Wednesday, September 28, 2011

BAPAK

pagi ini, atau mungkin dari 3 hari yang lalu. Saya kangen bapak saya. 
Sejak hari sabtu yang lalu diberikan pelatihan motivasi yang seperti ESQ,  yah biasa lah ya dibuat nangis gitu, saya jadi kangen sama keluarga, apalagi jauh gini dari rumah, makin deres nangisnya. 
Sebenarnya sih ga terlalu deket juga sama bapak, biasa aja, ga pernah cerita- cerita berpanjang lebar tentang segala sesuatu dan ini- itu nya ke beliau.
Mungkin karena ketidakdekatan saya selama ini dengan beliau, saya ngerasa ada yang kurang kalau saya tidak pernah memikirkan relasi antara ayah dan putrinya selama ini. Padahal saya pikir- pikir relasi kami bukannya tidak baik, sangat baik malah, namun tidak ada sesi cerita panjang lebar yang kami biasakan sejak dulu.
Bapak, saya kangen bapak, pengen pulang ke rumah, semoga Natal nanti tidak ada aral melintang biar tiket yang udah di tangan bisa dipake pulang :)

saya dan Bapak, J.R. Siahaan

pernah ada postingan di Facebook yang judulnya tentang ayah, yang kemudian di tag oleh salah seorang teman saya (dan sepertinya juga hasil copas dari internet, maaf :) ), setelah membaca tulisan tersebut, saya menangis. Betapa beliau orang yang sangat berjasa salam hidup kita namun sering kita lupa akan kasihnya. Berikut tulisannya:

TENTANG AYAH...


Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya..... Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.

Lalu bagaimana dengan Papa?

Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,
tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?


Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil......

Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu...
Kemudian Mama bilang : "Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya" ,
Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka....

Tapi sadarkah kamu?
Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.
tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang"
Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : "Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!".

Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.


Ketika kamu sudah beranjak remaja....
Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: "Tidak boleh!".

Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?
Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga

Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu.
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama.

Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,
Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?


Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia :')

Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..
Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?


Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir.

Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut - larut.

Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.
Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?

"Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa"


Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti.

Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa



Ketika kamu menjadi gadis dewasa.

Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain.

Papa harus melepasmu di bandara.

Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?
Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.
Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik ya sayang".
Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT...kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.


Di saat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa. Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.

Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan...
Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : "Tidak.... Tidak bisa!"
Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan "Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu".
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?


Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang"


Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya. Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin.
Karena Papa tahu.
Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.


Dan akhirnya....

Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia.
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?

Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa.
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: "Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik.
Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik.

Bahagiakanlah ia bersama suaminya..."


Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk.

Dengan rambut yang telah dan semakin memutih.

Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya.

Papa telah menyelesaikan tugasnya.



Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita.
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat.

Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis.
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu.

Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal.


Dear Bapak, semoga doamu merestuiku selalu di dalam kehidupanku.
Terimakasih, Bapak.
Salam hangat,


Hanna Siahaan

c.i.n.t.a

Di tengah malam ini, sebenarnya saya sedang menyelesaikan cerpen kedua saya untuk terbitan Kumpulan Cerpen dan Puisi. Tapi entah kenapa sulit sekali rasanya untuk menyelesaikan yang kedua ini. Kenapa?
Karena segala curahan hati saya sebenarnya ada di cerpen kedua ini, karena saya tahu mau tak mau cerpen ini nantinya akan diterbitkan dengan karya- karya lainnya, dan dijual di pasaran kampus (hehe!). Sesulit mengungkapkan cinta secara implisit melalui sebuah cerpen sepanjang 4 halaman, sesulit usaha menyampaikan makna hati melalui tulisan. Dan saya ingin saat pesan yang dikandung dalam tulisan saya bisa sampai ke pembaca nya, and not cheesy but classy.
Yang membuat saya merasa mudah dalam mengerjakan cerpen ini adalah cukup dengan mencipratkan sedikit fiksi ke dalam kenyataan kisah hidup saya, tidak sulit memang karena pada dasarnya hanya saya lah yang mengetahui seberapa banyak bumbu fiksi yang saya tambahkan pada cerpen itu nantinya.
Akhirnya saya berharap (dan berusaha) supaya cerpen kedua ini bakalan cepet rampung dan SUMPAH YA HARUS BISA MENYAMPAIKAN MAKNA IMPLISIT NYA.


NB: for someone out there, i wanna make this story dedicated to you, inspired by you :)



Salam malam,

Hanna Siahaan

Monday, September 19, 2011

Ada Ikhlas di Balik Ucapan Syukur






Ada satu cerita yang menarik saat kebaktian Minggu kemarin. Jadi ceritanya ada seorang ibu penjual pecel di sebuah tempat rekreasi. Nah suatu ketika ada rombongan keluarga besar yang membeli pecel nya. Sebenernya sih memang masih banyak penjual pecel lain di dekat si ibu itu, tapi mungkin keluarga itu milih secara acak aja, karena kelarga tersebut sebelumnya memang tidak pernah makan disana. Tidak berapa lama kemudian, ada rombongan keluarga yang lainnya menghampiri ibu si penjual pecel itu. Mungkin karena dikiranya banyak orang yang beli= dagangannya enak, laris, maka mereka berencana makan disitu juga. Tapi tahukah kamu apa yang dibilang ibu itu?
"Kalian makan disana aja, itu temen saya juga, dia belum laku sehari ini. Semua penjual disini bumbunya sama, jadi rasanya sama"
Sebuah hal yang tidak aneh memang, tapi sudah jarang sekali bisa kita temui. Bagi- bagi rejeki. Ya, dia rela membagi rejeki nya dengan teman se profesinya. Ketika ditanya dengan alasan apa ia menolak rejeki berganda ini, singkat jawabnya:
"Saya belum tentu bisa melayani mereka semua, tidak ada salahnya saya berbagi dengan teman saya."

Dan kalian tahu, sebenarnya tidak sulit mengucapkan serangkaian kata tersebut. Namun, bagai jodoh yang melenggang begitu saja, butuh KEIKHLASAN yang tak bertara untuk bisa MELEPASNYA.
Apa anda yakin anda bisa seikhlas dan sepenuh hati melepas rezeki anda? Mampukah anda di tengah keterbatasan yang anda miliki, untuk bisa bersyukur dan berbagi dengan orang lain?
Nyatanya kejadian yang paling sering terjadi, saat anda berada dalam keadaan terpuruk sekalipun, satu hal dominan dalam pikiran anda adalah; Bagaimana cara saya untuk bisa bangkit dari keterpurukan ini?
Dan tidak pernah terpikir sekalipun bagaimana caranya untuk bisa bersyukur di dalam kondisi terburuk anda sekalipun.
Dari sepenggal kisah diatas, saya menyimpulkan hanya orang yang benar- benar mampu bersyukur di dalam kesusahannya-lah yang dapat memikirkan nasib sesamanya. Karena memang hal yang sangat sulit dilakukan di dunia ini adalah berterima kasih dan bersyukur atas kehidupan yang telah anda jalani.
Anda butuh keikhlasan yang benar- benar tulus untuk bisa memahami, bahwa setiap perkara yang terjadi dalam hidup anda hanyalah sebuah batu loncatan untuk bisa membuat anda semakin kuat untuk bisa melaju ke tahap selanjutnya.
Orang yang mengalami kesusahan, yang hidupnya tidak berkecukupan sekalipun mampu bersyukur. Lantas saya kembalikan pertanyaan kepada diri saya sendiri. Dengan keadaan saya seperti ini, yang hidup berkecukupan (meski tak berlebihan) sudah mampukah saya meninggalkan segala keluh kesah, dan kemudian bersyukur?
Lantas sudah mampukah anda bersyukur atas hari ini, atas hidup anda selama ini, termasuk atas masalah- masalah yang anda alami? Setidaknya ingatlah, betapapun sulitnya hidup anda, masih banyak sekali orang yang hidupnya jauh lebih susah dari anda, namun mereka hidupnya terasa tanpa masalah, tetap bahagia. Apa rahasianya? BERSYUKURLAH!

Tetaplah Tersenyum,

Hanna Siahaan

Tuesday, September 13, 2011

Tamasya ke Tukang Jahit




“mpok, lu punya waktu ga sore ntar, ini kain ane baru diambil. -,-

Nanti ane beliin walls buavita kiwi deh *ngerayu, help"


Bermula dari sms tadi yang dateng dari si Amilia yang nongol siang- siang itu, dan sembari tergoda juga dengan bujuk rayu walls buavita yang baru (hahaa) akhirnya saya terima tantangannya untuk berterik- terik ria di jalanan kota Solo, berangkat ke tukang jahit akhirnya.

Sampai di tukang jahit, dikeluarkannya lah bungkusan yang sedari tadi didekapnya erat- erat. Dan ternyata JENGG JEEENG JEEEENNGGG

Bungkusannya berisi 2 blazer yang bakal dipermak dan 2 x 4 meter bahan polosan yang bakal dibuat gamis. Jadi judulnya ini adalah jahitan yang mentok deadlinenya. Bayangkan saja si ibu penjahit, mesti ngejahit pesanan kami (saya, Momo, Amilia) sebanyak 2 rok, 2 gamis, dan 5 blazer untuk dipermak, parahnya lagi si ibu kita kasih deadline 4 hari, Sabtu 17 September udah harus jadi itu pakaian semuanya.

Yah terlepas dari gimana jungkir baliknya si ibu ngerjain pesenan kita -para ibu- ibu PKK ini- (buat kalian yang gak tau PKK, pak RT setempat pasti tau deh kalo kamu tanya), saya yakin setidaknya ibu penjahit itu tambah bahagia karena orderan nya banyak yang tentu berbanding lurus dengan income nya nanti. Selamat berkarya ya buuuu J

Pulang dari daerah Pasar Kliwon, daerah nya si ibu penjahit tadi, saya dan Amilia memutuskan untuk makan sore dulu. (Istilah makan sore muncul untuk makan malem yang terlalu dini dilakukan. Demikian.) Awalnya mau makan di daerah pasar Kliwon juga, tapi berhubung yang ada di sana makanannya nggak jauh-jauh dari kambing, sate kambing, sate buntel, dan sodara-sodara si kambing lainnya, akhirnya kami geser perjalanan kuliner hari ini ke daerah Lojiwetan. Kita makan di Strawberry.

Amil (@MeAmy) dan meja nomer 7 nya. Lha saya?

Lantas sebagian dari kalian mungkin bertanya- tanya tentang nasibnya si Walls Buavita? Nah si Walls Buavita itu digantikan posisi traktirannya dengan nasi goreng ala Strawberry serta ditemani dengan segelas teh manis hangat . Thanks to Amil deh :*

Ini diaaa nasi goreng dan teh hangat saya yang Oke

Nah si Amil mesennya Fuyung Hai (plus nasi putih) dan jus melon. Dan demikianlah sekelumit perjuangan kami para ibu- ibu PKK ini di hari Selasa yang cerah ini. Setelah memesan makanan dengan sedemikiannya, ternyata kami kekenyangan, dan kali ini saya berperan (lagi) sebagai tong sampahnya. Untungnya, selama beberapa hari ini lambung saya telah sukses dilatih untuk mengecil, jadinya makanan rekan saya tersebut tidak jadi habis saya lahap.


Fuyunghai nya Amil yang akhirnya dihibahkan ke saya

Diiringi hujan rintik- rintik yang syahdu dan teriknya mentari sore, saya kembali ke kost tercinta setelah memutar otak untuk mencari model yang the most kece of the earth.


Salam,

Hanna Siahaan

Saturday, September 10, 2011

Sekolah

Hari ini begitu saya bongkar- bongkar koleksi foto saya, tiba-tiba aja refleks milih dan buka foto dari jaman SMA dulu. Masa- masa SMA kelas 2 (tiba-tiba sadar begitu gak bangetnya gaya foto saya dulu)




captured by Widya

Nggak pernah kebayang aja sebelumnya kalo saya sudah melalui bertingkat- tingkat pendidikan hingga saat ini. Dan nggak terasa aja kalo waktu berjalan tanpa pernah terasa pergerakannya. Dulu rasanya baru mulai ospek, masih seneng- senengnya jalan- jalan dan menikmati waktu lowong yang kosoooong banget sebagai 'new fish'.

DAN SEKARANG!
Tiba- tiba saya SADAR kalo sudah punya dua angkatan dibawah saya. That means that i'm on-my-3rd-year! Oh my banget, ketika sadar betapa tua nya saya. Dan sudah separuh jalan menuju TOGA idaman seluruh umat mahasiswa di seluruh dunia.
Dan kegalauan yang abu-abu ini didukung juga dengan hasil pembicaraan saya, @riirinuli , dan Rhesa tadi siang yang (lagi- lagi) tentang betapa sulitnya perjuangan kami dulu waktu berusaha mendapatkan tempat kuliah terbaik, betapa ketatnya seleksi demi seleksi yang harus kami lalui, betapa banyak peluh dan tangis (well, yang terakhir ini mungkin saya aja sih yang tangis menangis) untuk bisa kuliah-di-univ-negeri. Dan Puji Tuhan, sekarang doa saya sudah terjawab :)
Tapi hidup memang tak semudah itu kawan. Satu batu loncatan mungkin berhasil kamu lalui, namun dibalik itu sesungguhnya masih banyak rintangan lain yang masih setia menguji kejelian dan ketangguhan kita. Saya memang sudah mulai merasakan beratnya kuliah semester 5 ini bahkan sejak sebelum perkuliahan dimulai. Mendengar cerita (yang ujung-ujungnya malah mirip keluh kesah menyeramkan) dari para senior tentang perjuang berpeluh- peluhnya mereka di semester 'pembuka' akan semester- semester menyeramkan selanjutnya (semester 6, dst).
Entah kenapa dari awal kuliah saya mencoba untuk tak pernah ambil pusing memikirkan semester 5 ini dan beratnya tugas mahakarya nya nanti.
Ya semoga saja kelak saya bisa berbangga dan berpuas hati melihat hasil kerja keras saya selama kuliah ini. Semoga kelak di tahun 2013, bulan Juni, hari Kamis ceria yang indah, saya ada di Auditorium UNS mengenakan toga. Semoga......


Selamat berjuang kawan,

Hanna Siahaan

Thursday, September 1, 2011

Saya dan Si Nona Ungu

Adalah sebuah kisah tentang persahabatan saya dan seseorang.
So, let me introduce her. Namanya Greta Marthauli Manurung.
Dan saya Siahaan, nampaknya memang Siahaan dan Manurung itu partner klop kemana-mana. dan mungkin nama kami akan nampak seperti nama bapak- bapak yang suka nongkrong di lapo (warung Batak ,-red). Tapi sori sori jek, generasi muda Batak sekarang nampaknya lebih suka bergaul di mall.
And, here we are!
Liburan Lebaran (asik banget bunyinya) kemaren, saya dan Greta selayaknya teman lama berjanji bertemu di Mall Kelapa Gading, di suatu sudut kota Jakarta Utara.
waktu itu lagi hari nya Idul Fitri, pokoknya Jakarta sedang dalam keadaan total maksimal tingkat lengangnya.
Sembari menikmati indahnya kota Jakarta yang lengang, saya berangkat ke MKG.
Target awal saya dan Greta adalah untuk nonton 2 film sampe sore, kemudian makan dan sembari cucusapi (curhat curhat sampe pingsan). Namun, akibat ulah kwetiau goreng yang dimasak oleh tante saya itu luar biasa enaknya, saya jadi terlalu konsentrasi makan kwetiau goreng sampai akhirnya janji ketemuan di mall nya jadi molor.
Untungnya, masih sempet (banget) buat nonton Kungfu Panda 2! Asolloley!
Dan mungkin karena waktu itu saya sambil sedikit mengarahkan Greta untuk nonton 1 film aja (demi penghematan dunia, kawan) jadinya ya udah gak ada film lain yang enak selain Kungfu Panda 2.
Selesai nonton si Panda yanggendut-lucu dan babi-babi terbang lainnya itu, saya dan Greta makan di sebuah restoran Jepang. Sekali lagi, entah Greta ngerasa atau tidak, tapi saya mengarahkan dia untuk ikutan makan mie ramen.
Sejak berbulan- bulan lalu ketika di Solo, saya memang sudah pengen banget makan ramen. Dan alhasil baru kesampean setelah di Jakarta.
Sesi cucusapi pun terjadi. Sebenarnya, setiap saya akan ketemu Greta, saya selalu paham akan terjadi sesi curhat- curhatan yang panjang kali lebar diantara kami. Dari rumah, saya sebenarnya juga sudah berniat untuk tidak cerita- cerita lagi tentang seseorang yang notabene menjadi 'kisah-yang-pasti-saya-ceritakan-dengan-Greta'.
Ada 3 alasan untuk itu:
1. saya tak mau mengingat orangnya #tsaah percayalah, tak ada dendam disini
2, saya tau, masalah Greta selalu lebih gawat :p
3. kalau saya mau galau, maka Greta yang lebih pantes galau (mungkin demikian pikirnya, hehe)

Mengenal Greta dan berteman dengannya selama lebih dari 4 tahun, terkadang membuat mulut dan hati saya tak sinkron. Alhasil, meluncur lah dengan tak terkontrol nya cerita tentang banyak hal yang sebenernya sumpah-gak- penting-abis dari saya dan tentang-orang-yang-tak-mau-diceritakan-tadi-tapi-terlanjur-cerita Gimana akhirnya saya bisa cerita? Itu semua gara- gara tiba- tiba orangnya sms. Dan dia memang tipe orang yang selalu tau aja kalo lagi diomongin.

Keengganan saya bercerita tentang masalah dan kegalauan hidup (meski gue jarang banget galau, itu juga kalau kalian pada mau percaya) saya ke Greta, sebenarnya simpel. Cuma karena saya tau ga etis aja kalo saya cerita dengan berapi- apinya tentang masalah saya sementara saya tau dan paham betul kalo lawan bicara saya sesungguhnya punya masalah yang bahkan lebih besar daripada masalah saya. Ibaratnya, masalahku cuma lokalan Indonesia, dia sudah di level Asia, yang mana level Indonesia mah sudah lewat. Ya, seperti makan maicih, ada level 5, level 10, bahkan level 11. Oke, skip. fokus.

Saya dan Greta dengan indahnya pernah dipertemukan sekali waktu untuk pertama kalinya dulu, di Rumah Tuhan, di Gereja kami, HKBP Kernolong, saat kami sedang menjalani proses peneguhan iman, bukti kedewasaan kami. Dan hingga sekarang, sejak saya dan teman- teman lainnya demikian pula Greta, masih memegang teguh janji (kepada Tuhan) itu, hanya beberapa dari kami saja yang masih selalu berkumpul untuk mengakrabkan diri kembali.

Then Greta thank you for being friend of mine :)
*entah bahasa inggrisnya ngaco apa maknanya ga dapet, pokoknya makasih!*

Saya dan Greta setelah makan ramen dengan bar bar nya 

Salam- salaman,

Hanna Siahaan