Wednesday, August 31, 2011

Enjoy-ing Jakarta

Situasi Jl.Matraman Raya (31/8), tepat di depan halte busway Tegalan

Hari Lebaran ini, saya sebelumnya sudah punya plan untuk berkunjung ke Gramedia Matraman. Tapi setelah cek punya cek di Twitter, saya baru tau kalo Gramedia bookstore dari kemarin (dalam rangka Lebaran, berhubung kemarin diprediksi udah Lebaran) bukanya rada siangan, dan kabarnya cuma buka sampe jam 7.

Penasaran juga sama keadaan Jakarta yang katanya sih udah sepi dan lengang banget setelah ditinggal mudik sama kaum urban ibukota. Pengen ngeliat aja dan pengen menikmati kondisi sepinya Jakarta ini. Kalau kata seorang teman saya di akun Twitternya:

“Slogan Enjoy Jakarta, baru benar- benar pas bila digaungkan saat ini (saat Lebaran)"
.
Alhasil, saat saya meluncur nge bajaj (saya naik bajaj, bukan nyupir bajaj) ke seputaran Matraman Raya. Jeengg jeeng jeng!... ... ... JENGG JEENG JENGGG (biar berasa lebih dramatis).

Yang terlihat adalah:

  1. Jalanan tidak macet
  2. Sepi banget dibandingkan kondisi Matraman hari normal (sama seperti keadaan jalanan besar ibukota lainnya deh, tidakk bebas macet sepanjang hari)
  3. Halte busway juga tidak rame, jadi ini situasi paling kondusif kalo mau nge busway karena tidak bakal berdesak-desakan
  4. Jarang banget ketemu angkot sama bajaj yang biasa suka ngetem atau mangkal, mereka benar-benar langka hari ini.
  5. Toko, warung, kios kecil maupun ala rumahan hampir seluruhnya tutup. Paling hanya untuk minimarket dan mall besar saja yang buka di hari pertama Lebaran ini.
Gramedia Matraman, yang katanya the largest bookstore in South Asia.


jalanan di Matraman Raya saat Lebaran hari pertama (31/8)


Sepinya jumlah kendaraan bermotor di sepanjang Matraman, penumpang busway pun sedikit jumlahnya



Jalan Percetakan Negara (31/8), di daerah Rutan Salemba, gambar diambil dari bajaj :)



random aja ngambil gambar abang bajajnya, koleksi pribadi :p

Dan kalau yang terjadi seperti ini, saya rasa bermain bola atau bahkan hiperbolisnya tiduran di jalan Sudirman bisa kali ya selama Lebaran ini, car free day pun mungkin bakal kalah sepinya dibanding jalanan ibukota hari ini. Lovely Jakarta. Saya mencintai keadaan Jakarta yang seperti ini. Jadi, mumpung sebagian penghuni kota metropolitan ini masih mudik, tidak ada salahnya menikmati sebaik-baiknya waktu anda untuk berkeliling Jakarta, sebelum mereka kembali dari kampung halaman mereka masing- masing.

Enjoy Jakarta, guys J

Salam.

Hanna Siahaan

Tuesday, August 30, 2011

Merenda Persatuan dalam Pluralitas


"Salahkah Kita Berbeda?"

Terinspirasi dari judul sebuah tulisan di Majalah Suara HKBP edisi Mei 2011. Cukup membaca judulnya saya sudah dibuat berpikir. Ga sulit untuk mencerna maknanya memang, tapi dari situ saya dipaksa untuk berpikir. Dan pada akhirnya saya menyimpulkan sendiri, bahwa Tuhan memang menciptakan manusia dengan perbedaan mendasar yang ada pada diri mereka masing- masing. Bukankah perbedaan itu sendiri ada untuk menciptakan keberagaman yang indah dalam kehidupan kita? Dengan adanya perbedaan hidup ini tentu akan terasa lebih berwarna.

Perbedaan dapat membangun sebuah keberagaman yang indah di dalam kehidupan. Setiap individu yang merupakan bagian dari masyarakat hendaknya menjaga keberagaman itu agar dapat tercipta sebuah kebersamaan yang solid diantara individu- individu yang unik. Perbedaan tidak hanya soal agama, bukan hanya masalah SARA (suku, agama, dan ras), tidak juga hanya seputar jenis kelamin maupun gender, tapi keseluruhan kata sifat maupun ideologi hidup yang bisa membedakan kita dengan orang lain.

Tenggang rasa yang besar perlu dimiliki oleh setiap orang untuk bisa hidup dengan pluralitas yang melingkupinya. Terutama di Indonesia, negara yang katanya paling plural di antara suku bangsa negara lainnya. Setidaknya saya dibuat sadar dan bersyukur tinggal di Jakarta dimana kaum urban pada ngumpul di ibukota, bersyukur juga pernah sekolah di swasta berbasis keagamaan dan sekolah di negeri. Bersyukur karena setidaknya dengan mencicipi beragam jenis pluralitas saya bisa belajar bertenggang rasa sedikit demi sedikit. Bertemu banyak orang, dengan karakter dan latar belakang yang berbeda- beda mau tak mau membuat saya harus bisa memahami mereka satu persatu, setidaknya itulah cara untuk bisa dekat dengan seseorang bukan?

Dengan menghargai sebuah kemajemukan di dalam kehidupan bersosial kita, saya yakin kelak dalam prosesnya membangun sebuah sifat kebangsaan yang kuat, Indonesia akan mampu mendirikan sebuah negara yang bebas diskriminasi dan penuh toleransi.





Jadi, masihkah kita salah jika kita berbeda?

Salam,

Hanna Suryadika