sejak kebiasaan ku menumpang di transjakarta, ada beberapa orang yang menawariku tempat duduk. Yang karena rasa ibanya melihatku terkadang harus beradu cepat dengan pria-pria lain untuk dapat masuk ke dalam bus, namun di dalam bus malah tergencet. Apesnya tak kebagian tempat duduk di area khusus wanita.

Teriknya Jakarta juga sudah berbeda dengan apa ang pernah akrab menyentuh kulitku semasa sekolah dulu. Entah perasaanku saja atau memang nyatanya seperti itu namun terasa lebih panas dibanding bertahun silam. Saya tak lagi terbiasa berada di luar ruangan pada siang hari dalam waktu yang lama.

Oh iya, busway juga kini tak lagi menjadi sarana transportasi yang nyaman. Bagiku, busway sekarang sudah digunakan oleh mayoritas penduduk Jakarta, sehingga seringkali penuh sesak di dalamnya. Dulu sih kalo jaman- jamannya SMP sama SMA masih berasa banget kan eksklusifitasnya, Ac nya masih bikin adem hati. Tapi sekarang- sekarang ini, jangan harap deh. Terkadang kalo dapetnya bukan busway yang baru dan bagus yang ada malah keringetan di dalam busway. It feels like you're in a kopaja. (--,)
Tapi ya tetap aja sampai hari ini busway masih menjadi moda transportasi andalan saya, dan selalu sih saya berharap akan ada peremajaan busway yang masih bertahan dari angkatan pertama.

Selain itu saya juga merasa ibukota dan segala isinya telah bergerak jauh meninggalkan saya. Kembali ke rumah, kembali ke ibukota bagi saya ada sebuah proses adaptasi yang tidak sebentar. Pola ritme hidup yang terbiasa santai dan kini saya malah merasa seperti orang asing. Harus terbiasa bertindak cepat. Kembali harus membiaakan diri bangun lebih pagi lagi, atau harus mengucapkan selamat tinggal pada jalanan yang lengang.

Seperti pendatang di kota kelahiranmu terasa sangat menyedihkan memang. Tapi begitulah waktu, yang pada masanya akan membawa banyak perubahan pada kota, perubahan pada orang-orangnya, suhu, gedung- gedung, tata kota, dan segala hal lainnya yang dalam setiap kedip mata kadang tak dapat saya rasakan perubahannya. Namun semua perubahan itu terasa amat jauh meninggalkanku saat saya lama tak ada disini.

Mau tak mau, saya harus menyelaraskan hidup saya dengan Jakarta masa kini. Mulai membiasakan diri lagi untuk bersikap tangguh, mandiri, dan tak banyak mengeluh terhadap segala hal yang berbeda. Karena pilihannya cuma terbiasalah atau anda akan ketinggalan.

selamat beraktifitas,
HS

Thursday, July 19, 2012

Dear July, Thank You

hei Juli!
apa kabarnya?
Sudah pertengahan bulan nih, dan nyatanya saya masih bisa tetap berdiri kokoh tanpa jatuh terduduk.
Awalnya saya sempat mengira akan melambaikan bendera putih di bulan Juli.
Terlalu berat untuk dilalui, demikian saya pikir.
Bahkan untuk memasuki Juli saja saya sempat ragu, akankah ada derai tangis yang tumpah karena saya tak sanggup menahan semua masalahnya?
Ternyata tidak.

Juni akhir saya mulai kehilangan tempat berpijak saya. Saya mulai ragu atas segala keputusan- keputusan yang saya ambil. Ini perkara magang saya. Sejauh saya berusaha mulai dari awal tahun 2012, sejak bulan Januari saya bahkan telah memasukkan lamaran ke sebuah instansi, dan baru mendapat hasilnya di Maret, itupun gagal. Kejatuhan pertama saya.
Selanjutnya sampai Juni awal pikiran saya sepenuhnya masih terkonsentrasikan untuk mengurus tugas Event Organizer, yang jujur aja sampai menguras emosi, tenaga, dan pikiran. Jadi otomatis ngga ada lagi hal lain yang bisa saya pikirkan saat itu. Soal magang pun saya masih menomorduakannya, pokoknya tetep mikir EO dulu, gitu pikir saya waktu itu.

Lalu hingga sampai di pertengahan Juni belum ada satu kabar pun dari semua instansi yang saya masukkan surat lamarannya. Saya coba re-call satu persatu tapi hasilnya nihil, semua hanya bisa menjanjikan jawaban dadakan saat mendekati bulan Juli nanti. Ini kejatuhan kedua, saya anggap semua perusahaan itu menolak dengan halus lamaran saya. Maka saya mundur.
Kemudian mendekati akhir Juni, saya mulai memasukkan kembali lamaran magang saya ke tempat- tempat lainnya. Satu instansi aja yang saya fokuskan saat itu, karena itu mimpi saya dari dulu. Kerja di instansi itu yang notabene adalah salah satu grup media besar di Indonesia.Saya bela- belain ke Jakarta, padahal saat itu belum semua urusan saya di Solo kelar.

Bagikan menjemput mimpi, semua persiapan terbaik saya sudah dipersiapkan jauh- jauh hari untuk mengharapkan hasil terbaik untuk test wawancara saat itu. Dan ternyata ini kejatuhan ketiga saya, nggak diterima juga. Alasannya, kuota penuh. Oke, ini saya bener- bener down. Tapi saya tetap belum mau nangis, karena kalau mau dipikir- pikir masih ada beberapa orang teman juga yang belum dapet magang. Kalau cuma mau mikir kegalauan sendiri sih, yang lain apa kabarnya saya juga engga tau.

3 hari menjelang bulan Juli, dengan acaknya saya mulai kirim- kirimin lamaran magang saya ke hampir semua instansi yang bisa ditembusi via e-mail. Bahkan saya ngga ada waktu untuk berpikir, bertanya pada diri saya sendiri: "Apa kamu nantinya bener- bener mau kerja disana?" "Emang kamu yakin disana cocok sama kamu?" "Disana nanti mau kerja apa?"
Semuanya cuma demi 1 jawaban: "Yang penting magang dulu". Ngga magang= ngga dapet nilai. Matilah kan kalau ini sudah menyangkut nilai akademik, wajar aja kalau saya pontang panting.

Dan akhirnya, tangan Tuhan tak pernah terlambat datangnya. Memasuki bulan Juli, setelah masuk- masukin lamaran ke hampir semua media, saya coba masukin lamaran langsung ke sebuah stasiun televisi. Ya langsung dateng aja ke kantornya dan semudah itu, saya langsung magang. Ah deymmm, lutut saya lemes seketika waktu pulang dari kantor itu. Justru di saat seperti inilah saya pengen nangis. Saya tinggalkan semua mimpi dan cita- cita saya untuk sementara waktu. Memang saat itu tinggal selangkah lagi, tapi entah kenapa saya yakin itu bukan jalan yang dipilihkanNya untuk saya saat ini. Mungkin di lain waktu saya bisa menjemput impian saya kembali. Karena di dalam masa- masa terkelam saya di bulan Juni kemarin saya sempat berpikir : "Kalo gue kerja di tempat yang gue pengenin, emang udah jamin disitu bakal seru? Udah yakin banget kalo disana iklim kerjanya asik? Emang disana kerjaannya ngga berat?"

Sulit jalannya untuk saya bisa mendapatkan jawaban: "Magang dimana?", tapi akhirnya jawaban itu saya dapatkan dengan mudahnya setelah berkali- kali jalan ke tempat yang ternyata salah. Dan sejauh ini, saya bahagia- bahagia aja sih di tempat magang saat ini, dan semoga memang akan selalu bahagia- bahagia aja. Saya cuma mengikuti kata hati dan jalan yang sudah ditunjukkan aja sih. Toh pada akhirnya mungkin ngga semua yang kita pengenin itu tercapai, tapi setidaknya saya sudah buktikan yang awalnya kita pengenin itu ngga selalu menjamin kebahagiaan di akhirnya.


Dear July, thank you for all the surprises and the life lessons that you've gave to me. 


Ps: That's all my 1st story 'bout my internship. I'll go to work in the morning tomorrow, so i wanna go bed earlier. :D
i'll write the series next time..


rgrds, HS

Sunday, July 15, 2012

Tanpa Ada Alasan

akan ada satu masa dimana kamu akan merindukan apa yang kamu lakukan saat ini.
kelak kamu akan begitu mengenang masa- masa yang pernah kau lewati.

tak ada cerita awal yang pasti bagaimana kisah ini harusnya dimulai.
semuanya berlalu begitu saja, tanpa terasa.
waktu pun seakan terabaikan, ditinggal oleh serunya cerita ini.
mulanya kamu begitu menawan, lewat di depanku dengan anggunnya mengabaikan sekelilingmu.
tak perlu ada alasan ketika menit selanjutnya saya sibuk menangkap ekor bayanganmu.
menerka- nerka apa isi kepalamu saat itu
menangkap setiap senyumanmu yang gemilang, yang bahkan tak mudah untuk kulupakan.

lantas waktu berlalu, terkadang terasa cepat namun ada kalanya seakan bergerak dengan amat perlahan.
seperti tuts pada piano, ada hitam dan ada putih maka demikian pun kisah ini
ketika tuts putih simbol kebahagiaan hidup berdampingan dengan tuts hitam makna kekelaman.
dimana sedih dan bahagia, suka dan duka selalu berdampingan dalam hidup ini
namun ketika keduanya selaras, tuts hitam dan putih bersamaan dibunyikan maka tercipta harmonisasi nada yang menyenangkan
dan begitulah hidup, selalu menyenangkan bila semua sedih dan bahagia datang silih berganti
hidup selalu menyenangkan buat saya meski tak selamanya mudah

tak mudah untuk dapat memahamimu sepenuhnya
hingga akhirnya pada suatu saat saya memutuskan untuk tak lagi mencoba memahamimu,
saya mencoba untuk mulai menerimamu apa adanya

hingga tiba saatnya saya memutuskan untuk berhenti
tak lagi berjalan dalam rel cerita yang sama, mencoba melepas semua kenangan
satu persatu, perlahan- lahan menghapusnya, seakan itu tak pernah terjadi
dan begitulah kemudian angin membawamu ke bumi belahan yang berseberangan dengan tanah ini

kemudian waktu tetap berjalan seperti biasa, di keadaan yang tak biasa ini
angin, musim, peristiwa semua datang silih berganti membawa perubahan pada masanya masing- masing
lalu kita bawa mimpi kita masing- masing, mewujudkannya sendiri- sendiri, dimulai dari start yang berbeda dan mungkin untuk garis finish yang berbeda pula kelak

hingga kemudian di sore yang berbeda, berjarak sekian satuan waktu, dan waktu akhirnya membawa kita bertemu
setelah lama tak saling berjumpa, entah bagaimana caranya saya dapat melihatmu lagi
dan kamu telah berubah banyak, meski saya tahu bahwa sebenarnya kau tak berubah. berubah tapi sebenarnya tak berubah
memang benar, tak akan ada yang pernah sama di bawah langit ini
hingga akhirnya saya tahu, bahkan sampai saat ini saya masih menghadapi orang yang sama
masih menghadapi cerita yang sama, yang dulu mungkin pernah dilupakan
masih menghadapi pertanyaan dari setiap keragu- raguan yang muncul

and today, i knew that i still in love with you :)

is this story will has the sequel?

-rgrds, HS-

Wednesday, June 13, 2012

Buih di Tepi Pantai

Hai pantai.
Lama tak menjamah buih-buih ombakmu.
Lama tak mendengar suara riak air yang berlomba ke arah kakiku.
Saya masih ingat bertahun lalu pernah mengunjungi pantai, di pulau surga, ya demikian saya menamainya.
Kapan lagi akan kutemui pasir- pasir halus di antara jemari kakiku? Lama tak menjumpai pantai yang belakangan kudengar sudah tak lagi sehening dulu.
Namun sejak beberapa hari lalu ketika saya kembali ke tanah kelahiran ini, kusempatkan untuk mampir menemui angin, senja yang muncul, fajar yang tenggelam, dan juga ombak- ombak kecil yang lincah itu yang terangkai dalam sebuah siluet senja di pantai surga.
Mencoba mencari segala bungkusan kenangan masa kecil yang pernah kusimpan, dan dikuburkan bersama pasir kelabu disini.

Tapi ternyata waktu begitu cepat berlalu, saya tak dapat menemukanmu disana.
Sesederhana itu, sama seperti sederhananya rindu yang selalu kusimpan bertahun- tahun lamanya agar dapat kembali melihat senyum yang dulu belum sempat kulihat.
Mendendangkan lagu yang sering kita senandungkan bersama, dulu.
Adakalanya rindu membawa sendu, tapi tak kuharap itu terjadi saat ini.
Saat dimana hari itu hanya ingin menagih janjimu, satu senyuman untuk semua cerita yang belum sempat kau sampaikan.

Mungkin kamu telah berada disini, pada waktu yang berbeda.
Dengan janji yang tak pernah kita buat dengan eksplisit, saya hanya berharap kalau kelak takdir juga akan membisikkan pertemuan itu saat ini, tapi ternyata belum.
Tidak, saya tidak pernah membungkus ketidaktepatan ini dengan penyesalan atau kekecewaan.
Sederhana, saya ingin membuatnya sederhana. Sesederhana saya ingin menemuimu, sesederhana cara saya merindukanmu yang tanpa alasan.
Dan semoga senja sore hari di pantai ini membawa pesan bagimu, menemukan takdirnya sendiri.

Masa- Masa Selepas Lulus: SNMPTN

Mumpung lagi jaman-jamannya SNMPTN nih, saya sih cuma mau berbai kisah aja gimana dulunya nasib saya pas SNMPTN yang ternyata emang- nggak- gampang-banget. Mulai dari asal- asalan, pasrah, sampai nangis darah gara- gara galau belum keterima di univ manapun itu pernah. And here we go..

Kisah perjuangan masuk PTN saya dimulai sejak Maret 2009. Dan ternyata nggak semudah itu juga ya masuk PTN, apalagi nembusin PTN yang ada di Pulau Jawa. Mulai dari UI, UNJ, Undip, Unpad, UB semuanya pernah menjadi pertimbangan dan pilihan. Waktu masih diawal- awal kelas XII sih saya mikirnya sombong dulu, gak mau ambil PMDK. Sebenarnya juga bukan karena apa- apa sih, saya ngerasa kalau udah keterima PMDK itu bisa menutup peluang kita masuk ke jurusan yang kita pengenin nantinya. Misalnya cuma ada PMDK di univ. A dengan jurusan XX nah padahal kita ga mau masuk univ itu, jurusannya juga termasuk jurusan 'kering'. Pernah sekali dulu di awal, saya mencoba menerima tawaran PMDK, mengambil jurusan Psikologi di sebuah PTN Ternama. Pas selesai konsultasi dengan guru BK, beliau bilang biaya registrasi dan semester awalnya disana aja sampe 40juta!! Saya mundur, nggak yakin bisa bahagia kuliah kalo belum- belum sudah menghabiskan banyak uang. Akhirnya saya memutuskan untuk berjuang sendiri, mencoba meraih apa yang saya inginkan melalui berbagai jenis ujian masuk.

Waktu itu saya mulai perjuangan diawal, dengan mencoba ikut SIMAK UI.
1. SIMAK UI pilihannya: Komunikasi dan Psikologi.
Ini merupakan ujian pertama yang saya hadapi. Groginya ampun- ampunan. Pilihan pakaiannya aja betul- betul dipilih! Kemeja, lengan panjang, yang gaul abis (entah ini apa-apaan). Papan ujian: lengkap! Bahkan saya bawa 2 papan ujian dan saya tenteng persis seperti tukang jualan papan ujian, karena teman saya ada yang menitip papan ujian. Bayangkan, beberapa jam menjelang ujian, bahkan dia masih sempat- sempatnya titip papan ujian. Parahnya, pas saya samperin dia untuk kasih papan, dia malah minta pensil juga plus pinjam rautan. Gile untung aja saya bawa pensil tiap ujian itu setidaknya 5 buah, dan saya kasih pensil terbaik dan masih baru yang saya punya ke dia, sembari berpesan: Semoga aja keikhlasan gue bantu lo bikin kita sukses ujian. Sampai jumpa di UI ya, kita semoga sama-sama masuk FISIP, gue pengen kuliah lagi bareng lo, ribut bareng lagi #okesip <3   Serius ini moment romantis menjelang ujian yang jadi mood booster saya saat itu.
Dan begitu ujian, masuklah pengawasnya, salah satunya ada mahasiswa. Si mahasiswa pengawas itu masuk, dan entah apa alasannya dia baru pake almamaternya di dalam ruangan, dengan sedikit mengibaskan jaket kuningnya yang khas ( entahlah, atau cuma perasaan saya doang) dia pake itu almamater di depan calon- calon mahasiswa yang setengah mati pada mupeng pengen punya itu jaket dan berstatus sama kayak dia, mahasiswa UI.
Oke selesai ujian, saya masih sumringah, masih punya banyak sisa tenaga. Saya samperin lagi temen saya yang minjem papan ujian dan tanya- tanya tentang ujiannya dia tadi. "Gimana tadi soalnya menurut lo" | "Gue sih udah siap ambil swasta, han. Susah banget tadi ujiannya | Lah kenapa? Pasrahan amat lo jadi orang | Nggak gitu, dari awal gue ikut ujian udah tau saingannya berat | Ah cemen lo, coba lagi lah ujian- ujian PTN lainnya, pasti bisa kok. Gue aja masih mau coba yang lainnya lagi | Udah lah lo ngapain coba lagi han, masuk Swasta aja gampang... |...Gak mau, gue yakin gue bakal masuk PTN di jurusan yang nggak kering! Liat aja nanti gue bakal masuk PTN!|

Dan akhirnya setelah 3 bulan gundah gulana menunggu hasil SIMAK UI, saya GAGAL. Ini kesedihan pertama saya, tapi saya berdukacita bersama hampir seluruh penghuni kelas, meski ada beberapa yang keterima juga sih. Tapi saat itu satu sekolah sepi, tenang sekali, seluruh penghuninya seakan malu.
Kartu Ujian yang masih saya simpen :')


2. UM UGM
Untuk ujian mandiri UGM ini saya sih milihnya (1). Komunikasi (2) Psikologi. Dengan uang masuk yang jumlahnya saya taruh seminimal mungkin, saya merasa yakin kalau nilai masih jauh lebih diperhatikan ketimbang sekedar materi yang 'dipertaruhkan'. Ya emang saat itu masih pede banget nilainya tinggi gitu, makanya nggak mau pasang yang sumbangan terlalu tinggi.
Dan hasilnya: Ga LOLOS lagi. Disinilah saya mulai desperate, mulai bingung apa yang salah, jawaban saya yang mana yang salahnya dan harus ngapain untuk meningkatkan nilai, dan masih nihil. Saya cuma memperketat jadwal les saya, jadi tiap hari dan selalu pulang malem, demi PTN. Segitunya? Iya, semua demi kuliah murah. Saya sih pengen banget kuliah murah dan terjamin kualitasnya, menurut saya PTN jalan keluarnya. And then i just go ahead..

3. UM UNDIP :
Kartu Ujian UM Undip 2
Nah ini adalah ujian kesekian yang saya ikuti, masih tetap mengikuti passion saya di dunia non-eksak seperti Psikologi atau Komunikasi. Bedanya kali ini saya mulai menurunkan standar 'perjudian' saya. Sengaja ngga ambil Komunikasi, karena tau banget kalo itu saingannya pasti banyak. Dan sejak ini lah saya mulai berpikir, yang penting-bisa-kuliah-dulu-terserah-jurusan-apa-asal-ga-jelek-jelek-amat.

4. UMB 5 PTN
Pas ujian UMB 5 PTN ini, waktu itu jamannya masih cuma 5 PTN yang ngadain ujian masuk barengan; UI, UNJ, UNILA, UIN SYARIF HIDYATULLAH, USU. Dan saya pilih 4 jurusan di UI sementara 1 lagi di UNJ. Sayangnya, peraturan yang ditetapkan ternyata hanya  maksimal 3 jurusan saja yang diperkenankan untuk dipilih dari universitas yang sama, dan pilihan saya karena salah mungkin di-diskualifikasi. Atau mungkin juga nggak lolo sekali lagi, karena nilai. ya. Tragis.
ya begitulah, keselip ada fotonya :|


5. SNMPTN
Ini adalah ujian yang menjadi cadangan terakhirrrrr sekali buat saya. Strategi pun diatur. Tapi disini tetap passion masih dijunjung tinggi, nggak mau lah ya ntar tetiba kuliah di jurusan yang nge bete-in. Untuk pilihan, tetep di Komunikasi dan Psikologi. Dan akhirnya pilihan universitasnya saya balik, UNS duluan dan UI di pilihan keduanya. Dengan pertimbangan untuk grade jurusannya jelas lebih berat Komunikasi, pesaingnya lebih banyak. Yah cukup bisa dinalar....untuk saat itu. Dan ketika saya renungkan saat ini, itu lebih mirip pilihan putus asa yang mentok. Akhirnya pilihan saya menjadi: (1) Komunikasi UNS (2) Psikologi UI.
Waktu itu, kalau inget alasan kenapa pilih UNS? Sederhana. Karena mama nyuruh pilih itu aja. Padahal saya belum pernah sekalipun ke Solo tuh. Tau Surakarta apa Solo aja nggak paham waktu itu.

6 dan 7 nya saya lupa, tapi salah satunya yang saya inget ujian masuk swasta.


dan akhirnya....
Beberapa saat menjelang masuk kuliah, sebulan sebelum masa perkuliahan dimulai kalau nggak salah sih. Muncullah pengumuman dari UM UNDIP dan SNMPTN, ya bersamaan! dan gawatnya mereka minta waktu daftar ulangnya bersamaan! Kabar baiknya, saya diterima dan lolos pada kedua ujian itu. Yang satu lolos Undip Psikologi, satunya lagi lolos UNS Komunikasi. Dilema? Iya banget!
Akhirnya saya memutuskan untuk daftar ulang di kedua univ, dengan nantinya bakal pertimbangkan suasana masing- kota dan univ nya. Tapi nih, begitu sampai Solo, hati saya udah mantep. Saya bilang ke mama: Gak usah ke Semarang mah, aku kuliah di Solo aja. Udah yakin. Keduanya jurusan bagus, univ nya juga mudah-mudahan yan gterbaik yan gdiebrikan Tuhan.

dan begitulah akhirnya, sekarang saya telah menempuh tahun ketiga saya di Komunikasi UNS. Menyesal? Tidak. Ada kalanya saya tersenyum, mengingat susahnya perjuangan buat kuliah, dan itu bikin saya ingat kalau udah kuliah, jangan dibercandain.
Selamat ujian SNMPTN, teman-teman seumuran :) Semoga sukses


-@hannaahan-

Friday, May 18, 2012

Dinginnya Bromo Yang Selalu Mempesona


Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) merupakan salah satu tempat wisata populer di Jawa Timur. Tak hanya turis lokal saja yang berdatangan ke tempat ini, turis mancanegara pun banyak yang ke tempat ini. Salah satu tempat yang kerap menjadi favorit para turis ini adalah Gunung Bromo, yang terkenal dengan pemandangan matahari terbitnya yang indah.
Ada beberapa jalur yang bisa dipilih saat akan ke Bromo. Jika berangkat dari Jakarta, bisa menggunakan kereta api ekonomi Matarmaja. Demikian pula halnya jika berangkat dari Solo, dapat pula menggunakan kereta Matarmaja dari stasiun Jebres dengan tiket seharga Rp 41.000 hingga stasiun Kota Baru, Malang. Begitu sampai Malang, ada 3 jalur menuju Bromo yaitu melalui Tumpang, Probolinggo atau Pasuruan.
Jalur yang paling mudah dan umum untuk dicapai adalah melalui Probolinggo. Dari Malang bisa menggunakan bis antar kota dari terminal Arjosari dengan tarif Rp 23.000 hingga terminal Probolinggo. Begitu sampai di terminal Probolinggo, untuk dapat sampai di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, dapat ditempuh dengan menyewa kendaraan khusus yang biasanya dikenakan tarif Rp 200.000 untuk sekali jalan.
Jika menempuh jalur Bromo via Probolinggo ini, maka akan tiba di Cemoro Lawang, desa terakhir menuju Gunung Bromo. Perjalanan selama 1 jam menuju Cemoro Lawang ini akan menyuguhkan pemandangan rumah- rumah warga setempat yang masih begitu sederhana dan juga mulai tampak hijaunya alam sekitar Bromo. Sesekali, udara dingin pun akan mulai terasa sejak perjalanan menanjak dari terminal Probolinggo.
Begitu tiba di Cemoro Lawang ketika gelap menjelang, para wisatawan tentu disuguhkan pilihan untuk bermalam di Cemoro Lawang. Di daerah ini, banyak rumah penginapan maupun hotel yang tersedia untuk diinapi dengan kisaran harga Rp 150.000-Rp 250.000.
Biasanya, para wisatawan mulai menikmati keindahan Bromo sejak pukul 03.00 waktu setempat. Sejak dini hari mereka bergegas menuju jalur Penanjakan untuk dapat mengejar moment matahari terbit. Saat itu, Minggu (13/5) suhu dini hari di kaki Bromo mencapai 10 derajat Celcius, sementara suhu di daerah Penanjakan mencapai 5 derajat Celcius. Tak terlalu dingin memang dibandingkan bulan- bulan lainnya. Biasanya suhu terdingin ada pada bulan Juli yang bisa mencapa 2 derajat Celcius.
            Dari Cemoro Lawang ada dua jalur yang dapat dilalui. Yang pertama, melalui jalur Penanjakan 1, dan pilihan kedua melalui Penanjakan 2. Bedanya, lokasi Penanjakan 1 memang lebih jauh dari daerah Cemoro Lawang dibandingkan Penanjakan 2. Namun, di Penanjakan 2 keelokan pemandangan matahari terbitnya terhalang oleh gunung, sehingga tak banyak wisatawan yang memilih Penanjakan 2 sebagai tempat singgah mereka saat menunggu matahari terbit. Dari Cemoro Lawang hingga lokasi Penanjakan 1 memakan waktu kurang lebih 1 jam.
Matahari Terbit
Waktu yang paling tepat untuk tiba di Penanjakan 1, adalah pada pukul 05.00 dini hari karena masih ada waktu untuk menunggu matahari terbit namun juga tak terlalu lama waktu yang tersedia, karena dinginnya udara subuh di Bromo yang menusuk kulit juga akan menyambut anda.
            Biasanya saat akhir pekan, lebih dari 100 jeep yang naik ke Penanjakan. Sementara pada hari biasa, hanya sekitar 25 jeep saja. Tiap jeepnya berkapasitas maksimal 6 orang. Jeep merupakan satu- satunya kendaraan roda empat yang diizinkan untuk masuk kawasan TNBTS. Jeep yang digunakan pun haruslah disewa dari warga setempat. Selain jeep, jalur utama di Bromo bisa ditempuh dengan sepeda motor. Meskipun medan yang dilalui akan sangat berat jika menggunakan sepeda motor, banyak orang yang nekat menggunakan sepeda motornya untuk menanjaki kawasan TNBTS dan beberapa kali juga harus mendorong motornya hingga harus berkali- kali mengelak dari tanah licin yang dapat membuat mereka tergelincir.
            Tiba di Penanjakan 1, ada puluhan tangga- tangga kecil yang harus anda lalui untuk bisa sampai ke puncak Penanjakan. Di samping kiri- kanan tangga kecil tersebut berderet rapi kios- kios kecil yang menjajakan makanan, minuman hangat, hingga oleh- oleh khas Bromo.
            Sayangnya saat hari Minggu silam, kabut terlalu tebal, hingga matahari hanya sempat terlihat sekilas selama satu menit saja dari atas Penanjakan. Padahal, jika cuaca cukup cerah, matahari terbit dapat dinikmati selama 2- 3 menit dan juga terlihat jelas pemandangan gunung Bromo dan Semeru.
            Setelah dari Penanjakan, rute berikutnya yang dapat dikunjungi adalah kawah Bromo. Perjalanan menuju kawah Bromo ditempuh selama kurang lebih 30 menit. Pemandangan selama menuju kawah juga tak kalah indahnya. Di sekeliling anda dapt melihat coklatnya tanah pasir yang ada di Bromo. Ada pula bukit- bukit besar berwarna coklat yang nampak guratan- guratan hasil lelehan pijar lahar Bromo, menghasilkan sebuah pemandangan unik dan indah sehingga bukit- bukit tersebut nampak seperti puding.
Disini akan terlihat banyak penduduk setempat yang mulai menawarkan jasa persewaan kuda yang akan mengantarkan pengunjung hingga tangga menuju kawah Bromo. Di daerah padang pasir ini juga ada sebuah Pura yang menjadi tempat sembahyang warga setempat. Dari sini anda dapat melihat pemandangan hijaunya bukit- bukit di Bromo yang mulai menampakkan tekstur bergaris- garisnya. Kabut tebal juga menutupi sebagian puncak- puncak bukit, seakan akan tetap disitu tak ingin melepas pemandangan puncak bukit yang indah itu juga ke mata tiap pengunjung.
Padang Pasir- Menuju kawah Bromo, wisatwan harus berjalan kaki. Banyak penduduk yang menyewakan jasa persewaan kuda seharga Rp 50.000 untuk sekali jalan. (Hanna Suryadika)



Pasir Berbisik
Selanjutnya perjalanan akan menuju lokasi padang pasir lainnya yang lebih luas. Biasanya di padang pasir ini, angin akan berhembus dan akan meniupkan pasir- pasir halus itu hingga menimbulkan suara gesekan. Itulah mengapa kerap tempat ini disbut Pasir Berbisik. Sayang sekali, pada waktu itu cuaca cukup lembab sehingga angin tak begitu sering muncul, dan nyaris tak terdengar suara ‘bisikan pasir’ tersebut.
            Tidak main- main keindahan yang disajikan di TNBTS, selanjutnya wisatawan akan semakin dibuat kagum dengan pemandangan indah di savana. Disini, seluruh bukit- bukit berjejer rapi, seakan mengepung wisatawan yang turun ke padang savana. Sayangnya, saaat itu cuaca yang masih terlalu lembab mengakibatkan beberapa tanaman menguning, dan hijaunya dedaunan yang harusnya tersuguh malah nampak menguning di beberapa tempat. Dinginnya udara disini masih terasa, meski tak setajam di Penanjakan tadi. Kabut tebal pun masih mengapung di atas bukit- bukit kecil, dan beberapa menutupi langit pagi yang mulai beranjak siang.
Savana- Pemandangan savana di Bromo pada Minggu (15/3) yang terhalang kabut pekat di ujung puncak bukitnya, menyajikan pemandangan indah. (Hanna Suryadika).
Beginilah cara Bromo menyajikan pemandangan alamnya yang begitu indah. Meski saat itu, Bromo masih enggan menunjukkan keindahan yang sesungguhnya karena berhalang kabut, namun pemandangan khas seperti apa yang disajikan di televisi. Bahkan lebih dari itu, bukit- bukit hijaunya juga indahnya padang pasirnya akan membuat setiap wisatawan yang datang kesana terlena dan terpukau dengan keindahannya. Mungkin itulah salah satu cara Bromo mengajak kembali tiap wisatawan untuk kembali kesana, menikmati pemandangan yang lebih indah lagi.