Sunday, November 27, 2011

Ada yang Terlewatkan

pukul 20:47
Seperti baru sadar akan sesuatu.
Nyaris lupa, tapi sebenarnya tanpa ada maksud untuk melupakannya, sama sekali tak ada.
Dari jauh, saya akhirnya mengirimkan pesan padanya. Mengganti kealpaan saya untuk beberapa jam di awal hari ini.
Saya kirimkan pesan di hari bahagianya, dengan dia setulus hati, berharap yang terbaik untuknya, selalu.
Mendoakannya, berharap ia akan mau memaafkan kealpaanku hari ini. Berharap dengan pesanku saja bisa mengganti kehadiranku di dekatnya.
Kukirimkan juga doa bagi kesehatannya, kesuksesannya.

Mama, selamat ulang tahun, saya bilang padanya.
Dengan rasa bersalah di waktu- waktu yang justru akan segera menandakan akhir dari hari bahagianya.
Maaf, terlalu tipis waktu untuk mengucapkannya.
Maaf, mungkin terlalu sedikit waktu untuknya  di hari ini.
Selamat ulang tahun ke- 53.
Terima kasih untuk segalanya.

foto di crop karena saya dekil abis di foto ini
 

Proverbs 3:16 Length of days is in her right hand; and in her left hand riches and honour. 
  Amsal 3: 16   Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan.



Salam sayang dan kasih,



Hanna Siahaan

Panen Perdana Solo Berkebun

Hari ini, mulai pukul 8 pagi sampai pukul 10 tadi adalah acara panennya Solo Berkebun, setelah tanggal 30 Oktober kemarin anak- anak @soloberkebun mulai tanam perdananya. Cerita sedikit aja tentang panen perdana kemarin dulu kali ya.
Pas tanam perdana kemarin itu, lahan kosong yang tersedia di daerah Gremet, itu ditanami 3 jenis tanaman. Ada jagung, kangkung, dan bayam.
ini lahannya soloberkebun dan ada ririn! #oh

Nah setelah pas 4 mingguan nya, hari minggu ceria yang panas ini, soloberkebun panen kangkung dan bayam. Eh tapi pas dilihat- lihat lagi saya cuma dapet gambar sayur bayam nya aja. Nggak tau pasti juga apa mereka jadi panen kangkung atau nggak, soalnya saya dan temen- temen juga dateng terlambat.
Kalo berdasarkan hasil penglihatan saya, rame banget orang- orang yang dateng hari ini untuk ikutan panen nya soloberkebun. Dilihat dari statement di kaosnya ada temen- temen dari Jakarta Berkebun, Bandung Berkebun, Makassar Berkebun, dan lain lainnya.
Nah ini saya share foto panenan bayam nya:



Jadi pas kami (yes ada Ririn, Momo, Ichi ) mau pulang, ternyata disuruh bawa bayamnya yang udah dipisah- pisah, seperti yang ada di pasar. Sebenarnya keadaan panen itu, seperti yang bisa dilihat di atas, persis seperti pasar kan? ada yang duduk, berdiri, kemudian ada yang mengikat- ikat bayamnya. Sayangnya, di kos saya tidak ada kompor, jadi bayam- bayam itu nggak bisa saya masak, padahal bayam merupakan salah satu favorit saya!
Oh iya, kalo tanaman jagungnya, masih belum bisa di panen, karena masih terlalu kecil, belum waktunya untuk dipanen, ini dia gambar jagungnya:



Jadi, serunya saat tanam menanam itu masih lanjut juga ternyata saat ngeliat benih (eh apa bibit ya?) yang kita bawa itu perlahan- lahan tumbuh besar dan akhirnya siap dipanen. Buat temen- temen soloberkebun yang udah bawa sayurannya, selamat menikmati!

Selamat berkebun!

Hanna Siahaan

Saturday, November 19, 2011

Bye, Dreams!

7 minggu lagi menuju penghujung tahun.
masih (atau hanya) 7 minggu lagi waktu yang tersisa untuk bisa meneruskan segala perjuangan- perjuangan mencapai Target tahun 2011.

Ini to-do-list saya selama 2011, dan ada beberapa yang sumpah-gak-penting. 
Diawali dengan doa, diakhiri dengan senyuman

Ketika saya nge cek lagi 'to-do-list in 2011', saya baru tersadar ada beberapa target yang bahkan tidak saya lakukan, karena saya bahkan menghapusnya dari list saya.
Salah satunya, pengajuan aplikasi beasiswa IELSP. Untuk mendapatkan itu, sudah niat banget untuk ikutan test TOEFL di bulan Juli, bahkan pada Juli itu saya pun akhirnya pergi ke Pare -kampung Inggris- untuk sebulan nge camp berbahasa Inggris di sana. Tapi memasuki bulan September- Oktober, saya mulai limbung.
Denger- denger kampus gak bakal ngijinin mahasiswa nya untuk cuti lebih dari sebulan, bahkan sekalipun itu juga nantinya bisa membawa prestasi dan prestise tersendiri untuk kampus (ya kali kalau-kalau aja kepilih jd nominator beasiswa).

Ketar- ketir juga akhirnya pas dapat kabar (sekali lagi, masih kabar burung) kalau kaka tingkat yang sebelumnya dapet beasiswa serupa itu harus cuti satu semester demi 8 minggu di Amerika.
Saya bingung, nggak tau harus memutuskan apa. Di satu sisi, berpikir nggak ada salah nya nyoba, ya kali mahasiswa lainnya males ikutan coba- coba beasiswa yang satu ini kan. Nah di sisi lainnya, kalau inget mesti berhenti sementara dari kuliah, yang artinya memperpanjang masa studi dari yang seharusnya 8 semester, saya sih ogah.
Akhirnya, saya berpikir untuk tidak egois. Saya nggak maju untuk ikutan si program 8 minggu ke Amerika itu (nb: kalau dapet loh ya). Mikir aja, gimana kasihannya orang tua saya kalau misalnya kontrak saya di Solo ini yang cuma untuk 8 semester tapi harus diperpanjang lagi, mereka juga pasti mau nya saya cepet lulus kan. Atau juga sambil menggondol beasiswa dan penghargaan yang ada.
Tapi, begitulah hidup. Pada akhirnya kita harus memilih. Kalau kamu mau beasiswa ke luar negeri, maka kamu harus cuti kuliah, dan otomatis masa studimu tambah lama. Kalau kamu mau cepet lulus, maka kuliah lah yang fokus, rajin masuk,kerjain tugas, dan lupakan beasiswa 8 minggu di negeri orang itu, kurang lebih begitu hasil rundingan saya dan teman- teman senasib yang mau mengajukan beasiswa itu juga. Dilematis!

Akhirnya saya tinggalin aja hal yang paling nggak pasti di antara kedua pilihan itu, mengajukan aplikasi IELSP. Saya pikir, toh kalo saya ajukan lamaran itu belum tentu juga kan keterima. Tapi entah kenapa saya ngerasa itu cuma excuse aja untuk diri saya sendiri, karena di satu sisi saya lumayan kaget dengan persiapan saya sendiri. Sudah sampai bulan Oktober,tapi daftar test TOEFL aja beloman. Padahal ijazah SD-SMA juga harus diurus kembali. Bahasa Inggris saya juga masih sampai pada tahap 'better than nothing'.

Dan tepat 4 hari yang lalu, tanggal 15 November, batas pengumpulan semua aplikasi ditutup. Reminder di laptop saya selama berbulan-bulan, yang mengingatkan akan deadline tersebut pun akhirnya sudah hilang sekarang seiring berlalunya tanggal 15 November. Saya cuma bisa dadah- dadah sama mimpi dan rencana yang sudah saya susun dari setahun yang lalu ini. Saya cuma bisa bilang: kalau memungkinkan saya akan kejar kamu kembali di semester 7 nanti, wahai delapan-minggu-di-Amerika ! :)


Please, #prayforme pals,

Hanna Siahaan :D

Waktu

tik tok..
Waktu terus berjalan, tak perduli apapun yang bergerak di sekelilingnya. Jangankan yang bergerak, terhadap sesuatu yang diam pun dia tak acuh.
Dan malam ini, entah kenapa di tengah berbagai tekanan mental yang melanda saya akhir- akhir ini, saya mau bersyukur untuk setiap waktu yang baru saja saya lewati.
Di setiap penyesalan, pasti ada pelajaran. Di setiap kesalahan, kita bisa belajar mengenai yang benar. Di setiap memori indah, saya cuma bisa diam, menikmati waktu yang ada.
Saya bersyukur sebelum sesuatu -yang saya sebut titik nadir- itu datang, saya pernah merasakan dalam hening, menikmatinya dalam berkali- kali tarikan nafas akan waktu yang saat itu saya jalani. Luar biasa cara Tuhan membuat saya bisa menikmati sebuah peristiwa (yang menurut saya) langka, dan betul- betul itu adalah A GOOD SWEET DAMN THING THAT I'VE EVER HAD.
Ketika kamu, merasa jawaban doamu muncul dalam sekejap, kemudian kamu raih kesempatan itu, nah seperti itulah rasanya.

Bagi saya, cara terbaik untuk bisa menikmati waktu bersama orang terbaik di dunia ini, cuma diam. Diam menikmati atmosfer yang ada, kalaupun saya berbicara, saya tak paham apa yang sedang dibicarakan. Saya cuma ingin menikmati kesempatan yang ada ini -saat itu, pikir saya- , dan kalau saja saya punya kuasa atas waktu maka saya akan ambil alih remote waktu, saya hentikan!

Tik tok..
Tapi waktu tetap berjalan, ia menunjukkan kuasanya. Entah kenapa saat itu saya benci sekali hal ini, berjalannya waktu. Waktu yang begitu singkat, membuat kita merasakan peristiwa yang indah itu menjadi luar biasa berlalu dengan cepatnya, tak terasa!
Mau minta waktu diulang kembali? Tak bisa. Yang ada saya hanya merasa seperti baru saja terbangun dari mimpi. Sekejap dan tiba- tiba berganti setting. 
Dan pada akhirnya,andai ketika kelak saya ditawarkan untuk bisa mengulang waktu 'ini', saya tak mau.
Karena  kenyataan lebih membuka mata saya, bahkan lebih dari itu, memaksa saya harus mengambil keputusan, mengakhiri semua yang baik dan indah -sekali lagi, bagi saya-. Semua keindahan nyatanya tak bisa saya miliki secara utuh. Tapi, saya tetap bersyukur untuk waktu itu dan rekan saya saat itu :)


 for my several days partner in crime :D


Selamat malam Indonesia,
Hanna Siahaan